User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kesaksian Peserta Retret Awal 6-9 Juli 2017

  

KUAT BERTAHAN

 

Menjelang Perayaan Ekaristi pada Sabtu sore 8 Juli 2017, dalam rangkaian acara Retret Awal di Lembah Karmel tanggal 6-9 Juli 2017, saya – salah seorang dari 450 peserta retret, memohon dengan sangat kepada Pak Roni di kantor resepsionis, agar mencarikan saya kendaraan untuk pergi ke rumah sakit terdekat. 

***

 Berawal dari Jumat malam 7 Juli, ketika akan tidur pukul 23, tiba-tiba tubuh saya menggigil. Acara retret yang cukup padat mulai dari Jalan Salib di pagi hari hingga Adorasi Sakramen Mahakudus di penghujung hari, menyebabkan saya tidak sempat beristirahat sedikit pun. Apakah saya kelelahan? Selain itu, saya memiliki hipertensi. Sebulan lalu dokter mengganti dan menambah dosis obat hipertensi saya. Apakah perubahan dosis obat menyebabkan saya menggigil? Entahlah. Rasa menggigil berlangsung beberapa jam, diikuti detak jantung tidak beraturan. Alhasil, saya baru bisa tidur sekitar pukul 01.30 dan bangun kembali tiga jam berselang.

 

Sabtu siang sebenarnya ada kesempatan beristirahat, tetapi mata saya tak mau terpejam. Pengajaran tentang Karunia Bahasa Roh pada Sabtu sore baru berlangsung kira-kira 30 menit, ketika tubuh saya kembali menggigil hebat. Saya keluar aula ditemani putri saya, mendatangi Pak Roni.

 Pak Roni mengatakan tidak ada sopir dan mobil, menanyakan apakah saya kenal peserta lain yang bersedia mengantar saya ke dokter. Tetapi tidak ada yang saya kenal. Untuk mengurangi rasa dingin, saya meminta selimut. Pak Roni memberikan sehelai selimut abu-abu yang tebal.

 Semua staf di Lembah Karmel sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti Perayaan Ekaristi pukul 18. Pak Roni masih menyempatkan diri mencarikan karyawan dan mobil boks milik Lembah Karmel, serta mendaftarkan nama saya ke klinik terdekat.

 Perjalanan ke klinik yang berjarak 7 km kami tempuh sekitar 45 menit. Saya membayangkan sebuah klinik kecil yang lengkap, namun yang ada ialah balai pengobatan sederhana dengan seorang dokter umum. Setelah memeriksa kondisi tubuh saya, dokter hanya meminta saya beristirahat dan memberi vitamin B Kompleks.

 Kami tiba kembali di Lembah Karmel sekitar pukul 19.30. Muncul keraguan dalam hati: mengikuti saran dokter untuk istirahat atau bergabung dengan para peserta retret lain untuk menerima Pencurahan Roh Kudus yang merupakan puncak acara retret?

 Saya mulai memahami, ini cara si jahat menghalangi orang yang ingin maju dalam kerohanian. Saya memilih mengikuti acara di Kapel. Puji-pujian dapat saya ikuti dengan khusuk, sampai pada pencurahan Roh Kudus perorangan. Saya maju dan menerima tumpangan tangan dari seorang Suster. Baru dua kata diucapkan Suster itu, tubuh saya rebah.

 Meski demikian, saya menyadari apa yang terjadi. Semua berlangsung sangat cepat. Mata saya terpejam, tetapi saya merasakan aliran cahaya kuat yang masuk dari dahi saya dan dengan kecepatan cahaya menerobos ke seluruh bagian tubuh sampai ke ujung jari-jari tangan dan kaki. Sejurus saya terbaring di lantai Kapel, lalu saya bangun dan kembali ke tempat.

 Setelah menerima Pencurahan Roh Kudus, saya berharap bisa tidur nyenyak. Namun, Sabtu malam itu saya kembali dilanda tubuh menggigil mulai pukul 23.30, padahal selimut sudah dua rangkap, pakaian tiga rangkap, lengkap dengan sarung tangan dan kaos kaki.

 Putri saya mengatakan, coba dengarkan apa yang hendak Tuhan sampaikan. Saya terdiam, berusaha menikmati getaran tubuh. Suara dalam hati mengatakan, saya harus berani dan lebih kuat bertahan dalam mengarungi kehidupan ini.

 Ah, benar sekali. Saya takut menghadapi penyakit hipertensi sejak enam tahun lalu, terutama lantaran berbagai efek negatif yang bakal ditimbulkan akibat penyakit ini. Apalagi dua orang terdekat yang saya kasihi meninggal karena serangan jantung.

 Lalu saya membayangkan, bagaimana jika biarawan atau biarawati di Lembah Karmel ini sakit? Jauh dari dokter dan rumah sakit. Dibutuhkan kepasrahan total kepada Tuhan. Inilah yang perlu saya miliki juga.

 Jarum jam telah menunjukkan pukul 02.30 dan saya masih belum bisa terlelap. Akhirnya saya berujar dalam hati, “Yesus, tolong ajari aku bagaimana caranya agar bisa kuat bertahan...” Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuh saya berhenti menggigil dan rasa perih di lambung saya lenyap. Saya segera tidur.

 ***

 Kuat bertahan, itu yang menjadi pegangan saya sekarang. Bukan hanya terhadap tensi darah yang fluktuatif, tetapi juga dalam menghadapi berbagai tantangan hidup sehari-hari. Terima kasih Lembah Karmel atas pengalaman tak terduga dalam retret ini. Sebuah pengalaman yang mengubah cara pandang saya dalam mengarungi kehidupan.

 

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

 

 

Dari: Patricia

 

  

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting