User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

kemurnian sebuah jiwa

Jiwa-jiwa yang membiarkan dirinya untuk dipelihara oleh rahmat Allah, akan selalu berusaha untuk terus hidup murni di hadapan-Nya, baik dalam pikiran maupun dalam sikap, perkataan dan perbuatannya. Hal ini dilakukan jiwa sebagai balas kasihnya terhadap besarnya kasih karunia yang telah diperolehnya dari Allah, Sang Sumber Rahmat dan Kebaikan.

Seperti dua tokoh yang sudah diceritakan di atas, Yusuf dan St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Mereka selalu berusaha untuk menyenangkan hati Allah dengan seluruh keberadaannya. Bahkan dosa sekecil apapun tidak berani mereka lakukan. Mereka sungguh-sungguh menyadari betapa Allah adalah Mahabaik sehingga mereka tidak berani untuk menyalahgunakan apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

Yusuf tidak mau ‘melayani’ nafsu istri Potifar karena ia tidak mau menyakiti hati Allah dan Potifar sebagai majikannya yang telah begitu baik kepadanya. Meskipun akhirnya Yusuf harus mendekam di penjara karena menjaga kemurnian jiwa dan raganya, namun Tuhan yang Mahabaik tidaklah tinggal diam. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Sebagai ganjaran dari penguasaan dirinya yang begitu heroik ini, Yusuf menjadi seorang tahanan kesayangan kepala penjara di mana ia dipenjara. Bahkan kepala penjara memberikan kepercayaan yang besar terhadap semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf. Dan segala pekerjaan yang dikerjakannya selalu berhasil (bdk. Kej 39:21-23).

St. Theresia yang selalu berusaha dari kecil untuk senantiasa menyenangkan hati Allah, apalagi setelah ia menerima rahmat khusus dari Allah untuk mengatasi kelemahan dalam pribadinya, tetap mengalami berbagai godaan dan pencobaan. Namun St. Theresia dapat melihat godaan dan pencobaan hidupnya sebagai suatu sarana untuk memberikan silih atas begitu banyak dosa yang dilakukan di dunia ini. Segala godaan dan pencobaan justru membuat St. Theresia semakin berkembang dan kuat dalam kehidupan rohaninya. Bahkan sampai akhir hidupnya, St. Theresia terus digoda oleh si Iblis untuk menghujat Allah. Namun karena cintanya yang begitu murni dan mengagumkan kepada Allah, maka ia tetap dapat menguasai dirinya untuk terus mencintai Allah. Dan di akhir hidupnya, di tengah kegelapan iman yang paling pekat dalam kehidupannya, St. Theresia menyerahkan jiwanya kepada Allah dengan mengatakan: “Yesus, aku mengasihi-Mu.”

 

penutup

Berbahagialah orang yang memperoleh buah Roh Kudus penguasaan diri ini. Tubuh, jiwa, dan rohnya akan terus menjadi milik Allah. Sebesar apapun godaan yang dihadapinya, apapun godaan yang merintanginya, dia akan menjadi milik kesayangan Tuhan. Dan bersama St. Paulus ia akan dapat berani berkata: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? … Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? … Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? … Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:31.33.35.38.39).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting