header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Saya Dikasihi dan Disembuhkan Tuhan

User Rating:  / 34
PoorBest 

 Saya percaya bahwa mujizat penyembuhan masih terjadi sampai hari ini dan campur tangan Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan kita akan terus kita alami. Baik kesehatan maupun semua pemenuhan kebutuhan hidup kita adalah mujizat kasih Allah yang tiada hentinya.

Pada kesempatan ini saya mau bersyukur secara khusus kepada Tuhan karena kasih-Nya dan kasih banyak orang kepada saya ketika saya sakit dan “dalam bahaya maut”. Saya bersyukur juga atas para dokter, para perawat, dan banyak umat yang mengunjungi, mendoakan, dan menolong saya dengan berbagai cara saat saya sakit itu, hingga akhirnya saya mengalami mujizat Tuhan yang luar biasa dan saya sembuh dari sakit yang sudah mengganggu organ-organ penting dalam tubuh saya, a.l. organ-organ pernafasan dan pencernaan (jantung, liver, ginjal). Bahkan, secara manusiawi saya “sudah meninggal”, karena sempat beberapa saat detak jantung saya berhenti berdenyut seperti tampak pada monitor ECG. Saya berada dalam keadaan koma selama lima hari dan nafas saya sudah tergantung pada alat-alat yang dipasangkan pada saya untuk membantu pernafasan. Syukurlah, berkat Sakramen Perminyakan yang luar biasa dari Tuhan yang diberikan kepada saya dan banyak doa dari para romo, frater, suster, KTM, dan umat lainnya, Tuhan mengembalikan nafas dan hidup saya kembali dan dalam tujuh hari saya bisa pulih secara luar biasa, organ-organ tubuh saya yang terganggu bisa normal dan sehat kembali sehingga saya boleh pulang dari rumah sakit ke biara. Ini semua merupakan mujizat Tuhan melalui kasih dan doa banyak orang,

Awalnya terjadi ketika saya bersama beberapa frater serta suster berkunjung halal-bihalal ke rumah karyawan-karyawan kami di Hari Raya Lebaran pada tanggal 2 Oktober 2008. Waktu itu siang hari dan, seperti biasanya, mereka menyambut kami dengan gembira serta menyediakan makanan untuk kami. Kami pun makan apa adanya. Sorenya kami pulang dan saya langsung ke lokasi komunitas Padang Gurun. Waktu itu hujan rintik-rintik, saya pergi ke refter (ruang makan) Padang Gurun, minum air, dan mengambil sedikit tape ketan, pemberian karyawan. Kemudian, saya kembali ke pondok saya.

Sekitar pukul sebelas malam, saya mulai sakit perut dan buang air terus-menerus. Setiap 5-10 menit saya buang air. Saya minum obat sakit perut dua tablet, tetapi tidak ada pengaruhnya. Bagian perut, saya gosok dengan obat gosok dan saya tempel koyo, tetapi usaha ini juga tidak menolong. Sampai saya minum teh pahit pun, keadaan tidak menjadi lebih baik. Saya tetap terus-menerus buang air sampai esok harinya. Kepala saya pusing dan badan saya menggigil, panas, dan sudah lemah sekali, mungkin akibat kekurangan cairan karena terus-menerus buang air.

Waktu Misa pagi saya tidak tahan dengan sakitnya. Hosti dan anggur yang saya terima terasa pahit sekali seperti empedu, tetapi saya berusaha menerimanya dengan iman, sambil berdoa memohon kesembuhan dan kekuatan. Seusai Misa saya kembali ke pondok dan terus saja buang air. Badan saya terasa panas, lemah, dan kepala saya sakit sekali. Saya coba mengukur tensi darah saya sendiri, ternyata tensi darah saya turun drastis. Saya berdoa mohon Tuhan menyembuhkan saya, tetapi tetap saja sakitnya. Sekitar pukul sembilan Bpk. Freddy (seorang teman saya) datang bersama teman-temannya. Mereka sedang berburu di sekitar hutan padang gurun dan mereka mengajak saya ikut berburu. Saya katakan bahwa saya tidak bisa ikut karena saya sakit perut dan lemas sekali.

Sampai sekitar pukul dua belas siang, karena saya sudah lemas dan tidak tahan lagi dengan sakitnya, maka saya mau minta tolong frater-frater di komunitas kami yang tinggal di bukit untuk menjemput saya, namun 2-3 kali saya telepon ternyata tidak ada yang menjawab. Mungkin, mereka sedang berdoa di kapel. Akhirnya, karena saya tidak tahan lagi dan sudah lemas, saya telpon teman saya tadi supaya menjemput saya di padang gurun. Saat itu ia sedang berburu di sekitar pertapaan. Dia mengatakan supaya saya langsung berangkat saja dengan mobil dan nanti bertemu dengannya di jalan.

Akhirnya, dengan gemetaran dan dengan tenaga yang masih ada, sekitar pukul satu saya berusaha mengendarai mobil. Hampir saja mobil saya masuk jurang, karena saya sudah tidak kuat lagi. Syukurlah, Tuhan tetap menolong saya. Saya bertemu dengan teman saya itu di jalan dan dia membawa saya ke tempat kami di bukit.

Sesampai di bukit, saya betul-betul sudah lemas. Fr. Stefanus, Fr. Paskalis, dan Fr. Fulgensius mengantar saya ke rumah sakit St. Yusuf. Lalu-lintas macet karena bertepatan dengan Hari Raya Lebaran. Perjalanan menuju rumah sakit St. Yusuf membutuhkan waktu hampir satu jam setengah.

Di rumah sakit St. Yusuf saya sudah tidak kuat berjalan, maka langsung dibawa dengan kursi roda. Saya diinfus selama beberapa jam, namun tetap saja buang air terus-menerus. Karena di rumah sakit St. Yusuf sedang tidak ada dokter (hanya ada para suster perawat), maka Fr. Stefanus menelpon dr. Rosdiana yang sering menolong di Lembah Karmel. Akhirnya, perawatan dipantau oleh dr. Rosdiana dari Jakarta melalui telpon. Saya tetap saja buang air terus dan keadaan ini tidak berubah, walaupun saya sudah diinfus sebanyak lima botol.

Fr. Stefanus, dr. Rosdiana, dan beberapa suster perawat yang bekerja di rumah sakit St. Yusuf Cipanas sepakat untuk membawa saya ke rumah sakit yang lebih besar. Para suster perawat mengusulkan rumah sakit di Sukabumi, tetapi Fr. Stefanus memilih rumah sakit St. Boromeus di Bandung. Maka, disiapkanlah ambulans rumah sakit. Dalam ambulans, saya sudah tak berdaya, saya diinfus dan diikat. Fr. Paskalis dan dua suster perawat mendampingi saya dalam ambulans itu, sedangkan Fr. Stefanus dan Fr. Fulgensius mengendarai mobil kami sendiri. Sekitar pk. 23.00 kami berangkat. Lalu-lintas padat dan macet, syukurlah ada polisi yang berbaik hati mengawal ambulans kami sampai di dekat Cianjur. Saya tidak tahu berapa kecepatan ambulans kami, yang saya tahu Fr. Paskalis sampai mabuk dalam mobil dan saya dengar perjalanan dari Cipanas ke Bandung ditempuh dalam waktu satu setengah jam.

Sesampai di rumah sakit St. Boromius, saya dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD), kemudian saya dibawa ke ICU, dan tak berapa lama saya dipindahkan ke ICCU. Sejak masuk ICCU, saya sudah tidak sadarkan diri. Saya berada dalam keadaan koma selama lima hari, dari hari Kamis malam sampai hari Senin siang.

Menurut dr. Widyastuti, salah seorang dokter yang menangani dan merawat saya, saya sakit karena makanan yang terkontaminasi, sehingga saya buang-buang air dan muntah-muntah begitu hebat, sampai shock. Akibatnya, tekanan darah saya turun sekali (40-50). Dan, akibat shock yang terlalu lama, fungsi ginjal terganggu, kreatin meningkat, jantung melemah, dan fungsi hati serta pernafasan pun ikut terganggu. Jadi, semuanya (ginjal, hati, jantung) terganggu. Shock juga mengakibatkan tekanan darah saya turun, sehingga saya tidak sadarkan diri (koma). Waktu di UGD jantung saya sempat berhenti selama beberapa waktu.

Pertolongan pertama diberikan di UGD, kemudian saya dipindahkan ke ICU dan ICCU. Selama lima hari di ICCU, walaupun mata saya terbuka, namun saya tidak tahu jika ditanya karena saya tidak sadarkan diri. Saya sempat diberi Sakramen Perminyakan Orang Sakit oleh Rm. Georgius, CSE.

Melihat keadaan saya, Fr. Stefanus sudah pasrah kepada Tuhan, “Terjadilah kehendak-Mu, Tuhan,” lalu dia menyerukan nama Yesus terus-menerus dalam hatinya. Para frater dan suster di Pertapaan kami pun mendukung dengan Misa Kudus, doa-doa, Adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, dll. Para dokter dan perawat berusaha keras menolong saya (a.l.: dr. Widyastuti, dr. Surianto, dr. Richard, dr. Samino). Dr. Rosdiana juga tidak hanya memantau dari Jakarta, tetapi menyempatkan diri untuk datang ke Bandung). Bahkan, ibu dan adik saya pun datang dari Kalimantan untuk menengok saya. Luar biasa kasih Tuhan! Dan, masih belum cukup kasih-Nya yang dinyatakan-Nya kepada saya... setelah tujuh hari di rumah sakit, saya diperbolehkan pulang ke biara! Semua organ-organ tubuh saya yang terganggu sembuh total! Luar biasa kasih dan mujizat Tuhan! Menurut dr. Widyastuti, sungguh-sungguh suatu mujizat yang luar bisa bahwa saya bisa sembuh, apalagi secepat itu. Puji Tuhan!

Mengakhiri sharing saya ini, sekali lagi saya ingin bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan mujizat-Nya bagi saya. Saya ucapkan terima kasih kepada semua dokter dan perawat yang menangani dan merawat saya. Semoga Tuhan memberkati Anda semua. Terima kasih saya juga kepada para romo, frater, suster, juga semua saudara-saudariku yang mendoakan saya, baik yang datang mengunjungi maupun yang mendoakan dari jauh. Doa Anda semua tidak sia-sia. Tuhan Yesus akan memberkati Anda semua! Dan, tentu saja terima kasih saya kepada Mama dan adik saya tercinta, maupun semua keluarga yang mendoakan saya.

Salam, doa, dan kasih saya untuk Anda semua. Tuhan Yesus memberkati!

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting