User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 


Pendahuluan

Dalam perjalanan menuju Jakarta, 6 Mei 2007, ketika hendak bertemu dengan Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Vinsens Sensi Pr; Sr. Skolastika, P. Karm meminta kesediaan saya untuk menulis seputar pengalaman saya akan Imamat dan Kharismatik. Saya menerima permintaan tersebut karena saya pikir ini sesuatu yang baik untuk memberi kesaksian tentang apa yang saya alami dalam perjalanan imamat saya.

Sesungguhnya menurut saya kesaksian tentang Imamat dan Kharismatik ini jauh lebih tepat kalau ditulis oleh Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm sendiri, sebab beliau saya anggap sebagai guru dalam hal ini. Akan tetapi baik juga kalau seorang murid memberi kesaksian tentang gurunya.


Mengenal Karismatik

Saya mengenal kharismatik beberapa bulan setelah saya ditahbiskan menjadi imam tahun 1984. Ketika itu, Ibu Siregar dan Ibu Esther Kandou dari PD St. Elisabeth Jakarta, pergi ke Ruteng untuk memberikan retret umum selama 3 hari. Dalam retret ini saya sangat terkesan dengan keduanya karena mereka sangat menguasai Kitab Suci (menyebut pengarang dan ayat dengan tepat) dan memimpin doa dengan sangat mengalir tanpa teks. Kesaksian mereka pun demikian menarik dan saya merasa seolah-olah saya dibawa masuk kepada pengalaman Gereja Awali dalam Kisah Para Rasul.

Akan tetapi di samping itu saya juga merasa malu sebab sebagai imam baru, saat retret itu saya menilai diri saya tidak mempunyai apa-apa sedikit pun dari apa yang saya pelajari di seminari, bila dibandingkan dengan kedua ibu tadi. Mereka hanya ikut kursus teologi selama 3 bulan tetapi sangat fasih berbicara tentang Kitab Suci dan berdoa. Kesaksian mereka enak didengar, sederhana tetapi sangat menyentuh hati. Doa yang mereka ucapkan mengalir dan sangat biblis.

Meski demikian saya tetap bersyukur karena ketika saya pulang ke paroki saya merasa ada sesuatu yang baru hadir dalam diri saya. Saya bersukacita dalam karya dan menjadi semakin tekun lagi dalam doa dan membaca Kitab Suci. Pengalaman ini sungguh menarik dan membuat saya rindu untuk mengenal kharismatik lebih jauh.

Tahun berikutnya Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm dan Rm. Sugiri, SJ datang ke Ruteng untuk memberi retret kharismatik bagi para imam. Kedua imam ini selama seminggu membimbing kami dan memperkenalkan kharismatik melalui kesaksian mereka tentang bagaimana membaharui hidup imamat lewat “Hidup Baru Dalam Roh”. Kesaksian kedua imam ini sangat mengobarkan semangat saya dan oleh karena itu, dalam hati saya berjanji mau menghayati hidup imamat dengan semangat baru, hidup dalam Roh.

Dari kesaksian mereka saya semakin percaya bahwa Pribadi ketiga dalam Tritunggal ini bukanlah Pribadi yang tak bisa disentuh atau didekati, melainkan Pribadi yang dekat serta hidup dan mau berkarya dalam diri kita, bila kita dengan penuh kerinduan mau menerima Dia dan bekerja sama dengan-Nya. Pengalaman Pentekosta pada Gereja Perdana pasti akan terulang.

Di akhir retret itu dengan doa penumpangan tangan, keduanya mendoakan kami untuk bisa mendapatkan karunia bahasa roh. Walaupun saat itu saya tidak mendapat karunia tersebut, tetapi hati saya semakin berkobar-kobar untuk lebih tekun lagi dalam doa serta membaca Kitab Suci. Saya merasa doa-doa saya lebih enak, biblis, dan praktis. Perayaan Ekaristi yang saya rayakan lebih hidup dan menyenangkan, iman dan harapan saya menjadi lebih kuat dan saya menjadi lebih optimis dalam berkarya. Prinsip “carilah dahulu Kerajaan Allah dan yang lain akan ditambahkan padamu”, menjadi sabda yang hidup dan meneguhkan. Motto imamat saya: “Ya Tuhan, Engkau tahu aku mencintai Engkau” (Yoh. 21:15), menjadi sesuatu yang hidup di dalam hati. Sejak saat itu, motto ini menjadi doa tetap saya dalam Ekaristi, setiap kali saya mengangkat hosti dan piala pada saat konsekrasi hingga sekarang ini.

Kenal lebih dalam

Juli 1997, saya dan beberapa teman imam, sekitar 16 orang dari pelbagai tempat, mendapat kesempatan untuk mengikuti retret imam di Ngadireso, dibimbing oleh Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm sendiri. Retret ini menguraikan tentang “hidup imamat dan karunia-karunia Roh Kudus”. Sambil mensharingkan pengalaman pribadinya, Rm. Yohanes mengantar kami untuk menyadari bahwa Sakramen Imamat adalah suatu karunia yang sangat besar nilainya bagi hidup Gereja dan karya Kristus seluruhnya. Imam dipanggil dan ditahbiskan untuk melanjutkan karya penebusan Yesus Kristus dalam segala aspek hidup Kristus.

Imam penentu maju mundurnya kehidupan iman umatnya. Imam adalah gembala, nabi, dan pelayan Sakramen. Dalam tiga tugas ini para imam menjalankan tugas Kristus secara penuh. Sebab dengan menerima tugas para imam menjadi alter Christus – Kristus yang lain. Dengan kesadaran menjadi alter Christus, maka dalam melaksanakan karyanya, para imam dengan sendirinya mau sungguh-sungguh menghayati imamat Kristus dengan mewujudkan karya-karya Kristus seperti yang tertulis dalam Injil: “mewartakan kabar gembira sambil menyembuhkan”. Hal ini hanya dapat terwujud bila para imam mau bekerja sama dengan Roh Kudus, sebab Roh Kuduslah yang akan membantu para imam, untuk dapat melakukan pekerjaan Yesus bahkan pekerjaan yang lebih besar daripada itu (Yoh. 14:12), sebagaimana terjadi dalam diri para rasul dan para kudus dalam Gereja.

Para Rasul, seperti disaksikan penulis Kisah Para Rasul, telah sungguh-sungguh menjalankan tugas imamat mereka, sesuai pesan Kristus sendiri. Dengan bantuan Roh Kudus mereka berkeliling sambil melakukan mujizat. Oleh pewartaan dan karya mereka Gereja mulai bertumbuh, berkembang, dan berbuah sampai pada zaman kita ini. Maka bila para imam dapat meneruskan cara pewartaan yang sama sambil melakukan mujizat, iman umat yang dilayani para imam akan tumbuh semakin kuat dan kokoh, berkembang pesat sebab mereka mengalami kasih Allah yang nyata melalui pewartaan dan mujizat-mujizat yang terjadi, baik melalui doa maupun melalui pelayanan Sakramen.

Pemahaman baru seperti ini kemudian membantu saya untuk membaca kitab Kisah Para Rasul dengan iman yang lebih dalam lagi dan berharap agar bisa melayani umat dengan mewujudkan karya-karya Kristus seperti itu. Dalam proses selanjutnya dari retret itu, hal yang paling mengesankan bagi saya ialah ketika kami diajarkan doa Yesus - menyebut nama Yesus saja sambil menarik dan menghembuskan nafas, di depan Sakramen Mahakudus.

Pada hari ketiga dalam doa Yesus saya mulai mengalami penyembuhan-penyembuhan fisik pada kaki dan tangan. Suster yang membimbing kami dalam doa Yesus lewat sabda pengetahuan juga bernubuat tentang adanya imam-imam yang saat itu menerima karunia-karunia khusus, seperti bisa melayani karya penyembuhan, dan lain-lain. Saya merasa tersentuh dan percaya bahwa saya juga mendapatkannya, karena ketika nubuat itu diucapkan, hati saya berkobar-kobar, merasa adanya aliran sejuk menyelimuti seluruh tubuh dan menimbulkan sukacita serta kebahagiaan yang mendalam. Ini suatu pengalaman rohani yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam retret-retret di Ruteng. Dari penjelasan selanjutnya diketahui bahwa keadaan hati seperti itu adalah salah satu manifestasi dari hadirnya Roh Kudus.

Pengalaman hadirnya Roh Kudus semakin lebih dalam lagi ketika pada upacara pencurahan Roh, Rm. Yohanes dibantu para suster berdoa dengan menumpangkan tangan atas kami masing-masing; saat itu saya mengalami resting in the spirit dan menerima karunia bahasa roh. Sejak waktu itu hati saya berkobar-kobar dalam sukacita yang besar serta ingin menyanyikan lagu pujian terus-menerus. Kobaran api cinta saya akan Tuhan yang mengaruniakan imamat ini, semakin dalam lagi, ini terpercik dalam jawaban saya akan pertanyaan-Nya: “apakah engkau mengasihi Aku?”, yang saya jawab dengan semakin lebih mantap dan tegas lagi: “Ya Tuhan, aku mencintaiMu!”

Melalui pengalaman itu saya yakin Roh Kudus ada dan Dia sekarang sungguh-sungguh bekerja dalam hidup saya; dan pada saat bersamaan saya mohon ampun kepada-Nya karena selama hidup ini saya sering mengabaikan kehadiran-Nya. Puji Tuhan, Yesusku hidup!
 
Mujizat-Mujizat Itu Nyata

Setelah retret yang indah itu, saya pulang ke paroki Benteng Jawa, Keuskupan Ruteng – Flores, tempat saya bekerja. Dalam hati, saya telah memiliki keyakinan bahwa Tuhan telah mengurapi saya dengan kuasa Roh Kudus melalui cara-Nya yang baru; maka saya mulai berusaha mengutamakan Dia dalam pelayanan saya, memohon pimpinan-Nya agar sanggup mewujudkan kasih Allah lewat pelayanan saya yang baru: mewartakan sambil menyembuhkan.

Ketika hendak memulai, saya merasa tidak mudah dan mengalami pergulatan batin bagaimana saya harus memulainya, sebab tidak mungkin saya mengatakan kepada umat, sekarang saya bisa mendoakan orang sakit. Pada suatu waktu dalam pergulatan itu, di saat sedang mendaraskan ibadat pagi di sebuah stasi, saya mendengar bisikan Roh Kudus yang nyata: ”engkau harus memulainya, anakku!” Mendengar itu hati saya serentak berkobar dan yakin perintah ini berasal dari Roh Kudus, namun tetap waspada dan melakukan discernment (baca: berdoa untuk mengenali dan melaksanakan kehendak Allah).

Ketika merayakan Ekaristi, perintah ini saya abaikan sambil discernment, tetapi suara itu makin keras terngiang di telinga saya. Akhirnya sebelum memberikan berkat akhir, saya mengatakan kepada umat: “kalau di antara Anda ada yang sakit, sesudah acara pembaptisan anak-anak kita akan berdoa bersama untuk mohon rahmat penyembuhan”. Umat tampaknya senang; dan setelah pembaptisan anak, kami berdoa rosario bersama (tiga peristiwa) disusul dengan doa penumpangan tangan saya atas yang sakit satu per satu. Setelah semuanya selesai saya tidak mau bertanya apakah ada yang sembuh. Saya berpikir itu urusan Tuhan, tetapi juga bimbang apakah perintah tadi itu benar-benar berasal dari Roh Kudus. Saya meneruskan perjalanan kembali ke pusat paroki.

Dalam kunjungan berikutnya di stasi tersebut ada banyak intensi misa syukur penyembuhan yang dirasakan umat dalam doa penyembuhan kami. Berita itu pun sudah tersiar ke mana-mana dan umat di stasi-stasi mulai meminta pelayanan doa penyembuhan untuk yang sakit, termasuk di pusat paroki. Sejak saat itu setiap hari selalu saja ada orang sakit yang datang ke pastoran (pusat paroki) atau datang ke kapel di stasi untuk memohon doa penyembuhan dengan segala macam penyakit. Melalui pelayanan ini sangat terasa kasih Tuhan mengalir tiada hentinya untuk memberi penghiburan dan kekuatan kepada umat-Nya, khususnya kepada yang menderita, lahir maupun batin. Kesembuhan terjadi atas pelbagai macam penyakit dan juga pembebasan dari kuasa roh kegelapan.

Seiring dengan terjadinya mujizat-mujizat itu terasa pula bangkitnya semangat iman dan harapan dalam diri umat. Mereka mulai percaya akan kekuatan doa, mereka mulai rajin berdoa, juga percaya akan janji-janji Tuhan, membeli Kitab Suci serta tekun membacanya. Semakin banyak orang datang mengikuti Ekaristi dan mengaku dosa. Keadaan ini bertumbuh dengan sendirinya tanpa suatu warta khusus dalam rekoleksi atau retret. Iman dan harapan umat terus-menerus bertumbuh karena menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana sentuhan rahmat Allah yang terjadi melalui karya penyembuhan-Nya. Denyutan nadi dan semangat umat paroki semakin berkobar dan berkembang. Tampak dan terasa ada sukacita di mana-mana, sebab umat merasa mereka dikasihi Allah secara nyata.

Kebajikan-kebajikan lain juga tumbuh dengan sendirinya di dalam hidup beriman, misalnya: tumbuhnya sikap tahu terima kasih dan bermurah hati, adanya semangat rela berkorban untuk membangun paroki, membina kerja sama dan menjaga kerukunan dalam kelompok-kelompok basis. Singkatnya semangat hidup beriman dalam Gereja perdana tumbuh dengan subur. Roh Kudus mengurapi umat paroki dengan rahmat-Nya yang baru sehingga menimbulkan kebangkitan baru.

Selanjutnya saya menyaksikan kehidupan menggereja serta karya-karyanya dirasakan umat sebagai tanggungjawab bersama seluruh anggota Gereja; dan karena itu setiap orang berusaha memberikan apa yang bisa dia lakukan untuk membangun paroki seluruhnya. Dengan menyaksikan semua ini, saya percaya percikan api Roh Kudus hidup dan bernyala melalui karya penyembuhan Tuhan guna menghidupkan semangat iman dan harapan umat untuk mewujudkan imannya secara nyata. Inilah Gereja yang hidup dan Kristus hidup dalam diri umatNya.

Setelah 12 tahun berada di paroki itu saya sungguh menyaksikan bahwa janji-janji Tuhan seperti tertulis dalam Markus 16: 17-18 semuanya terjadi; dan ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Dengan demikian saya merasa imamat saya adalah anugerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada saya untuk mendatangkan keselamatan Tuhan atas umat-Nya melalui pelayanan saya. Saya merasa berguna dan diteguhkan, tetapi sambil berjuang dengan keras untuk melawan kesombongan, sebab saya tahu ini godaan yang amat dalam pelayanan seperti ini.

Selanjutnya ketika saya ditugaskan untuk memimpin seminari menengah saya coba melayani para siswa dengan mengobarkan semangat iman mereka melalui retret dan rekoleksi dengan gaya karismatik, juga adorasi tetap setiap bulan pada hari Jumat pertama yang berlangsung mulai pukul 18.00 s/d 24.00 (1 jam bersama dan dilanjutkan dengan giliran tiap kelas). Dalam semangat itu saya juga tetap merasa Tuhan Mahabaik dan memperhatikan kami dengan mujizat-mujizatnya. Tuhan memelihara seminari dengan kelimpahan melalui kebaikan para penderma yang membantu kami dengan tulus. Doa-doa kami bersama selalu dijawab dengan kebaikan berlimpah lewat pelbagai hal yang kami rasakan. Pada akhir masa jabatan, saya mengatakan: “perbuatan besar telah dikerjakan bagi kami, maka kuduslah namaNya.”

Sementara itu para imam seminari tetap membantu pelayanan di paroki terdekat serta memberikan kesaksian sambil melayani doa-doa untuk pelbagai macam kepentingan umat. 

Imamat dan kuasa Roh Kudus

Kita semua percaya setiap imam yang ditahbiskan Uskup menerima kuasa Roh Kudus pada saat Uskup menumpangkan tangannya atas imam yang ditahbiskannya. Namun kuasa Roh Kudus tidak dengan sendirinya bekerja bila imam yang bersangkutan tidak membuka kunci iman untuk percaya akan kehadiran Roh Kudus dalam hidup imamat dan karyanya.

Saya bersyukur bahwa dengan mengenal kharismatik saya dapat memperoleh banyak pengetahuan bagaimana hidup dalam iman pengharapan sehingga janji-janji Yesus Kristus terwujud melalui karya Roh Kudus, Pribadi Ketiga dalam Tritunggal ini. Ada begitu banyak janji tentang pekerjaan Roh Kudus dalam Injil Yohanes, namun janji itu baru disadari ketika saya terus-menerus mengikuti retret-retret kharismatik. Maka bagi saya kharismatik adalah pintu masuk untuk mengenal karya-karya Roh Kudus sekaligus pintu masuk yang menghidupkan iman saya untuk percaya bahwa Roh Kudus tetap bekerja sepanjang perjalanan sejarah Gereja dengan karya-karya mujizat Allah.

Kini ketika saya mengambil tahun sabat imamat di Cikanyere, saya melihat karya Roh Kudus hidup dengan nyata terus-menerus setiap hari melalui pelayanan retret-retret, pengakuan dosa, Ekaristi, konseling, adorasi, persekutuan doa, serta doa-doa lain sepanjang tahun. Mujizat-mujizat juga terus terjadi oleh kuasa Roh Kudus. Tuhan Yesus sungguh-sungguh hidup.

Saya bersyukur atas kesaksian iman Rm. Yohanes Indrakusuma yang berani mendirikan komunitas Putri Karmel dan frater CSE dengan semangat kharismatis, dengan menghayati hidup dan karya di bawah bimbingan kuasa Roh Kudus. Saya menyaksikan kunci utama yang menghidupkan karunia-karunia Roh Kudus dalam pelayanan mereka di tempat ini, tidak lain adalah keheningan dalam kontemplasi serta doa-doa bersama dalam pujian dan syukur setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus. Melalui pengalaman-pengalaman ini, saya semakin mencintai imamat saya dan terus mau melayani dengan setia dalam keyakinan “perbuatan besar Allah terus-menerus dikerjakan-Nya bagi manusia, kuduslah nama-Nya.”

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting