User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kerap kali kita memandang rendah orang yang menjadi pembantu atau pelayan. Sebisanya orang itu menjadi tuan atau pemilik modal. Bagi mereka sikap tersebut amat merendahkan. Betulkah anggapan itu? Jika salah mengapa orang tak mau jadi pelayan? Salah siapa ini? Apa yang harus kita buat? Kita harus belajar dari Yesus untuk melayani.


Artikel ini disadur dari ceramah yang diberikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma CSE. pada Konvensi Nasional Karismatik VII di Malang, tahun 1996

Pendahuluan

Sebagai seorang murid Kristus, kita dipanggil untuk melakukan karya Allah sendiri. Untuk itu Kristus telah membekali kita dengan kuasa-Nya sendiri  yang telah diterima-Nya dari Bapa (bdk. Yoh 14:12). Pekerjaan yang harus kita lakukan adalah pekerjaan Allah sendiri, yang dari hakekatnya melampaui segala kekuatan kita. Oleh karena itu kita memerlukan kuasa Allah sendiri, sebab hanya dengan demikian kita akan mampu melakukan pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Tetapi kuasa Allah itu, yang dari dirinya sendiri adalah baik, mudah diselewengkan bila orang itu tidak waspada. Orang mudah tergoda untuk menjadi sombong, berbangga-bangga secara sia-sia. Dan dari situ jatuh ke dalam pelbagai macam godaan. Orang yang melayani Tuhan menjadi target serangan si iblis yang selalu ingin menggagalkan karya Allah. Karena itulah Paulus menghimbau kita agar mengenakan seluruh persenjataan Allah (Ef 6:10). Sebab ada kemungkinan, bahwa setelah kita mewartakan Injil dan menjadi alat keselamatan bagi orang lain, kita sendiri dapat terbuang (bdk. Mat 7:21-23). Tidak jarang kita dengar, bahwa seseorang yang mulai dengan baik, kemudian berakhir secara menyedihkan, karena selama perjalanan hidupnya, dia tidak membangun hidup pribadinya dengan baik seturut rencana dan kehendak Allah. Itulah sebabnya Santo Paulus berkata: "Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Kor 9:27). Karena itu dalam kesempatan ini saya ingin mengajak Anda sekalian, para pelayan Tuhan, untuk memperhatikan hal-hal tersebut dan sungguh-sungguh membangun hidup pribadi Anda atas dasar  yang kokoh dan kuat.

 1.  Menjadi Yesus lain

Sebagai murid-murid Kristus kita dipanggil untuk mengikuti jejak Guru kita dan ikut serta menjadi pelayan, seperti Dia telah datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya untuk kita. Dialah teladan dan model yang harus kita ikuti. Karena itu pula Santo Paulus berkata: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang… telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib" (Flp 2:5-8).

Sebagai murid Yesus kita harus merasa seperti Yesus, berpikir seperti Yesus, mencintai dan melayani seperti Yesus. Menjadi seperti Yesus, memiliki semangat Yesus, itulah program kita. Khususnya kita harus meneladan dan menghayati kerendahan hati-Nya, yang walaupun Allah telah mau merendahkan diri-Nya. Karena itu kita harus mengosongkan diri dari egoisme kita, supaya Yesus dapat hidup dalam diri kita. Demikian kita akan dapat berkata bersama Paulus: "Aku hidup, tetapi sudah bukan aku, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku." Dengan demikian kita tidak akan memikirkan kepentingan diri sendiri saja, melainkan memiliki semangat Kristus yang telah berkurban bagi kita. Kitapun akan dapat mengerti nilai kurban, penyangkalan diri serta salib pada umumnya, yang bila dilihat dalam iman, justru akan semakin mempersatukan kita dengan Kristus sendiri.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting