User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Yesus Sungguh Bangkit!

Kematian Kristus adalah kurban Paskah, dimana “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (lih. Yoh 1:29) melaksanakan penebusan bagi umat manusia secara definitif. Kurban Paskah Kristus itu merupakan kurban Perjanjian Baru yang menempatkan kembali manusia dalam persekutuan dengan Allah. Kristus mendamaikan manusia dengan Allah oleh darah-Nya “yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (lih. Mat 26:28). Kurban Kristus ini unik. Ia menyempurnakan dan mengakhiri segala kurban. Kurban ini pertama-tama merupakan anugerah Allah Bapa sendiri. Bapa menyerahkan Putera-Nya untuk mendamaikan kita dengan diri-Nya. Serentak pula, kurban ini merupakan kurban Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, yang karena cinta dan dalam Roh Kudus menyerahkan secara bebas hidup-Nya kepada Bapa-Nya untuk menyilih ketidaktaatan kita. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Rm 5:19). Oleh ketaatan-Nya sampai mati, Yesus menjadi Hamba Allah yang menderita, yang menyerahkan diri-Nya untuk kurban pemulihan. Ia membenarkan banyak orang dengan menanggung kejahatan dan dosa mereka (bdk. Yes 53:10-12). Yesus telah menebus dosa-dosa kita dan memberi pemulihan kepada Allah Bapa untuk kita.

Dalam tradisi Gereja Timur, saat memberi salam pada hari raya Paskah, yang seorang mengatakan “Kristus bangkit!” dan yang lain menjawab, “Sungguh, Dia telah bangkit!” Ini mengungkapkan iman kita bahwa Kristus telah bangkit dan sesungguhnya memang demikian. Kebangkitan Kristus adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi, suatu fakta historis. Perjanjian Baru menyatakan kebenaran ini.

Rasul Paulus dalam 1Kor 15:3-5 mengatakan, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.” Di sini Rasul Paulus berbicara tentang tradisi yang hidup mengenai kebangkitan Kristus, yang ia dengar sesudah pertobatannya di depan pintu gerbang Damaskus. Peristiwa kebangkitan Kristus tidak tanpa saksi. Kitab Suci telah menampilkan tokoh Maria Magdalena dan juga masih banyak bukit lain yang menyatakan bahwa Yesus sungguh telah bangkit.

Beberapa orang mengatakan bahwa kebangkitan Kristus bukan suatu fakta historis karena tidak ada seorang pun yang melihat kebangkitan itu. Tidak adanya orang yang melihat suatu peristiwa tidak berarti bahwa peristiwa itu hanya khayalan/dongeng dan bukan fakta historis. Misalnya, suatu ketika kita pergi berlibur beberapa hari ke luar kota dan ketika kita kembali kita mendapati pintu rumah kita sudah rusak, jendela pecah, dan TV, video, komputer kita hilang. Tentu kita tahu bahwa telah sungguh-sungguh terjadi pencurian. Jadi, walaupun saat pencurian terjadi kita tidak melihatnya (bahkan mungkin tidak ada orang lain yang melihatnya, selain pencurinya sendiri), namun jelas bahwa pencurian itu sungguh-sungguh suatu fakta historis. Begitupun dengan kebangkitan Kristus, ketika para wanita datang ke makam Yesus, mereka menemukan batu penutup kubur telah terbuka, jenasah Yesus tidak ada, kain kafan terletak di tanah, dan kain peluh sudah tergulung (bdk. Yoh 20:1-10). Jelas bahwa kebangkitan Yesus sungguh-sungguh suatu fakta historis, benar-benar terjadi! Dan, tidak mungkin pula bahwa Yesus dicuri orang karena pencuri manakah yang begitu rajin dan tidak tergesa-gesa sampai menyempatkan diri melePaskahn kain kafan Yesus dan menggulung kain peluh-Nya di tempat pencurian? Jadi, sekali lagi: Yesus sungguh bangkit!

 

Perlukah Pertobatan yang Terus-menerus?

Yesus mati tak berdaya di atas kayu salib karena mau menyelamatkan dan menebus dosa-dosa manusia. Yesus rela melakukan semuanya itu demi cinta-Nya kepada kita. Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa. Jika Kristus tidak bangkit maka kita pun tidak akan bangkit. Dengan kebangkitan-Nya Kristus telah mengalahkan dosa, maut, dan kuasa kegelapan.

Kebangkitan Kristus menunjukkan betapa besar kerahiman dan cinta Allah kepada manusia. Allah tidak menghendaki manusia binasa, maka diselamatkan-Nya. Namun, Allah menghendaki agar manusia menyadari kedosaannya dan bertobat. Allah membenci dosa, tetapi Ia mencintai para pendosa dan menantikan pertobatan mereka.

Dalam Kitab Suci dan sejarah Gereja kita mengenal tokoh-tokoh tertentu yang dalam hidupnya telah melakukan kejahatan terhadap Allah dan sesama (seperti St. Paulus, St. Agustinus, dll.), namun karena mereka bertobat maka Allah bahkan memercayakan karya keselamatan kepada mereka dan menjadikan mereka sahabat-sahabat Allah.

Yesus sendiri berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13). Allah telah memberikan segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan dan pengudusan kita. Namun, setiap orang harus mengatakan “ya” kepada rahmat Allah tidak hanya satu kali, melainkan berulangkali. Oleh wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, kita telah diselamatkan dan ditebus agar dapat menerima hidup kekal. Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa kita harus mati bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan dimeteraikan dengan Roh Kudus untuk masuk Kerajaan Allah. Kita dibaptis dalam kematian Kristus dan dibangkitkan ke dalam kehidupan baru.

Pertobatan secara benar merupakan suatu proses, bukan sesuatu yang terjadi “sekali untuk selamanya”. Memang, maut telah dikalahkan, kejahatan telah diremukkan, dosa telah diampuni. Yesus telah mendapatkan kemenangan itu. Namun, tugas kita adalah menerapkan kenyataan-kenyataan itu di dalam hidup kita setiap hari. Rahmat Tuhan telah dinyatakan melalui Kristus, tetapi setiap orang harus menjawab “ya” kepada rahmat penyelamatan Allah, tidak hanya satu kali, melainkan berulang kali. Kalau kita mau hidup bersama Kristus, kita harus mati bersama Kristus. Kalau kita mau memerintah bersama Dia, kita harus menderita bersama Dia. Agar dibangkitkan bersama Kristus, kita harus mematikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kodrat kita yang berdosa. Untuk membiarkan Kristus hidup di dalam diri kita setiap hari, berarti kita harus mati setiap hari bagi Kristus.

Pertobatan yang terus-menerus merupakan proses dari kematian yang terus-menerus terhadap diri sendiri. Apa artinya? St. Paulus mengatakan, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21). Jikalau kita terus-menerus berjuang dan mematikan hal-hal demikian, maka kita mengalami kebangkitan Kristus sudah sejak dalam hidup ini. Pertobatan merupakan suatu keterarahan dan keterpusatan hidup kepada Kristus. Kita dilahirkan menjadi manusia baru, dibangkitkan ke dalam hidup baru yang diberikan Kristus kepada kita, supaya kita benar-benar tahu apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah. Kita menghayati siklus kematian dan kebangkitan ini dengan kuasa kebangkitan Kristus. Proses pengudusan berarti terus-menerus menerima Tuhan, terus-menerus bertumbuh di dalam Tuhan. Hidup yang berharga adalah hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan tidak lain adalah mematikan hidup manusia lama kita dan menerima hidup yang telah disediakan Kristus bagi kita. Penyelamatan seluruh dunia sudah disediakan di dalam Kristus.

Kita harus memutuskan untuk memilih hidup yang baru itu dan siap untuk menjalankan cara hidup baru itu. Bagi mereka yang menerima apa yang ditawarkan Allah dengan cuma-cuma ini, hidup adalah Firdaus, sedang bagi mereka yang menolak tawaran Allah, hidup adalah neraka.

 

Siap dan Rela Dibentuk oleh-Nya

Kondisi yang menjadi landasan utama bagi pertobatan yang terus-menerus adalah niat/kehendak untuk terbuka terhadap rahmat Allah dan kepercayaan penuh kepada-Nya dengan menyerahkan hidup kita. Selain itu, faktor penting lainnya adalah kerinduan akan Allah (contohnya, St. Teresa Avila pada usia tujuh tahun rindu untuk mati supaya dapat melihat Allah). Kerinduan akan Allah, apabila tulus dan sejati, merupakan garansi bagi kita untuk dibimbing oleh Allah dalam proses pertobatan yang terus-menerus, proses yang mengubah kita menjadi anak-anak Allah yang dipenuhi Roh Kudus.

Apabila seseorang sungguh-sungguh menginginkan kebenaran, sungguh-sungguh merindukan Allah sebagai/demi Allah sendiri, maka Allah berjanji bahwa orang itu akan menemukan hidup di dalam Kerajaan Allah. Yang paling utama dan tepat adalah merindukan Allah, bukan yang lain. Seorang kudus pernah ditanya, “Mengapa orang-orang yang sangat religius yang pergi ke gereja, menyalakan lilin, dan mencium ikon/gambar/patung suci menjadi semakin buruk dan tidak semakin baik?” Jawaban orang kudus itu sederhana, “Mereka tidak sungguh-sungguh mencari Allah.” Mereka mencari sesuatu yang lain, bukan Allah. Oleh karena itu, ada yang dinamakan hedonisme rohani, keserakahan rohani, kekikiran rohani, dll. Bahkan, ada kemungkinan kita ingin menjadi kudus demi kekudusan saja, dan tidak demi Allah, untuk mengasihi Allah. Dengan demikian, kerinduan kita tidak murni.

Begitu mudah untuk menginginkan sesuatu yang bukan Allah, misalnya, menginginkan pemberian-pemberian yang disediakan Allah bagi kita. Seringkali kita pergi ke gereja dan berdoa karena menginginkan sesuatu, dan karena Allah itu baik, kita mengharapkan Dia mengabulkan doa kita. Sikap ini tidak salah, karena Yesus sendiri mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7a). Namun, sayang ada orang yang kemudian merasa berhak memaksa/menuntut Tuhan untuk memenuhi permintaannya. Mereka tanpa sadar “mendefinisikan” iman dan doa secara demikian, “Aku percaya kepada-Mu, Yesus. Maka, Engkau harus memberikan kepadaku apa yang aku minta. Nah, hal-hal inilah yang aku butuhkan: …, …, ….” Datang kepada Allah dengan sikap menuntut/memaksa mendapatkan sesuatu tentu kurang rendah hati dan kurang baik. Sikap yang paling benar adalah kita menginginkan Allah sendiri. St. Theresia Lisieux mengajarkan bahwa Allah pantas dicintai demi diri- Nya sendiri.

Oleh karena itu, hendaknya kita mempunyai kerinduan untuk diubah dan dibentuk oleh-Nya. Kita percaya bahwa kuasa Allah dapat mengubah segala yang jahat dan menjadikannya indah pada waktunya. Dalam Kitab Suci, kita telah membaca bahwa Allah dapat mengubah hati yang keras menjadi hati yang taat, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yeh 36:26-27).

Jika kita sungguh-sungguh menghayati kebangkitan Kristus maka kita akan mengalami bahwa kuasa-Nya dapat mengubah hidup kita, a.l. mengubah cara kita berpikir dan bertindak, sehingga kita memandang/menilai segala sesuatu menurut pandangan Allah. Kita cenderung hidup menurut keinginan dan kehendak kita sendiri dan kecenderungan itu begitu besar sehingga seringkali kita menutup diri terhadap rahmat Allah. Hanya satu kuasa yang dapat mengubah hidup kita, yaitu “kuasa Kristus yang telah bangkit bagi kita”. Berikut ini sebuah pengalaman seseorang yang hidupnya telah diubah oleh Kristus.

 

Penutup

Ada seorang bapak yang dalam hidupnya seringkali menyulitkan banyak orang, khususnya keluarganya. Namun, dalam hati dia rindu untuk dapat menghayati hidup sebagai seorang Kristen yang baik. Dia sadar bahwa dirinya seorang pendosa. Dia terkenal sebagai seorang yang berwatak keras dan terikat pada obat-obatan serta minuman keras.

Suatu kali seorang teman menyampaikan kepadanya bahwa banyak orang, khususnya keluarganya, sangat menderita karena perlakuan dan cara hidupnya yang tidak benar itu. Teman itu selalu berusaha menyadarkan dia, tetapi semuanya seperti sia-sia saja.

Akhirnya, pada suatu ketika teman tersebut mengajaknya mengikuti suatu retret. Awalnya, dalam retret itu dia merasa tidak ada sesuatu yang istimewa yang bisa membuat dia bertobat dari segala dosanya dan terlepas dari segala yang mengikatnya. Namun, ada satu acara yang menyentuh hatinya, yaitu acara pertobatan. Pemimpin acara pertobatan mengajak para peserta retret untuk sungguh-sungguh merenungkan dan menyadari dosa-dosanya. Saat itu dia sungguh-sungguh merenungkan dosa-dosanya. Dia disadarkan oleh penderitaan Yesus di atas kayu salib dan dia merasa seperti berada di bawah kaki salib Tuhan. Maka, dia menangis dan menangis serta menyesali segala dosanya. Dia merasakan betapa Tuhan itu mengasihi dan mencintai dia walaupun begitu banyak dosa yang telah dia lakukan.

Karena dia sungguh-sungguh bertobat dan berkat Sakramen Pengakuan Dosa yang diterimanya, maka dalam sekejap saja Tuhan menghapus segala dosanya itu. Dia merasakan kelegaan dan kedamaian dalam hati yang begitu besar yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Dia juga mohon rahmat kepada Yesus untuk tidak jatuh lagi dalam dosa yang satu dan sama. Dan, supaya dia bisa bertahan untuk tidak jatuh lagi maka dia berjanji untuk melakukan pertobatan dan pemeriksaan batin terus-menerus, dan memang hal itu terjadi. Hidupnya berubah dan ia menjadi saksi bagi banyak orang bahwa kuasa Yesus yang mati dan bangkit itu telah mengubah hidupnya. Sungguh, kuasa Yesuslah yang mengubah dia dan menjadikannya manusia baru yang mengenal dan mencintai Yesus di atas segala-galanya. Semoga Paskah Kristus yang ditandai dengan kebangkitan-Nya mengubah hidup kita!

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting