User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Berikut ini adalah kesaksian dari seorang imam Keuskupan Ruteng,

Yang hidup selama kurang lebih 10 tahun dalam Pertapaan Shanti Bhuana Cikanyere

Banyak hal yang saya alami dan kehidupan bersama mereka. Saya bersyukur kepada Tuhan atas pendirinya, Rm. Yohanes Indrakusuma CSE, karena saya di beri kesempatan untuk mengenal sedikit spiritualitas CSE yang kontemplatif tetapi juga aktif dalam pelayanan dan berciri khas karismatik ini.

Dalam tulisan singkat ini, saya ingin mengungkapkan isi hati saya dengan menyajikan beberapa hal yang kiranya dapat mengungkapkan sedikit tentang spiritualitas Carmelitae Sancti Eliae dalam sudut pandang pemahaman dan pengalaman pribadi yang saya alami dan saya rasakan selama berada di tengah-tengah mereka. Saya merasa malu menyampaikannya dalam tulisan ini sebagai ucapan terima kasih saya dan agar orang lain mengenal kongregasi baru ini, yang mengambil motto Vivit Dominus in Cuius Conspectu Sto: Allah hidup dan aku berdiri di hadapan-Nya.

 

Cara Hidup Harian

Cara hidup CSE ditandai dengan doa dan kontemplatif supaya dapat membangun relasi pribadi yang intim dengan Tuhan dan senantiasa mendengarkan bisikan Tuhan di dalam hati. Mereka menghayati apa yang dikatakan dalam Regula Karmel (Regula S. Albertus yang disesuaikan oleh Paus Innocentius IV): “Siapa yang banyak bicara melukai jiwanya, dan siapa yang banyak bicara tidak luput dan dosa.” Cara hidup mi merupakan kekuatan batin yang sangat membantu dalam karya pelayanan.

Memang pengalaman manusiawi menunjukkan bahwa semakin sering orang berbicara semakin cenderung untuk menipu dirinya sendiri atau memuji dirinya dan dengan demikan menutupi keadaan yang sebenarnya. Hal ini tentu menghambat hubungan yang intim dengan Tuhan yang menghendaki ketulusan hati dan kerendahan hati, sebab manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati (bdk. 1 Sam. 16:7). Juga menghambat hubungan dengan sesama dan proses aktualisasi diri.

Ada orang yang mengatakan bahwa dengan perayaan sakramen-sakramen, khotbah, dan perayaan katekesis mereka juga membangun relasi dengan Tuhan. Benar juga, akan tetapi belum cukup untuk membangun suatu relasi pribadi yang intim dengan Tuhan. Ibarat memberi makan orang tetapi diri sendiri lupa makan. Karena itu, orang tidak bisa menggantikan doa pribadi saat hening untuk ada bersama dengan Tuhan dan mendengarkan Dia.

Briedge McKenna, setiap hari berdoa di depan Sakramen Mahakudus selama 3 jam dan ini sangat membantu dia dalam karya pelayanan mentobatkan banyak orang melalui karya-karya penyembuhan. Hening dihadapan Tuhan membuat dia kuat menghadapi cobaan, godaan, penderitaan, serta memiliki berbagai karunia termasuk karya penyembuhan. Kekuatan rohani yang diperoleh melalui ‘hening bersama Tuhan’ ini membuat Bniedge McKenna banyak diminta untuk memberi retret ke mana-mana ke seluruh dunia termasuk memberi retret kepada para imam. Ia banyak dicari orang, ia lelah tetapi gembira. Hal ini tentu merupakan sumber kebahagiaan dalam penghayatan panggilannya (Briedge McKenna, OSC & Henry Lebersat, Mukjizat-mukjizat di Zaman Modern, Kanisius 1995).

Para frater CSE setiap hari juga meluangkan waktu untuk hening di hadapan Sakramen Mahakudus secara pribadi paling kurang dua jam atau lebih. Mereka juga mengadakan adorasi (pujian dan penyembahan) bersama di hadapan Sakramen Mahakudus, serta ofisi dan Ekaristi bersama setiap hari. Mereka tetap menjaga suasana hening sepanjang hari. Dan betapa suasana ini menarik banyak orang; banyak imam mencari ketenangan di sini, banyak orang bertobat ditempat ini, dan tidak sedikit pula yang mendapat penyembuhan fisik ditempat ini.

Peserta retret disini mencapai 300-400 orang dan kalau mau mengikuti retret orang harus mendaftar beberapa bulan sebelumnya. Banyak yang ditolak karena kapasitas ruang tidur terbatas. Malah ada yang mengadu nasib dengan mengisi waiting list, mengharapkan ketidakhadiran peserta yang sudah mendaftar. Bukankah ini suatu karya Tuhan yang luar biasa? Semuanya itu tenjadi tentu berkat doa-doa dan cara hidup mereka sehingga mereka dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkat dan rahmat-Nya.

Saya merasakan juga buah-buah dan hubungan intim dengan Tuhan melalui keheningan ini, khususnya dalam konseling pastoral. Terkadang saya mengalami secara tiba-tiba Tuhan membisikkan kata-kata hikmat dalam mulut saya, kata-kata yang tidak saya pikirkan atau persiapkan sebelumnya, atau di dalam mencari akar terdalam dan suatu persoalan. Tiba-tiba Tuhan membisikkan suatu kata dalam benak saya, dan memang bisa menemukan akar terdalam dan persoalan klien tersebut. Dulu saya menganggap hal itu sebagai suatu proses penalaran, actus rationis semata, tetapi kini saya menyadari hal itu sebagai campur tangan Tuhan yang mau menolong klien saya.

Juga dalam hal khotbah, dulu saya mempersiapkan khotbah saya secara tertulis lalu membacakan teks tersebut, kesannya memang kaku, tidak komunikatif, kurang percaya akan kemampuan diri. Melalui doa hening — doa dengan penuh penyerahan diri — saya lebih percaya diri dan percaya pada kuasa Roh Kudus yang pada waktunya akan membantu siapa saja yang akan mewartakan SabdaNya: “Sebenarnya Aku menaruh perkataan-perkataanKu dalam mulutmu” (Yer 1:9). Dan hasilnya, menurut umat yang mendengarkan, khotbah saya menjadi lebih baik dan lebih menarik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Saya memang mempersiapkan khotbah saya secara tertulis juga, akan tetapi teksnya tidak saya bawa. Saya berprinsip, “Kalau engkau (pengkhotbah) tidak mampu mengingat apa yang engkau persiapkan, bagaimana mungkin engkau mengharapkan orang bisa mengingat apa yang engkau katakan!”

 

Laku Tapa

Laku tapa (puasa dan pantang makanan tertentu) merupakan tradisi mistik gereja yang diwariskan hingga kini dan merupakan bagian tak terpisahkan dan usaha mencapai kesucian dalam hidup. Memang pantang dan puasa adalah sarana semata, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu” (Yl. 2:13). Akan tetapi sangat bermanfaat di dalam perkembangan rohani seseorang yakni bagaimana untuk menahan diri terhadap kesenangan tubuh atau basic instincts, untuk mendekatkan din kepada Tuhan. Tetapi perlu diingat bahwa puasa dan pantang makanan tertentu karena alasan kesehatan (diet), atau karena alasan ekonomi dengan prinsip hemat pangkal kaya, atau demi kelangsingan tubuh, bukanlah laku tapa yang mendatangkan berkat dan rahmat di hadapan Tuhan.

Para frater CSE juga menghayati puasa dan pantang dengan laku tapa yang cukup keras. Mereka tidak makan daging apa saja kecuali pada Hari Raya Tarekat dan Hari Raya liturgis Gereja atau kalau sedang keluar atau sedang dijamu orang, itu pun dengan syarat:
“Makan apa yang ada dan sejauh itu tidak merepotkan orang untuk mencari jenis yang lain.” (bdk. Konstitusi CSE). Di samping itu, ada juga puasa khusus, misalnya setiap Hari Senin pada Masa Biasa dan pada Masa Adventus serta Masa Prapaskah ditambah satu hari, yakni pada Hari Jumat. Pada hari-hari seperti itu mereka hanya makan sekali saja, yakni pada siang hari. Ada juga puasa tematis dengan tujuan atau wujud tertentu dan berdasarkan kerelaan atau inisiatif pribadi frater bersangkutan dengan setengah puasa (makan sekali sehari pada siang hari saja), atau puasa total (puasa selama 24 jam, misalnya mulai pada pkl. 18.00 sampai pada pkl.18.00 hari berikutnya).

Mereka juga tidak merokok ataupun minum minuman beralkohol meski yang kadar alkoholnya sangat rendah sekalipun. Laku seperti ini sangat mendukung kehidupan religius karena memusatkan perhatian bukan pada hal-hal material atau jasmaniah seperti itu, tetapi memusatkan perhatian pada hal-hal spiritual atau rohaniah, yakni Tuhan sendiri. Makna dan laku tapa itu ialah menahan diri dari suatu keinginan daging atau keinginan duniawi dan memusatkan din pada perkara-perkara Tuhan. Banyak orang tidak bisa menahan diri dalam segala hal, tidak bisa puas dengan apa yang ada, dan karena itu tidak bersikap realistis, tidak mampu membuat skala prioritas akan apa yang merupakan kebutuhan dan apa yang hanya merupakan keinginan belaka. Dengan menahan diri dalam soal makan dan minum seperti itu banyak orang dibantu untuk menahan din terhadap hal-hal yang lebih utama. Dengan kata lain, kalau seorang mampu menahan diri terhadap godaan pada hal-hal kecil dan nampak sederhana ia akan bisa menahan diri juga terhadap godaan-godaan yang lebih besar. Demikian sebaliknya, kalau orang tidak bisa menahan diri terhadap godaan-godaan yang kecil, ia juga bakal tidak bisa menahan din terhadap godaan-godaan yang lebih besar. Dengan menahan diri dalam soal makan dan minum, orang juga akan lebih bersikap realistis, tidak menuntut apa yang harus orang perbuat untuk dia melainkan apa yang harus ia perbuat untuk orang lain. Ia akan lebih melayani orang lain, lebih rela berkurban, ia akan lebih realistis juga terhadap dirinya sendiri, mengakui kelemahan dan kelebihannya. Dalam berhadapan dengan persoalan hidupnya, ia tidak akan mencari kambing hitam atau mencari kompensasi (negatif) yang lebih berlebihan serta membuat proyeksi psikologis.

 

Karya Pelayanan

Sesuatu yang indah dalam karya pelayanan para frater CSE dan para Suster Putri Karmel di Rumah Retret mereka ialah: banyaknya orang yang datang untuk memperoleh bimbingan rohani, peneguhan iman, penyembuhan fisik, serta untuk mendekatkan diri pada Tuhan sumber segala rahmat. Di tempat ini saya betul-betul menemukan Tuhan yang hidup. Begitu sering ucapan itu yang terlontar dan mulut mereka yang menyaksikan dan mengalami sendiri karya-karya penyembuhan terjadi di tempat ini, bukan saja penyembuhan-penyembuhan rohani (pertobatan) tetapi juga penyembuhan fisik, yakni penyembuhan dan berbagai penyakit fisik termasuk penyakit yang sudah divonis dokter sebagai “tidak dapat disembuhkan.” Janji-janji Tuhan betul-betul terlaksana: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).

Perjuangan hidup dikota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Bogor membuat orang harus survive dan dalam persaingan itu tentu ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Atau ada juga yang tidak ikut dalam persaingan tersebut tetapi menjadi korban, yakni orang-orang kecil yang tidak punya harta dan kuasa. Situasi itu menimbulkan kebencian, balas dendam, dan menciptakan luka dalam jiwa seseorang. Dengan keadaan jiwa seperti ini, orang tidak dapat membangun suatu relasi yang harmonis dengan Tuhan. “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh 4:20). Padahal kebahagiaan tergantung pada kualitas relasi pribadi yang harmonis dengan sesama dan di atas segala-galanya dengan Tuhan yang memberi kedamaian dan sukacita sejati pada seseorang.

Di tempat ini mereka menemukan bukan saja suatu alternatif pemecahan suatu masalah dan sudut pandang psikologis tetapi terutama mereka menemukan Tuhan yang membawa mereka kepada kedamaian dan kebahagiaan sejati yang tidak mereka temukan pada harta duniawi. Pada gilirannya kebahagiaan dan kedamaian sejati yang mereka peroleh memperbarui relasi pribadi mereka dengan sesama dan dengan Tuhan. Yang tercekik oleh persaingan bisnis pun berkata seperti nabi Habakuk, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan-bahan makanan, kambing domba terhalau dan kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab 3:17-18). Malah mereka bertobat yang berkata seperti Paulus: “Apa yang dahulu kuanggap keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Flp.3:8-9).

Memang ada juga yang datang cuma sekedar ingin tahu, tetapi iman timbul dari pendengaran (Rm. 10:17) dan juga dari rasa ingin tahu seperti itu. Banyak orang seperti itu mengalami apa yang terjadi seperti Zakheus (Luk. 19:1-1O), mereka lalu dipanggil oleh Yesus, “Hari ini Aku menumpang di rumahmu.” Mereka tertegun dan menerima Yesus di dalam hatinya. Mereka bertobat. Mereka menjadi percaya akan ke-Mahakuasaan Tuhan, kemudian segala-galanya menjadi berubah dalam hidup mereka. Kalau dahulu mereka cuma memperhatikan kepentingan dirinya saja atau kepentingan duniawi saja, kini, seperti Zakheus, mereka juga memperhatikan orang-orang yang dirugikan entah oleh ulah mereka atau oleh ulah orang lain, lewat karya-karya sosial karitatis dan sumbangan-sumbangan sosial yang mereka berikan. Tentu Yesus mengatakan pada orang-orang seperti ini, “Hari ini telah terjadi keselamatan pada orang ini, sebab dia pun anak Abraham.”

Menyaksikan semuanya itu, firman Tuhan menjadi lebih hidup. Yesus bukan lagi sekedar tokoh historis, tokoh legendaris, yang hanya jaya pada jaman-Nya, tetapi betul-betul hidup di tengah-tengah kita, melakukan karya-karya-Nya di dalam diri orang yang percaya pula.

 

Hidup Komunitas

Suasana persaudaraan sangat nampak dalam hidup berkomunitas para frater CSE. Mereka melakukan tugas yang dipercayakan dengan sungguh-sungguh dan terdapat saling pengertian di antara mereka, mereka saling membantu dalam pekerjaan-pekerjaan mereka. Suasa hening sangat membantu untuk “banyak bekerja dan sedikit bicara’. In actio contemplativus.

Suasana persaudaraan itu nampak pula dalam acara rekreasi bersama, berolahraga bersama, dan terutama juga dalam saling mendoakan; frater yang sakit didoakan oleh saudaranya. Demikian juga yang mengalami persoalan dalam hidup atau panggilannya, ataupun persoalan yang dihadapi oleh keluarganya. Kalau ada salah seorang frater mengadakan pelayanan, para frater yang lain mendukungnya dengan doa. Bagi mereka keberhasilan seorang teman adalah keberhasilan mereka bersama.

Suasana seperti ini patut dihayati, mengingat banyaknya religius yang berjalan sendiri-sendiri bahkan apabila mengalami krisis dalam panggilannya sehingga kadang terjadi seorang religius tiba-tiba melepas jabatannya tanpa diduga seorang pun sebelumnya. Padahal, “sukacita itu kalau dibagi akan menjadi lebih besar dan sukacita itu kalau tidak dibagi akan menjadi lebih kecil.” Persaudaraan yang tulus, saling membantu, saling mendoakan, dan saling mendukung dalam pelayanan pastoral akan sangat membantu seorang religius dalam mempertahankan panggilannya.

Hasil analisis Frank Valcour, seorang psikiatris yang menangani para religius yang meninggalkan jabatannya, mengatakan bahwa hubungan yang harmonis dan langgeng antara sesama religius adalah suatu syarat mutlak kesehatan psikologis para religius. Suatu fakta umum untuk para religius yang meninggalkan jabatannya adalah bahwa mereka itu tidak mempunyai teman untuk berbagi rasa (lh. Stephen J. Rosetti, Spirituality of Prieshood, dalam Human Development, Vol. 18, no.1, Spring 1997, dikutip Eddy Mulyono SJ, Spiritualitas Kesetiaan Dalam Imamat, Rohani, Thn. XLIV no.8, Agustus 1997).

 

Hospitalitas

Para frater CSE mempunyai sikap hospitalitas yang tinggi, siapa saja yang datang ke tempat ini entah mereka yang mau meminta bimbingan, peneguhan iman, ataupun mereka yang meminta doa penyembuhan diterima dan dilayani dengan senang hati. Bahkan mereka yang mau refreshing, mencari ketenangan di tengah-tengah kesibukan dalam pekerjaan, entah dia rohaniwan atau biarawan/biarawati ataupun awam, bisa beristirahat di tempat ini untuk jangka waktu tertentu (misalnya seminggu atau lebih sesuai dengan kebutuhan). Demikian juga mereka yang mau mengambil waktu retret pribadi selalu dapat diterima. Banyak orang yang terbantu di tempat ini untuk kembali ke jalan yang benar di dalam hidupnya, bahkan yang kecanduan narkotik pun diselamatkan di tempat ini.

  

Spiritualitas Karismatik

Ciri khas CSE adalah karismatik, yakni menyadari kehadiran Allah Bapa dan Putera dalam kuasa Roh Kudus. Spintualitas karismatik, yakni bahwa di mana saja manusia di dunia ini berdoa, maka Roh Kudus sebagai nafas hidup dan doa itu hadir (bdk. Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Dominum et Vivificantem, no.65). “Siapa yang menyembah Roh Kudus, menyembah Bapa dan Putera, karena Roh Kudus menyembah Bapa dan Putera” (lh. Katekismus Gereja Katolik). Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan Kebenaran (bdk. Yoh. 4:24). Roh Kudus tidak hanya mengantar seseorang ke dalam doa, tetapi juga membimbing batinnya dalam doa. melengkapi kekurangannya dalam doa dan menyembuhkan kelemahan seseorang dalam doa (lh. Yohanes Paulus II, ibid). Bahkan, “Roh Kudus sendiri berdoa untuk kita kepada Allah untuk keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26).

Kekuatan pembaruan karismatik terletak dalam fakta bahwa pembaruan kepercayaan kepada Pentekosta yang selalu diperbarui yang senantiasa dilaksanakan oleh Roh Kudus di dalam Gereja dan di dalam setiap anggota gereja. Pentakosta baru itu terjadi melalui pembaptisan dalam Roh atau juga disebut pencurahan Roh Kudus melalui penumpangan tangan. Memang dengan kekuatan Roh Kudus Allah ini, siapa yang percaya akan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan lakukan (bdk. Yoh. 14:12), mampu mewartakan sabda Allah dengan berani (bdk. Kis.4:29) dalam kuat kuasa tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat (bdk. Rm.15:19).

Roh Kudus diberikan kepada manusia dalam dua bentuk:

  1. Untuk menguduskan manusia, inilah bentuk pertama dan mutlak dan perlu agar manusia berubah menjadi obyek cinta kasih ilahi (gratum faciens).
  2. Untuk memperkaya manusia dengan hak-hak istimewa dan khusus yakni karisma-karisma (gratum gratis data) untuk kepentingan gereja, umat Allah (bdk. 1 Kor. 12:1- 13), karena itu orang berdosa karena kelalaian menyangkal pentingnya karisma-karisma dan bila menolak atau menggesernya ke tingkat sampingnya, atau apabila orang hanya melihat bahaya-bahayanya saja dan pembaruan ini dan tidak melihat karunia-karunia yang diberikan oleh Roh Kudus kepada gereja dan anggota-anggota gereja (L. Sugiri SJ, Pemahaman Karismatik Katolik, Jakarta 1998, hal. 32).

 

Para frater CSE yakin akan kuasa Roh Kudus dan karena itu dalam cara hidup harian mereka, laku tapa yang mereka jalankan dan doa-doa pribadi, puji-pujian serta penyembahan (adorasi) mereka mohon dengan penuh iman, kepasrahan dan kerendahan hati kepada Tuhan agar kepada mereka dianugerahkan segala karunia Roh Kudus (bdk. 1 Kor. 12:1-13), yang mereka butuhkan dan yang menjadi landasan dan pelayanan mereka, sehingga mereka serta orang-orang yang mereka layani senantiasa mengalami pentekosta baru. Banyaknya karya-karya penyembuhan dan orang yang mengalami pembaruan hidup (bertobat kepada Tuhan) yang terjadi di tempat mereka adalah tanda bahwa Tuhan berkarya dalam pelayanan mereka.

 

Penutup

Mengalami dan menyaksikan semuanya itu saya hanya bisa berkata, “Life is full of surprises, and no life have more surprises than the life of prayer” (William Johnston). Saya yakin betul, bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang percaya dan mengandalkan Tuhan dalam seluruh hidupnya. Di dalam Tuhan hidup menjadi lebih indah dan lebih berarti. Saya meng-Amin-i sabda Tuhan ini, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dan pada itu” (Yoh. 14:12). Dan saya berkata, “Saya percaya Tuhan, maka saya akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan lakukan” (bdk. Yoh 14: 12). 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting