Print
Hits: 7879

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Karmel adalah suatu ordo hidup bakti yang membaktikan hidup dan karya panggilan-Nya kepada doa, meditasi dan kontemplasi. Dalam Gereja, Ordo Karmel telah mencapai kurang lebih 800 tahun atau kira-kira 8 abad. Umat pun telah mengalami buah-buah rohani melalui pelayanan dan kesaksian Ordo Karmel. Apa arti Karmel dalam abad ini? Bagaimana sepak terjangnya di abad elektronika? Apa yang harus ditingkatkan? Langkah apa yang harus ditempuh? Mari kita simak uraian berikut ini.


1.  Situasi Dunia Dewasa Ini

Karmel dipanggil Allah untuk hidup dalam suatu zaman yang menunjukkan banyak kontradiksi: dari satu pihak kemajuan yang luar biasa dalam bidang teknologi tetapi dari pihak lain justru kita jumpai kekusutan dan kekacauan serta kekaburan makna hidup manusia sendiri.

Manusia telah mencapai penemuan-penemuan yang canggih dalam banyak bidang. Teknologi elektronika yang canggih, penemuan komputer yang revolusioner, penjelajahan ruang angkasa, penerbangan antariksa, penemuan pesawat antariksa ulang-alik, dan lain-lain. Tetapi dari pihak lain kita lihat juga, bagaimana tujuan hidup manusia menjadi kabur. Banyak yang tidak tahu lagi, untuk apa sebenarnya mereka hidup dan apa yang sesungguhnya mampu membahagiakan manusia. Dalam kesombongannya, banyak manusia yang mengira telah menguasai segala sesuatu, membuang Allah, Pencipta alam semesta. Mereka membuang hukum Allah dan menggantikannya dengan hukum mereka sendiri. Seperti dahulu Adam di Taman Firdaus mau menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang jahat, demikian pula banyak manusia dewasa ini mau menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat, mana yang benar dan mana yang tidak benar. Tetapi dalam kesombongannya itu mereka malahan menjadi buta sama sekali, sehingga tanpa disadari, mereka telah dikuasai oleh hawa nafsunya yang tak memungkinkan mereka melihat cahaya kebenaran lagi.

Dalam situasi ini banyak manusia yang amat menderita: kejahatan dalam pelbagai bentuknya semakin meningkat, penindasan, penghisapan. Semuanya itu disebabkan karena kekaburan tujuan hidup tadi. Dengan keras manusia berlomba-lomba mengejar materi serta menumpuk harta kekayaan, tanpa mempedulikan lagi nasib orang lain. Hukum rimba mulai berlaku lagi: yang kuat memangsa yang lemah. Semuanya itu demi harta atau kekayaan yang dikiranya dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia. Namun semakin mereka mengejar semuanya itu, semakin kusut hati dan budi mereka, dan semakin jauh mereka dari tujuan hidupnya yang sejati. Karena mereka tidak sa-dar, bahwa yang dapat membahagiakan manusia tidak terdapat di situ, mereka semakin gencar berlomba-lomba mengejarnya, sambil sikut menyikut satu sama lain, karena sadar atau tidak sadar mengira, bahwa di situlah terdapat kebahagiaan yang mereka cari. 

Tanpa disadari mereka telah diperbudak oleh Si Jahat yang menjadi penguasa dunia ini, bapak segala dusta dan pembunuh sejak semula. Manusia yang ingin lepas dari Allah yang hidup, Yang Mahakuasa, Sang Penyelamat, justru jatuh ke dalam cengkeraman penguasa kegelapan, Si Jahat, Si Pendusta, pembunuh sejak semula. Tak mengherankan, bahwa materialisme dan atheisme, baik ideologis maupun praktis serta sekularisme menguasai kehidupan manusia. Pembunuhan massal yang dilegalisir: abortus dan sebentar lagi euthanasia, merajalela serta meninggalkan trauma-trauma yang mendalam dan mengakibatkan kebutaan rohani yang mengerikan sekali. Kebutaan itu bahkan mencapai tahap yang begitu mengerikan seperti tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga mereka bahkan terang-terangan memuja Iblis atau Satan. Berkembangnya pemujaan Satan yang terjadi dengan terang-terangan, khususnya di negara-negara yang menyebut dirinya maju, seperti Amerika Serikat dan negara-negara “maju” lainnya, dengan segala akibat yang amat menjijikkan dan mengerikan sekali, menunjukkan betapa dalamnya manusia telah terjatuh.

Dalam situasi dunia yang demikian itu, tidaklah mengherankan bila mereka lupa, bahwa manusia diciptakan Allah untuk sesuatu yang baka, sesuatu yang tak terbatas, untuk Allah sendiri. Kebenaran abadi seperti yang diungkapkan Santo Agustinus, tidak mereka sadari: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami, sebelum beristirahat dalam Dikau.”

Apa tugas panggilan kita dalam situasi dunia yang demikian itu? Bagaimana kita mampu menghadapi dunia yang demikian itu serta membawakan Kabar Gembira Yesus Kristus, Kabar Keselamatan dari Allah yang hidup?


2.  Gereja dan Dunia Membutuhkan Insan-insan Allah

Dalam situasi dunia yang demikian itu, sadar atau tidak, mau tidak mau, dunia membutuhkan insan-insan Allah, nabi-nabi Allah yang hidup, lebih daripada segala sesuatu yang lain. Karena kuasa destruktif itu demikian besarnya, dibutuhkan suatu kuasa yang lebih besar lagi untuk dapat menanggulanginya. Seperti dikatakan Santo Paulus, “Perjuangan kita tidak hanya melawan darah dan daging, me-lainkan melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, yaitu roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Hal itu pulalah yang pernah ditekankan oleh Paus Paulus VI dalam salah satu audiensi pada bulan Nopember tahun 1972:

“Salah satu dari kebutuhan terbesar dewasa ini ialah perlindungan terhadap kejahatan yang disebut Iblis . . . Persoalan tentang Iblis dan bagaimana dia bisa mempengaruhi baik individu maupun kelompok-kelompok, bahkan seluruh masyarakat, atau peristiwa-peristiwa, merupakan suatu bab penting dari ajaran Katolik yang dewasa ini kurang mendapat perhatian, walaupun sebenarnya harus dipelajari kembali.” (Deliver Us From Evil, l’Osservatore Roma-no, Nov 23, 1972)

Kuasa-kuasa itu lebih besar dan lebih kuat daripada manusia, karena itu untuk mengha-dapinya manusia membutuhkan tidak kurang dari kuasa Allah sendiri. Kuasa Allah itu secara istimewa disalurkan lewat insan-insan Allah.

Siapakah yang dimaksudkan dengan insan-insan Allah itu? Mereka itu ialah orang-orang Kristen, pria dan wanita, rohaniwan dan awam, yang secara pribadi sungguh-sungguh mengenal Allah yang hidup, yang mengalami kasih-Nya yang mengubah dan memperbarui hidup manusia. Mereka itu adalah orang-orang yang sungguh beriman dan telah mengalami, bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh telah bangkit dari antara orang mati dan kini benar-benar hidup, hadir dan berkarya di tengah-tengah umat-Nya. Mereka itu adalah orang-orang yang hidup dalam Roh dan dibimbing oleh Roh Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang sungguh hidup dari iman dan hidup bagi Allah melulu, karena bagi mereka Allah adalah segalanya. Dengan demikian mereka dapat berkata: “Apa yang telah kami dengar, apa yang telah kami lihat dengan mata kami, apa yang telah kami saksikan dan kami raba dengan tangan kami sendiri, itulah yang kami wartakan” (bdk. 1 Yoh. 1: 1).

Seperti yang dikatakan Paus Paulus VI, dunia dewasa ini lebih senang mendengarkan saksi-saksi daripada pengajar-pengajar. Mereka rasanya sudah bosan dengan segala kata-kata kosong, gagasan-gagasan yang muluk-muluk, tetapi yang tidak mampu mengubah hidup manusia. Oleh karena itu yang akan didengarkan dunia ialah mereka yang sungguh-sungguh dapat menghantarkan orang kepada Allah yang hidup, bukan mereka yang hanya mampu melontarkan gagasan-gagasan yang indah.

Orang-orang yang terluka hatinya tidak membutuhkan kata-kata yang indah-indah, melainkan kuasa cinta ilahi yang dapat membalut dan mengobati luka hatinya itu. Orang-orang yang putus asa tidak membutuhkan perkataan yang muluk-muluk, melainkan sentuhan kasih ilahi yang nyata, yang menghapus keputusasaan itu serta memberikan pengharapan. Orang yang merindukan Allah yang hidup, tidak bisa dipuaskan dengan konsep-konsep yang bagus-bagus, melainkan pengalaman akan kehadiran Allah yang nyata, yang membuktikan kepadanya, bahwa Allah sungguh-sungguh hidup. Orang yang mencari Allah tidak akan puas dengan adanya ide-ide yang bagus-bagus, sekalipun itu ide akan Allah, tetapi mereka ingin dapat menyentuh dan disentuh oleh-Nya. Siapakah yang dapat membawa orang-orang tersebut kepada pengalaman serupa itu? Mereka itulah insan-insan Allah yang telah bertemu sendiri dengan Allah yang hidup, yang menguasai hatinya. Karena mereka telah bertemu sendiri dengan Allah, mereka akan dapat berbicara dengan penuh keyakinan tentang Allah dan membawa orang kepada perjumpaan konkret dengan Allah.

Dunia dewasa ini yang sedang diliputi oleh kegelapan materi-alisme dan atheisme praktis serta sekularisme, yang terluka berat oleh dosa-dosa yang mengerikan, yang sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang dosa dan mana yang baik, yang sedang mengalami kehabisan zat asam rohani yang murni sehingga hampir-hampir tidak bisa bernapas lagi, yang mengalami kehausan hebat akan Allah yang memberi arti bagi hidup mereka, tidak membutuhkan filsuf-filsuf yang pandai-pandai, tidak membutuhkan ahli-ahli Taurat. Karena nyatanya banyak filsuf yang atheistis, ada ahli Kitab Suci yang tidak beriman, ada teolog yang tidak ber-Tuhan dan ada moralis yang tidak bermoral.

Namun dunia dewasa ini sungguh-sungguh membutuhkan kehadiran insan-insan Allah, saksi-saksi Allah yang hidup, yang dapat menghantar mereka kepada Allah yang hidup, yang menjadi harapan mereka satu-satunya. Lebih daripada kebutuhan akan materi, yang memang dibutuhkan, dunia lebih membutuhkan pengalaman kasih ilahi yang menyembuhkan, yang memperbarui, yang menyelamatkan. Baik kaya maupun miskin, mereka semua membutuhkan pengalaman kasih Allah itu. Dan itulah yang dibawakan oleh para insan Allah, syukur-syukur kalau mereka itu juga sekaligus “teolog-teolog sejati”.

Bagaimanakah Gereja dapat menjawab kebutuhan umat manusia yang menjerit seperti itu? Bagaimanakah Gereja mampu menyediakan insan-insan Allah yang dibutuhkan dunia itu? Inilah sungguh-sungguh tantangan untuk Gereja di masa yang akan datang. Insan Allah hanya bisa dilahirkan oleh insan-insan Allah yang lain. Inilah justru yang menjadi tantangan Gereja dewasa ini. Mampukah Gereja melahirkan insan-insan Allah yang dibutuhkan itu?

Karena Gereja sebagai keseluruhan dijiwai Roh Kudus yang hidup dalam dirinya, jelaslah, bahwa Roh Kudus sendiri yang akan membangkitkan insan-insan Allah tersebut di dalam Gereja. Dalam kenyataannya, walaupun pada umumnya Gereja dapat diumpamakan sebagai raksasa yang masih tidur, namun di sana sini Roh Kudus sudah mulai membangkitkan saksi-saksi yang hidup. Ia pula yang mendorong orang untuk mengadakan pembaruan-pembaruan, antara lain lewat kehidupan paroki yang diperbaharui, sehingga ada paroki-paroki yang telah mati menjadi hidup kembali penuh gairah karena kuasa Roh Kudus tersebut. Demikian pula Roh menghidupkan kelompok-kelompok awam yang bersemangat apostolis, membangkitkan serikat-serikat awam di pelbagai negara, memperbarui serikat-serikat religius yang ada, membangkitkan serikat-serikat baru yang sungguh terbuka bagi karya-Nya dan yang sesuai dengan kebutuhan zaman ini. Seperti dikatakan Paus Paulus VI almarhum, saat ini Gereja sedang mengalami suatu musim semi yang baru. Di sana sini bunga-bunga yang indah sudah mulai tampak.

Putri Karmel dan CSE juga merasa dipanggil untuk menjadi bagian dari pembaruan Gereja universal ini, suatu pengharapan baru bagi seluruh Gereja. Mereka merupakan salah satu serikat baru yang dibangkitkan Roh Kudus untuk zaman ini dan untuk menanggapi kebutuhan zaman ini. Mereka bersumber pada spiritualitas Karmel awali dan mengintegrasikannya dengan rahmat pembaharuan yang dibangkitkan Roh dalam Gereja dewasa ini. Dengan demikian mereka dapat menggabungkan kekayaan yang lama dengan kekayaan yang baru. Dalam tubuh-Nya mereka sudah boleh mengalami buah-buah pertama dari pembaruan tersebut.


3.  Suatu Oasis di Tengah Padang Gurun Dunia Dewasa Ini

Dalam dunia yang menyerupai suatu padang gurun yang tandus dan gersang ini, Putri Karmel dan CSE ingin menjadi suatu oasis untuk memberikan tempat istirahat dan penyegaran kepada manusia-manusia yang kelelahan dan kehausan dan yang tidak jarang pula kehilangan arah tujuannya, bahkan seringkali sudah terluka parah.

Banyak manusia dewasa ini yang karena situasi hidupnya mengalami pelbagai macam trauma, luka-luka batin karena penolakan, pengalaman traumatis, pengalaman dosa yang melumpuhkan dan menggelapkan, yang menimbulkan keputus-asaan. Bagi mereka ini Putri Karmel dan CSE mau membawakan pengalaman kasih Allah yang mampu mempertobatkan, menyembuhkan, memperbarui, dan memberikan harapan hidup baru. Dalam kenyataannya lewat karya-karya retretnya, penyegaran rohani, konseling, doa-doa penyembuhan, baik batin maupun fisik, mereka telah membawa banyak orang kembali kepada Tuhan. Itulah sebabnya pertapaan-pertapaan mereka selalu dibanjiri orang, karena mereka tahu, bahwa di sana mereka akan menemukan orang-orang yang percaya dan yakin akan kehadiran, kuasa, dan kasih Allah yang hidup yang justru mereka butuhkan.

Sungguh mengharukan melihat begitu banyak orang yang datang ke pertapaan mereka dalam keadaan seringkali terluka oleh pelbagai macam hal, meninggalkan tempat itu sebagai manusia baru, dengan wajah yang berseri-seri, karena mereka boleh mengalami secara nyata kasih Allah. Betapa seringnya terdengar kesaksian orang-orang yang kembali dari sana dengan berkata: “Saya telah berjumpa dengan Yesus yang hidup, yang mencintai saya.” Dan yang karena pengalaman kasih Allah itu menemukan kembali arti hidup mereka serta memperoleh gairah hidup yang baru, serta kekuatan untuk menanggung segala beban hidup, karena mereka boleh mengalami, bahwa mereka tidak lagi sendirian, melainkan bahwa Allah sungguh menyertai mereka.

Betapa banyaknya orang-orang yang bertobat setelah mengikuti retret-retret yang diselenggarakan dan dipimpin para suster Putri Karmel atau frater-frater CSE (semua anggota CSE disebut dengan istilah frater) dan mengalami perubahan hidup yang mendalam. Hal itu dialami baik oleh orang-orang kaya maupun miskin, orang yang terpelajar maupun orang-orang sederhana. Di sana pula mereka mengalami persaudaraan kristiani yang tidak membedakan kaya dan miskin dan status sosial, sehingga merupakan pemandangan sehari-hari, bahwa orang kaya dan miskin duduk berdampingan menyantap hidangan yang sama, yang biasanya amat sederhana.

Banyak pula pengusaha yang kembali dari retret itu menjadi manusia baru dan yang kemudian juga mempengaruhi cara mereka memandang usahanya. Bila dahulu pedoman mereka hanya keuntungan melulu, setelah mereka sendiri mengalami dan ter-sentuh oleh kasih Allah, mereka meninjau kembali cara pengelolaan perusahaannya. Karena mereka merasa diterima dan dicintai Allah, mereka juga dengan mudah dapat pula menerima dan mencintai sesamanya.

Banyak pula orang-orang yang terluka hatinya disembuhkan oleh pengalaman akan kasih Allah. Sesungguhnya penyembuhan batin itu bukan lain daripada pengalaman akan kasih Allah yang sungguh nyata, yaitu bahwa orang merasa dan mengalami, bahwa dia diterima, dihargai dan dicintai seperti adanya. Melalui penyembuhan batin itu pula banyak orang yang untuk pertama kalinya mengalami, bahwa Allah itu sungguh hidup.

Melihat fakta-fakta itu dapat dimengerti, bahwa orang sering-kali “menyerbu” Pertapaan Kar-mel. Bila ada retret di Pertapaan Karmel Ngadireso, Tumpang, Malang, misalnya, seringkali yang datang jauh lebih banyak daripada fasilitas yang tersedia. Banyak orang datang begitu saja dan seringkali mereka harus tidur di mana saja: di garasi, di ruang makan, di aula, bahkan di kamar cuci dan tidak jarang terpaksa harus tidur di dalam kendaraan, karena memang sungguh-sungguh tidak ada tempat lagi. Mereka menerima semuanya itu dengan rela, asal mereka dapat ikut saja dalam retret tersebut. Mereka itu datang dari tempat-tempat yang jauh, bahkan tidak jarang yang datang pula dari luar Jawa. Kabar tentang hal itu tersebar dari mulut ke mulut, karena memang tidak pernah diadakan propaganda untuk hal itu. Karena membanjirnya orang-orang itu, pihak pertapaan seringkali kewalahan dalam melayani mereka itu. Dengan bertambahnya anggota, bertambah pula yang harus mereka layani, sehingga hampir selalu dirasakan kurangnya tenaga.


 

4.  Kerinduan untuk Perjumpaan Lebih Mendalam dengan Allah

Setelah orang-orang itu menemukan Allah yang hidup lewat retret-retret, doa-doa penyembuhan dan lain sebagainya, biasanya mereka menyadari adanya suatu kehausan untuk lebih mengenal dan mengalami Allah yang telah mengubah hidup mereka itu. Biasanya mereka mulai mendalami firman Allah yang sebelumnya sama sekali tidak berbicara bagi mereka dan mereka juga ingin mendalami lorong-lorong doa lebih lanjut. Maka Putri Karmel dan CSE menyediakan diri untuk membimbing mereka ke dalam pengalaman doa batin yang lebih dalam. Untuk itu mereka mengadakan semacam retret, di mana teori dan praktek tentang doa diajarkan dan diperdalam. Sangat menarik pengalaman ini: bahwa mereka yang telah menerima pencurahan Roh Kudus da-pat masuk ke dalam doa, jauh lebih mudah daripada yang belum.

Pada permulaannya, retret doa itu dibuka untuk setiap orang yang mau. Namun, dari beberapa pengalaman menjadi nyata, bahwa orang-orang yang belum sungguh-sungguh mengalami pertobatan, sukar sekali masuk ke dalam doa. Maka akhirnya diambil kebijaksanaan, bahwa mereka yang mau mengikuti Retret Doa itu, harus lebih dahulu ikut Retret Awal di mana orang dipersiapkan untuk menerima pencurahan Roh Kudus. Pencurahan Roh Kudus ini bagi kebanyakan merupakan pengalaman Allah yang pertama, suatu pengalaman yang sungguh nyata bagi mereka, yang sungguh-sungguh mereka “alami” secara konkrit. Karena adanya pengalaman Allah tersebut, maka terjadilah suatu hubungan pribadi yang baru dengan Allah. Dan karena itu kemudian mereka dengan mudah dapat masuk ke dalam doa.

Jadi akhirnya dari pengalaman para suster dan frater tahu, bahwa pencurahan Roh Kudus merupakan pintu untuk membuka dunia Allah yang hidup, sedangkan pendalaman doa merupakan sarana konkrit untuk membawa orang kepada perjumpaan yang lebih mendalam dengan Allah. Dalam pendalaman doa ini mereka banyak menimba dari kekayaan Gereja yang ada, lebih-lebih seperti yang mereka jumpai dalam tradisi Karmel, khususnya dalam karya-karya Yohanes Salib dan Teresa Avila. Dalam Retret Doa itulah mereka secara khusus mengajarkan cara-cara doa batin dan membimbing orang-orang itu kepada pengalaman doa yang nyata.

Supaya para suster dan frater sungguh-sungguh mampu membimbing orang lain kepada pengalaman doa tersebut, mereka harus lebih dahulu menghayati doa-doa itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karena itu dan untuk itulah mereka memilih mendirikan pertapaannya di tempat-tempat sunyi, serta meluangkan banyak waktu untuk doa dalam acara hariannya. Untuk menunjang kehidupan doa itu mereka juga masih tetap melakukan dan menghayati puasa dan pantang serta bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya. Mereka juga sadar, bahwa supaya hidup doa dapat sungguh berkembang, mereka harus menciptakan suatu iklim yang memadai, tanah yang cocok. Sebab kalau tidak, cita-cita yang luhur sekali pun tidak akan ada gunanya, karena akan tetap tinggal cita-cita belaka. Karena tidak pernah dialami, lama-kelamaan tidak dimengerti lagi, sehingga akhirnya bahkan ditinggalkan sebagai cita-cita dan orang menggantinya dengan cita-cita lain yang lebih mudah dimengerti secara manusiawi. Itu ibarat pohon apel yang tumbuh subur di suatu daerah pegunungan dengan iklim yang cocok dan yang kemudian dipindahkan ke dataran rendah yang panas. Tentu saja apel itu tidak bisa berbuah dan kemudian orang yang mewarisinya lama-kelamaan tidak mengerti lagi, karena belum pemah menyaksikan buahnya yang lezat. Akhirnya apel dibuang dan diganti dengan pohon yang kurang berharga.

Inilah sesungguhnya rahmat indah yang ditawarkan Allah kepada Karmel. Suatu rahmat yang indah dan luhur sekali, namun sekaligus juga menuntut suatu jawaban iman yang total dan radikal. Dengan demikian Karmel akan mampu menanggapi kebutuhan manusia zaman elektronika ini, yang sudah bosan dengan kata-kata kosong, namun yang sesungguhnya merindukan perjumpaan dengan Allah yang hidup. Bila Karmel terbuka dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada Gereja, ini akan merupakan suatu kesempatan baru bagi Karmel yang memiliki masa lampau yang demikian kayanya. Namun betapa pun kayanya masa lampau itu, tidak cukup hanya mengenangkannya sambil bernostalgia. Dibutuhkan keterbukaan yang kreatif, dibutuhkan keberanian yang sejati untuk melangkah dalam jalan-jalan yang baru, yang mungkin belum dikenal, sesuai dengan dorongan Roh Allah sendiri.

Putri Karmel dan CSE merasakan, bahwa itulah panggilan mereka dan sekaligus juga suatu tantangan yang besar untuk menanggapinya.