User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Satu Tubuh: Pengikut Kristus Harus Menghindari Perpecahan, Iri Hati, dan Eksklusivitas


Selamat Pagi saudara-saudari yang terkasih,

Gambaran tubuh sering digunakan ketika seseorang ingin menyoroti bagaimana unsur-unsur yang terdiri dari kenyataan bergabung satu dengan lainnya secara bersama-sama, membentuk satu hal. Dimulai oleh Rasul Paulus, ungkapan ini telah ditujukan pada Gereja dan telah diakui sebagai ciri pembeda yang paling mendalam dan indah. Maka, hari ini kita bertanya pada diri sendiri: Dalam arti apa Gereja membentuk suatu tubuh? Dan, mengapa Gereja diartikan sebagai “Tubuh Kristus”?

Dalam Kitab Yehezkiel, suatu visi digambarkan sedikit khusus dan mengesankan, tetapi mampu menanamkan kepercayaan dan harapan di dalam hati kita. Allah menunjukkan hamparan tulang yang kering dan terpisah satu dengan yang lainnya kepada Nabi Yehezkiel. Suatu gambaran yang menyedihkan.... Bayangkan seluruh lembah yang penuh dengan tulang. Kemudian Tuhan meminta dia untuk memohon Roh ke atas mereka. Pada saat itu, tulang-tulang mulai bergerak dan menjadi satu. Pertama-tama timbullah urat-urat, kemudian daging tumbuh pada mereka, dan dengan cara ini mereka membentuk sebuah tubuh yang lengkap, penuh kehidupan (lih. Yeh 37:1-14). Lihat, ini adalah Gereja! Hari ini silakan ambil Alkitab di rumah. Buka Kitab Yehezkiel bab 37. Jangan lupakan dan bacalah, ini sangat indah. Ini adalah Gereja, Gereja adalah suatu karya agung, karya agung Roh yang menanamkan dalam masing-masing kehidupan baru dari Dia yang teah bangkit dan menempatkan kita di samping satu dengan lainnya, masing-masing melayanani dan mendukung yang lainnya, sehingga membuat semuanya menjadi satu tubuh, diteguhkan dalam persekutuan dan kasih.

Namun, Gereja bukan hanya suatu tubuh yang dibangun dalam Roh: Gereja adalah Tubuh Kristus! Dan, ini bukan hanya suatu slogan belaka: ini adalah yang sesungguhnya! Hal ini adalah karunia besar yang kita terima saat pembaptisan! Memang, dalam Sakramen Baptis, Kristus menjadikan kita milik-Nya, memasukkan kita ke dalam inti misteri salib—misteri tertinggi dari kasih-Nya bagi kita—agar kemudian kita dibangkitkan bersama dengan-Nya sebagai manusia-manusia baru. Dengan cara inilah Gereja lahir, dan dengan cara ini Gereja diakui sebagai Tubuh Kristus! Baptisan merupakan suatu kelahiran kembali yang sejati, yang melahirkan kita di dalam Kristus, menjadikan kita bagian dari-Nya, dan mempersatukan kita dengan erat sebagai anggota badan dari tubuh yang sama di mana Dia adalah Kepala (lih Rm 12:5; 1Kor 12:12-13).

Yang muncul kemudian adalah suatu persekutuan kasih yang mendalam. Dalam hal ini, amatlah mencerahkan cara Paulus mendesak para suami untuk “mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri”, “sama seperti Kristus terhadap jemaat karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (bdk. Ef 5:28-30). Betapa indahnya hal itu di mana kita akan lebih sering mengingat diri kita yang sesungguhnya, apa yang Tuhan Yesus buat bagi kita: kita adalah Tubuh-Nya: tubuh yang tak satu apa pun dan seorang pun pernah bisa merobek dari-Nya dan yang Dia selubungi dengan semua penderitaan dan cinta-Nya, sama seperti mempelai pria terhadap mempelai wanitanya. Namun, pemikiran ini harus menimbulkan kerinduan untuk menanggapi kasih Tuhan Yesus dan membaginya di antara kita sebagai anggota yang hidup dari Tubuh-Nya sendiri. Pada zaman Paulus, jemaat di Korintus menemukan kesulitan besar dalam hal ini—hidup seperti yang sering kita lakukan juga—pengalaman terpecah-belah, iri hati, kesalahpahaman, dan eksklusivitas. Semua hal ini tidak baik karena bukannya membangun Gereja dan menyebabkannya tumbuh sebagai Tubuh Kristus, melainkan malah menghancurkannya menjadi banyak potongan, hal-hal tersebut memecah-mecahkannya. Dan, hal ini juga terjadi pada zaman kita. Mari kita lihat dalam komunitas-komunitas kristiani, dalam paroki-paroki. Mari kita perhatikan berapa banyak perpecahan, berapa banyak iri hati, bagaimana mereka mengkritik, berapa banyak kesalahpahaman dan eksklusivitas ada di lingkungan kita. Dan, ini menuju ke mana? Hal ini memecah-belah kita. Ini adalah awal dari peperangan. Peperangan tidak dimulai di medan perang: peperangan dimulai di dalam hati dengan kesalahpahaman, perpecahan, iri hati dengan orang lain. Jemaat di Korintus dahulu seperti ini, mereka unggul dalam hal ini!

Rasul Paulus memberikan beberapa nasihat praktis kepada jemaat di Korintus, yang juga berlaku bagi kita: janganlah iri hati, tetapi hargailah talenta dan kelebihan saudara-saudari kita  dalam komunitas kita. Iri Hati: “Dia membeli mobil”, dan saya merasa sangat iri; “Dia memenangkan lotere”, saya lebih iri hati; “Dan dia melakukan dengan sangat baik”, saya merasa lebih iri hati lagi. Keterpecahan ini, berbahaya, jangan lakukan itu! Sebab dengan cara demikian, iri hati tumbuh dan menguasai hati. Dan, hati yang iri adalah hati yang masam, hati yang memiliki cuka dan bukannya darah. Ini adalah hati yang tidak pernah bahagia. Ini adalah hati yang memecah-belah komunitas. Jadi, apa yang harus saya lakukan? Menghargai talenta dan kelebihan saudara-saudari kita dalam komunitas kita. Dan, ketika saya merasa iri hati—karena iri hati ada pada semua orang, kita semua adalah orang berdosa—saya harus mengatakan kepada Tuhan: “Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah memberikan ini kepada orang itu.” Menghargai kelebihan, menjadi sesama dan berbagi dalam penderitaan kepada mereka yang paling membutuhkan; mengungkapkan terima kasih kepada setiap orang. Hati yang tahu bagaimana mengatakan “terima kasih” adalah hati yang baik, ini adalah hati yang mulia, ini adalah hati yang selalu puas. Izinkan saya bertanya: Apakah kita semua tahu bagaimana selalu mengatakan “terima kasih”? Tidak selalu, karena iri hati, cemburu menghambat kita.

Dan terakhir, saran yang diberikan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dan yang harus kita berikan juga kepada yang lainnya: tidak seorang pun yang menganggap dirinya lebih unggul dari yang lain. Berapa banyak orang yang merasa lebih unggul dari orang lain? Kita juga sering mengatakan seperti yang dilakukan orang Farisi dalam perumpamaan: “Terima kasih, Tuhan, karena saya tidak seperti dia, saya lebih baik.” Ini buruk, tidak boleh dilakukan! Dan, ketika Anda hendak melakukannya, ingatlah akan dosa-dosa Anda, dosa-dosa yang tidak diketahui siapapun, merasa malulah di hadapan Allah dan berkata: “Tuhan, Engkau tahu siapa yang lebih baik. Saya akan tutup mulut.” Ini tindakan yang baik. Dan, selalu—dalam kasih—menganggap diri kita sebagai anggota satu dengan yang lain, yang hidup dan memberikan diri kita untuk kepentingan semua (bdk. 1Kor 12:14).

Saudara-saudari yang terkasih, seperti Nabi Yehezkiel dan Rasul Paulus, marilah kita juga memohon Roh Kudus agar kasih-Nya dan kelimpahan karunia-Nya membantu kita untuk benar-benar hidup sebagai Tubuh Kristus, bersatu sebagai satu keluarga, tetapi satu keluarga yang adalah Tubuh Kristus, dan sebagai tanda yang terlihat dari kasih Kristus.

Terakhir, pikiran saya tertuju pada orang muda, orang sakit, dan pengantin baru. Bulan Oktober mengundang kita untuk memperbarui tindakan kooperatif kita dengan misi Gereja. Dengan energi segar orang muda, dengan kekuatan doa dan pengurbanan, dan dengan potensi kehidupan suami-istri, semoga Anda tahu bagaimana menjadi misionaris Injil, memberikan dukungan konkret Anda kepada mereka yang bekerja keras untuk menyampaikan hal ini kepada orang-orang yang belum mengetahuinya.

 

(Dari Radio Vatikan)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting