User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Makna sebuah Penguasaan diri

Dari dua kisah di atas, kita dapat melihat bagaimana indahnya kerja sama antara kodrat manusia dengan rahmat Allah. Apa yang dialami oleh Yusuf dan St. Theresia ini boleh dikatakan serupa dengan apa yang dikatakan oleh St. Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20a). Inilah buah dari Roh Kudus di saat Roh Kudus sungguh-sungguh mewarnai suatu jiwa. Jiwa tidak lagi menjadi miliknya sendiri, namun menjadi milik Allah seutuhnya. Dengan demikian, jiwa dimampukan untuk menguasai seluruh dirinya karena rahmat Allah tadi. Karena dimampukan Allah untuk menguasai dirinya dan dibebaskan dari segala macam hal, jiwa dapat berkata bersama dengan St. Paulus: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1Yoh 2:16).

Penguasaan diri adalah salah satu manifestasi dari buah Roh Kudus dalam sebuah jiwa dan tidak ada hukum yang menentang akan buah Roh Kudus ini (bdk. Gal 5:23). Penguasaan diri juga berarti suatu usaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah dan segala kenikmatan yang menjauhkan kita dari Allah. Jadi, penguasaan diri membantu kita agar kita tidak jatuh dalam dosa dan tidak terjerat oleh kenikmatan duniawi. Hal ini serupa dengan perkataan St. Paulus: ”Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Gal 5:24). Maka segala hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang timbul haruslah tunduk kepada jiwa dan bukannya jiwa yang tunduk kepada segala hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang timbul tersebut.

Untuk dapat menaklukkan segala hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang timbul dalam sebuah jiwa, pertama-tama diperlukan kehadiran Allah dalam jiwa tersebut. Dan hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kerja sama jiwa dengan rahmat Allah yang dicurahkan ke dalam jiwa melalui kehadiran-Nya itu. St. Paulus pun mengatakan demikian: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rm 13:13-14).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting