User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Kerap kali kita memandang rendah orang yang menjadi pembantu atau pelayan. Sebisanya orang itu menjadi tuan atau pemilik modal. Bagi mereka sikap tersebut amat merendahkan. Betulkah anggapan itu? Jika salah mengapa orang tak mau jadi pelayan? Salah siapa ini? Apa yang harus kita buat? Kita harus belajar dari Yesus untuk melayani.


Artikel ini disadur dari ceramah yang diberikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma CSE. pada Konvensi Nasional Karismatik VII di Malang, tahun 1996

Pendahuluan

Sebagai seorang murid Kristus, kita dipanggil untuk melakukan karya Allah sendiri. Untuk itu Kristus telah membekali kita dengan kuasa-Nya sendiri  yang telah diterima-Nya dari Bapa (bdk. Yoh 14:12). Pekerjaan yang harus kita lakukan adalah pekerjaan Allah sendiri, yang dari hakekatnya melampaui segala kekuatan kita. Oleh karena itu kita memerlukan kuasa Allah sendiri, sebab hanya dengan demikian kita akan mampu melakukan pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Tetapi kuasa Allah itu, yang dari dirinya sendiri adalah baik, mudah diselewengkan bila orang itu tidak waspada. Orang mudah tergoda untuk menjadi sombong, berbangga-bangga secara sia-sia. Dan dari situ jatuh ke dalam pelbagai macam godaan. Orang yang melayani Tuhan menjadi target serangan si iblis yang selalu ingin menggagalkan karya Allah. Karena itulah Paulus menghimbau kita agar mengenakan seluruh persenjataan Allah (Ef 6:10). Sebab ada kemungkinan, bahwa setelah kita mewartakan Injil dan menjadi alat keselamatan bagi orang lain, kita sendiri dapat terbuang (bdk. Mat 7:21-23). Tidak jarang kita dengar, bahwa seseorang yang mulai dengan baik, kemudian berakhir secara menyedihkan, karena selama perjalanan hidupnya, dia tidak membangun hidup pribadinya dengan baik seturut rencana dan kehendak Allah. Itulah sebabnya Santo Paulus berkata: "Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Kor 9:27). Karena itu dalam kesempatan ini saya ingin mengajak Anda sekalian, para pelayan Tuhan, untuk memperhatikan hal-hal tersebut dan sungguh-sungguh membangun hidup pribadi Anda atas dasar  yang kokoh dan kuat.

 1.  Menjadi Yesus lain

Sebagai murid-murid Kristus kita dipanggil untuk mengikuti jejak Guru kita dan ikut serta menjadi pelayan, seperti Dia telah datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya untuk kita. Dialah teladan dan model yang harus kita ikuti. Karena itu pula Santo Paulus berkata: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang… telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib" (Flp 2:5-8).

Sebagai murid Yesus kita harus merasa seperti Yesus, berpikir seperti Yesus, mencintai dan melayani seperti Yesus. Menjadi seperti Yesus, memiliki semangat Yesus, itulah program kita. Khususnya kita harus meneladan dan menghayati kerendahan hati-Nya, yang walaupun Allah telah mau merendahkan diri-Nya. Karena itu kita harus mengosongkan diri dari egoisme kita, supaya Yesus dapat hidup dalam diri kita. Demikian kita akan dapat berkata bersama Paulus: "Aku hidup, tetapi sudah bukan aku, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku." Dengan demikian kita tidak akan memikirkan kepentingan diri sendiri saja, melainkan memiliki semangat Kristus yang telah berkurban bagi kita. Kitapun akan dapat mengerti nilai kurban, penyangkalan diri serta salib pada umumnya, yang bila dilihat dalam iman, justru akan semakin mempersatukan kita dengan Kristus sendiri.


2.  Hidup dalam Kemesraan Kristus

Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, untuk memberitakan Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit kembali dan yang sekarang hidup ditengah-tengah kita. Sebelum kita dapat mewartakan Dia, Yesus harus lebih dulu hidup dalam pikiran, hati, dan kerinduan kita. Dialah yang harus menjiwai seluruh hati dan hidup kita. Dialah juga yang harus memenuhi pikiran kita. Supaya kita dapat benar-benar memberi kesaksian tentang Dia, kita harus lebih dahulu mengenal Dia, mengalami kehadiran-Nya yang menyelamatkan. Pengenalan akan Yesus Kristus inilah yang sesungguhnya hakiki bagi kita. Persekutuan dengan Dia itulah yang sesungguhnya menentukan nilai kita di hadapan Allah, tetapi sekaligus juga kesuburan serta efektivitas pelayanan kita.

Dalam pembaruan karismatik orang sering terbuai oleh kuasa, karena memang pembaruan itu membawakan kuasa Allah bagi kita. Memang kuasa itu dapat menjadi suatu godaan dan jerat yang amat membahayakan, bila orang tidak dapat menempatkannya pada tempat yang semestinya. Khususnya bila orang tidak tahu dengan jelas membedakan mana yang pokok dan mana yang hanya tambahan saja. Karena itu dengan sedih hati harus sering kita konstatir, bahwa banyak orang yang membanggakan karunia-karunianya, atau kuasanya yang diperoleh dari Tuhan. Bila orang mulai menjadi 'laku', segera dia menjadi sombong dan menganggap dirinya sudah begitu hebat. Dari kesombongan itu dia mulai jatuh ke dalam godaan dan dosa-dosa lain, seperti: kebanggaan sia-sia, pamer, mencari nama, keserakahan, bahkan tidak jarang juga jatuh dalam perzinahan. Mengapa? Karena orang yang sombong menutup diri terhadap rahmat Allah yang harus dimintanya dengan rendah hati. Sebaliknya ia membuka diri terhadap serangan si iblis.

Karena itu kita harus sung-guh-sungguh menyadari, bahwa kuasa yang dibawakan olah pelbagai macam karunia Roh Kudus bukanlah tujuan, melainkan sarana pelayanan. Nilai kita dihadapan Allah tidak ditentukan oleh banyaknya kuasa yang kita miliki, melainkan oleh kadar iman, harapan, dan kasih yang kita miliki. Oleh sebab itu pula yang terpenting bukanlah karunia itu sendiri, melainkan pengenalan mesra akan Yesus Kristus yang melampaui segala pengertian itu, yang pada hakekatnya adalah hidup abadi itu sendiri: "Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka itu mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (bdk. Yoh 17:3). Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus, setelah ke 70 murid yang diutus-Nya untuk mewartakan Injil dan diberi kuasa atas setan-setan kembali dari perjalanan-nya serta melaporkan dengan antusias bahwa setan-setan tunduk pada mereka dalam nama-Nya, mengingatkan mereka akan yang pokok. Yesus tidak meremehkan kuasa dan karunia-karunia Roh, tetapi meletakkannya pada tempatnya yang serta merelativirnya.

Semua itu hanya sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah persatuan dengan Allah, hidup kekal yang sudah mulai sekarang ini juga: "Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ter-daftar di sorga" (Luk 10:18.20).

Kita dipanggil bukan untuk mencari kuasa, melainkan mencari Yesus sendiri dan dalam Dia mencari Bapa. Oleh sebab itu pula, jelaslah bahwa kita harus selalu bersatu dengan Yesus. Itulah yang menjadi tujuannya dan sebagai bonusnya kita akan menerima segala kuasa yang ada. "Barangsiapa percaya kepada-Ku, dia juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan lebih besar daripada itu" (Yoh 14:12). Percaya disini berarti berpaut pada Yesus dalam kasih. Maka itu yang dikatakan ialah: "Siapa yang percaya kepada-Ku" dan bukan kepada ajaran-Nya saja. Keterpautan kita kepada pribadi Yesus akan memungkinkan Dia mengalirkan hidup dan juga kuasa-Nya kepada kita. "Kalau kamu tinggal dalam Aku dan firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, maka kamu akan memperolehnya" (Yoh 15:7). Hanya bila kita tetap tinggal dalam Yesus, kita akan menghasilkan banyak buah. Sebaliknya lepas dari Yesus kita akan cepat menjadi kering dan mati. "Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5).

Kadang-kadang terjadi, bahwa seseorang yang pernah memperoleh karunia Allah yang melimpah kemudian menjadi tidak setia, tidak segera kehilangan kuasanya itu, melainkan masih tetap memilikinya sampai beberapa saat lamanya demi kepentingan orang lain, namun dia sendiri tidak akan menerima manfaatnya sama sekali bila ia tidak bertobat dan kembali kepada Allah. Karena itu baiklah kita selalu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gemetar, seperti yang dikatakan Santo Paulus dalam Flp 2:12.


3.  Menjadi Rendah Hati Seperti Yesus

Kerendahan hati menjadi syarat mutlak bagi seorang pelayan Tuhan sebab kerendahan hati akan menjaga kita dari kejatuhan. Kecuali itu “Allah menentang orang sombong, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:5). Karena itu orang yang sombong tidak mungkin berkenan kepada Allah, sebaliknya orang yang rendah hati akan memperoleh segalanya.

Yesus sendiri, walaupun mahakuasa, telah merendahkan diri-Nya sebagai manusia lemah. Walaupun banyak sekali mukjizat yang dilakukannya, ia tetap rendah hati dan tidak pernah membanggakan diri atas semuanya itu. Dalam segala hal ia memuliakan Bapa karena kerendahan hati-Nya. Ia tidak pernah mencari kemuliaan bagi diri-Nya sendiri, melainkan kemuliaan bagi Bapa saja. Mengapa Yesus tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri? Pertama-tama karena Ia sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan itulah segalanya bagi Dia, dan itulah segalanya bagi Dia, kemudian karena Ia rendah hati. Ia menyadari dan menerima sepenuhnya ketergantungan-Nya yang mutlak dengan Bapa. Karena ia sadar sepenuhnya, bahwa Ia berharga di mata Bapa, dan dikasihi Bapa, Ia tidak  membutuhkan afirmasi dari pihak lain. Kasih dari Bapa sudah lebih dari cukup bagi-Nya. Sesungguhnya memang itulah satu-satunya yang berarti, yang lainnya tanpa itu tidak ada artinya sama sekali. Karena Yesus menyadari dan menerima ketergantungannya yang mutlak dari Bapa, ia disebut rendah hati.

Kerendahan hati dalam bahasa latin disebut humalitas, dari kata ‘humus’ yang artinya tanah. Karena itu orang yang rendah hati menyadari dan menerima, bahwa sesungguhnya ia hanyalah debu dan kembali kepada debu. Kecuali itu kerendahan hati pada manusia juga mengandung suatu aspek lain di samping menyadari kepapaannya sebagai orang berdosa yang tidak berdaya menghadapi dosa tanpa rahmat Allah sendiri. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, ia juga mengalami perjuangan batin yang dashyat, yaitu perjuangan antara dosa dan rahmat, antara tarikan daging dan Roh (bdk. Rm. 7:14-23).

Seorang yang rendah hati tidak hanya menyadari dan menerima ketergantungannya yang mutlak dari Allah, melainkan juga kepapaannya yang mendalam, ketidakberdayaannya menghadapi kuasa dan dosa. Dari dirinya sendiri ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya rahmat Allah yang membuatnya tetap tegak, hal itu disadarinya secara mendalam. Karena itu juga, ia tidak akan berbangga-bangga karena ia sadar bahwa yang baik yang ada padanya, semuanya pemberian Allah semata-mata bukan karena jasa-jasanya, melainkan karena kerahiman Allah semata-mata. Bila pekerjaan yang dilakukan Allah melalui dia, orang memuji dan memuliakan dia, dia tidak akan terbuai karena sesungguhnya ia sadar bahwa dia hanyalah keledai yang ditunggangi Yesus. Orang tidak menghormati keledainya, melainkan Yesus yang menungganginya.

Bagaimana orang dapat menjadi rendah hati? Orang bisa menjadi rendah hati sampai pada derajat tertentu dengan merenungkan ketergantungannya dari Allah, ketidakberdayaannya, dosa-dosanya sendiri. Namun kerendahan hati yang sejati diberikan oleh Allah sebagai buah pengenalan Allah yang sejati. Semakin orang mengenal Allah, semakin rendah hatilah dia, karena dengan dinar rahmat-Nya Allah menyatakan keadaannya yang sesungguhnya. Di samping itu, pengenalan yang sejati akan Allah menjadikan segala nilai di dunia ini pudar sehingga dia tidak akan mencarinya lagi; dia tidak akan mencari kemuliaan, nama, pujian, kedudukan, tidak mempertahankan gengsinya karena dalam terang pengenalan Allah yang sejati semuanya itu hanya kosong belaka dan tampak sebagai sampah. Karenanya dia tidak lagi terikat oleh hal-hal itu. Itulah sebabnya pelayanannya akan menjadi semakin murni karena tanpa pamrih, dan sebaliknya, karena tanpa pamrih, pelayannya akan menjadi semakin efektif dan semakin menarik pula. Segala sesuatu yang yang dilakukan dengan kerendahan hati mempunyai daya tarik sendiri. Kerendahan hati boleh diumpamakan dengan rempah-rempah yang membuat semua masakan menjadi sedap.


4.  Memikul Salib Bersama Dengan Kristus

Sebelum meninggalkan para murid-Nya Yesus memberikan nasehat-Nya yang terakhir dimana a.l. dikatakan bahwa seorang hamba tidak lebih besar daripada tuannya. Bila tuannya dianiaya, maka hamba itupun akan dianiaya pula. Bila orang menerima Kristus, maka Ia juga akan menerima murid-Nya (bdk. Yoh 15:20). Karena itu bila kita sungguh-sungguh mau mengikuti Kristus, kita pun harus siap mengikuti-Nya sampai pada salib, kita harus siap menanggung nasib Kristus. Musah sekali mengikuti dan bersama Dia sewaktu di atas gunung Tabor, sewaktu Ia mempergandakan roti, sewaktu ia mengadakan tanda-tanda mukjizat. Namun kita juga harus siap menanggung segala cerca dan penghinaan, bahkan aniaya demi nama-Nya. Dengan demikian kita menjadi murid-Nya yang sejati. Karena kita bukan milik dunia, maka dunia akan membenci kita.

Memang “seorang yang mau hidup beribadah dalam Kristus Yesus, akan menderita aniaya” (2 Tim.3:12). Dalam Kis 14:22 jelas bahwa hal ini merupakan kenyataan yang sejak semula dialami oleh orang yang sungguh-sungguh mau beribadah kepada Allah. Hal ini sudah berlaku sejak dalam Perjanjian Lama, seperti kita lihat nasib para nabi. Demikian pula dalam Perjanjian Baru dalam hal yang sama tampak pula dengan jelas. Sejarah gereja pun penuh dengan contoh-contoh yang konkrit akan hal itu. Mereka yang mau dengan sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas akan senantiasa mengalami hambatan. Si iblis yang adalah musuh kita nomor satu, yang kehendaknya adalah kebinasaan kita, akan berusaha sekuat tenaga menggagalkan karya Allah dengan menggoda dan menggagalkan orang-orang yang dipakai Tuhan. Bila ia tidak bisa menggodanya dan membawanya jatuh ke dalam dosa, dia akan berusaha menentang dan memusuhinya dengan tangan-tangan orang lain yang terbuka dengan bisikan iblisnya baik dari kalangan biasa, juga dari umat beriman biasa sampai kepada para pemimpin, bahkan para pemimpin karismatik sendiri maupun dari kalangan hierarki, seringkali dengan disertai rasa dengki dan iri hati. Tak jarang terjadi bahwa perlawanan yang paling hebat justru datangnya dari orang-orang yang menurut jabatannya seharusnya melindungi karya Allah.

Perlawanan dan penganiayaan semacam itu dialami oleh setiap pembaruan yang otentik. Dalam abad ke-13 kita jumpai pembaruan besar yang ditimbulkan oleh para fransiskan dan dominikan dalam gereja. Mereka mendapat tanggapan yang antusias dari umat kerana mereka sungguh-sungguh membawakan Injil secara murni, tanpa pamrih, dan umat yang harus akan makanan rohani mengetahuinya. Namun keberhasilan mereka pada umat justru menimbulkan reaksi negatif yang hebat dari kalangan hirarki sendiri, para imam dan uskup-uskup tertentu. Sejarah membuktikan bahwa motivasi utama dari perlawanan itu adalah iri hati dan kepentingan sendiri. Mereka tidak mau bertobat dan menyelidiki dengan jujur mengapa para fransiskan dan dominikan waktu itu berhasil sekali, sedangkan mereka tidak. Kalau bisa, mereka ingin membinasakan pembaruan itu, namun Tuhan yang menimbulkan pembaruan itu lebih kuat dari semuanya dan mengilhami Paus untuk memberikan dukungan pada kelompok pembaruan tersebut. Karena kesetiaan mereka pada Tuhan dan gereja walaupun menderita aniaya, Tuhan memberkati kesetiaan mereka dan memberikan kesuburan pada hidup mereka secara melimpah. Akhirnya karena keteguhan dan kesetiaan mereka, gereja perlahan-lahan mengalami pembaruan.

Kemudian pada abad ke-17 kita jumpai reformasi Santa Teresia dari Avila yang mempunyai dampak besar sekali untuk gereja, bukan hanya untuk Ordo Karmel saja. Juga Teresia dari Avila bersama Yohanes dari Salib harus menanggung banyak aniaya dan kesengsaraan. Namun karena kesetiaan mereka, Allah mencurahkan rahmat yang berlimpah ke dalam gereja dan banyak orang yang mengalami buah dari pembaharuan mereka. Paul Cordes dalam bukunya ‘Charism and Charismatic Renewal’ dengan jelas menggambarkan apa yang terjadi dalam sejarah itu.

Juga pada dewasa ini pembaruan karismatik mengalami hambatan dan pertentangan di mana-mana, di samping dukungan yang diterima darinya dari pimpinan gereja, dari Paus dan konferensi para Uskup. Situasinya memang berbeda dengan jaman para fransiskan dan teresian (para anggota pembaruan rohani Santa Teresia dari Avila), namun ada juga persamaannya. Kali ini pembaruan itu menyangkut seluruh lapisan umat dalam Gereja dan tersebar luas di kalangan umat. Tantangannya juga sama, si iblis yang tidak senang dengan semuanya itu juga membangkitkan perlawanan dimana-mana dan dia juga berusaha merongrong pembaruan itu dari dalam. Justru yang terakhir ini merupakan senjata yang jauh lebih ampuh bila berhasil. Karena itu bila mungkin selalu ditimbulkann perpecahan, permusuhan, iri hati, dan persaingan tidak sehat di antara para pemimpinnya sendiri. Inilah senjata yang sangat ampuh untuk menghancurkan pembaruan itu sendiri.

Melihat teladan pendahulu-pendahulu kita, dalam situasi  yang sukar ini kita juga harus selalu memupuk kesetiaan. Bila kita tetap setia, bahkan bila kita harus menderita dari pihak pimpinan gereja, Tuhan akan memberkati kesetiaan itu dan akan memberikan rahmat yang berlimpah-limpah. Kita mau setia bukan karena pemimpin yang tidak adil, yang kadang-kadang bahkan bertindak sewenang-wenang, serta yang main kuasa, namun kita mau setia kepada Yesus Kristus, Tuhan kita, yang adalah Kepala dari Gereja itu sendiri dan yang dapat mengubah segala sesuatu menjadi kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (bdk. Rm 8:28). Dalam iman kita dapat mengubah segala sesuatu menjadi kebaikan, seperti Salib Yesus – yang de facto adalah kekejian dan tindakan sewenang-wenang – telah diubah oleh Allah menjadi berkat bagi semua manusia karena kesetiaan dan ketaatan Yesus kepada Bapa.

Juga untuk hidup pribadi kita masing-masing, salib, bila dilihat dan diterima dengan mata iman, merupakan kesempatan untuk tumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus dan dalam persekutuan dengan Dia (bdk. Yak 1:2-4; 1 Ptr 4:12-14).


5.  Tanggung Jawab atas Pembaruan Karismatik

Sebagai pelayan-pelayan Kristus kita juga bisa lepas dari tanggung jawab kita atas pembaruan karismatik pada umumnya dan di tempat kita khususnya. Dari satu pihak kita harus berusaha supaya pembaruan itu berkembang secara posotif, dan dari pihak lain juga berusaha menghilangkan penghambat-penghambatnya, khususnya yang datang dari pihak itu sendiri.      

Di samping segala kesukaran yang telah dibahas di atas, kita sendiri harus pula mawas diri, karena sadar, karena kita pun mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan, juga dalam pembaruan itu sendiri. Di Indonesia pembaruan itu sudah cukup meluas, namun hambatan dan perlawanan juga masih banayk sekali. Hal itu sebagian juga karena disebabkan oleh kita sendiri. Menghadapi situasi seperti ini, kita, para pelayan (saya lebih suka memakai istilah pelayan daripada pemimpin, karena kita harus melayani seperti Kristus) pembaruan karismatik, harus juga mawas diri. Dengan jujur kita sendiri harus mawas diri dalam hal apakah kita telah bersalah, sehingga pembaruan itu tidak diterima. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, tetapi baiklah kita juga berusaha memperbaiki apa yang menjadi sandungan bagi saudara kita yang lain. Pada hemat saya ada beberapa hal yang harus sungguh-sungguh mendapat perhatian kita  a.l:          

5.1.  Kekatolikan Pembaruan Karismatik

Karena pengaruh ekumene yang tidak sehat, tokoh-tokoh karismatik tertentu memberikan batu sandungan kepada umat, karena mereka de facto meremehkan dan bahkan berbicara dengan nada menghina Bunda Maria. Karena pengaruh ekumene mereka tidak bisa lagi menghargai Bunda Maria dan sakramen-sakramen. Khususnya dalam sakramen tobat, orang mengatakan, “Mengapa harus mengaku pada pastor, kan dia juga hanya orang yang berdosa? Lebih baik aku langsung kepada Allah saja!” Celakanya tokoh-tokoh inilah yang sering berkeliaran di seluruh Indonesia membawa nama karismatik, dan dengan demikian merusak nama karismatik itu sendiri.

5.2.  Menyadari Keterbatasan Ungkapan Kultural Karismatik

Dalam pembaruan karismatik kita harus dapat membedakan intinya dari ungkapannya yang lebih bersifat kultural dan terbatas oleh suatu kebudayaan tertentu. Perlahan-lahan terciptalah suatu kebudayaan rohani tertentu yang menjadi ungkapan pembaruan itu. Inti pembaruan karismatik sesungguhnya ialah apa yang dapat kita sebut dengan istilah “Hidup dalam Roh”, yaitu suatu pengalaman nyata akan kehadiran dan kuasa Roh Kudus yang memimpin hidup kita. Ungkapannya yang bersifat kultural dan karenanya juga terbatas ialah a.l. tepuk tangan, jargon-jargon tertentu, dan lain sebagainya. Pengalaman itu tentu saja akan membawa nada-nada tersendiri dan kadang-kadang juga ikut menciptakan ungkapan kultural, namun tidak identik dengan ungkapan tersebut. Kalau kita tidak dapat membedakan antara inti dan ungkapannya yang terbatas, kita berada dalam bahaya akan memutlakkan hal-hal tertentu yang bersifat kultural saja. Dengan demikian tanpa dikehendaki kita justru ikut menghambat perkembangan pembaruan itu sendiri.

5.3.     Kritik yang Destruktif terhadap Gereja

Sering kali orang-orang tertentu melancarkan kritik dengan nada sombong terhadap Gereja, seolah-olah tidak ada Roh Kudus lagi dalam Gereja Katolik kecuali di antara para karismatik saja. Ada yang dengan sombong mengatakan, bahwa imam-imam yang bukan karismatik tidak mempunyai Roh Kudus. Hal itu sangat menyakitkan hati pihak lain dan jelas ucapan seperti itu, walaupun diucapkan oleh orang yang menamakan dirinya karismatik, bukanlah dari Roh Kudus asalnya. Memang harus diakui bahwa banyak hal yang masih belum memuaskan dalam Gereja. Namun marilah kita mengubah situasi bukan dengan kritik tajam dan destruktif melainkan dengan penghayatan iman kita yang rendah hati dan pertisipasi kita secara konstruktif dalam kehidupan Gereja lokal di mana Allah menempatkan kita. Dengan partisipasi yang konstruktif kita membuktikan bahwa memang Roh Allahlah yang menjiwai kita.

5.4.  Menyadari Tujuan dengan Jelas

Dalam pembaruan kita harus selalu sadar akan tujuan yang ingin kita capai, yaitu pembaruan hidup kristiani kita. Tujuan pembaruan bukanlah untuk memperoleh karunia-karunia Roh Kudus, walaupun itu sangat penting dalam pelayanan kita, namun itu bukan tujuan. Tujuannya ialah pembaruan hidup kita seluruhnya sehingga seluruh hidup kita berada dalam kuasa Roh Allah. Bila kita sadar akan tujuan tersebut dan betapa kita masih jauh dari cita-cita tersebut, kita akan menjadi rendah hati dan penampilan kita juga akan semakin menarik bagi orang lain.

5.5.  Mencari Dasar Teologi yang Kuat dan Sehat

Ada juga yang dengan sombong mengatakan, bahwa segala filsafat dan teologi yang dipelajarinya dahulu sama sekali tidak berguna. Mungkin tidak berguna bagi dia pribadi karena ia mempelajarinya secara salah, tetapi bisa amat berguna bagi orang lain, bila dipelajari secara benar. Saya seorang doktor teologi dan saya bersyukur kepada Allah karena teologi yang telah saya pelajari dan tetap saya pelajari sangat membantu saya untuk berkembang dalam pembaruan karismatik. Teologi menunjukkan jalan yang benar kepada Allah dan juga membantu mengontrolnya supaya tidak menyimpang. Namun harus segera saya tambahkan bahwa teologi saja, tanpa iman, tidak membantu mengantar orang kepada Allah sebab teologi tanpa iman tidak ubahnya dengan tubuh tanpa jiwa. Sayang sekali, bahwa ada teologi yang bukannya menolong iman, melainkan justru merongrongnya. Tapi kalau demikian yang salah bukan teologi sebagai teologi, melainkan teologi yang diselewengkan. Sebaliknya, teologi yang sehat membantu kita tumbuh dan berkembang dalam iman, sehingga hidup kita semakin berkenan kepada Allah. Karena itu sebenarnya kita selalu membutuhkan teologi yang sehat jika kita jumpai penyelewengan Jim Jones, Charles Manson, dan lain sebagainya yang berakibat tragis sekali.

Pembaruan Karismatik Katolik di Indonesia pada umumnya kurang bersandar pada teologi yang sehat dan kuat. Karena itu seringkali tujuan pembaruan itu sendiri menjadi kabur bagi para pengikutnya sehingga orang kadang-kadang lebih mencari dan mengutamakan hal-hal yang tidak hakiki daripada yang hakiki. Oleh sebab itu perlu adanya pengertian yang jelas tentang tujuan hidup kristen kita. Banyak kekurangan-kekurangan yang tersebut di atas, yang juga disebabkan oleh kurangnya dasar teologi yang sehat dan kuat.

Akhirnya semoga uraian ini mendorong kita semua untuk mawas diri yang sehat untuk menyingkirkan hal-hal yang kurang sehat yang ada dalam pembaharuan itu sendiri serta menciptakan pembaruan yang sungguh-sungguh sehat, sungguh-sungguh katolik, tetapi sungguh-sungguh karismatik. Dengan demikian kita akan seumpama seorang yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya (bdk. Mat 13:52). Kekayaan rohani Gereja Katolik yang begitu besar, yang dewasa ini masih terpendam dan kurang dimanfaatkan akan dapat mengalami suatu semarak baru melalui dan dalam pembaruan karismatik ini. Amin.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting