header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Paskah: Sumber Pengharapan Kita

User Rating:  / 5
PoorBest 

Bagi kebanyakan orang Kristen, perayaan Natal mungkin tampaknya lebih indah dan lebih menarik, seolah-olah perayaan Natal itu lebih besar daripada perayaan Paska. Perayaan Natal juga dirayakan oleh orang-orang yang boleh dikata belum mengenal Kristus. Saya dengar bahwa di Cina menjelang Natal juga dipasang pohon-pohon dan lagu-lagu Natal yang indah. Begitu juga di Jepang, Singapore, dan sebagainya. Mereka merayakan Natal, walaupun mereka tidak mengerti arti Natal yang sesungguhnya. Mungkin, itu semua dapat menjadi sarana evangelisasi karena orang-orang yang tidak tahu mulai bertanya-tanya, “Apa arti perayaan ini? Lagu-lagunya indah, dan sebagainya.”

Walaupun perayaan Paska tidak memiliki ciri-ciri seperti Natal (misalnya, lagu-lagu yang romantis, dll.), tetapi bagi kita perayaan Paska sebetulnya adalah perayaan yang lebih besar. Karena, Paska itulah yang menentukan nasib umat manusia yang baru. Memang, kalau tidak ada Natal, Paska juga tidak ada. Tentu saja demikian, karena pada Natal Yesus lahir dan kalau Yesus tidak lahir maka tidak ada Paska. Semua ini merupakan sederetan misteri kelahiran Yesus─misteri Yesus yang menjadi manusia─, tetapi puncaknya ada pada hari Paska. Marilah kita lihat beberapa hal yang sebetulnya bagi pikiran manusia sulit dimengerti.

Sebuah pertanyaan seringkali diajukan, “Mengapa Yesus harus mati lebih dahulu?” Seperti kita rayakan pada hari Jumat Agung, Yesus mati hanya dengan satu motivasi, yaitu demi cinta-Nya kepada kita. Dan, itu dibuktikan dengan Dia rela mati. Akan tetapi, seandainya Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit kembali maka sia-sia saja. Mungkin saja Dia adalah penipu. Cuma ngomong (berkata/bicara), tetapi nyatanya ya hanya ngomong saja.

Satu hal yang luar biasa adalah orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus mengira bahwa dengan membunuh Yesus perkara selesai, namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan membunuh Yesus perkara baru dimulai. Justru Yesus─dengan dibunuh dan disalibkan itu─kemudian bangkit dan memulai “sesuatu yang baru”.

Ada orang-orang yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Misalnya, orang-orang Yahudi sendiri mengatakan bahwa mereka menyuap penjaga-penjaga untuk mengatakan bahwa pada waktu mereka tidur murid-murid mencuri jenasah Yesus (bdk. Mat 28:11-15). Kalau dipikir secara logis, “Bagaimana mungkin membongkar batu yang begitu besar dan berat sementara para penjaga ada di situ? Masakah penjaga-penjaga tidak terbangun?” Ini omong kosong. Pada dasarnya mereka tidak mau percaya maka mengada-ada, mencari alasan supaya tidak percaya, supaya orang tidak bertobat, dan─akibatnya─juga tidak diselamatkan.

Bagi kita kebangkitan Yesus merupakan pokok iman kita. St. Paulus bahkan menegaskan, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:17). Seandainya Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita. Mengapa? Seandainya Yesus tidak bangkit, semua yang kita lakukan sebetulnya sia-sia. Seandainya Yesus tidak bangkit, Perayaan Ekaristi yang kita rayakan itu adalah sandiwara belaka, tetapi karena Yesus bangkit maka semuanya mempunyai makna, makna yang indah sekali. Oleh karena itu, kebangkitan Yesus merupakan dasar seluruh iman Kristen, iman Katolik kita. Kalau Yesus tidak bangkit, sia-sia semuanya, tetapi karena Yesus bangkit berarti iman kita mempunyai dasar. Dan, sebagaimana Yesus bangkit, kita juga akan dibangkitkan.

Sekarang, mari kita lihat mengenai fakta kebangkitan Yesus. Ini yang sepanjang sejarah merupakan perdebatan karena ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit, dan lain-lain. Bahkan, beberapa puluh tahun lalu dalam Gereja ada aliran yang agak menguasai Gereja sehingga banyak orang Katolik pun yang ragu-ragu apakah Yesus sungguh bangkit atau tidak. Tetapi, puji Tuhan, karena Yesus mempunyai pengikut-pengikut orang-orang yang sederhana yang mempunyai iman yang kuat untuk membangkitkan kembali keyakinan akan kebangkitan Yesus.

Ada yang mengatakan, “Ah, itu hanya rekayasa para murid-Nya.” Kalau kita lihat, murid-murid Yesus itu siapa? Yang jelas, pengikut-pengikut-Nya yang disebut dua belas rasul itu bukanlah orang-orang yang jenius-jenius. Mereka itu orang-orang sederhana. Petrus pun nelayan yang sederhana, hanya nelayan kecil. Bagaimana mungkin mereka merekayasa sesuatu mengenai Yesus bangkit? Untuk merekayasa ini dibutuhkan jenius-jenius yang luar biasa. Sementara, mereka itu hanya memberi kesaksian tentang apa yang mereka lihat, apa yang mereka alami, dan apa yang mereka─boleh dikata─lihat bersama-sama. Jadi, para murid itu hanya memberi kesaksian, tidak merekayasa. Mereka memberi kesaksian bahwa Yesus yang hidup bersama mereka selama beberapa tahun (mungkin tiga tahun) itu ternyata memang telah disalibkan dan bangkit kembali. Memang, ada yang mengatakan bahwa yang disalibkan itu Barabas, bukan Yesus. Akan tetapi, ini pun rekayasa belaka.

Bagi kita, kenyataan bahwa Yesus telah disalibkan merupakan bagian dari iman kita. Oleh karena itu, tidak hanya “Saya percaya kepada Yesus yang telah bangkit!” Tidak! Tetapi “Saya percaya kepada Yesus yang telah lahir sebagai manusia dari Perawan Maria, yang kemudian menderita sengsara dan wafat disalibkan. Itu semua termasuk bagian dari iman kita. Karena, ada kelompok lain mengatakan bahwa Yesus tidak pernah disalibkan. Yesus betul-betul telah menderita sengsara, disalibkan, wafat, dan─tidak berhenti disitu─bangkit kembali.

Dari mana kita bisa mempunyai keyakinan iman bahwa Yesus sungguh bangkit? Pertama-pertama, iman itu karunia Tuhan. Bahwa kita percaya Yesus bangkit, itu merupakan karunia Tuhan. Akan tetapi, karunia ini juga diteguhkan dengan saksi-saksi.

Misalnya, kita lihat orang sederhana seperti Petrus yang pada hari Jumat Agung  sudah gemetar dan menyangkal Yesus tiga kali (lih. Mat 26:69-75), namun apa yang terjadi sesudah Yesus bangkit? Khususnya setelah Pentakosta, Petrus─yang tadinya begitu penakut─menjadi begitu berubah sehingga di depan mahkamah agama yang bersidang dia berani berkata, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kis 4:19). Apakah itu betul Petrus? Petrus yang sama yang beberapa waktu sebelumnya masih menyangkal, “Aku tidak kenal orang itu” (Mat 26:72.74), tetapi kemudian─setelah kebangkitan Yesus─berubah dan akhirnya Petrus yang sama itu rela mati dibunuh (karena kesaksiannya) dengan disalibkan, bahkan disalibkan dengan kepala di bawah karena ia merasa tidak layak mati seperti Yesus.

Hampir semua rasul mati dibunuh karena kesaksian akan Yesus Kristus. Dan sesudah itu, akibat iman kepada Yesus Kristus begitu banyak orang (bahkan jutaan orang, terlebih dalam abad ke-20) dibunuh karena iman akan Yesus Kristus. Mereka lebih memilih mati daripada menyangkal imannya. Bagi mereka kesaksian akan Yesus Kristus lebih berharga daripada hidup mereka sendiri. Dari sini kita mengakui dan mengerti bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit.

Saya masih teringat tentang kesaksian seorang imam Polandia. Pada waktu komunis berkuasa,  dia dipaku di pintu Gereja karena imannya akan Yesus Kristus dan dia lebih memilih untuk tidak menyangkal imannya bahwa Yesus hidup. Selain itu, ada banyak orang yang rela disiksa dan dibunuh (misalnya, para martir di Cina, Vietnam, Korea, Jepang, dll). Mengapa? Karena mereka mengakui Kristus yang bangkit. Jadi, kebangkitan Yesus Kristus adalah dasar dari seluruh iman kita. Maka, dalam Credo dikatakan kita percaya akan Yesus Kristus Putra Allah yang lahir dari Perawan Maria yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit pada hari yang ketiga.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting