User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sosok yang Asing

Pentakosta segera tiba … di paroki-paroki diadakan Novena Pentakosta … umat pun berdatangan mengikutinya … Selama sembilan hari bersama-sama kita menyerukan, “Datanglah, ya Roh Kudus!” Namun, terbersit sebuah pertanyaan, “Apakah setelah sembilan hari itu, hati kita tetap berseru, ‘Datanglah, ya Roh Kudus’?”

Seorang pemudi, yang cukup aktif dalam kegiatan di parokinya dan dikenal cukup rajin berdoa, mengatakan bahwa dia jarang sekali “menyebut-nyebut” Roh Kudus dalam doa-doanya. Dalam doanya, ia hanya menyebut Bapa atau Yesus, tetapi Roh Kudus … Siapa Dia? Apa peranan-Nya? Yah, kalau jujur … dia tidak tahu. Baginya, Roh Kudus adalah sosok yang asing, tidak akrab seperti Bapa dan Yesus.

 

Satu Pribadi

Mungkin beberapa orang mengalami “ketidakakraban” dengan Roh Kudus, seperti yang dialami si pemudi tersebut. Ada yang mengatakan bahwa dia sukar membayangkan Roh Kudus karena gambaran-gambaran tentang Roh Kudus yang ada dalam Kitab Suci adalah api[1], air[2], angin[3], merpati[4]. Gambaran-gambaran tersebut berbeda sekali dengan gambaran Yesus dan Bapa. Mungkin karenanya, orang sering lupa bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi, sama seperti Bapa dan Putra adalah pribadi. Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal Mahakudus, satu pribadi yang hidup, bukan benda mati seperti air/angin.

Mungkin, kita jadi bertanya, “Kalau begitu, kenapa Roh Kudus dilambangkan dengan air, angin, dll itu?” Kita perlu menyadari bahwa jika kita melambangkan/menggambarkan sesuatu dengan suatu lambang, bukan berarti sesuatu itu “adalah” (atau “persis sama” dengan) lambang itu. Misalnya, jika kita katakan “Si Amir tinggi sekali seperti tiang,” tidak berarti si Amir adalah tiang. Si Amir tetaplah orang, yang tingginya seperti tinggi tiang. Begitupun dengan lambang-lambang Roh Kudus. Lambang-lambang itu mau mengungkapkan sesuatu/sifat/dll. tentang Allah Roh Kudus. Misalnya “air melambangkan kelahiran dan kesuburan kehidupan yang dianugerahkan Roh Kudus, api melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus” (Katekismus Gereja Katolik, no. 696).


 
Kebahagiaan Sejati

Ada banyak hal, sifat, sebutan, dll. yang bisa kita katakan mengenai Allah Roh Kudus. Pada kesempatan ini mari kita menyorot salah satunya, yaitu Roh Kudus adalah Roh Pembaru Hidup.

Kita bisa gambarkan bahwa Roh Kudus adalah Sang Pembaru Hidup yang mengubah L menjadi J. Apa maksudnya? Gambar 1 L mengungkapkan wajah yang cemberut, murung, sedih, dll. Singkat kata, menggambarkan ketidakbahagiaan. Gambar 2 J mengungkapkan wajah yang ceria, senang, penuh harapan, dll. Katakanlah, menggambarkan kebahagiaan. Roh Kuduslah yang sungguh-sungguh mampu mengubah kita dari L menjadi J.

Tentunya kita tidak perlu menanya diri, “Apakah saya ingin J (bahagia)?” Karena, tidak ada orang yang tidak ingin bahagia. Bahkan, orang yang melakukan bunuh diri pun ingin bahagia. Mereka mengira dengan bunuh diri, mereka akan bahagia (mereka tidak ingat akan kehidupan dan kematian kekal). Akan tetapi, masalahnya adalah di mana kita meletakkan/mencari kebahagiaan kita. Marilah kita refleksi sedikit dan menanya diri, “Apa yang bisa membuat saya menjadi J (bahagia)?” Mungkin, kita mengira bahwa kita akan bahagia jika kita mempunyai uang banyak dan kedudukan tinggi. Tetapi, lihatlah, banyak orang kaya dan berkedudukan tinggi yang merasa sengsara karena stroke atau penyakit lainnya. Kalau begitu, kita mungkin berpikir bahwa orang yang bahagia adalah orang yang sehat. Sayang, pada kenyataannya, banyak kita jumpai orang yang kaya, berkedudukan tinggi, dan sehat, tetapi stress, depresi, bahkan ada yang bunuh diri. Ada juga orang-orang yang mencari kebahagiaan dalam narkoba, alkohol, free sex ‘sex bebas’, tetapi lihatlah bahwa mereka “teler” dan batin mereka merana.

Jika kita masuk lebih dalam, sebenarnya, apakah kita L atau J itu ditentukan oleh hati kita. Apa yang kita jadikan “harta” dalam hati kita itulah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Seorang imam paroki mensharingkan pengalamannya. Dia memiliki seekor anjing yang sangat dicintainya. Anjing ini selalu menemani dia. Ketika anjing ini mati imam ini begitu sedih. Berhari-hari ia tidak enak makan, tidak nyenyak tidur, dsb. Akhirnya, ia membawa kesedihannya ini dalam doa dan merenungkan semuanya. Dan, karena rahmat Tuhan, dia seperti tersadar dan dia berkata kepada dirinya sendiri, “Ah, betapa bodohnya aku. Aku lekatkan hatiku pada seekor anjing, maka ketika ia pergi, hatiku pun ikut pergi dan hilang.” Kisah ini mengingatkan kita akan sabda Yesus, “[...] di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

Hati manusia itu begitu luasnya, sehingga dunia dengan segala isi dan kenikmatannya tidak bisa memenuhi dan memuaskannya, hanya Allah yang tak terbatas yang mampu memuaskannya. Dari pengalaman pribadinya sebelum bertobat, St. Agustinus mengatakan, “Jiwa kami Kauciptakan untuk-Mu, ya Tuhan, dan ia gelisah sebelum bersatu dengan-Mu.” Sebelum pertobatannya, St. Agustinus berusaha mengejar dan mencari kebahagiaan dalam segala macam kenikmatan dan perkara-perkara dunia (misalnya, alkohol, perempuan). Namun, dalam karyanya yang berjudul “Pengakuan”, ia mengaku bahwa semua itu tidak dapat membahagiakannya. Di atas pun kita sudah melihat bahwa kedudukan, dll. bukanlah harta yang bisa membuat kita bahagia. Hanya jika kita menjadikan Yesus sebagai “harta” hati kita, kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Di sinilah peran utama Roh Kudus. Kita bisa katakan bahwa Roh Kudus melakukan suatu “Revolusi Copernicus” dalam hati dan diri kita. Apa maksudnya?

 

“Revolusi Copernicus”

Dahulu orang mengira bahwa pusat angkasa raya adalah bumi dan benda-benda langit lain (matahari, planet) mengitari bumi. Namun, Copernicus melakukan suatu revolusi dengan menemukan bahwa yang menjadi pusat bukanlah bumi, melainkan matahari. Revolusi seperti inilah yang dilakukan Roh Kudus dalam diri kita. Jika semula kita menjadikan diri kita sendiri pusat hidup kita, maka Roh Kudus mau memampukan kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita. Kitalah yang berusaha mengikuti Yesus, mencari kehendak-Nya dalam setiap aspek hidup kita, dan tidak sebaliknya.

Ketika St. Paulus mengatakan, “[...] tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3), dia tidak bermaksud “mengaku” sekedar mengaku dengan bibir[5]. Mengaku Yesus adalah Tuhan juga berarti men-tuhan-kan Dia dalam hidup kita, menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita.

Jika kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita, kita akan seperti ranting yang melekat pada pokoknya (bdk. Yoh 15:1 dst.). Maka, kita akan “subur dan berbuah.” Maksudnya, kita akan memiliki suatu hidup yang berlimpah-limpah, seperti sabda Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Sebaliknya, jika kita memisahkan diri dari Yesus, kita akan “layu, kering, bahkan mati,” walaupun mungkin tampaknya kita masih hidup, namun sebenarnya kita seperti “mayat hidup.”


Tidak Meniadakan Salib dan Penderitaan

Kadang-kadang kita jumpai ada orang-orang tertentu yang ingin dibaptis Katolik karena mengira dan berharap bahwa dengan dibaptis menjadi Katolik maka dia akan sembuh dari penyakitnya atau dia akan hidup “enak dan bahagia” (dalam arti, tidak ada beban/persoalan hidup). Motivasi demikian bukanlah motivasi yang tepat untuk menjadi pengikut Kristus, walaupun tidak jarang terjadi bahwa orang disembuhkan dari penyakitnya (juga penyakit fisik) karena menerima Sakramen Baptis. Motivasi demikian mengingatkan kita kepada banyak orang yang mengikuti Yesus karena berharap bahwa Yesus akan menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi. Mereka mengharapkan Yesus menjadi “mesias duniawi”. Akibatnya, mereka kecewa karena Yesus bukanlah mesias seperti itu, melainkan mesias yang membebaskan kita dari belenggu dosa, maut, dan setan dan memberi kita hidup kekal.

Kita akan kecewa jika kita mengikuti Kristus karena mengira bahwa dengan mengikuti-Nya kita akan bebas dari salib, penderitaan, dan beban hidup. Karena, dengan jelas Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Hidup berlimpah-limpah yang Tuhan sediakan bagi kita tidak meniadakan salib dan penderitaan, tetapi kita diberi kekuatan untuk menghadapinya. Oleh karena itu, St. Paulus mengatakan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13).

Sebetulnya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak mempunyai beban/persoalan hidup. Tidak ada orang yang tidak mengalami penderitaan. Tidak sedikit orang yang “hancur” (stress, depresi, putus asa, dll) dihimpit semuanya itu. Namun, orang yang melekat pada Kristus mempunyai kekuatan untuk menghadapi semua itu. Bahkan, ia tetap dapat berbahagia dan bersukacita di tengah semuanya itu.

Kita lihat St. Laurensius. Ia seorang martir yang mati dipanggang karena imannya akan Kristus. Namun, di tengah panasnya pemanggangan itu, dia masih bisa bergurau, “Oh, yang sebelah sini belum hangus.” Ini tidak dikatakannya dengan hati penuh kebencian untuk mengolok-olok musuhnya, tetapi dengan hati yang sejuk, penuh kasih dan damai, walaupun api pemanggangan tetaplah panas dan tubuhnya merasakan panasnya api pemanggangan itu. Bagaimana mungkin dia bisa seperti itu? Dari mana dia memperoleh kekuatan seperti itu? Kiranya jelas bahwa dunia (kekayaan, alkohol, dll.) tidak dapat memberikan kekuatan seperti itu. Itu merupakan kekuatan surgawi/ilahi yang Tuhan curahkan melalui Roh Kudus-Nya. Kekuatan itu dia timba dari persatuannya dengan Kristus. Kita lihat juga bagaimana para rasul (termasuk Rasul Petrus) yang semula penakut menjadi berani mati dalam mewartakan Kristus setelah menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta.

 

“Mintalah Roh Kudus, maka akan diberikan kepadamu!”

Mungkin kita jadi takjub dan terheran-heran merenungkan kedahsyatan Roh Kudus yang mampu mengubah seseorang sedemikian rupa. Namun, sebetulnya hal ini tidaklah mengherankan jika kita mengingat bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah yang menciptakan seluruh alam semesta (bdk. Kej 1:1 dst.). Liturgi Gereja mengajak kita untuk berseru, “Utuslah Roh-Mu, ya Tuhan. Dan, jadi baru seluruh muka bumi!” Ia juga Roh yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati, seperti dikatakan St. Paulus, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Rm 8:11).

Dapatkah Anda bayangkan apa yang akan terjadi jika Roh yang sama ini tercurah dalam diri Anda? Dan, ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Karena, Yesus sendiri mengatakan,

“[...] Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:9-13).


Tips

Dalam suatu seminar tentang Roh Kudus ada seorang ibu yang mengajukan pertanyaan berikut, “Jika kita membaca Kisah Para Rasul, tampak bahwa para rasul itu sungguh mengalami Roh Kudus dan akrab sekali dengan-Nya. Bagaimana caranya supaya kita bisa mengalami dan akrab dengan Roh Kudus seperti itu?”

Memang, Kisah Para Rasul menampakkan keakraban para murid Yesus dengan Roh Kudus. Tampak bahwa mereka sungguh mengalami Roh Kudus sebagai pribadi yang hidup dan yang membimbing mereka. Misalnya:

·         Kis 8:26-40 mengisahkan bagaimana Roh Kudus membimbing Filipus untuk mendatangi seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan: “Lalu kata Roh kepada Filipus: ‘Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!’” (Kis 8:29). Sehingga, sida-sida itu akhirnya percaya kepada Kristus dan dibaptis.

·         Kis 15:28 menyiratkan bagaimana rasul-rasul dan penatua-penatua begitu akrab dan bersatu dengan Roh Kudus dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan, sehingga mereka katakan, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya [...]:”

 

Lalu, “Bagaimana caranya supaya kita bisa mengalami dan akrab dengan Roh Kudus seperti itu?” Yah, mungkin pertanyaan ini juga menggelitik hati kita. Maka, baiklah kita simak beberapa tips berikut:

·          Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Pertama-tama kita perlu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.[6] Ini juga berarti kita perlu bertobat dan meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus, yaitu dosa-dosa.

 

·          Berdoa meminta kepada Bapa untuk mencurahkan Roh Kudus-Nya atas kita.

Misalnya, di tempat-tempat kami, dalam setiap Retret Awal yang kami adakan, ada acara Pencurahan Roh Kudus, di mana kita bersama-sama berdoa memohon Roh Kudus, setelah dalam hari-hari retret itu kita mempersiapkan diri (melalui pengarahan-pengarahan, doa-doa, juga Sakramen Tobat).

Berdasarkan pengalaman, banyak orang mengalami Allah dan kasih-Nya secara baru dan lebih mendalam setelah Pencurahan Roh Kudus[7] ini. Ada pasutri yang memberi kesaksian bahwa mereka sebetulnya sudah di ambang perceraian, namun atas desakan anak-anak mereka, mereka mengikuti retret itu. Mulanya (di awal retret) sikap mereka seperti “anjing dan kucing,” namun di akhir retret (setelah pencurahan Roh Kudus) mereka serasa berbulan madu kembali. Ada juga seorang pemuda yang kecanduan narkoba dan selama ini dia sudah berusaha meninggalkannya, namun selalu gagal. Tetapi, setelah mengalami pencurahan Roh Kudus, ia serasa mempunyai kekuatan dari dalam untuk meninggalkan itu semua. Begitu pula kesaksian seorang bapak yang kecanduan alkohol. Yang lain lagi: dimampukan untuk mengampuni “musuh”nya, memperoleh karunia-karunia Roh Kudus (misalnya karunia berbahasa roh, nubuat, penyembuhan, dll.), dan mengalami buah-buah Roh (damai, sukacita, dll.; lih. Gal 5:22-23) Dan, masih banyak sekali kesaksian lainnya.

Dari semua itu tampak nyata bahwa Roh Kudus sungguh-sungguh Roh Pembaru Hidup. Dia sungguh-sungguh akan membarui diri dan hidup kita, jika kita sungguh-sungguh meminta-Nya dan menyerahkan seluruh diri kita (tanpa syarat) kepada-Nya.

 

·          Sepanjang hari terbuka dan memohon bimbingan Roh Kudus.

Sepanjang hari pun kita perlu bersahabat dengan Roh Kudus, terbuka terhadap bimbingan-Nya. Misalnya, kita bisa panjatkan doa memohon bimbingan Roh Kudus sebelum memulai setiap pekerjaan atau aktivitas kita. Dan, setiap saat kita juga perlu berusaha untuk peka dan mengikuti dorongan-dorongan atau bimbingan-Nya.

Jika kita setia mengikuti bimbingan-Nya, maka Ia juga akan semakin membimbing kita setiap saat dan menjadikan kita anak-anak Allah yang sejati, seperti dikatakan oleh St. Paulus, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14).

 

Pentakosta: Sebuah Ketukan pada Pintu Hati Anda

Dalam arti tertentu Pentakosta mengandung suatu ketukan Roh Kudus pada pintu hati Anda, “Bolehkah Aku masuk dan memperbarui hidupmu?” Roh Kudus adalah pribadi yang manis, lembut, dan sopan, walaupun kuat, dahsyat, dan perkasa. Dia tidak mau memaksa dan mendobrak pintu hati Anda, tetapi menanti Anda mengundang-Nya dan memberi-Nya kebebasan sepenuhnya untuk mengubah Anda.

Akhir kata: “Jangan berlambat, undanglah Dia sekarang juga, serahkan seluruh diri Anda  kepada-Nya, mohonlah Dia memperbarui hidup Anda, maka ... Anda akan mengalami Pentakosta!”

 



[1] Bdk. Kis 2:3-4; 1Tes 5:19

[2] Bdk. 1Kor 12:13

[3] Bdk. Yoh 3:8

[4] Bdk. Mat 3:16

[5] Bdk. Artikel Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE yang berjudul ”Peranan Roh Kudus”.

[6] Tentunya, mereka yang belum menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma sangat dianjurkan untuk menerimanya.

[7] Bdk. Artikel “Pencurahan Roh Kudus”, Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE, HDR edisi Mei-Juni 2008.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting