User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

4.  Kerinduan untuk Perjumpaan Lebih Mendalam dengan Allah

Setelah orang-orang itu menemukan Allah yang hidup lewat retret-retret, doa-doa penyembuhan dan lain sebagainya, biasanya mereka menyadari adanya suatu kehausan untuk lebih mengenal dan mengalami Allah yang telah mengubah hidup mereka itu. Biasanya mereka mulai mendalami firman Allah yang sebelumnya sama sekali tidak berbicara bagi mereka dan mereka juga ingin mendalami lorong-lorong doa lebih lanjut. Maka Putri Karmel dan CSE menyediakan diri untuk membimbing mereka ke dalam pengalaman doa batin yang lebih dalam. Untuk itu mereka mengadakan semacam retret, di mana teori dan praktek tentang doa diajarkan dan diperdalam. Sangat menarik pengalaman ini: bahwa mereka yang telah menerima pencurahan Roh Kudus da-pat masuk ke dalam doa, jauh lebih mudah daripada yang belum.

Pada permulaannya, retret doa itu dibuka untuk setiap orang yang mau. Namun, dari beberapa pengalaman menjadi nyata, bahwa orang-orang yang belum sungguh-sungguh mengalami pertobatan, sukar sekali masuk ke dalam doa. Maka akhirnya diambil kebijaksanaan, bahwa mereka yang mau mengikuti Retret Doa itu, harus lebih dahulu ikut Retret Awal di mana orang dipersiapkan untuk menerima pencurahan Roh Kudus. Pencurahan Roh Kudus ini bagi kebanyakan merupakan pengalaman Allah yang pertama, suatu pengalaman yang sungguh nyata bagi mereka, yang sungguh-sungguh mereka “alami” secara konkrit. Karena adanya pengalaman Allah tersebut, maka terjadilah suatu hubungan pribadi yang baru dengan Allah. Dan karena itu kemudian mereka dengan mudah dapat masuk ke dalam doa.

Jadi akhirnya dari pengalaman para suster dan frater tahu, bahwa pencurahan Roh Kudus merupakan pintu untuk membuka dunia Allah yang hidup, sedangkan pendalaman doa merupakan sarana konkrit untuk membawa orang kepada perjumpaan yang lebih mendalam dengan Allah. Dalam pendalaman doa ini mereka banyak menimba dari kekayaan Gereja yang ada, lebih-lebih seperti yang mereka jumpai dalam tradisi Karmel, khususnya dalam karya-karya Yohanes Salib dan Teresa Avila. Dalam Retret Doa itulah mereka secara khusus mengajarkan cara-cara doa batin dan membimbing orang-orang itu kepada pengalaman doa yang nyata.

Supaya para suster dan frater sungguh-sungguh mampu membimbing orang lain kepada pengalaman doa tersebut, mereka harus lebih dahulu menghayati doa-doa itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karena itu dan untuk itulah mereka memilih mendirikan pertapaannya di tempat-tempat sunyi, serta meluangkan banyak waktu untuk doa dalam acara hariannya. Untuk menunjang kehidupan doa itu mereka juga masih tetap melakukan dan menghayati puasa dan pantang serta bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya. Mereka juga sadar, bahwa supaya hidup doa dapat sungguh berkembang, mereka harus menciptakan suatu iklim yang memadai, tanah yang cocok. Sebab kalau tidak, cita-cita yang luhur sekali pun tidak akan ada gunanya, karena akan tetap tinggal cita-cita belaka. Karena tidak pernah dialami, lama-kelamaan tidak dimengerti lagi, sehingga akhirnya bahkan ditinggalkan sebagai cita-cita dan orang menggantinya dengan cita-cita lain yang lebih mudah dimengerti secara manusiawi. Itu ibarat pohon apel yang tumbuh subur di suatu daerah pegunungan dengan iklim yang cocok dan yang kemudian dipindahkan ke dataran rendah yang panas. Tentu saja apel itu tidak bisa berbuah dan kemudian orang yang mewarisinya lama-kelamaan tidak mengerti lagi, karena belum pemah menyaksikan buahnya yang lezat. Akhirnya apel dibuang dan diganti dengan pohon yang kurang berharga.

Inilah sesungguhnya rahmat indah yang ditawarkan Allah kepada Karmel. Suatu rahmat yang indah dan luhur sekali, namun sekaligus juga menuntut suatu jawaban iman yang total dan radikal. Dengan demikian Karmel akan mampu menanggapi kebutuhan manusia zaman elektronika ini, yang sudah bosan dengan kata-kata kosong, namun yang sesungguhnya merindukan perjumpaan dengan Allah yang hidup. Bila Karmel terbuka dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada Gereja, ini akan merupakan suatu kesempatan baru bagi Karmel yang memiliki masa lampau yang demikian kayanya. Namun betapa pun kayanya masa lampau itu, tidak cukup hanya mengenangkannya sambil bernostalgia. Dibutuhkan keterbukaan yang kreatif, dibutuhkan keberanian yang sejati untuk melangkah dalam jalan-jalan yang baru, yang mungkin belum dikenal, sesuai dengan dorongan Roh Allah sendiri.

Putri Karmel dan CSE merasakan, bahwa itulah panggilan mereka dan sekaligus juga suatu tantangan yang besar untuk menanggapinya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting