Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Image result for hidup baru dalam kristus

TUHAN, AKU MAU MEMULAINYA SEKARANG

(Refleksi pribadi setelah Retret Awal Keluarga di Lembah Karmel Cikanyere)

 

28 – 31 Maret 2019

Latar Belakang

Berpacaran 9 tahun. Menikah 25 tahun. Pasang surut kehidupan pernikahan telah terselami. Namun surut kehidupan pernikahan begitu kuat menerpa. Mencari solusi ke berbagai sumber lain demi baiknya bangunan pribadi dan keluarga ternyata fatamorgana. Ketika fatamorgana itu semakin mengaburkan jalan setapak perjalanan pernikahanku, tak bisa lagi aku berpaling. Aku menyerah. Aku terpuruk dalam keputusasaan. Segala kekuatanku yang kudapat dari sumber lain yang bukan adi-kodrati ternyata tak ubahnya sebuah tipuan rohani. Dalam keterpurukanku, aku memutuskan untuk berlari kembali kepada Allah-ku, Yesus Kristus.

Hambatan menghadang keinginanku untuk melepaskan kekuatanku yang tidak adi-kodrati. Informasi sulit kuperoleh. Kesempatan seperti tidak pernah mengijinkanku. Kesulitan keuangan menghadang. Kesepakatan keluarga pun sulit dicapai. Di sisi lain, bangunan keluarga nampak semakin rapuh. Kuasa gelap semakin nyata dan bermanifestasi dalam hari-hari kehidupan keluarga.

Cahaya pengharapan mulai nampak di saat peringatan ulang tahun pernikahanku yang ke-25 ketika kami sekeluarga menyampaikan intensi syukur dan persembahan keluarga melalui misa kudus di Gereja Santo Arnoldus Bekasi. Dan di luar dugaan, Pastor yang mempersembahkan misa adalah pastor paroki sendiri, Rm Stefanus Kumoro Aji SVD. Di luar dugaan juga, ketika kami adorasi keluarga di ruang adorasi pastoran, Pastor Kepala Paroki itu juga yang memergoki kami keluar dari ruang adorasi, dan kemudian memberikan berkatnya kepada kami sekeluarga. Harapan itu menguat, dengan kuperolehnya informasi mengenai retret awal di Lembah Karmel di Cikanyere Jawa Barat.  Kebulatan tekad aku susun bersama istri. Kami mengajak kedua anak kami. Dan mereka setuju. Optimisme mulai menyeruak dalam keluarga kami.

 

Yang Kualami

Januari 2019. Kami mencoba datang ke Lembah Karmel Cikanyere untuk mengikuti Misa Kudus di hari Minggu. Karena informasi yang keliru, kami datang terlalu pagi, tamu yang pertama datang di hari itu. Misa Kudus kami ikuti. Kami bertanya-tanya, apakah sosok pastor tua yang menjadi konselebran adalah Romo Yohanes yang namanya sering kudengar? Konsultasi kami lakukan setelah perayaan Misa Kudus. Frater Anton CSE melayani kami dengan sangat baik. Namun kami masih bimbang karena latar belakang pemahaman kami sebelumnya dengan konsultasi yang Frater muda itu berikan kepada kami. Kami pulang ke rumah dengan sedikit ragu-ragu, namun lebih banyak kemantapan hati karena jalan terang mulai nampak untuk keluarga kami dalam melakukan rekonsiliasi: rekosiliasi dengan Allah Bapa karena kami pernah berpaling ke lain sumber rohani; dan rekonsiliasi keluarga karena keluarga kami yang sempat mulai retak. Namun keputusan satu dan bulat kami buat: Kami harus kembali ke Lembah Karmel Cikanyere. Tuhan ada di sini dan menanti kami.

28 Maret sampai dengan 31 Maret 2019 kami mengikuti retret awal di sini. Kekawatiran yang masih menggelayut membuat kami mempersiapkan diri secara berlebihan. Semua keperluan sehari-hari termasuk obat-obatan dan alat-alat medis darurat terutama untuk penguapan (anak kami ke-3 sering sesak nafas) pun kami bawa. Kami, tak ubahnya mau bepergian jauh selama berhari-hari.

Retret kami ikuti mulai dari sesi pembukaan hingga sesi akhir. Kami menjalaninya dengan semampu mungkin dengan satu tujuan: Rekonsiliasi – dengan Allah dan keluarga.

Hambatan utama yang aku rasakan adalah lagu-lagu yang sama sekali tidak populer bagiku. Aku lebih terbiasa dengan lagu rohani yang konvensional, seperti Hatiku Mendamba Cahaya-Mu, Urip Kang Utama dan Lereming Ati dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, atau lagu-lagu dari Buku Madah Bakti. Hampir semua lagu di tempat retret ini adalah baru bagiku.... menuntutku untuk membuka hati dan jiwaku lebih lebar untuk hadirnya Tuhan dalam hati sanubariku.

 

Buah – Buah Rohani

Lagu-lagu yang bagiku asing dan baru, justru telah membawa aku dan keluargaku semakin masuk mendalam ke dalam materi retret. Bagiku, kedalaman keterlibatan kami sekeluarga adalah buah-buah rohani yang telah Tuhan berikan. Betapa tidak:

  1. Aku melihat kedua anakku asyik membaca kitab suci dan berbagai buku rohani yang dibeli di kios resepsionis. Bagiku, setelah kuasa gelap yang telah sekian lama mengoyak pondasi bangunan keluarga kami, hal itu menjadi harapan besar akan kembali menguatnya bangunan keluarga kami.
  2. Antusiasme keluargaku yang sangat kuat dalam menjalani retret 4 hari tanpa mengeluh bahkan tanpa menuntut apapun termasuk mengenai menu makanan yang sangat sederhana namun enak dirasa.
  3. Sentuhan halus dan hangat penuh kedamaian mulai menyentuhku terutama mulai di hari ke-2 retret. Aku tidak paham sentuhan apakah ini, tapi lembut hangat dan mendamaikan hati. Aku sering tertunduk menangis saat sentuhan itu terasa begitu mendalam, membawa diriku ke dalam penyesalan hati yang mendalam atas apa yang bertahun ini menerpa diriku dan keluarga. Hampir seluruh kemampuan – yang ternyata kuperoleh baik dari faktor keturunan dan sumber lain satu persatu kurasakan mulai memudar menghilang. Menerawang aku mulai tidak bisa. Vibrasi mulai sulit kulakukan. Dan melihat sosok lelembut pun aku tak lagi mampu. Aku kehilangan sebagian besar kemampuan bukan adi kodrati yang selama ini menjadi bagian dari diriku.
  4. Puncak dari retret kurasakan saat Pencurahan Roh Kudus, di malam terakhir. Diawali dengan pengakuan dosa dan menerima sakramen rekonsiliasi, aku tumpahkan semua bebanku di depan Pastor Athan CSE. Aku menyatakan secara tegas dan mantap: ‘Pastor, aku ingin melepas semua kemampuanku yang tidak adikodrati. Aku mau memutus semua ikatan kuasa gelap yang pernah ada baik karena faktor keturunan atau karena proses belajar. Aku mau rekonsiliasi: dengan Allah Bapa dan dalam kehidupan nyata, dengan keluargaku. Menjalani penitensiku, aku memilih berdoa di depan patung keluarga kudus, satu tempat yang sepi dan tak dikunjungi oleh orang-orang. Di situ, kuserahkan keluargaku dengan satu intensi: Aku mau pulang. Pulang ke rumah Allah Bapaku. Aku anak bungsu yang selama ini hilang. Aku mau pulang. Ke keluargaku. Aku tak mau kehilangan keluargaku. Istriku, begitu manis dia bagiku. Anak-anakku, begitu berharganya mereka bagiku. Aku persembahkan keluargaku kepada Allah Bapa melalui Keluarga Kudus Nazaret.

Ketika tiba giliranku, aku berlutut. Aku sungguh berkecamuk. Yang kutahu, seorang Suster Putri Karmel bertubuh kecil di depanku, dengan kedua tangannya seolah menopang wajahku dan berdoa. Tak kudengar jelas doa apa yang dia panjatkan, namun tubuh bergetar. Tanganku terasa hangat dengan getaran lembut hangat. Ketika getaran itu begitu kuat, tubuhku berguncang. Kurasakan aku mau mengeluarkan sesuatu dari mulutku, seperti mau muntah. Ketika guncangan itu berhenti, aku melihat sesosok benda gelap panjang dan runcing terlempar ke luar dan lenyap entah kemana. Aku terkulai: resting in spirit.

Saat kubuka mataku, kulihat begitu banyak peserta retret juga mengalami resting in spirit. Aku menghela nafas. Nafasku ringan. Kukepalkan jemariku. Tak ada getaran lagi. Hilang. Semua hilang. Kekuatanku yang kuperoleh dari sumber lain telah hilang. Aku menoleh bingung. Kulihat di kanan dan kiri, atas depan dan belakang. Aku mencari istri dan anak-anakku. Istri dan anak bungsuku sudah terbangun dan duduk berdoa. Anak sulungku masih resting in spirit. Tapi semua kulihat bersih. Benar. Sudah tidak ada. Kekuatan itu sudah hilang. Kuasa gelap itu sudah hilang.

Aku kembali ke tempat dudukku. Aku menangis dan berpasrah pada Allahku. Aku berjanji untuk tidak berpaling dariNya lagi. Aku bersyukur kuasa gelap itu benar-benar hilang dari keluargaku. Aku memandang istriku. Dia meneteskan air mata. Aku cium pipinya: ‘Aku cinta padamu’. Aku cium kening anak-anakku: ‘Bapak Ibu mencintai kalian’. Allah Bapa, terima kasih. Aku kembali. Kembali kepadaMu. Aku kembali mendapatkan keluargaku.

 

Persembahan

Aku ingin mengasihi Allah. Bukan karena retret ini semata, namun sudah sepantasnyalah begitu. Allah yang sudah begitu besar mengasihiku, sudahlah layak aku juga mempersembahkan persembahan yang hidup untuk memuji namaNya dan sebagai silih atas dosa-dosaku dan dosa semua orang. Retret ini telah menyegarkanku kembali mengenai mengasihi Allah melalui kehidupan sehari-hari.

  1. Doa dan membaca kitab suci. Cara berdoa dan membaca kitab suci yang disampaikan selama retret mengingatkanku untuk kembali menghidupinya sehari-hari. Doa Yesus yang sementara waktu pernah aku praktikkan, kembali disegarkan. Lectio Divina yang juga sementara waktu aku lakukan, kini disegarkan kembali melalui retret ini. Bentuk doa ini yang kurasa pas untukku. Retret Lembah Karmel telah membangkitkanku untuk kembali melakukannya.
  2. Kuingat persembahan janda miskin di kitab suci, adalah tidak lain dari memberi dari kekurangannya. Sungguh besar compassionnya. Dan retret ini membuka hatiku tentang ketiadaan nilai compassionku pada Allah dan sesama. Dan aku harus memulainya sekarang untuk menyerahkan persembahan yang nyata sebagaimana seharusnya.
  3. Aku mulai merefleksikan beberapa panggilan kepadaku untuk pelayanan yang sempat dan senantiasa tertunda atau kutolak. Satu persatu panggilan untuk pelayanan itu harus kubuka kembali. Barangkali memang Tuhan memanggilku untuk melakukan pelayanan namun aku menutup mata dan telingaku. Aku memang belum melihat panggilan pelayanan mana yang Tuhan kehendaki untuk kulakukan. Barangkalai aku masih memerlukan waktu untuk mampu memahaminya.
  4. Melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan. Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu (Yakobus 4:15). Kebiasaan yang dulu pernah diajarkan kepadaku di setiap saat aku mau melakukan sesuatu sudah kulupakan. Retret ini mengingatkanku kembali mengenai pentingnya keikutsertaan Allah dalam hidup manusia saat akan melakukan sesuatu. Hari ini aku mau memulainya kembali. Semoga aku diampunkan karena selama ini melupakannya. 

Pewartaan

Terlalu panjang jika aku harus menguraikan buah-buah rohani yang aku peroleh melalui retret awal ini. Barangkali juga akan membosankan juga bagi setiap orang yang membacanya. Namun hal terpenting yang ingin aku sharingkan adalah satu, dan sampaikanlah pesan itu ke setiap orang beriman:

Janganlah sekali-kali memberi peluang kepada kuasa-kuasa lain selain Allah Bapa di Surga untuk memasuki sanubari kita dan bertahta serta memimpin hidup kita. Janganlah sekali-kali berpaling daripada-Nya.  Akulah  jalan  dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6). Benar. Hanya Yesus Kristus lah jalan, kebenaran dan hidup. Yang ditawarkan oleh kuasa-kuasa atau sumber-sumber lain bukanlah jalan, tapi kesesatan; bukan kebenaran tapi tipu muslihat; bukan hidup tapi kebinasaan. Bukalah hati akan hadirnya Roh Kudus, Roh Penghibur Roh Pembimbing. Ijinkan Dia masuk ke sanubari dan bertahta serta memimpin hidup.

 

Doaku

a. Roh Kudus, Sang Penghibur

   Roh Kudus, Roh Pembimbing

   Tunjukkan jalanMu yang harus kutempuh

   Ajar ku tuk mengerti yang harus kuperbuat

   Tanpa Mu terasa hampa dan gelap gulita

   Ya Roh Kudus, jamah hatiku, kobarkanlah semangat baru

   Ku berjalan terang cah’yaMu, tak tersesat sampai tujuanku

 

b. Entah dari rumah ini akan dihasilkan sesuatu hanya Allah yang tahu. Hendaknya Tuhan berbuat dengan kami, apa  yang dikehendaki-Nya. Seandainya akan dihasilkan sesuatu dari rumah ini maka kami mau mengucap syukur untuk rahmat Allah dan seandainya tidak dihasilkan sesuatu dari rumah ini maka dengan rendah hati kami mengetuk dada dan mengakui bahwa kami tidak layak bagi rahmat Allah.

 

Aku yang kembali,

Yakobus Suharyono (Yoas)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting