Print
Hits: 8923

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Dalam iman Katolik, jelas kita mengakui kebenaran iman kita yang hakiki, yakni kebangkitan Kristus. Bahkan apabila kita tak mengakui kebangkitan Kristus, maka sia-sialah iman kita. Karena itu, apa itu kebangkitan? Apa maknanya bagi kita? Bagaimana kita memahaminya dan kemudian kita dapat menghayatinya? Lalu, apa yang harus kita buat? Kita simak artikel berikut ini.


Bagi kebanyakan orang Kristen, perayaan Natal mungkin tampaknya lebih indah dan lebih menarik, seolah-olah perayaan Natal itu lebih besar daripada perayaan Paska. Perayaan Natal juga dirayakan oleh orang-orang yang boleh dikata belum mengenal Kristus. Saya dengar bahwa di Cina menjelang Natal juga dipasang pohon-pohon dan lagu-lagu Natal yang indah. Begitu juga di Jepang, Singapore, dan sebagainya. Mereka merayakan Natal, walaupun mereka tidak mengerti arti Natal yang sesungguhnya. Mungkin, itu semua dapat menjadi sarana evangelisasi karena orang-orang yang tidak tahu mulai bertanya-tanya, “Apa arti perayaan ini? Lagu-lagunya indah, dan sebagainya.”

Walaupun perayaan Paska tidak memiliki ciri-ciri seperti Natal (misalnya, lagu-lagu yang romantis, dll.), tetapi bagi kita perayaan Paska sebetulnya adalah perayaan yang lebih besar. Karena, Paska itulah yang menentukan nasib umat manusia yang baru. Memang, kalau tidak ada Natal, Paska juga tidak ada. Tentu saja demikian, karena pada Natal Yesus lahir dan kalau Yesus tidak lahir maka tidak ada Paska. Semua ini merupakan sederetan misteri kelahiran Yesus-misteri Yesus yang menjadi manusia-, tetapi puncaknya ada pada hari Paska. Marilah kita lihat beberapa hal yang sebetulnya bagi pikiran manusia sulit dimengerti.

Sebuah pertanyaan seringkali diajukan, “Mengapa Yesus harus mati lebih dahulu?” Seperti kita rayakan pada hari Jumat Agung, Yesus mati hanya dengan satu motivasi, yaitu demi cinta-Nya kepada kita. Dan, itu dibuktikan dengan Dia rela mati. Akan tetapi, seandainya Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit kembali maka sia-sia saja. Mungkin saja Dia adalah penipu. Cuma ngomong (berkata/bicara), tetapi nyatanya ya hanya ngomong saja.

Satu hal yang luar biasa adalah orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus mengira bahwa dengan membunuh Yesus perkara selesai, namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan membunuh Yesus perkara baru dimulai. Justru Yesus-dengan dibunuh dan disalibkan itu-kemudian bangkit dan memulai “sesuatu yang baru”.

Ada orang-orang yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Misalnya, orang-orang Yahudi sendiri mengatakan bahwa mereka menyuap penjaga-penjaga untuk mengatakan bahwa pada waktu mereka tidur murid-murid mencuri jenasah Yesus (bdk. Mat 28:11-15). Kalau dipikir secara logis, “Bagaimana mungkin membongkar batu yang begitu besar dan berat sementara para penjaga ada di situ? Masakah penjaga-penjaga tidak terbangun?” Ini omong kosong. Pada dasarnya mereka tidak mau percaya maka mengada-ada, mencari alasan supaya tidak percaya, supaya orang tidak bertobat, dan-akibatnya-juga tidak diselamatkan.

Bagi kita kebangkitan Yesus merupakan pokok iman kita. St. Paulus bahkan menegaskan, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:17). Seandainya Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita. Mengapa? Seandainya Yesus tidak bangkit, semua yang kita lakukan sebetulnya sia-sia. Seandainya Yesus tidak bangkit, Perayaan Ekaristi yang kita rayakan itu adalah sandiwara belaka, tetapi karena Yesus bangkit maka semuanya mempunyai makna, makna yang indah sekali. Oleh karena itu, kebangkitan Yesus merupakan dasar seluruh iman Kristen, iman Katolik kita. Kalau Yesus tidak bangkit, sia-sia semuanya, tetapi karena Yesus bangkit berarti iman kita mempunyai dasar. Dan, sebagaimana Yesus bangkit, kita juga akan dibangkitkan.

Sekarang, mari kita lihat mengenai fakta kebangkitan Yesus. Ini yang sepanjang sejarah merupakan perdebatan karena ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit, dan lain-lain. Bahkan, beberapa puluh tahun lalu dalam Gereja ada aliran yang agak menguasai Gereja sehingga banyak orang Katolik pun yang ragu-ragu apakah Yesus sungguh bangkit atau tidak. Tetapi, puji Tuhan, karena Yesus mempunyai pengikut-pengikut orang-orang yang sederhana yang mempunyai iman yang kuat untuk membangkitkan kembali keyakinan akan kebangkitan Yesus.

Ada yang mengatakan, “Ah, itu hanya rekayasa para murid-Nya.” Kalau kita lihat, murid-murid Yesus itu siapa? Yang jelas, pengikut-pengikut-Nya yang disebut dua belas rasul itu bukanlah orang-orang yang jenius-jenius. Mereka itu orang-orang sederhana. Petrus pun nelayan yang sederhana, hanya nelayan kecil. Bagaimana mungkin mereka merekayasa sesuatu mengenai Yesus bangkit? Untuk merekayasa ini dibutuhkan jenius-jenius yang luar biasa. Sementara, mereka itu hanya memberi kesaksian tentang apa yang mereka lihat, apa yang mereka alami, dan apa yang mereka-boleh dikata-lihat bersama-sama. Jadi, para murid itu hanya memberi kesaksian, tidak merekayasa. Mereka memberi kesaksian bahwa Yesus yang hidup bersama mereka selama beberapa tahun (mungkin tiga tahun) itu ternyata memang telah disalibkan dan bangkit kembali. Memang, ada yang mengatakan bahwa yang disalibkan itu Barabas, bukan Yesus. Akan tetapi, ini pun rekayasa belaka.

Bagi kita, kenyataan bahwa Yesus telah disalibkan merupakan bagian dari iman kita. Oleh karena itu, tidak hanya “Saya percaya kepada Yesus yang telah bangkit!” Tidak! Tetapi “Saya percaya kepada Yesus yang telah lahir sebagai manusia dari Perawan Maria, yang kemudian menderita sengsara dan wafat disalibkan. Itu semua termasuk bagian dari iman kita. Karena, ada kelompok lain mengatakan bahwa Yesus tidak pernah disalibkan. Yesus betul-betul telah menderita sengsara, disalibkan, wafat, dan-tidak berhenti disitu-bangkit kembali.

Dari mana kita bisa mempunyai keyakinan iman bahwa Yesus sungguh bangkit? Pertama-pertama, iman itu karunia Tuhan. Bahwa kita percaya Yesus bangkit, itu merupakan karunia Tuhan. Akan tetapi, karunia ini juga diteguhkan dengan saksi-saksi.

Misalnya, kita lihat orang sederhana seperti Petrus yang pada hari Jumat Agung  sudah gemetar dan menyangkal Yesus tiga kali (lih. Mat 26:69-75), namun apa yang terjadi sesudah Yesus bangkit? Khususnya setelah Pentakosta, Petrus-yang tadinya begitu penakut-menjadi begitu berubah sehingga di depan mahkamah agama yang bersidang dia berani berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kis 4:19). Apakah itu betul Petrus? Petrus yang sama yang beberapa waktu sebelumnya masih menyangkal, “Aku tidak kenal orang itu” (Mat 26:72.74), tetapi kemudian-setelah kebangkitan Yesus-berubah dan akhirnya Petrus yang sama itu rela mati dibunuh (karena kesaksiannya) dengan disalibkan, bahkan disalibkan dengan kepala di bawah karena ia merasa tidak layak mati seperti Yesus.

Hampir semua rasul mati dibunuh karena kesaksian akan Yesus Kristus. Dan sesudah itu, akibat iman kepada Yesus Kristus begitu banyak orang (bahkan jutaan orang, terlebih dalam abad ke-20) dibunuh karena iman akan Yesus Kristus. Mereka lebih memilih mati daripada menyangkal imannya. Bagi mereka kesaksian akan Yesus Kristus lebih berharga daripada hidup mereka sendiri. Dari sini kita mengakui dan mengerti bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit.

Saya masih teringat tentang kesaksian seorang imam Polandia. Pada waktu komunis berkuasa,  dia dipaku di pintu Gereja karena imannya akan Yesus Kristus dan dia lebih memilih untuk tidak menyangkal imannya bahwa Yesus hidup. Selain itu, ada banyak orang yang rela disiksa dan dibunuh (misalnya, para martir di Cina, Vietnam, Korea, Jepang, dll). Mengapa? Karena mereka mengakui Kristus yang bangkit. Jadi, kebangkitan Yesus Kristus adalah dasar dari seluruh iman kita. Maka, dalam Credo dikatakan kita percaya akan Yesus Kristus Putra Allah yang lahir dari Perawan Maria yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit pada hari yang ketiga.


Kemudian, dari sekian banyaknya saksi yang mengalami Yesus sendiri-yang hidupnya berubah karena percaya kepada Yesus-kita dapat sungguh mengakui Yesus telah bangkit.

Apa manfaatnya bagi kita kalau Yesus bangkit? Justru inilah kunci dari semua tadi. Mengapa? Apa akibatnya? Seperti dikatakan dalam Injil Yohanes “semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12). Anda semua yang percaya kepada Dia diberi kuasa menjadi anak-anak Allah karena iman akan Yesus Kristus. Maka, dalam Injil Yohanes juga dikatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Inilah taruhannya: hidup yang kekal. “Saya percaya kepada Yesus” itu tidak sekedar percaya karena saya percaya atau tidak percaya, tetapi taruhannya besar sekali, yakni hidup yang kekal. Jika saya percaya, maka saya akan memiliki hidup yang kekal. Percaya juga berarti hidup menurut/sesuai kepercayaan kita itu.

Kemudian, Yesus yang bangkit ini naik ke surga, kembali kepada Bapa, dan dari situ Ia mengutus Roh Kudus-yang kemudian kita rayakan pada hari Pentakosta. Apa yang dilakukan Yesus tadi dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, pencurahan Roh Kudus, rahmat yang diperoleh, pengampunan dosa merupakan awal dari sesuatu yang lebih besar, yaitu dari hidup kekal. Hidup kekal menjadi milik kita, menjadi milik Anda karena Anda percaya. Itulah yang memberi harapan dan arti bagi kita.

Oleh karena itu, seperti dikatakan dalam Injil, Yesus menerima kepenuhan kasih karunia dan rahmat, penuh dengan kebenaran. Yesus sebagai manusia dikatakan menerima seluruh kepenuhan Allah:

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. [‘...] Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:14.16).

Kita tahu bahwa Yesus itu Allah dan juga manusia. Dia seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Jadi, Yesus bukan hanya manusia dan bukan hanya Allah. Oleh karena itu, dahulu Adam tidak taat kepada Allah, sekarang Yesus sebagai manusia mewakili seluruh umat manusia, taat-bahkan taat sampai mati-dan karena itu dibangkitkan. Maka, Ia menerima kepenuhan rahmat itu dan dari kepenuhan-Nya itu kita semua-Anda dan saya-menerima kasih karunia demi kasih karunia, dengan percaya kepada Yesus.

Percaya itu berarti apa? Menerima Dia sebagai Tuhan kita, memasuki suatu hubungan yang pribadi dengan Tuhan. Melalui hubungan yang pribadi ini kita akan menerima kasih karunia demi kasih karunia, kita menerima hidup yang kekal, yaitu apabila kita menerima Kristus tadi, hidup kekal sudah mulai di dunia ini, walaupun belum penuh, namun sungguh-sungguh nyata.

Itulah yang membuat orang-orang berani meninggalkan segala sesuatu demi Yesus. Pada zaman dahulu banyak sekali orang-orang terkemuka, misalnya bangsawan-bangsawan, juga anak raja, dan sebagainya, meninggalkan semuanya untuk mengikuti Yesus, bahkan ada yang menjadi suster, imam, biarawan-biarawati. Mereka meninggalkan kedudukan dan pangkat mereka sebagai bangsawan yang begitu tinggi dalam masyarakat dan mau hidup sederhana sebagai biarawan dan biarawati.

Beberapa tahun yang lalu di Australia ada seorang wanita muda terpilih sebagai Miss Australia. Tentunya, kalau terpilih sebagai Miss Australia itu cantik sekali, disanjung-sanjung, dan lain sebagainya. Namun, beberapa waktu kemudian terjadi sesuatu yang heboh dan mengejutkan. Karena apa? Tiba-tiba terdengar berita bahwa (entah mengapa) Miss Australia itu masuk biara suster Karmelites (yang boleh dikata suster-susternya “tidak pernah keluar”). Timbul macam-macam reaksi dan pertanyaan, “Kenapa? Kenapa?” Padahal, sebagai Miss Australia, tentunya ia dikejar pria-pria yang berkedudukan tinggi yang ingin memperistrinya. Aneh, bahwa dia masuk biara Karmelites yang tertutup sekali. Orang berpikir bahwa dia sudah gila dan macam-macam. Akan tetapi, bagi Miss Australia itu sendiri, ia telah menemukan kekasihnya yang sejati, yakni Yesus Kristus. Bagaimana itu mungkin? Kita tidak tahu. Dalam sejarah seringkali terjadi hal-hal seperti itu karena Yesus Kristus itu secara logika memang tidak bisa dimengerti. Orang berpikir “Ah, itu bodoh,” tetapi kita mengerti Miss Australia ini telah menemukan kekasihnya yang sejati yang tidak hanya di dunia ini, melainkan sampai di dunia yang akan datang.

Tidak semua orang dipanggil kepada kehidupan seperti itu (hidup membiara), tetapi semua orang dipanggil untuk percaya kepada Yesus dan untuk memiliki hubungan yang pribadi dengan Dia. Bukankah ini juga luar biasa? Maka, Yesus yang bangkit itulah yang menjadi harapan kita, karena Yesus yang bangkit, seperti dikatakan Paulus, “menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

Bersama Yesus suatu saat kita pun akan dibangkitkan kembali dan kita semua akan menerima kembali tubuh kita yang sama, tetapi yang sudah dimuliakan, disempurnakan. Misalnya, kalau sekarang pakai kacamata sampai di sana tidak ada kacamata lagi, semua cacat itu sudah hilang, dan sebagainya. Tubuh yang mulia itu bagaimana? Kita juga tidak tahu persisnya. Kalau mau tahu persisnya, tunggu saja nanti. Tetapi, kita lihat sifat tubuh yang mulia itu sudah berbeda, tidak terikat oleh hukum-hukum dunia. Misalnya (tubuh) Yesus yang sudah bangkit. Suatu saat murid-murid-Nya kebingungan apakah ini hantu, roh, atau Yesus. Yesus bertanya mereka mempunyai makanan apa, lalu Dia makan (lih. Luk 24:41-43). Tetapi, Dia bisa masuk dalam ruangan yang tertutup (bdk. Luk 24:36). Kita sekarang dengan tubuh kita ya ... tidak bisa masuk ke dalam ruangan tertutup. Tubuh yang mulia, tidak seperti tubuh yang di dunia. Yesus bisa masuk lewat pintu yang tertutup dan sebagainya karena hukum yang berlaku di dunia ini sudah tidak berlaku lagi. Tubuh yang mulia mengatasi semua itu.

Kita semua berharap suatu saat nanti kita akan bangkit dengan tubuh yang dimuliakan. Yesus yang bangkit itu sumber pengharapan untuk kita semua. Memang, kalau kita meninggal, kita dikuburkan dan tubuh kita akan hancur, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dia akan membangkitkan kita yang kemudian disatukan dengan jiwa kita dalam kemuliaan. Itulah yang kita harapkan. Akan tetapi, mereka yang menolak Yesus, mereka yang hidup dalam dosa dan tidak bertobat, akan bangkit juga, namun untuk dihukum, juga tubuhnya akan mengalami hukuman.

Jadi, “Yesus bangkit” itulah dasar seluruh iman kita. Karena kita yakin Yesus bangkit, maka hidup kita menjadi sesuatu yang berarti. Kebangkitan Yesus memberi arti dan kekuatan dalam seluruh perjuangan hidup kita.