User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

Kira-kira pada bulan Agustus 2003, secara tidak sengaja saya sempat bertukar cerita dengan seorang teman bernama Teti. Ternyata dia memiliki kesamaan nasib dengan saya. Dia baru memiliki seorang putra bernama Krishna yang berusia sama dengan Ranyssa. Mereka berdua adalah teman satu sekolah di TK Pangudi Luhur. Perkenalan di sekolah inilah yang mendekatkan kami menjadi teman. Selama ini saya tidak mengenal sampai mendetail tentang teman saya ini. Saya hanya mengetahui bahwa Teti Santoso adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang mengambil kuliah S2 psikologi.

Dengan latar belakang yang sama inilah, kami merasa memiliki persamaan nasib. Sebenarnya buat sahabatku ini kehamilan bukanlah masalah karena setelah kelahiran Krisna, dia sempat dua kali mengalami kehamilan. Namun, kedua kehamilannya itu berakhir dengan keguguran. Bisa dibayangkan dan dirasakan betapa tidak percaya dirinya kami ini dalam mengharapkan seorang anak lagi, mengingat sejarah pengalaman kelahiran dan keguguran yang kami alami.

Namun entah dari mana timbul tekad yang besar di hati kami (Teti dan saya) untuk mencoba sekali lagi dengan berdoa dan memohon kerahiman Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh agar permohonan kami ini dikabulkan. Kami berdua bertekad akan berkunjung ke pertapaan Karmel-Cikanyere. Pada hari yang kami tentukan bersama, kami berdua dengan membawa anak kami masing-masing berangkat menuju pertapaan yang juga dikenal dengan pertapaan Romo Yohannes.

Setelah berkendaraan sekitar dua jam (yang dikemudikan oleh Teti), kami telah berada di daerah sekitar Taman Bunga Nusantara. Kami pun mulai bertanya kepada penduduk sekitar, karena sama sekali tidak ada petunjuk ataupun papan yang mengarahkan kita ke lokasi.

Dengan bekal arahan penduduk setempat, akhirnya kami pun menemukan lokasi pertapaan. Begitu turun dari mobil, kami disambut oleh hembusan semilir angin gunung yang dingin. Untungnya pada saat yang sama matahari bersinar terik sehingga tubuh kami terasa sangat sejuk dan-terutama-hati kami pun demikian. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada kami pun mengayunkan langkah menuju ruang resepsionis untuk para tamu. Di sana kami memasukkan doa permohonan yang kami tulis di atas sebuah kertas yang telah tersedia, dan memasukkan donasi ke dalam kotak yang disediakan.

Awalnya kami ingin berdoa di dalam gereja, namun karena hari itu adalah hari biasa, gereja ternyata tertutup. Kami pun mencari tempat lain, yaitu gua Maria yang terletak di samping depan gereja. Maka, kami pun masing-masing berdoa di hadapan gua Bunda Maria ditemani oleh anak-anak kami yang juga ikut berdoa bersama. Saya sungguh percaya kepada Roh Kudus yang sedang dan akan bekerja secara ajaib untuk kami. Besar sungguh harapan kami akan kuasa-Nya. Namun, di sisi lain saya juga pasrah kalau permohonan kami tidak dikabulkan. Saya sungguh percaya Tuhan tahu apa yang terbaik buat kami. Jadi, seandainya permohonan kami tidak dikabulkan, saya percaya Tuhan punya rencana yang lebih indah dan lebih besar buat kami berdua. Setelah semua intensi doa kami haturkan, kami pun meninggalkan Lembah Karmel dan kembali menuju Jakarta.

Tiga minggu berselang, saya mendapati diri saya yang agak berbeda dari sebelumnya. Saya lebih mudah mengantuk dan daya tahan tubuh saya sangat menurun. Ini terbukti dengan batuk yang mulai menyerang dan tak kunjung sembuh ... terlebih di malam hari. Seluruh perut dan dada serasa kejang diguncang batuk yang sangat menyiksa. Karena sibuk mengira-ngira sedang terkena sakit apa, saya sampai tidak mengingat jadwal menstruasi saya.

Namun, entah mengapa ... saya jadi teringat bahwa saya tidak mengalami menstruasi pada bulan tersebut. Pikiran itu kemudian saya tepis sendiri. “Ah, itu pasti karena makan obat batuk, sehingga mengganggu metabolisme dan periode menstruasi saya mundur,” pikir saya. Seminggu kemudian ternyata menstruasi saya tidak kunjung datang juga. Dengan berbekal test pack (alat penguji kehamilan) saya mencoba melihat hasil urine dan ternyata ... saya sungguh hamil! Sesuatu yang luar biasa telah terjadi atas diri saya. Sempat selama beberapa saat saya sendiri tidak memercayai penglihatan saya atas hasil bertanda + (plus) di wadah Test Pack Abbot tersebut. Kemudian, saya menangis sendiri, terharu atas kebaikan Tuhan yang luar biasa menakjubkan ... ajaib. Dia bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Ya...., "Aku telah memintanya dari pada TUHAN" (1Sam 1:20; seperti perkataan Hana ketika melahirkan Samuel).

Berita bahagia ini saya beritahukan ke seluruh kerabat keluarga. Pada waktu saya menceritakan kepada ibu saya, ia pun langsung bernubuat dengan mengatakan bahwa saya kelak akan memiliki anak laki-laki dan kelak anak saya ini akan dipakai melayani Tuhan.

Setelah memastikan diri akan kehamilan ini, saya juga mengabari temanku, Teti, dengan hati-hati bahwa saya telah mengandung, karena saya takut menyinggung perasaannya kalau dia belum hamil. Ternyata Teti pun sedang mengandung anak keduanya! Sungguh tidak bisa dikatakan betapa berbahagianya kami ini. Kebahagiaan kami melebihi apa pun dan tidak bisa dinilai dengan harta atau dengan apa pun di atas dunia ini.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting