Kemampuan Paranormal dalam Terang Iman Kristen

User Rating:  / 19
PoorBest 

Dewasa ini, hal-hal yang berhubungan dengan paranormal dan okultisme tidak dapat diingkari. Bahkan, tak jarang, orang-orang yang mengaku diri beriman Kristiani pun ikut terlibat di dalamnya. Dalam artikel ini, akan dipaparkan apakah kemampuan paranormal itu, dan bagaimana tinjauan dari sudut iman Kristen.


1.      KEMAMPUAN PARANORMAL PADA UMUMNYA

1.1.   Fakta-fakta tentang kemampuan paranormal

Dewasa ini kita semakin disadarkan akan adanya gejala-gejala dan kemampuan-kemampuan paranormal yang begitu merebak dalam dunia dewasa ini, khususnya berkat media massa yang canggih. Gejala-gejala seperti ESP (Extra Sensorial Perception), di mana orang dapat tahu atau mengenal objek-objek lepas dari pancaindera biasa, sehingga orang dapat tahu adanya objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar jangkauan biasa, semakin dikenal orang. Meraga sukma (out of body experience), di mana orang merasa rohnya keluar dari tubuhnya dan dapat melihat serta mengadakan perjalanan tanpa terhambat oleh ruang, juga merupakan kenyataan yang sema-kin diketahui orang. Di samping itu dengan berkembangnya New Age, Reiki, dll, hal-hal seperti itu semakin menggejala dan banyak orang Kristen yang juga ikut terlibat di dalamnya.

Selain itu, kekuatan-kekuatan paranormal pun semakin banyak dicari orang, khususnya di Indonesia. Dengan latihan-latihan tertentu, orang dapat menghasilkan suatu kekuatan atau kemampuan "paranormal", artinya di luar apa yang disebut normal, yang banyak dipakai untuk pelbagai macam tujuan. Kelompok-kelompok bela diri banyak yang mencari tenaga dalam untuk tujuan bela diri, yang lain lagi mencari kekuatan tersebut untuk pengobatan, untuk dapat menjadi sakti. Kenyataannya memang banyak sekali orang yang bertapa supaya memperoleh kesaktian. Dalam dunia pewayangan Jawa pun, seorang ksatria sering digambarkan se-bagai seorang yang sakti.

Dalam tradisi yoga, kemampuan paranormal yang mereka sebut dengan istilah sidhi itu, memungkinkan orang melakukan hal-hal yang luar biasa, seperti misalnya kekuatan-kekuatan yang dilakukan para fakir, tidur di atas paku, menghilang, penyembuhan, clairvoyance, clair-audience, tenaga-tenaga gaib, kekuatan-kekuatan besar, dll. Juga dalam Budhisme Zen orang mengenal kekuatan atau tenaga tersebut.

1.2.   Kemampuan paranormal: bantuan atau kendala?

Kiranya fakta akan adanya kemampuan atau kekuatan para-normal tidak dapat diragukan lagi. Namun sekarang pertanyaannya: bagaimana sikap kita menghadapi realitas tersebut? Pertanyaan tersebut tentu menghasilkan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang-nya. Tradisi yoga dan zen mengenal pula kemampuan-kemampuan tersebut, tetapi dengan tegas mereka menolak semuanya itu.

Dalam aliran-aliran tersebut, seperti yoga dan zen, yang mengarah kepada pengalaman rohani yang paling dalam, yang membahagiakan dan mengubah hidup manusia, dengan tegas orang mengesampingkan kemampuan-kemampuan tersebut. Walaupun orang mengalaminya, ia tidak boleh berhenti di situ, melainkan harus mengabaikannya, atau tidak memperhatikannya. Baik dalam yoga maupun dalam zen, sikap orang tegas sekali: mengabaikannya atau tidak memperhatikannya, karena kalau orang berhenti di situ, orang akan terhambat perjalanannya menuju ke puncak.

Dalam yoga kemampuan paranormal itu dipandang sebagai suatu godaan dan orang harus melepaskan diri daripadanya. Melepaskan diri dari kemampuan tersebut memiliki nilai positif, seperti diungkapkan oleh Mircea Eliade dalam buku-nya "Le Yoga":

"Sebab segera bila seorang yogin mempergunakan kemampuan magik (paranormal) yang diperolehnya lewat latihan-latihannya, segera pula kemungkinan untuk memperoleh kemampuan baru lenyaplah… Orang yang jatuh dalam godaan untuk memakai kemampuan magik itu akhirnya hanya menjadi 'tukang sihir' saja, yang tidak mampu lagi mengatasi dirinya sendiri. Hanya suatu penyangkalan baru dan perjuangan yang jaya terhadap godaan magi, akan membawa sertanya suatu 'perkayaan' rohani baru bagi si yogin. Menurut Patanyali dan menurut seluruh tradisi yoga klasik, apalagi tradisi metafisik vedantine yang meremehkan semua kemampuan itu, seorang yogin harus memakai pelbagai macam kemampuan itu semata-mata untuk memperoleh kebebasan tertinggi, yakni asam-prajnata samadhi."

Demikian pula seorang swami kontemporer, Swami Sivananda Sarasvati, dengan tegas menolak penggunaan kemampuan-kemampuan tersebut. Mencari kemampuan itu berarti hambatan besar untuk meditasi atau samadi. Orang biasanya membedakan adanya 9 kekuatan besar yang disebut ridhi, 8 kekuatan penting atau sidhi dan 18 kekuatan minor. Namun kemampuan-kemampuan supranormal itu merupakan hambatan yang amat besar bila orang mengejar atau mencarinya. Semuanya itu, termasuk clairvoyance dan clair-audience, menurut Swami Sivananda tidak layak untuk dicari, sebab tanpa semuanya itu orang akan dapat mencapai iluminasi dan kedamaian yang lebih besar. Sebaliknya bila orang mengejarnya, berarti sekurang-kurangnya ia akan terhambat dan bahkan bisa tersesat.

Tradisi zen pun tidak kalah radikalnya dalam hal ini. Bila seorang berlatih dalam samadi dengan tekun, cepat atau lambat, mereka akan mengalami timbulnya gejala-gejala paranormal. Hal itulah apa yang mula-mula mereka sebut dengan istilah makyo, yang secara harafiah berarti dunia iblis. Dewasa ini, dalam zen orang menerangkan, bahwa itulah perubahan-perubahan fisiologis yang dialami oleh mereka yang dengan tekun melakukan meditasi zen. Dari satu pihak itu bisa menjadi tanda kemajuan, tetapi sebenarnya orang masih jauh sekali dari tujuan. Pengalaman yang bisa diperoleh orang dalam perjalanan itu macam-macam sekali, namun dengan tegas orang harus membuang semua itu. Dari satu pihak, orang tidak usah takut bila mengalami gejala-gejala tersebut, namun dari pihak lain jangan memperhatikan, bahkan harus membuangnya. Dalam hal itu, tradisi zen sangat radikal dan tidak mengenal kompromi, seperti juga dalam yoga.

Di samping makyo, dunia zen juga mengenal apa yang mereka sebut dengan istilah yoriki, yaitu suatu kekuatan atau kemampuan yang besar, yang biasanya dialami orang bila ia semakin berkembang. Dalam zen orang memang mengakui adanya kekuatan itu, tetapi ia memakainya hanya untuk mengarahkan seluruh tenaga dan kekuatan pada pencapaian kensho, dan bukan untuk suatu tujuan lain, yang dipandangnya sebagai hambatan menuju perjalanan tersebut.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting