header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Datanglah, Ya Roh Kudus, Roh Pembaru Hidup! - 2

User Rating:  / 1
PoorBest 
 Kebahagiaan Sejati

Ada banyak hal, sifat, sebutan, dll. yang bisa kita katakan mengenai Allah Roh Kudus. Pada kesempatan ini mari kita menyorot salah satunya, yaitu Roh Kudus adalah Roh Pembaru Hidup.

Kita bisa gambarkan bahwa Roh Kudus adalah Sang Pembaru Hidup yang mengubah L menjadi J. Apa maksudnya? Gambar 1 L mengungkapkan wajah yang cemberut, murung, sedih, dll. Singkat kata, menggambarkan ketidakbahagiaan. Gambar 2 J mengungkapkan wajah yang ceria, senang, penuh harapan, dll. Katakanlah, menggambarkan kebahagiaan. Roh Kuduslah yang sungguh-sungguh mampu mengubah kita dari L menjadi J.

Tentunya kita tidak perlu menanya diri, “Apakah saya ingin J (bahagia)?” Karena, tidak ada orang yang tidak ingin bahagia. Bahkan, orang yang melakukan bunuh diri pun ingin bahagia. Mereka mengira dengan bunuh diri, mereka akan bahagia (mereka tidak ingat akan kehidupan dan kematian kekal). Akan tetapi, masalahnya adalah di mana kita meletakkan/mencari kebahagiaan kita. Marilah kita refleksi sedikit dan menanya diri, “Apa yang bisa membuat saya menjadi J (bahagia)?” Mungkin, kita mengira bahwa kita akan bahagia jika kita mempunyai uang banyak dan kedudukan tinggi. Tetapi, lihatlah, banyak orang kaya dan berkedudukan tinggi yang merasa sengsara karena stroke atau penyakit lainnya. Kalau begitu, kita mungkin berpikir bahwa orang yang bahagia adalah orang yang sehat. Sayang, pada kenyataannya, banyak kita jumpai orang yang kaya, berkedudukan tinggi, dan sehat, tetapi stress, depresi, bahkan ada yang bunuh diri. Ada juga orang-orang yang mencari kebahagiaan dalam narkoba, alkohol, free sex ‘sex bebas’, tetapi lihatlah bahwa mereka “teler” dan batin mereka merana.

Jika kita masuk lebih dalam, sebenarnya, apakah kita L atau J itu ditentukan oleh hati kita. Apa yang kita jadikan “harta” dalam hati kita itulah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Seorang imam paroki mensharingkan pengalamannya. Dia memiliki seekor anjing yang sangat dicintainya. Anjing ini selalu menemani dia. Ketika anjing ini mati imam ini begitu sedih. Berhari-hari ia tidak enak makan, tidak nyenyak tidur, dsb. Akhirnya, ia membawa kesedihannya ini dalam doa dan merenungkan semuanya. Dan, karena rahmat Tuhan, dia seperti tersadar dan dia berkata kepada dirinya sendiri, “Ah, betapa bodohnya aku. Aku lekatkan hatiku pada seekor anjing, maka ketika ia pergi, hatiku pun ikut pergi dan hilang.” Kisah ini mengingatkan kita akan sabda Yesus, “[...] di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

Hati manusia itu begitu luasnya, sehingga dunia dengan segala isi dan kenikmatannya tidak bisa memenuhi dan memuaskannya, hanya Allah yang tak terbatas yang mampu memuaskannya. Dari pengalaman pribadinya sebelum bertobat, St. Agustinus mengatakan, “Jiwa kami Kauciptakan untuk-Mu, ya Tuhan, dan ia gelisah sebelum bersatu dengan-Mu.” Sebelum pertobatannya, St. Agustinus berusaha mengejar dan mencari kebahagiaan dalam segala macam kenikmatan dan perkara-perkara dunia (misalnya, alkohol, perempuan). Namun, dalam karyanya yang berjudul “Pengakuan”, ia mengaku bahwa semua itu tidak dapat membahagiakannya. Di atas pun kita sudah melihat bahwa kedudukan, dll. bukanlah harta yang bisa membuat kita bahagia. Hanya jika kita menjadikan Yesus sebagai “harta” hati kita, kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Di sinilah peran utama Roh Kudus. Kita bisa katakan bahwa Roh Kudus melakukan suatu “Revolusi Copernicus” dalam hati dan diri kita. Apa maksudnya?

 

“Revolusi Copernicus”

Dahulu orang mengira bahwa pusat angkasa raya adalah bumi dan benda-benda langit lain (matahari, planet) mengitari bumi. Namun, Copernicus melakukan suatu revolusi dengan menemukan bahwa yang menjadi pusat bukanlah bumi, melainkan matahari. Revolusi seperti inilah yang dilakukan Roh Kudus dalam diri kita. Jika semula kita menjadikan diri kita sendiri pusat hidup kita, maka Roh Kudus mau memampukan kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita. Kitalah yang berusaha mengikuti Yesus, mencari kehendak-Nya dalam setiap aspek hidup kita, dan tidak sebaliknya.

Ketika St. Paulus mengatakan, “[...] tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3), dia tidak bermaksud “mengaku” sekedar mengaku dengan bibir[5]. Mengaku Yesus adalah Tuhan juga berarti men-tuhan-kan Dia dalam hidup kita, menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita.

Jika kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup kita, kita akan seperti ranting yang melekat pada pokoknya (bdk. Yoh 15:1 dst.). Maka, kita akan “subur dan berbuah.” Maksudnya, kita akan memiliki suatu hidup yang berlimpah-limpah, seperti sabda Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Sebaliknya, jika kita memisahkan diri dari Yesus, kita akan “layu, kering, bahkan mati,” walaupun mungkin tampaknya kita masih hidup, namun sebenarnya kita seperti “mayat hidup.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting