User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 


SIKAP BERSYUKUR ITU MEMBAWA PERKEMBANGAN HIDUP ROHANI

Sikap bersyukur merupakan cermin dan hidup rohani seseorang; semakin maju rohani seseorang semakin penuh hatinya dengan rasa syukur. Orang yang tidak beriman tidak pernah bersyukur karena kata syukur tidak tergores dalam pikiran mereka. Bagi mereka yang ada hanyalah nasib atau kebetulan; yang balk mereka katakan “nasib baik atau good luck” dan yang buruk dianggap “nasib jelek atau bad luck.” Sedangkan orang yang beriman adalah orang yang penuh syukur karena melihat tangan Tuhan yang berkarya di balik segala sesuatu. Semakin orang maju dalam hidup rohani semakin mereka mampu melihat karya Tuhan yang kasat mata itu. Iman ini bisa diibaratkan dengan mikroskop, semakin baik mikroskop semakin mampu untuk melihat hal-hal yang “kasat-mata-namun-ada”.

S. Bernardus dan Clairvaux mengatakan, “Rasa tidak tahu bersyukur adalah angin yang membakar, yang mengeringkan sumber kesalehan, embun belas kasihan, dan aliran rahmat.” Hati semua orang kudus selalu dipenuhi dengan rasa syukur, mereka tahu bersyukur. Mereka sungguh-sungguh menyadari kepapaan dirinya, dan menyadari kebesaran dan kemurahan Allah yang menjadi sumber hidup mereka.

Sebaliknya bila kita semakin sering mengucap syukur, hidup rohani kita akan semakin maju; bersyukur itu mendorong pertumbuhan iman, harapan dan kasih. Ada kuasa dalam bersyukur. Dengan bersyukur kita membiasakan diri untuk hidup menurut iman kita, bukan berdasarkan pengertian dan perasaan kita. Mungkin pada mulanya terasa sulit, tetapi perlahan-lahan rasa syukur akan memenuhi hati kita dan tanpa kita sadari hati kita akan berubah, kita akan merasakan bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Kebiasaan bersyukur membuka diri kita terhadap aliran rahmat Allah sehingga kasih karunia-Nya memenuhi dan melingkupi kita. Kebiasaan bersyukur merupakan sarana yang baik untuk mengembangkan hidup rohani.

S. Teresia dan Lisieux menyadari pentingnya tahu berterima kasih ini dalam usaha mencapai kesempumaan, seperti ditulisnya dalam otobiografinya: “Akh, seandainya semua jiwa yang lemah dan tidak sempurna merasa seperti yang dirasakan oleh yang terkecil, yakni Teresia kecilmu, maka tak akan ada rasa putus asa sedikit pun untuk mencapai puncak cinta kasih. Sebab Yesus tidak meminta hasil yang besar, melainkan hanya penyerahan diri dan hati yang tahu berterima kasih. Dalam Mazmur 49 Dia telah berkata:
‘Aku tidak membutuhkan kambing jantan dan kandangmu, sebab semua binatang di hutan adalah kepunyaan-Ku, juga beribu-ribu hewan yang merumput di lembah dan bukit semuanya adalah milik-Ku. Aku mengenal semua burung di pegunungan. Jika Aku lapar, tak usah Kukatakan kepadamu, sebab bumi dan segala isinya adalah milik-Ku. Adakah Aku makan daging iembu jantan dan minum darah kambing jantan? Persembahkanlah kepada Allah kurban pujian dan syukur.”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting