header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Pengalaman Bersama Bunda Maria

User Rating:  / 7
PoorBest 

Kedekatan saya dengan Bunda Maria sudah terjalin sejak lama sejak saya masih kanak-kanak. Puji Tuhan dalam keluarga dan di lingkungan, saya semangat berdevosi kepada Bunda Maria, sehingga saya jatuh cinta kepada Bunda Maria. Setiap bulan Mei dan Oktober selalu diadakan doa Rosario bersama di lingkungan. Tidak ketinggalan, dari anak-anak sampai orang dewasa mengikuti kegiatan doa Rosario, kami biasa doa rosario secara bergilir dari rumah ke rumah, tiap malam sebuah rumah dikunjungi dan berdoa rosario di rumah tersebut.

Saya sungguh bersyukur karena rumah kami dekat dengan Gua Maria sehingga saya selalu menyempatkan diri mengunjungi Bunda Maria di Gua Maria tersebut. Bahkan ketika saya duduk di bangkut SD kelas II - VI, setiap pukul 19.00 saya selalu membawa sebatang lilin kecil dan menyalakannya di Gua Maria lalu berdoa di depan patung Bunda Maria. Berbeda dengan kebiasaan orang lain, saya tidak meminta atau memohon suatu permohonan, melainkan saya selalu mendaraskan 1 kali Bapa Kami dan 5 kali Salam Maria. Kemudian, saya sujud di depan patung Bunda Maria mohon pamit dan kembali ke rumah. Saya begitu bersukacita dan bergembira karena dekat dengan Bunda Maria.

Suatu malam ketika berdoa sendirian di Gua Maria, sementara saya berdoa, ada satu keluarga berdiri menunggu di belakang saya, mereka juga mau berdoa di Gua Maria tersebut. Setelah saya selesai berdoa, mereka bertanya kepada saya, “Apakah kamu tidak takut berdoa pada malam hari di Gua Maria, pada hari sudah semakin gelap, apalagi di depan Gua Maria ada kuburan, dan kamu sendirian lagi?” Lalu dengan polos saya menjawab, “Kenapa mesti takut? Bukankah Santa Perawan Maria, Bunda Allah selalu menjaga dan melindungi saya! Akhirnya mereka terdiam dan mereka tidak bertanya lagi, lalu saya bergegas meninggalkan mereka dan kembali ke rumah (memang ada semacam “tahyul” yang beredar di antara orang kampung bahwa kuburan umum dekat Gua Maria merupakan tempat yang angker, menurut orang tua anak-anak kecil tidak boleh melewati tempat tersebut di atas pukul 18.30, sebab nanti akan diculik makhluk halus). Tapi bagi saya, saya tidak percaya… karena saya pikir itu hanya mitos saja. Saya memang tidak takut kalau jalan sendirian ke Gua Maria karena saya percaya bahwa Bunda Maria selalu menjaga dan melindungi saya, apalagi saya mau datang berdoa kepadanya dan dia pasti menghibur dan dia mengusir makhluk-makhluk menyeramkan itu.

Banyak pengalaman saya bersama dengan Bunda Maria dan ada dua pengalaman yang masih membekas dalam ingatan saya. Pertama, ketika saya duduk di bangku SMP setiap kali ada ujian di sekolah, saya selalu mengajak teman-teman dan adik-adik yang ada di sekitar tempat tinggal saya untuk berdoa bersama di Gua Maria. Doa bersama ini kami jalankan terus setiap sore dan selama ujian berlangsung. Puji Tuhan dari teman-teman dan adik-adik yang ikut doa bersama di Gua Maria menunjukkan bahwa hasil ujiannya bagus sekali. Kami percaya bahwa itu semua merupakan anugerah Allah melalui pertolongan dan doa Bunda Maria.

Kedua, saya pernah mengalami sakit malaria yang hebat, yaitu pada tahun 1989. Penyakit ini agak karena dalam dua kali sehari menyerang saya, yaitu pada pagi hari pukul 10.00 WITA dan sore hari pukul 15.00 WITA. Pada jam-jam tersebut, saya sangat menderita karena suhu badan sangat panas tapi terasa dingin sampai menggigil meski sudah diselimuti berlapis-lapis selimut hangat, tapi rasanya dinginnya tak kunjung hilang malahan saya semakin menggigil sampai saya sembarangan berbicara dan saya berteriak-teriak tanpa terkontrol. Selama lebih dari satu minggu saya menderita penyakit itu, suatu sore pada pukul 15.00 WITA ketika saya sangat kedinginan sampai menggigil, sudah diselimuti tapi tetap terasa dingin, karena saya tidak tahan dingin lalu saya keluar rumah dan saya berjemur sembari tiduran di bawah teriknya sinar matahari. 15 menit kemudian, tiba-tiba mata saya berkunang-kunang, saya merasa sesak nafas dan saya merasa keadaan di sekitarnya amat gelap sekali dan saya melihat pohon-pohon dan rumah-rumah mau terbalik. Saat itu, nafas saya terengah-engah dan saya masih berteriak minta tolong kepada ayah dan ibu juga saya minta tolong kepada kakak-kakak sepupu saya  dan mereka pun mendekati saya. Mereka panik melihat saya berteriak sangat keras, “Tolong, saya mau mati, tolong saya mau mati… aduh… saya mau mati! Lalu, tanpa pikir panjang seorang kakak sepupu saya langsung berlari ke dalam rumah dan ia mengambil patung Bunda Maria lalu meletakkannya di atas kepala saya sambil berdoa, “Ya, Bunda Maria tolong anakmu ini, tolong selamatkan anakmu, kasihanilah anakmu ini, Bunda Maria tolonglah anakmu ini.” Saya ingat persis kata-kata doa daru kakak sepupuku ini.

Puji Tuhan setelah beberapa menit berikutnya, saya kembali sadar lalu rasa dingin yang mengakibatkan badan saya menggigil, mata yang berkunang-kunang, sesak nafas, semua lenyap tanpa bekas. Sejak saat itu sampai sekarang, saya tidak terserang penyakit malaria lagi. Ya sungguh luar biasa pertolongan Bunda Maria bagi saya.

Yang sangat saya syukuri ialah dalam Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae dan Putri Karmel sungguh menghormati secara istimewa Maria Bunda Karmel, dalam satu hari kita menghormatinya beberapa kali, yaitu setiap penutup misa, doa penutup makan siang, dalam penutup ibadat pagi dan sore, dan ditambah dengan doa rosario pada siang hari. Hal ini membuat saya semakin menghormatinya secara mulia dan saya semakin dekat dengan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong Abadi. 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting