Print
Hits: 346
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Related image

Tanggal 28 Juni – 1 Juli 2018, merupakan pengalaman pertama saya datang dan mengikuti retret awal di Lembah Karmel.  Saya mulai mengenal Lembah Karmel sejak saya bergabung dalam Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM). Saya sudah mengikuti komunitas ini sekitar enam bulan. Selama saya mengikuti komunitas ini, saya sering kali mendengar teman saya menyembah Tuhan menggunakan bahasa Roh (saat itu saya belum mendapatkan karunia bahasa Roh). Seiring berjalannya waktu dengan KTM ini, saya merasa iman saya semakin bertumbuh dan saya memiliki kerinduan yang dalam untuk mengenal Tuhan lebih jauh lagi.

Tepat satu bulan sebelum retret awal berlangsung, saya mengikuti Misa Adorasi yang diadakan dua bulan sekali oleh KTM di Gereja Santo Yakobus. Setelah acara tersebut selesai, tiba – tiba memiliki keinginan dalam diri saya untuk bertanya kepada teman saya mengenai bahasa Roh (teman saya sudah memiliki pengalaman yang cukup banyak mengenai KTM). Waktu itu yang saya tanyakan adalah apa itu bahasa Roh dan bagaimana seseorang dapat berbicara dalam bahasa Roh. Setelah dijelaskan oleh teman saya, teman saya memberitahu bahwa di Lembah Karmel akan mengadakan retret Awal pada bulan Juni. Puji Tuhan, jalan saya dilancarkan dan saya diijinkan oleh Tuhan untuk merasakan kasih-Nya di Lembah Karmel melalui retret awal tersebut.

Selama di Lembah Karmel, saya berdoa kepada Tuhan dan Bunda Maria agar saya diberikan penerangan mengenai bahasa Roh selama mengikuti retret tersebut. Pada malam pertama Adorasi di hari Kamis (28 Juni), ketika sedang berdoa dalam Adorasi tersebut, saya merasakan energi yang sangat panas mengalir di badan saya. Setelah Adorasi selesai, energi tersebut juga ikut hilang.

Keesokan harinya (Jumat, 29 Juni), pada pagi hari saya kembali berdoa kepada Tuhan dan Bunda Maria untuk diberitahu arti energi yang saya rasakan kemarin malam. Puji Tuhan bahwa Tuhan mendengar doa saya. Siang hari ketika sesi, saya dijelaskan mengenai tanda – tanda bahasa Roh. Malam hari, ketika Adorasi, saya kembali merasakan energi yang panas tersebut (kali ini tidak sepanas hari pertama), namun setelah energi tersebut hilang saat itu juga saya bisa berbicara dalam bahasa Roh. Saat itu, selama saya berbicara bahasa Roh, saya merasakan hati yang penuh damai dan sukacita. Setelah saya berhenti berbicara dalam bahasa Roh, saya mulai menangis karena saya saat itu sangat merasakan hati saya sedang dijamah oleh Tuhan.

Hari ketiga (Sabtu, 30 Juni), ketika malam pencurahan Roh Kudus, saya sudah dapat berbicara dalam bahasa Roh, dan disaat yang sama, saya merasakan kembali energi yang sama seperti saat Adorasi hari pertama. Energi tersebut mengalir ketika Suster mendoakan saya. Dan saya kembali merasakan kedamaian dan sukacita yang dalam hingga acara tersebut selesai.

Saya percaya bahwa energi yang saya rasakan dari hari pertama hingga hari ketiga merupakan Roh Kudus yang mengalir dalam diri saya. Ketika sesi dijelaskan bahwa karunia bahasa Roh bisa saja didapatkan sebelum malam Pencurahan Roh Kudus, dan benar saja, saya mendapatkan karunia tersebut pada hari kedua saat Adorasi. Saya sangat bersyukur diberikan Tuhan karunia bahasa Roh, sehingga ketika berdoa dan saya menggunakan bahasa Roh, saya merasakan Tuhan benar – benar menjamah hati saya.

Bagi saudara – saudari yang memiliki kerinduan untuk mendapatkan jamahan Tuhan melalui bahasa Roh, teruslah berdoa dan percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan doa saudara – saudari dan memberikan karunia-Nya kepada Anda untuk merasakan jamahan kasih-Nya.