User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Musim penghujan mulai tiba. Di sebuah pertapaan yang terletak jauh dari kota, kesunyian begitu terasa. Udara dingin sehabis hujan membuat seorang suster muda membetulkan baju hangat yang dipakainya dan melingkarkan tangan ke dalam baju hangatnya untuk menghilangkan rasa dingin. Belaian sang bayu membuat ia bergumam kecil, “Tuhan alangkah dinginnya …” Dan sesaat kemudian secercah sinar matahari menimpa wajah lembutnya. Kehangatan mulai dirasakan tidak saja di wajahnya tetapi menembus hingga ke hatinya.

Tiba-tiba … suster muda ini tersadar akan sesuatu … yah, sesuatu yang dikatakannya tadi, “Tuhan alangkah dinginnya.” Itulah ekspresi hatinya saat ini. Hati yang dirasakan begitu dingin. Ia tidak dapat lagi merasakan arti sebuah cinta dari Kekasihnya. Berbagai peristiwa sedih yang menghiasi hari-hari terakhirnya harus dijalani dengan kegaduhan dalam dirinya, segala ketidak-mengertian membuat hatinya membeku bagaikan sebongkah besar es yang membeku dan tidak dapat cair lagi … membeku dan tetap membeku.

Dipandang hijaunya dedaunan dan wangi bunga yang bertebaran seolah menyapa dan mengajaknya untuk melupakan semua peristiwa yang dialami. Namun … hatinya tak terhibur! Ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga demi anak tangga hingga di puncak. Dari ketinggian itu dipandangnya langit dengan tatapan yang kosong, dan di kedalaman hatinya ia melantunkan sebuah puisi indah karangan kakak rohaninya:

 

Kekasihku, dimanakah Engkau bersembunyi,

Tinggalkan daku merana?

Bagaikan sang rusa, Kau lari

Setelah aku Kau lukai

Keluar kukejar Kau seraya memanggil

Tapi Kau menghilang pergi

(Santo Yohanes dari Salib, Kidung Rohani, Stanza 1)

 

 Suster muda ini merasakan betapa jauhnya Tuhan, ke manakah Dia? Hari-hari panggilan yang biasanya dilalui dengan semangat dan dijalankan dengan penuh cinta kepada-Nya, “Akan tetapi, sekarang ?” Cinta itu telah pergi dan menepis dari dirinya. Kedamaian dan kegembiraan bekerja untuk Tuhan kini telah hilang. Sebuah pertanyaan mengusik hatinya, “Mengapa Dia menjauh dari padaku?” Ketika cintanya untuk Tuhan mulai bermekaran bagaikan mawar yang indah di taman hati, ketika keheningan menjadi sebuah firdaus bagi dirinya, ketika dirinya telah menjadi sebuah teratai yang sedang mekar, ketika … dan ketika … segalanya terasa begitu indah. Suster muda ini merasa kesepian dan sendiri, dan satu kata yang bergema dalam dirinya, Tuhan telah meninggalkannya, Kekasihnya telah pergi menjauh …

Dirasakan, kepergian Kekasihnya sangat melukai hati suster muda ini, raut wajahnya yang lembut berubah menjadi muram. Pencobaan dan penderitaan yang dialaminya membuat ia lelah, “Sampai kapankah ini, Tuhan?” Ia selalu bertanya, “Sampai kapankah Engkau mencobai aku? Sampai kapankah aku harus membuktikan cintaku pada-Mu?” Tidak cukupkah cinta yang kuberikan selama ini hingga Engkau terus saja memberi pencobaan dan penderitaan? Ingin sekali ia berteriak, “Cukup Tuhan! Saya sudah lelah …!” tetapi cinta menghalanginya untuk melakukan itu. Ya, cintalah yang membuatnya tetap bertahan. “Cinta, oh .. cinta, seandainya Engkau tahu siksa batin yang aku alami …” bisik kalbunya lirih.

Suster muda itu terus berjalan dan di sebuah anak tangga ia duduk membiarkan wajah muramnya disinari oleh mentari pagi. “Oh Tuhan …” dari bibirnya meluncur sebuah kata yang mengandung kerinduan mendalam kepada Sang Kekasih. Sebuah kata mutiara dari kakak seperjuangan yang telah mendahuluinya menjadi seorang Santa bermain di pikirannya:

 

“Saya lebih suka menjadi bola kaki yang kecil dan sederhana, yang dapat dibanting-Nya ke tanah. Ia dapat menendangnya, melubanginya dan dapat ditaruh saja di pojok atau apabila Ia senang Ia dapat memeluknya rapat-rapat pada dada-Nya.” (Santa Teresia dari Lisieux)

 

Dan suster muda itu berkata, “Saya tidak ingin menjadi bola kristal Tuhan,” air matanya turun membasahi pipinya, kedua tangannya dikatupkan di wajahnya, sekarang isak tangis mulai terdengar perlahan-lahan. Dari kedalaman hatinya ia berucap, “Jangan jadikan saya sebuah bola kristal Tuhan … jangan, saya mohon Tuhan … jangan!” Suster ini sadar betapa mahalnya sebuah bola kristal dan apabila bola itu tergores sedikit saja akan membuat kecewa yang menyayangi bola kristal itu. Ketika kristal itu tergores kemilaunya pun akan pudar dan ia tidak akan dipandang lagi. Tentulah kristal itu akan mengalami kekecewaan juga. Dan dirinya. Betapa ia tidak mau mengecewakan orang lain dan tidak mau kecewa karena sesuatu yang tinggi diletakkan padanya karena disadari dirinya penuh dengan cacat cela dan kepapaan. Sungguh, hatinya benar-benar memohon dalam isak tangis yang sedikit demi sedikit mereda.

Permenungan akan penderitaan dan pencobaan yang dialaminya buyar seketika oleh teriakan para pemain sepak bola di lapangan sebelah pertapaan, “Bola, bola!” Senyum tersungging di hati suster muda ini dan sinar kehidupan memancar kembali di bola matanya, ia bangkit berdiri dan dengan suara mantap ia berkata, “Tuhan, saya hanya ingin menjadi sebuah bola kecil dan sederhana!” Teriakan yang meluap dari dirinya mampu membuat burung-burung yang selama ini menemaninya berterbangan diiringi dengan kicauan merdu yang beraneka ragam seakan mengucapkan kidung yang indah bagi suster muda ini.

Wajah yang tadinya muram kembali tersenyum manis dan kesejukan mengalir dalam dirinya bersama hembusan angin pagi. Ia memandang jauh pada kedalaman hatinya. Ia sadar bahwa Kekasihnya tidak pernah meninggalkannya. Ia selalu ada, dekat bahkan sangat dekat dengan dirinya. Sekarang ia sadar akan makna dari penderitaan dan pencobaan untuk menjadikannya semakin rendah hati dan mengajarnya untuk menjadi seorang manusia dewasa seperti yang selama ini ia dambakan. Pesan ibu rohaninya menggema di telinganya, bekerjasamalah dengan rahmat-Nya yang tak akan pernah berhenti menaungi kehidupanmu. Dan kerinduan jiwanya telah terpenuhi di dalam Dia yang selalu mencari setiap jiwa yang setia menantikan-Nya dengan penuh kerinduan untuk dicintai. Mampukah kita masuk dan menyadari Dia yang sangat merindukan jiwa kita untuk dipenuhi dengan cinta-Nya, yang selalu menyapa di setiap pergulatan dan pencobaan. Dia berada dekat sekali dengan pribadi diri kita yang papa ini.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting