User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Bunda Maria Membawaku Pada Yesus

      “Pada usia 24 tahun, kamu akan mengalami suatu peristiwa besar yang mengubah total seluruh kehidupanmu.” Itulah suara keibuan yang pernah kudengar dalam hati saat berusia 19 tahun. Aku pikir Tuhan akan memberikan kesuksesan besar. Kenyataannya, pada Juni 2017, aku malah mendapat 2 vonis penyakit: batu ginjal dan kista. Namun aku bersyukur karena batu ginjalku masih amat sedikit, cukup banyak minum air putih bisa sembuh. Kekhawatiran utamaku justru pada kista, karena panjangnya 4 cm dan ada 2 di indung telur. Dokter bilang jika sudah lebih dari 5 cm perlu dioperasi. Aku frustasi, takut terkena pisau operasi. Sebulan kemudian aku dan ibu ikut ret-ret awal di Lembah Karmel Cikanyere tanggal 6-9 Juli 2017. Tujuanku  bukan untuk dapat kesembuhan, hanya ingin ganti suasana saja. Ternyata semua rangkaian acara ret-ret awal memberi kebaruan bagi kehidupan rohaniku, terutama acara hari Sabtu dan Minggu.

     Hari Sabtu, setelah pencurahan Roh Kudus, aku melihat dengan mata batinku suatu cahaya keemasan. Tampak Bunda Maria berpakaian serba putih mencabut sesuatu dariku. Lalu Roh Kudus dalam rupa burung merpati api raksasa menukik kepadaku. Tidak lama kemudian, terlihat agak samar Tuhan Yesus Kristus. Segera aku menangis tersedu-sedu.  Malam harinya, aku begitu bersukacita. Sebelum tidur aku kembali mendengar suara keibuan, “Aku akan menghantarmu kepada Putraku, Yesus...” Apa yang kemudian kualami esoknya adalah sesuatu yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.

      Entah mengapa puji-pujian sebelum Ekaristi sudah membuatku menangis. Selesai menyambut komuni, dilanjutkan dengan adorasi dan penyembuhan. Beberapa saat setelah Sakramen Mahakudus diletakkan pada Altar, aku kembali menangis. Badanku juga bergetar. Aku merasa Yesus sedang menjamahku. Ada dorongan kuat sehingga aku membuka kedua mataku dan memandang Tubuh Kristus. Di sanalah aku melihat dengan mata telanjang, bercak-bercak darah yang bertebaran. Perlahan-lahan melebar, seluruhnya membentuk wajah Tuhan Yesus dan aku mendengar suara, “Janganlah kamu ragu lagi…” Ketika menyaksikannya, mataku tetap terbuka dan air mata terus mengalir. Kurasakan pula getaran tubuhku yang semakin menjadi. Siapakah aku hingga Tuhan menyapa begitu intim. Tiba-tiba, pastor menyebut dari altar bahwa ada dua orang gadis yang memiliki masalah kandungan, khususnya kista, lalu mempersilakan berdiri. Spontan aku segera bangkit. Pastor mengatakan bahwa Tuhan sedang menjamah kami. Air mataku semakin deras ketika pastor berkata untuk meletakkan tangan di atas perut. Kurasakan dingin yang merambat dari kedua tangan dan kaki, bahkan sampai rasa kesemutan. Tubuhku berguncang sangat hebat dan jantungku seperti tersetrum. Aku sampai berteriak dalam hati, “Tuhan Yesus, aku tidak kuat!”

     Setelah kembali duduk, aku hanya bisa bersyukur berkali-kali seraya tersedu. Bunda Maria telah menghantarku pada Yesus yang sebelumnya sering kuragukan. Sesungguhnya tidak ada perkataan apa pun yang bisa menggambarkan perasaanku. Rahmat Tuhan ini adalah suatu peristiwa besar dalam hidupku. Ia meruntuhkan segala tembok keraguanku yang kerap mempertanyakan, apakah suara-suara yang selama ini kudengar benar suara bimbingan rohani. Kini aku tak mau membiarkan keraguan mengelabuhiku. Tepat di usia ke-24 tahun ini, aku adalah manusia baru yang siap mewartakan.Tanggal 28 Juli 2017, sesuai anjuran dokter, aku melakukan USG untuk kandungan. Kistaku hanya tinggal 1 dan ukurannya mengecil. Sungguh mukjizat kesembuhan dari Tuhan. 

 

Oleh: Sdri. Della Tristani

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting