User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Pertama, Dia datang membawa kasih Allah dan kasih inilah yang menghasilkan damai sejahtera, damai sejati. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada diatas bahunya, dan namanya disebutkan orang: penasehat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai.” Dia adalah penasehat ajaib yang membawa kita kepada jalan yang benar, jalan yang membawa kehidupan. Dia membawa damai kepada kita, bukan damai seperti yang dikehendaki dunia ini. Seperti orang Roma dalam pepatahnya “Sivis Pacem Parabelum” yang artinya: jikalau kamu ingin damai, siapkan perang. Damai hanya dapat diimbangi dengan siap untuk berperang. Hal ini sebetulnya hanya merupakan omong kosong belaka.

Kita dapat melihat bahwa pada saat Yesus lahir  dalam kerajaan Roma, untuk beberapa waktu lamanya ada suatu damai meliputi seluruh kerajaan tetapi itu hanya sementara saja. Damai yang dibawa Yesus disini adalah suatu damai yang lain, suatu damai yang keluar dari hati manusia dari kedalaman hati manusia. Seperti nyanyian para malaikat “Kemuliaan kepada Allah ditempat yang tinggi dan damai bagi manusia yang berkenan kepada-Nya atau berkehendak baik.” Damai inilah yang dibawa Yesus kepada kita. Dia sendiri yang adalah Allah mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kejahatan di dunia yang menimbulkan ketakutan, kegelisahan tidak dapat dikalahkan oleh kekerasan atau kejahatan lain tetapi hanya dapat dikalahkan oleh suatu kekuatan yang lebih besar bahkan paling besar yakni kasih. Yesus yang kita sebut Raja damai, Allah Perkasa yang Maha Kuasa mengalahkan kejahatan bukan dengan kekerasan, kekuatan senjata, melainkan dengan kuasa yang paling dahsyat tetapi sekaligus paling lembut, menyejukan yakni kuasa cinta Allah. Ini adalah sebuah kemenangan besar karena Dia mengalahkan semua itu dengan kasih. Dengan kelahiran Yesus di dunia sejarah umat manusia berubah.

Kedua, Penyelenggaraan yang dialami oleh keluarga kudus (Yesus, Maria dan Yosef) menjadi contoh penyelenggaraan Allah untuk kita. Dari peristiwa yang dialami oleh keluarga kudus, kita dapat mengetahui bahwa tidak ada suatu peristiwapun terjadi yang tidak  diketahui oleh Allah. Tidak ada suatu perbuatan baik atau hal yang baik terjadi tanpa dikehendaki oleh Allah dan tidak ada suatu kejahatan terjadi yang tidak diketahui oleh Allah. Allah kadang-kadang membiarkan hal-hal yang dirasakan negatif atau jahat terjadi demi suatu tujuan yang lebih tinggi, lebih besar yakni kebaikan umat manusia.

Sebelum Yesus lahir, para nabi telah menubuatkan bahwa Raja damai atau Mesias harus lahir di Betlehem. Bagaimana Allah mengaturnya?  Jikalau kita pikirkan dengan teliti bahwa Yesus harus lahir di Betlehem dan Ia harus mencacah jiwa di Betlehem karena Ia keturunan Daud. Allah memberikan inspirasi kepada kaisar Augustus untuk mengadakan cacah jiwa tepat pada saat ketika Maria sudah hamil tua. Sehingga Maria “terpaksa” dengan alasan cacah jiwa kembali ketempat asalnya, walaupun ini merupakan penyelenggaraan Ilahi. Maria dan Yosef  pergi dari Nasareth ke Betlehem tepat pada saat Maria harus melahirkan. Penyelenggaraan Allah mengatur sedemikian rupa, sehingga ketika Maria tiba di Betlehem maka saat itu ia melahirkan tidak lebih dahulu dan tidak kemudian. Seandainya satu bulan lebih lambat maka Maria sudah melahirkan di Nazareth ; jika terlalu cepat sudah pulang lagi ke Yerusalem. Tetapi Tuhan mengatur tepat pada waktunya. Pada saat itu,  seolah-olah kebetulan tetapi bagi Allah tidak ada yang kebetulan. Allah mengatur sedemikian rupa sehingga ketika Maria tiba di Betlehem tiba waktunya bagi dia untuk melahirkan dan nubuat para nabi digenapi karena yang memberi inspirasi para nabi untuk bernubuat adalah Tuhan sendiri.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting