User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Dalam sebuah visiun, S. Maria Margareta Alacoque melihat Yesus dalam hosti kudus ketika imam membagikan komuni. Pada orang-orang tertentu Yesus tampak begitu rindu dan merentangkan tangan untuk memeluk, namun pada orang-orang lain Yesus seakan diikat oleh tali dan dipaksa masuk ke dalam mulut orang-orang itu. Yesus menerangkan kepada S. Margareta bahwa pada orang yang mempersiapkan diri dengan baik Yesus rindu untuk datang dan masuk dalam diri mereka. Sebaliknya, pada mereka yang acuh dan sembrono, Yesus seakan ditarik dan dipaksa masuk karena Ia telah berjanji untuk memberikan diri dan Ia hadir dalam hosti kudus. Ia mau masuk dengan senang hati pada orang yang berusaha mempersiapkan diri dan sungguh-sungguh berkenan kepada-Nya. Akan tetapi, Ia dengan enggan masuk ke dalam diri orang-orang Kristen yang tanpa persiapan, tidak peduli, suam-suam kuku, mudah berbuat dosa kecil dan acuh tak acuh untuk mengatasi dosa kecilnya.

Untuk mengatasi semangat minimalis (pokoknya/asal tidak berdosa), S. Alfonsus Ligouri, seorang teolog moral gereja, memberikan beberapa petunjuk. Ia berdevosi besar kepada Sakramen Mahakudus. Ia menulis bagaimana mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menerima komuni ini. S. Teresa Avila memberikan observasi ini dengan sedih, “Satu komuni saja yang diterima dengan penuh kerinduan dan iman sudah cukup untuk menjadikan orang kudus. Akan tetapi, begitu banyak orang yang menerima komuni dan kemajuannya tetap saja sedikit dalam jalan-jalan Tuhan. Bahkan, tidak ada perubahan. Bahkan, kita lihat makin lama makin mundur karena mereka tidak menghargai Tubuh Kristus.” “Kesalahannya,” kata S. Alfonsus Ligouri, “Ada pada orang yang menerima. Problemnya tidak pada makanannya, tetapi pada orang yang memakannya, karena mereka kurang mempersiapkan diri.” Ia mempelajari bagaimana para kudus mempersiapkan diri untuk menerima komuni. Misalnya, S. Aloysius Gonzaga mempersiapkan diri selama tiga hari untuk menerima komuni. Pada jaman itu komuni tidak setiap hari, hanya seminggu sekali, namun ia mempersiapkan diri dengan baik. Kita perlu merefleksikan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima komuni itu.Syarat-syaratnya adalah:

 

1.Kelepasan

Menurut S. Alfonsus, ada dua cara kita mempersiapkan diri untuk komuni, yaitu dengan melepaskan diri dari ikatan-ikatan makhluk dan dengan membebaskan hati kita dari segala sesuatu yang bukan Allah. Ia menekankan hal ini dengan menceritakan riwayat hidup S. Gertrudis. Suatu hari, S. Gertrudis bertanya pada Tuhan apa yang harus dilakukannya supaya ia dapat mempersiapkan diri untuk komuni. Jawab Yesus, “Saya hanya minta satu hal, yaitu kosongkan dirimu dari segala sesuatu untuk menerima Aku.” Apa artinya? Artinya, segala sesuatu yang menarik perhatian kita atau yang mengikat hati kita harus kita arahkan kepada Allah. Jadi, hati kita harus kosong, tidak terikat apa pun dan seluruh perhatian kita terarah pada Allah. Bila ada sesuatu atau seseorang yang menjadi tujuan, maka itu akan mengalihkan perhatian kita dari Allah.

S. Yohanes Salib pada waktu berbicara tentang kelepasan secara umum (tidak berhubungan dengan komuni kudus) juga mengatakan bahwa seperti mustahil cahaya matahari tidak masuk ketika kita membuka jendela, begitupun mustahil Tuhan tidak masuk bila hati kita betul-betul kosong dan kita buka bagi Dia. Semboyan S. Yohanes Salib adalah “Kosong, kosong, kosong” agar Tuhan dapat masuk.

S. Alfonsus Ligouri mengatakan, “Semangat duniawi dapat sungguh-sungguh menghambat cinta Allah pada kita. Di mana semangat duniawi berkembang, di situ cinta kepada Allah akan menjadi dingin.” Dalam dunia sekarang ini hampir semua orang mempunyai TV. TV ada dalam setiap kamar, tidak terkecuali di biara-biara, bahkan biara-biara kontemplatif sekalipun. Dan, tidak jarang biarawan-biarawati kontemplatif nongkrong berjam-jam di depan TV. Meskipun TV sendiri tidak jahat, namun hampir seluruh program TV dijiwai oleh semangat duniawi. Misalnya, semangat “Kalau tidak suka dengan pasangan hidup, cerai saja,” “kalau tidak senang dengan pasangan hidup, cari saja yang lain.” Juga iklan-iklan menawarkan banyak kenikmatan dan kesenangan duniawi. Tanpa disadari, kita dikuasai oleh semangat duniawi dengan lahap, tak terkecuali para religius dan para imam. Ada juga para imam yang mempersiapkan diri di hadapan TV untuk khotbahnya. Katanya, untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia. Sebaliknya, saya melihat begitu banyak awam yang tersentuh hatinya oleh Tuhan sehingga meskipun mempunyai TV, mereka tidak nongkrong di depannya, melainkan hanya nonton acara berita.

TV dan majalah-majalah menyodorkan semangat duniawi yang diminum dan dimakan dengan lahapnya oleh banyak orang. Tidak mengherankan, semangat kristiani menjadi luntur dan kendur. Dan, hal-hal yang sungguh mengerikan terjadi karena mereka dikuasai oleh semangat duniawi. Oleh karena itu, kita harus melepaskan diri dari semangat duniawi, dari segala sesuatu yang bukan dari Allah. S. Yohanes Salib mengatakan, “Janganlah kamu mencintai segala sesuatu yang berasal dari dunia ini, juga kesenangan mata.” Yesus bersabda, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

Manusia rohani tidak menghabiskan waktunya untuk bacaan-bacaan profan, atau untuk nonton TV. Sekarang ini si iblis juga mengikat orang dengan berbagai macam permainan, video games, play station. Anak-anak pulang sekolah langsung main games. Begitu banyak waktu terbuang untuk itu. Di kantor pun para pegawai nongkrong di depan komputer, tidak untuk bekerja, tetapi bermain games. Pertandingan atau olahraga pun kalau sudah menjadi obsesi sudah bukan olahraga lagi, melainkan pemuasan nafsu saja. Itu semua kenyataan yang harus kita lihat. Olahraga baik bagi kesehatan bila tidak berlebihan, tetapi ada orang yang menjadikannya berhala atau tuhannya.

Oleh karena itu, baiklah kita berusaha untuk selalu merindukan Yesus. Saya tidak akan pernah berhenti menegaskan kembali semangat Karmel yang sederhana, namun sangat efektif: “Hidup selalu di hadirat Allah”. Seperti dikatakan dalam regula Karmel, “Siang malam merenungkan hukum Tuhan dan berjaga dalam doa.” Hidup di hadirat Allah, “Vacare Deo” (mengosongkan diri bagi Tuhan), bila kita lakukan dengan sepenuhnya akan sangat berguna. Banyak orang yang tidak hidup di hadirat Tuhan, tetapi hidup di hadiratnya sendiri dengan terus-menerus memikirkan dirinya sendiri. Atau, hidup di hadirat orang lain, hidup di hadirat musuhnya dan diliputi macam-macam ketakutan dan kekhawatiran.

Hidup di hadirat Allah berarti sadar akan kehadiran Allah, hidup bersama dengan Allah. Tidak hanya itu, bila kita senantiasa hidup di hadirat Allah, maka Roh Allah akan membantu kita,memberitahu kita akan apa yang harus kita katakan. “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga” (Mat 10:19; bdk. Mrk 13:11).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting