Print
Hits: 321
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Image result for yesus menyembuhkan orang sakit

Melampaui Yang Indrawi

Sebelum mengikuti Retret Awal di Lembah Karmel tanggal 6-9 Juli 2017, aku sudah tiga kali berkunjung ke tempat ini, tetapi hanya mengikuti Misa Penyembuhan bersama rombongan. Terakhir, aku ke Lembah Karmel pada Minggu 23 September 2012. Berarti sudah lebih dari 4 tahun aku tidak menjejakkan kaki di Lembah Karmel. Mungkin karena itu, aku merasa perjalanan menuju ke lokasi sangat lama, melewati jalan-jalan yang tidak mulus. Rasanya seperti mendaki Gunung Karmel.

Kalau ditanya alasanku mengikuti retret ini, jawabanku karena persyaratan. Semula aku mendaftar untuk mengikuti retret Mengatasi Kelemahan. Tetapi kemudian aku membaca pengumuman di belakang brosur jadwal retret, yang mensyaratkan peserta harus mengikuti Retret Awal dahulu, baru dapat mengikuti retret lainnya.

Ada satu hal yang mengganjal, ketika aku akan berangkat retret. Tiga hari sebelumnya, aku mengajak anakku ke dokter internis. Beberapa bulan belakangan ini aku melihat gejala-gejala penyakit tiroid dalam diri putriku seperti rambut rontok, mudah lelah, perubahan mood, nyeri otot dan tulang, suhu tubuh yang dingin. Ketika berkonsultasi dengan dokter, selain periksa darah untuk mengecek kemungkinan sakit tiroid, dokter juga menambahkan kemungkinan sakit  lupus (autoimun). Aku terkejut sekali. Apakah mungkin anakku menderita penyakit tersebut?  

Kecemasan ini berusaha aku tepis dalam retret. Pada saat Adorasi Sakramen Mahakudus, Pencurahan Roh Kudus, dan Misa Penyembuhan, aku menaikkan permohonan agar hasil tes darah anakku negatif untuk kedua penyakit itu, meskipun gejala-gejala fisik mengarah ke sana.

Sepulang retret, kami menghadap dokter untuk mengetahui hasil periksa lab. Puji Allah Tritunggal dan Bunda Maria.... Sungguh besar kuasa-Nya, anakku tidak menderita kedua penyakit itu. Kuasa-Nya sungguh nyata bagi orang yang percaya penuh kepada-Nya.

Anakku memang sempat protes, ketika akan periksa darah di lab. Ia katakan, ia yakin tidak menderita kedua penyakit itu. Tetapi, aku merasa ia tetap perlu menjalani tes darah untuk mengetahui kebenaran diagnosis dokter.

Merefleksikan pengalaman ini, aku diingatkan untuk tidak terlalu terpaku pada hal-hal yang indrawi. Bisa saja gejala-gejala penyakit tertentu tampak pada fisik kita, tetapi sesungguhnya belum tentu demikian. Masih ada faktor x – sesuatu yang tidak kita ketahui dan melampaui keterbatasan indra kita – itulah kebesaran kuasa Tuhan. Dan yang kita butuhkan hanyalah iman.