User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

“Tuhan, tuntun aku ke jalan yang Engkau hendaki untuk kutuju.” Demikian doa yang selama ini sering kuucapkan sebelum jatuh dalam dekapan kasih Tuhan di malam hari. Aku percaya Tuhan telah merencanakan segalanya dengan begitu baik sejak awal dan Dia telah menunjukkannya padaku. Pada tanggal 11 April 2013, Tuhan menghantarkanku ke Lembah Karmel, Cikanyere, untuk menerima pesannya yang begitu indah.

Selepas kepulanganku dari luar negeri awal tahun ini, aku menghabiskan hari-hari dengan menganggur. Suatu kali, aku berpikir untuk mengikuti retret di Lembah Karmel tetapi aku tidak tahu di mana mendapatkan informasi tentangnya dan selanjutnya bagaimana mencapai tempat ini.

Pada suatu ketika setelah mengikuti salah satu misa dalam pekan suci, aku mendapatkan sebuah selebaran seminar KTM. Akupun mengikuti seminar tersebut dengan alasan, daripada saya tidak punya pekerjaan, lebih saya ikut retret untuk mengisi waktu yang kosong. Ternyata, pada akhir seminar tersebut ada sebuah pengumuman tentang retret awal di Lembah Karmel dan hari itu adalah hari terakhir pendaftaran. Aku datang ke panitia dan dengan alasan yang sama, dari pada nganggur, aku mendaftarkan diri. Ternyata Tuhan masih menyisakan satu tempat bagiku.

Kamis pagi, aku bangun dengan semangat yang luar biasa karena aku akan melewati empat hari ke depan dengan tidak menganggur. Aku berangkat ke Lembah Karmel dan bertemu dengan banyak orang yang setidaknya punya alasan yang lebih baik untuk datang ke sana.

Hari pertama dan kedua aku lalui dengan mengikuti pengarahan, puji-pujian dan doa. Aku mengalami suasana yang begitu berbeda dengan apa yang bisa kuingat dalam retret awal sebelumnya. Pada hari ketiga, aku menerima pesan yang begitu indah itu dari Tuhan.

Waktu siang pada hari itu, aku telah berhasil melewati antrian panjang untuk pengakuan dosa. Dengan masih membawa mental seorang pengangguran, aku duduk di kapel untuk mencari frater atau suster untuk konseling yang kedua kalinya di hari itu. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang hendak kukonselingkan. Aku hanya duduk dan menunggu sambil memperhatikan orang-orang di dalam kapel. Dalam suasana kapel yang dipenuhi oleh suara samar-samar orang yang sedang konseling, tiba-tiba aku mendengar dengan sangat jelas seorang suster berkata, “Tuhan pasti buka jalan.” Dan seketika itu pula aku terpaku memandang Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Ya, Yesus memintaku untuk menyerahkan semua persoalan berat yang kutanggung selama ini.

Aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya. Namun, aku merasakan ada dorongan yang begitu besar dari hatiku. Dengan penuh keberanian, aku mengungkapkan kepada seseorang untuk pertama kalinya persoalan yang selama ini aku pendam dalam hidupku. Aku tahu, saat itu Tuhan telah menunjukkan jalan-Nya bagiku. Aku percaya Tuhan telah buka jalan untuk persoalan hidupku itu. Saat ini yang aku butuhkan hanyalah tetap percaya dan tetap berjalan di jalan yang telah Ia buka. Aku percaya dengan Roh Kudus yang telah tercurah, jalan itu akan semakin nyata dan aku akan sampai pada rencana-Nya dengan kemenangan. Tuhan PASTI buka jalan.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting