Karmel dalam Abad Elektronika

User Rating:  / 8
PoorBest 

Karmel adalah suatu ordo hidup bakti yang membaktikan hidup dan karya panggilan-Nya kepada doa, meditasi dan kontemplasi. Dalam Gereja, Ordo Karmel telah mencapai kurang lebih 800 tahun atau kira-kira 8 abad. Umat pun telah mengalami buah-buah rohani melalui pelayanan dan kesaksian Ordo Karmel. Apa arti Karmel dalam abad ini? Bagaimana sepak terjangnya di abad elektronika? Apa yang harus ditingkatkan? Langkah apa yang harus ditempuh? Mari kita simak uraian berikut ini.


1.  Situasi Dunia Dewasa Ini

Karmel dipanggil Allah untuk hidup dalam suatu zaman yang menunjukkan banyak kontradiksi: dari satu pihak kemajuan yang luar biasa dalam bidang teknologi tetapi dari pihak lain justru kita jumpai kekusutan dan kekacauan serta kekaburan makna hidup manusia sendiri.

Manusia telah mencapai penemuan-penemuan yang canggih dalam banyak bidang. Teknologi elektronika yang canggih, penemuan komputer yang revolusioner, penjelajahan ruang angkasa, penerbangan antariksa, penemuan pesawat antariksa ulang-alik, dan lain-lain. Tetapi dari pihak lain kita lihat juga, bagaimana tujuan hidup manusia menjadi kabur. Banyak yang tidak tahu lagi, untuk apa sebenarnya mereka hidup dan apa yang sesungguhnya mampu membahagiakan manusia. Dalam kesombongannya, banyak manusia yang mengira telah menguasai segala sesuatu, membuang Allah, Pencipta alam semesta. Mereka membuang hukum Allah dan menggantikannya dengan hukum mereka sendiri. Seperti dahulu Adam di Taman Firdaus mau menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang jahat, demikian pula banyak manusia dewasa ini mau menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat, mana yang benar dan mana yang tidak benar. Tetapi dalam kesombongannya itu mereka malahan menjadi buta sama sekali, sehingga tanpa disadari, mereka telah dikuasai oleh hawa nafsunya yang tak memungkinkan mereka melihat cahaya kebenaran lagi.

Dalam situasi ini banyak manusia yang amat menderita: kejahatan dalam pelbagai bentuknya semakin meningkat, penindasan, penghisapan. Semuanya itu disebabkan karena kekaburan tujuan hidup tadi. Dengan keras manusia berlomba-lomba mengejar materi serta menumpuk harta kekayaan, tanpa mempedulikan lagi nasib orang lain. Hukum rimba mulai berlaku lagi: yang kuat memangsa yang lemah. Semuanya itu demi harta atau kekayaan yang dikiranya dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia. Namun semakin mereka mengejar semuanya itu, semakin kusut hati dan budi mereka, dan semakin jauh mereka dari tujuan hidupnya yang sejati. Karena mereka tidak sa-dar, bahwa yang dapat membahagiakan manusia tidak terdapat di situ, mereka semakin gencar berlomba-lomba mengejarnya, sambil sikut menyikut satu sama lain, karena sadar atau tidak sadar mengira, bahwa di situlah terdapat kebahagiaan yang mereka cari. 

Tanpa disadari mereka telah diperbudak oleh Si Jahat yang menjadi penguasa dunia ini, bapak segala dusta dan pembunuh sejak semula. Manusia yang ingin lepas dari Allah yang hidup, Yang Mahakuasa, Sang Penyelamat, justru jatuh ke dalam cengkeraman penguasa kegelapan, Si Jahat, Si Pendusta, pembunuh sejak semula. Tak mengherankan, bahwa materialisme dan atheisme, baik ideologis maupun praktis serta sekularisme menguasai kehidupan manusia. Pembunuhan massal yang dilegalisir: abortus dan sebentar lagi euthanasia, merajalela serta meninggalkan trauma-trauma yang mendalam dan mengakibatkan kebutaan rohani yang mengerikan sekali. Kebutaan itu bahkan mencapai tahap yang begitu mengerikan seperti tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga mereka bahkan terang-terangan memuja Iblis atau Satan. Berkembangnya pemujaan Satan yang terjadi dengan terang-terangan, khususnya di negara-negara yang menyebut dirinya maju, seperti Amerika Serikat dan negara-negara “maju” lainnya, dengan segala akibat yang amat menjijikkan dan mengerikan sekali, menunjukkan betapa dalamnya manusia telah terjatuh.

Dalam situasi dunia yang demikian itu, tidaklah mengherankan bila mereka lupa, bahwa manusia diciptakan Allah untuk sesuatu yang baka, sesuatu yang tak terbatas, untuk Allah sendiri. Kebenaran abadi seperti yang diungkapkan Santo Agustinus, tidak mereka sadari: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami, sebelum beristirahat dalam Dikau.”

Apa tugas panggilan kita dalam situasi dunia yang demikian itu? Bagaimana kita mampu menghadapi dunia yang demikian itu serta membawakan Kabar Gembira Yesus Kristus, Kabar Keselamatan dari Allah yang hidup?

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting