Print
Hits: 415
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Image result for bahasa roh

Bahasa Roh – Ekspresi Terdalam Jiwa

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Hal ini diakui rasul Paulus, “.... dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tesalonika 5:23)

Pemahaman sederhana tentang tubuh-jiwa-roh sebagai berikut: tubuh adalah jasmani, fisik kita; jiwa yang memberi kita kepribadian serta memampukan kita berelasi dengan Tuhan, sesama, dan diri kita; sedangkan roh yang memberi arti dan tujuan hidup serta memampukan kita mengasihi Tuhan, sesama, dan diri kita. Secara hierarkis, tubuh berada di tingkat paling bawah, jiwa di tengah, dan roh di tingkat tertinggi.

Dalam Mazmur 143:8, raja Daud mengatakan, “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.”

Mengangkat jiwa dapat diartikan, kita membawa jiwa ke tingkat roh, bukan menurunkannya ke tingkat tubuh atau jasmani. Demikianlah yang terjadi pada saat kita berdoa, serta mengarahkan hati dan hidup kepada Tuhan.

Contoh lain pemahaman tubuh-jiwa-roh: dalam Perayaan Ekaristi ketika Imam mengatakan, “Tuhan bersamamu...,” lalu umat menjawab, “Dan bersama rohmu...” Dengan mengatakan ‘bersama rohmu,’ umat mengakui bahwa Imam yang memimpin Perayaan Ekaristi bukanlah Imam sebagai manusia (jasmani, tubuh) yang memiliki kekurangan dan kelemahan, melainkan Imam yang telah menerima urapan Roh Kudus sewaktu tahbisan dan dalam Perayaan Ekaristi rohnya bersatu dengan Roh Kristus mempersembahkan kurban misa kepada Allah Bapa.  

***

Ketika mengikuti Retret Awal, saya tidak tahu ada sesi pengajaran tentang Karunia Bahasa Roh. Sikap saya netral terhadap Karunia Bahasa Roh: tidak mengharapkan sampai memohon dengan sangat, tidak juga menolak jika dikaruniakan.

Di saat Pencurahan Roh Kudus, saya mengalami resting in the spirit, tetapi belum mampu berbahasa Roh. Keesokan hari, dalam Misa Penyembuhan, ketika kembali diadakan Pencurahan Roh Kudus, saat itulah saya memperoleh karunia Bahasa Roh.

Dari mulut meluncur kata-kata yang hanya dimengerti oleh roh kita sendiri dan Roh Kristus. Sementara kedua telapak tangan terbuka ke atas, terasa aliran getaran dari lengan tangan ke ujung jari-jari. Itulah ekspresi terdalam jiwa di tataran roh. 

Sekarang saya dapat makin memahami Bahasa Roh. Tak perlu takut atau merasa aneh, kalau mengalaminya atau melihat orang-orang berbahasa Roh.

Jika kita berdoa dengan bahasa manusia, berarti jiwa kita turun ke tingkat tubuh; karena bahasa manusia dipelajari oleh akal budi dan diucapkan dalam struktur kata yang tertata sesuai bahasa tertentu (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lainnya). Otak kita yang mengaturnya. Tetapi, pada saat kita berdoa dalam Bahasa Roh, maka yang berdoa ialah jiwa kita yang terangkat ke tingkat roh. Roh-lah yang menggerakkan, bukan lagi otak kita.

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (Roma 8:26)

Ketika kita sudah kehabisan kata-kata, tidak tahu lagi bagaimana harus berdoa mengungkapkan isi hati, kita dapat mengangkat jiwa kita ke tingkat roh dan berbicara dalam Bahasa Roh, bersatu dengan Roh Kristus dalam doa kepada Allah Bapa.