Print
Hits: 13925

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Berdoa memang susah-susah gampang. Kalau kita mengalami rahmat Allah, rasanya tidak mudah untuk selalu mendekat kepada-Nya. Namun, ketika kita berbeban berat, menyelami kasih-Nya pun semakin sukar. Akan tetapi, bila kita tetap setia menghayati hidup doa secara benar, sungguh indah dan bahagianya hidup kita. Ternyata berdoa tidak hanya sesuai dengan suasana hati tetapi doa merupakan nafas hidup kita. Dengan memahami syarat-syarat doa, kita dapat bertekun dalam hidup doa dan menikmati buah-buahnya.


Membangun Pondasi

Bila seseorang mau menanam sebuah pohonia harus lebih dahulu menyelidiki, apakah kondisi tanah dan iklimnya cocok untuk tanaman tersebut. Karena itu bila seseorang menanam sebuah pohon di padang gurun yang kering dan gersang, yang tidak berair, pastilah ia akan ditertawakan orang. Tidak ada pohon yang dapat tumbuh di sana. Untuk itu dibutuhkan kondisi tanah serta iklim yang cocok supaya pohon dapat tumbuh.

Demikian pula Misteri Kehadiran Allah serta jawabannya, yaitu doa, tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa syarat-syarat tertentu. Dewasa ini banyak orang yang mencari Allah dalam kelompok-kelompok New Age, semacam gerakan kebatinan yang banyak berkembang di Amerika Serikat. Banyak diantaranya orang-orang yang terluka dalam keluarganya. Banyak pula yang mencari pengalaman doa dalam kelompok tertentu tetapi tanpa pertobatan. Itu semua sama dengan menanam pohon di padang gurun yang kering kerontang. Lebih celaka lagi banyak anak muda yang mencari suatu pengalaman rohani dan religius lewat seks, ganja, morfin, ecstasy, dan akhir-akhir ini lewat putaw, karena mereka mengira, bahwa dengan jalan ‘fly’ mereka dapat menemukan kebahagiaan lewat pengalaman tersebut, yang pada akhirnya malah menjerumuskan mereka ke dalam jurang kebinasaan. Mereka semua mencari pengalaman yang dapat memberi arti bagi hidup mereka, tetapi sayang semuanya itu palsu belaka. Bukannya dapat memuaskan kerinduan hati mereka yang terdalam, malahan semakin melukai mereka.

Kontemplatif-kontemplatif (pendoa-pendoa) besar seperti Santa Teresa Avila dan Yohanes Salib, sangat dekat dengan Allah dan karenanya sangat dekat dengan realias hidup, khususnya kehidupan dalam Roh. Persahabatan dengan Allah, yang merupakan inti  kehidupan dalam Roh, menuntut adanya pertobatan dan pemurnian terus-menerus. Hidup doa yang sejati mustahil dapat berkembang tanpa sayrat-syarat tertentu. Kemesraan dengan Allah menuntut kebajikan-kebajikan kristiani. Sana teresa bukan seorang yang suka melamun, tetapi seorang realis yang dibimbing Roh Kudus. Ia tahu apa yang harus didahulukan sebagai persyaratan untuk hidup dalam kemesraan Allah.

Jika  seseorang mau membangun sebuah gedung, ia harus lebih dahulu membangun pondasinya. Semakin besar dan tinggi gedung itu, semakin dalam dan kuat pondasi yang dibutukan supaya dapat tetap tegak berdiri. Karena itu jika orang ingin memiliki hubungan yang mesra dengan Allah, ia mempraktekkan kebajikan-kebajikan krisriani lebih dahulu. Dalam bukunya: Jalan Kesempurnaan, ketika Santa Teresa mau  menguraikan tentang hidup doa, ia lebih dahulu membicarakan syarat-syarat doa yang sejati, yaitu  cinta kasih, kelepasan, dan kerendahan hati. Ketiga kebajikan ini berhubungan erat satu sma lain. Tanpa itu orang tidak mungkin dapat menjadi pendoa yang sejati. Tanpa itu orang hanya dapat berkhayal saja.

Sebaliknya dengan adanya ketiga kebajikan tersebut, walaupun mungkin orang tidak dipanggil dalam kontemplasi, bentuk doa yang mendalam, ia akan berkembang pesat dalam hubngannya dengan Allah. Pada dasarnya penghayatan ketiga kebajikan tersebut mencptakan iklim dan kondisi yang baik untuk berkembangnya hidup doa dan kontemplasi. Sebaliknya hidup doa yang baik, yang otentik memungkinkan perkembangan kebajikan-kebajikan.

Cintakasih

Dalam suratnya yang pertama Santo Yohanes menulis, bahwa “Allah adalah kasih…barang siapa tinggal dalam kasih, tinggal dalam Allah dan Allah tinggal dalam dia” (1Yoh 4:16). Namun apakah yang disebut kasih itu? Kasih sebenarnya bukan lain adalah persahabatan antara Allah dan manusia.  Persahabatan tersebut terdapat dalam suatu bentuk pergaulan yang mesra dengan Allah, yang dimulai di dunia dan disempurnakan dalam hidup yang akan datang di surga. Karena itu kasih bukanlah mncintai Allah dari jauh, atau melakukan beberapa hal bagi Allah. Kasih mengandung suau hubungan pribadi. Kasih merupakan suatu persahabatan yang mesra dan suatu persekutuan hidup yang mengandung suatu percakapan yang familiar dengan Allah,

Karena itu pula Santa Teresa Avila mengatakan, bahwa doa batin bukan lain daripada suau persahabatan yang mesra dengan Allah, suatu percakapan dari hati ke hati dengan Allah. Sebenarnya doa dan kasih adalah sua sisi dari satu mata uang yang sama, dua cara melihat satu misteri yang sama. Karena itu tanpa kasih tidak ada doa yang sejati dan sebaliknya tanpa doa, kasih yang sejati tidak dapat berkembang.    

Inti kekudusan adalah persatuan cintakasih dengan Allah, dimana kita menjadi satu dengan Allah, hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah. Doa dan cintakasih adalah jalannya dan sekaligus tolak ukurnya. Karena itu pertumbuhan dalam kekudusan sejajar dengan pertumbuhan dalam doa dan cintakasih. Semuanya ini adalah karnya Roh Kudus dari awal sampai akhir. Roh Kudus-lah yang mencurahkan dalam hati kita (Rom 5:5), sehingga kita dijadikan mampu untuk mengasihi. Demikian pula ia membantu kita dalam kelemahan kita, karena kita tidak tahu apa yang harus kita katakan dalam doa, namun Ia berdoa untuk kita (Rom :26).

Kasih merupakan suatu kebajikan penuh kuasa yang berasal dari Roh Kudus yang hadir dalam lubuk jiwa kita. Kasih yang sama itu diarahkan kepada Allah (kasih teologal) dan kepada sesama kita (kasih persaudaraan). Kasih persaudaraan adalah bukti tentang adanya kasih kepada Allah dan sekaligus juga ukuran kasih kita kepada Allah. Kita tidak dapat tahu dengan pasti, apakah kita mengasihi Alla, tetapi kita dapat tahu, apakah kita mengasihi sesama kita (bdk. 1Yoh 4:20). “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan mentaati segala perintahKu. Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 14:15;15:12). Karena itu bila kita tinggal dalam Kristus kita mampu mengasihi dengan benar.


Cinta Sensual Dan Kasih Ilahi

Sebenarnya tidak ada pertentangan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama, bahkan keduannya tidak dapat dipisahkan. Seperti sudah dikatakan di atas, bukti bahwa kita benar-benar mengasihi Allah ialah kasih kita kepada sesama. Tetapi ada pertentangan antara mencintai secara egois, sensual, dengan mencintai secara kristiani yaitu mencintai dengan kasih yang disebut ‘agape’. Dalam diri manusia biasanya ada dua jenis cinta: Yang pertama ialah cinta sensual atau egois, yang berpusat pada diri sendiri. Yang kedua adalah cinta ilahi (=kasih ilahi, agape), yang merupakan buah Roh Kudus yang diam di dalam diri kita. Karena itu perjuangan kita adalah menghilangkan yang pertama, serta membiarkan yang lain tumbuh. Semakin tumbuh kasih ilahi itu di dalam diri seseorang, semakin berkembanglah ia dalam kesucian atau kekudusan. Karena itu orang suci ialah orang yang memiliki kasih ilahi yang besar sekali.

Di bawah ini akan kita perbandingkan antara cinta sensual dengan kasih ilahi, sehingga kita akan dapat melihat perbedaannya dengan jelas:

Santa Teresa berkata,

Bila salah seorang di antara kamu menjadi marah kepada saudarnya karena suatu kata, persoalan itu harus segera diselesaikan dan kamu harus berdoa secara serius. Demikian pula kalau omelan, klik-klikan, atau keinginan untuk menjadi paing besar, atau suatu hal yang berhubungan dengan kehormatan. Pada hemat saya ini suatu malapetaka dalam suatu komunitas. Bila hal itu terjadi  pada dirimu, anggaplah ddirimu sudah kalah, karena engkau telah mengusir Sang Sahabat Ilahi dari tempat kediamanNya sendiri. Menangislah keras-keras kepada Tuhan dan luruskanlah persoalannya.Mengertikah kamu sekarang, mengapa para kudus bersukacita dihina dan dianiaya? Sebabnya ialah karena hal itu mmberikan kepada mereka sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan bila mereka berdoa kepadaNya, Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Apa yang dapat dilakukan seorang makhluk yang papa seperti kita ini, karena sedikit saja pengampunan yang harus kita berikan, tetapi banyak sekali pengampunan yang kita terima dari Allah? Allah telah mengampuni dosa-dosa kita yang patut diganjar dengan api kekal. Karena itu bukankah kita mengampuni hal-hal kecil yang diperbuat orang terhadap kita?orang-orang yang dikaruniai Tuhan dengan kontemplasi sejati harus menanggung banyak percobaan. Siapa yang telah diberikan Kerajaan Allah, tidak menginginkan kerajaan dunia ini, karena dari pengalaman mereka tahu, betapa banyaknya keuntungan yang mereka terima bila boleh menderita demi Tuhan. Orang-orang itu tela belajar menghargai segala sesuatu dengan nilainya yang sesungguhnya. Karena itu mereka tidak terlalu memperhatikan perkara-perkara yang akan berlalu. Penghinaan besar atau percobaan mungkin akan menyebabkan stres sebentar, tetapi imannya akan segera mengusir stres tadi karena mereka melihat bahwa Tuha telam memberikan kepada mereka suat kesempatan untuk memperoleh harta abadi lebih banyak dalam satu hari daripada yang dapat mereka peroleh selama sepuluh tahun dengan matiraga yang mereka pilih sendiri.”

Tahukah anda, mengapa Allah memberikan begitu banyak karunia kepada sahabat-sahabatnya di dunia ini? Yang pasti bukan untuk menyenangkan mereka begitu saja. Karunia-karunia tersebut diberikan kepada kita untuk menguatkan kelemahan kita, sehingga kita mampu meneladan PuteraNya dalam penderitaanNya. Tuhan tidak dapat memberika sesuatu yang lebih besar dan mulia kepada kita, selain hidup seperti yang dihayati oleh PuteraNya terkasih sendiri. Karena itu mereka yang berjalan paling mesra dengan Dia, juga harus menanggung percobaan yang paling mesra. Ingat saja akan Bunda Maria dan pada rasul. Menurut pendapat Anda, bagaimanakah Santo Paulus dapat menanggung sekian banyak penderitaan itu? Dalam hidupnya itu dapat kita lihat buah kontemplasi dan visiun yang sejati yang datang dari Allah dan bukannya hasil khayalan atau tipu muslihat si jahat.

Cinta sensual memecah belah, menyebabkan perpecahan dan pertengkaran. Mudah iri hati, dengki dan tidak senang dengan keberhasilan orang lain. Sedangkan, kasih ilahi adalah kekuatan yang mempersatukan, demikian pula orang-orang yang dijiwai kasih ilahi. Karena itu dalam satu komunitas kita harus saling bersahabat, saling mengasihi dan saling menolong. Lebih-lebih bagi mereka yang dipanggil untuk pelayanan syafaat, persatuan itu mahapenting. Bila di dunia ini kita sepakat tentang sesuatu hal, permohonan kita akan dikabilkan Bapa di surga(Mat 18:19)

Ekaristi adalah ungkapan terbesar dari kasih Allah bagi kita serta tanda persatuan kita. Seperti yang dikatakan dalam Konsili Vatikan II, tidak ada komunitas yang dapat dibangun jika tidak didasarkan dan berpusat pada Ekaristi.

Cinta sensual suka berkhayal dan tidak seimbang, suka hidup dalam dunia fantasi dan tidak menjadi kenyataan. Mudah sekali orang berkhayal, bahwa dia memiliki cinta kemanusiaan terhadap orang-orang yang jauh darinya, tetapi bersikap acuh tak acuh terhadap yang hidup bersama dia. Si Iblis sering menggoda orang dengan keinginan yang ambisius, sehingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan nyata yang dapat dijangkaunya. Ia akhirnya menjadi puas hanya dengan khayalan-khayalan yang mustahil.

Sebaliknya kasih ilahi bersifat realistik, mulai di rumah sendiri dan menyatakan diri dengan pelbagai macam cara dalam perkara-perkara kecil kehidupan sehari-hari. Denga melakukan pekerjaan-pekerjaan nyara dengan penuh tanggung jawab dan dengan senang hati, orang membuktikan betapa banyaknya yang dapat dilakukannya bagi Tuhan. Bila orang melakukan apa yang dapat diperbuatnya, Tuhan akan membantunya, sehingga makin hari kemampuannya akan menjadi semakin besar.

Supaya dapat berkembang dalam doa dan persatuan dengan Allah, kita membutuhkan keheningan batin dan damai. Untuk tujuan itulah kita harus menguasai fantasi kita serta kecenderungan untuk melamun dan berkhayal. Setelah segala nafsu dan keinginan ditenangkan dan menjadi hening, Allah dapat berkarya dengan bebas dalam diri kita.


Kelepasan

Saya pernah melihat seekor bajing (tupai) yang ditangkap orang dan dimasukkan ke dalam sebuah kurungan. Kurungan itu berputar pada sumbunya, sehingga walaupun bajing itu tampaknya berlari dengan kencang, namun sesungguhnya ia tetap di tempatnya. Supaya dapat lari jauh, bajing itu harus keluar dari ku-rungannya.

Keadaan bajing itu serupa de-ngan keadaan banyak orang yang mau lari kepada Allah, tetapi nyatanya tetap tinggal di tempat dan tidak maju sedikit pun juga. Keadaan bajing menunjukkan perlunya suatu kelepasan supaya dengan bebas kita dapat berjalan atau berlari menuju Allah. Kelepasan sesungguhnya bukan lain dari menyerahkan segalanya secara utuh kepada Allah termasuk diri sendiri. Bila kita dapat menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, hal itu merupakan suatu berkat yang amat besar, karena Allah tidak akan menyerahkan diri kepada kita, bila kita tidak rela menyerahkan diri secara utuh kepadaNya.

Hidup kita adalah suatu per-jalanan kepada Allah dan Allah adalah sumber berkat. Karena itu bila dalam perjalanan itu kita berhenti pada sesuatu yang bu-kan Allah, hal itu amat menyedihkan, karena berarti kita kehilangan berkat yang demikan besarnya hanya karena hal-hal yang sepele. Seekor burung yang kakinya terikat tidak akan bisa terbang, entah dia terikat oleh rantai besi, ataukah oleh tali sutera, entah tali yang tebal atau tipis, selama ia masih terikat, ia tidak akan bisa terbang. Demikian pula bila kita masih terikat, kita tidak dapat berjalan maju, seperti bajing tadi.

Kelepasan atau ketidakter-ikatan sesungguhnya merupakan sesuatu yang positif. Itu berarti kemenangan dari permata yang tulen terhadap yang palsu, kemenangan dari yang abadi terhadap yang fana, yang tidak akan rusak terhadap yang sementara. Karenanya kelepasan membukakan bagi Anda pintu Kerajaan Surga serta segala berkatnya. Ia memampukan Anda untuk memiliki Allah serta memasuki persahabatan yang sejati dengan Allah, sumber kebahagiaan kita, serta menikmati kehadiranNya. Kecuali itu kelepasan memberikan kepada kita keuntungan-keuntungan berikut:

Kelepasan membebaskan kita dari kesibukan dengan diri sendiri, dengan gambaran diri sendiri serta segala akibat buruknya.

Ego Anda yang belum matang akan selalu mencari-cari kesempatan untuk tampil cemerlang, untuk dikagumi oleh orang lain. Itulah sebabnya pada waktu muda orang berusaha untuk mendapat rangking pertama dalam sekolah, untuk menjadi juara dalam olahraga, untuk memperoleh tingkat-tingkat dan gelar-gelar akademis yang tinggi. Pada usia tengah baya, Anda harus bekerja keras untuk mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan. Pada usia lanjut Anda akan menonjolkan kesenioran Anda, untuk dihormati dan dikagumi. Anda akan merasa frustrasi bila tidak mem-peroleh semuanya itu. Namun kelepasan akan membebaskan Anda dari semuanya itu, karena Anda sadar, bahwa Anda memiliki yang paling berharga, yaitu persahabatan Allah.

Kelepasan memberikan kemenangan kepada Anda atas kuasa ketidak pastian dan ketamakan

Kelepasan akan membebaskan Anda dari keinginan untuk memiliki segala sesuatu yang dimiliki oleh orang lain atau yang ditawarkan oleh iklan-iklan. Si Anu punya itu, maka sayapun harus memilikinya. Si Petrus menjadi pemimpin, mengapa saya tidak? Tadi saya melihat dalam iklan alat-alat itu, maka saya harus memilikinya. Khususnya bagi kita di Indonesia ini, iming-iming hadiah besar begitu memukau orang, sehingga banyak perusahaan dan bank-bank menjadikan iming-iming hadiah untuk menarik pembeli atau pelanggan. Kele-pasan memberikan kepada Anda kebebasan untuk memiliki dan memakai barang-barang dunia ini tanpa dikuasai olehnya, seta kebebasan untuk melayani orang lain tanpa meminta penghargaan mereka.

Kelepasan memberikan kepada Anda kemenangan atas rasa ingin tahu yang tidak sehat, yang berlebihan, untuk mengetahui segala sesuatu tentang segala sesuatu

Dengan demikian pikiran Anda akan bebas dari segala pikiran yang sia-sia dan lidah Anda khususnya akan bebas dari segala macam gosip dan obrolan sia-sia. Kelepasan akan mengajarkan Anda supaya perhatian dan pikiran Anda tidak terbagi-bagi, serta tidak menghambur-hamburkan energi fisik, mental, emosional dan energi spiritual Anda, serta mengarahkannya kepada sesuatu yang sungguh bernilai, khususnya menyimpannya un-tuk doa.

Kelepasan akan memberikan kepada Anda kemenangan atas suatu sikap konservatif yang berlebihan

Orang-orang tertentu, bila menjadi tua, kehi-langan minat akan hal-hal yang sedang berlaku sekarang ini, serta memperkembangkan ke-terikatan yang membuta untuk cara-cara, kebiasaan-kebiasaan serta tradisi masa lampau, sehingga mereka mudah mengeluh tentang keadaan sekarang ini serta berkhayal tentang masa lampau, yang tampak semakin keemasan itu semakin  jauh dari kenyataan sekarang ini. Akibatnya mereka tidak lagi bisa memuji Allah yang hidup dengan bebas dan gembira.

Semangat kelepasan juga akan membebaskan Anda dari kekuatiran dan kesibukan yang berlebihan mengenai komfor, kesehatan dan juga membebaskan Anda dari ketakutan terhadap penyakit

Dengan penuh humor Santa Teresa dari Avila  memberikan catatan berikut ini kepada para susternya: "Segera setelah kita membayangkan, bahwa kepala kita pusing, kita membebaskan diri dari kewa-jiban kita. Suatu hari kita minta dispensasi karena kita sakit kepala. Keesokan harinya ka-rena kita telah sakit kepala. Hari-hari berikutnya kita minta dispensasi lagi kuatir jangan-jangan nanti sakit lagi. Apakah kita dipanggil untuk memanjakan diri sendiri demi Kristus ataukah untuk mati demi Kristus?"

Semangat kelepasan juga akan memurnikan hati Anda dan mengajar untuk mengasihi orang lain dengan cara yang benar. Barang-barang diciptakan untuk dipakai dan pribadi diciptakan untuk dicintai

Kesukaran akan mulai bila Anda menjadi lekat pada hal-hal itu seperti umpamanya kesenang-an, status, gengsi, dan Anda memperalat atau memanipulasi orang-orang untuk memperoleh hal-hal itu. Kemudian Anda menjadi lekat pada orang-orang tertentu, bukan karena Anda melihat martabatnya yang besar dan mencintainya, melainkan karena Anda membutuhkan me-reka sebagai alat untuk me-muaskan kebutuhan Anda sendiri.

Hal yang sama berlaku pula dalam hal persahabatan. Supaya persahabatan itu tetap sehat dan menghasilkan buah-buah keba-jikan yang matang, perlu adanya kelepasan. Suatu persahabatan boleh disebut sehat dan benar, bila Yesus menjadi titik pusat hubungan itu tadi. Hal ini ber-laku bagi semua orang yang mau mencari kemesraan Tuhan, tetapi khususnya bagi mereka yang dibaktikan untuk itu. Tetapi bila diri Anda sendiri atau teman Anda yang menjadi titik pusatnya, maka Anda kehilangan kebebasan dan persahabatan tersebut berubah menjadi perbudakan. Anda tidak lagi bebas untuk menghayati doa dan memasuki persahabatan dengan Tuhan. Waktu doa men-jadi waktu untuk melamun dan kehadiran Yesus pun lenyaplah. "Raja surgawi ini tidak akan memberikan diri kecuali kepada orang yang memberikan dirinya secara utuh kepadaNya... Allah takkan memberikan diri seutuhnya kepada kita, bila kita tidak memberikan diri kita sendiri seutuhnya kepada Dia", demi-kian yang dikatakan Santa Teresa.


Menempuh Jalan yang sempit

Kepada para murid yang mau mengikuti Dia, Yesus bersabda, bahwa mereka harus menempuh jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan. "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan dan sedikit orang yang mendapatinya". (Mat 7:13-14). Dipandang sepintas lalu jalan kehidupan itu memang sempit dan sukar, sedangkan jalan menuju kebinasaan tam-paknya lebar dan menarik. Bila Anda meragukan sabda Tuhan dan menempuh jalan yang lebar itu, yang tampaknya lebih menarik, Anda akan mengalami, bahwa jalan itu makin lama makin menyesakkan, udaranya kotor, dan mengandung gas beracun, membuat hati gelisah dan kuatir, takut, serta melelahkan badan dan jiwa. Semakin jauh dijalani semakin mengerikan, sampai akhirnya binasa. Namun sebaliknya bila Anda berani mempercayai sabda Tuhan dan mengikuti petunjuk-Nya, Anda akan melihat se-suatu yang lain yang tidak dapat Anda lihat sebelumnya. Sewak-tu pertama kali menginjakkan kaki di jalan itu, tampaknya sulit dan berat, namun setelah Anda melangkah maju beberapa saat, Anda akan melihat bahwa jalan itu menuju ke tempat yang in-dah dan segar, serta memberi-kan panorama yang makin lama makin menarik, dengan udara-nya yang segar dan murni, membuat langkah-langkah Anda semakin ringan dan menggembirakan hati Anda.

Memang Tuhan menuntut banyak, karena Ia mau memberikan banyak kepada kita, sedangkan kita tidak akan mampu menerimanya bila kita tidak melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang ada. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan akan memiliki semangat yang radikal, yang total. Dengan gembira ia mau melepaskan segala sesuatu untuk memiliki yang lebih ber-harga. Ia itu "seumpama orang yang menemukan harta di ladang. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu." (Mat 13:44). Mengapa orang itu dengan sukacita menjual seluruh miliknya? Sebab bukan lain karena ia tahu nilai harta terpendam itu yang jauh lebih besar dari segala miliknya. Demikian pula kita dengan rela dan gembira akan melepaskan segala sesuatu, bila kita menyadari, bahwa yang ditawarkan Tuhan kepada kita itu nilainya jauh melebihi apa yang harus kita lepaskan.

Secara istimewa para martir mengerti hal itu, sehingga mere-ka dengan gembira melepaskan segala-galanya, bahkan hidupnya sendiri. Mereka menyadari, bahwa kasih dan pengenalan akan Allah jauh lebih berharga dari semua yang dapat mereka miliki di dunia ini. Mereka itu berani menghayati Injil secara utuh, secara radikal, karena mereka menyadari nilainya yang tidak terkatakan. Demikian pula seorang seperti Santo Yohanes dari Salib mau melepaskan segala sesuatu, karena ia melihat bahwa pengenalan akan Allah dan cintakasih Allah jauh me-lampaui segala sesuatu di dunia ini. Setelah menempuh sendiri jalan itu dan setelah sampai di puncaknya, dia mau meyakinkan kita untuk menempuh jalan itu dan menunjukkan jalan yang membawa ke puncak, di mana di sediakan oleh Allah segala berkat rohani yang melimpah-limpah.

 

Tiga Jalan Menuju ke Puncak Gunung Allah

Dalam bukunya Mendaki Gunung Karmel, Santo Yohanes dari Salib melukiskan tiga buah jalan untuk mendaki gunung kesempurnaan. Di sebelah kanan Anda tampak sebuah jalan yang lebar dan mudah, tampaknya memang sangat menarik dan memikat. Tetapi bila Anda mencoba mendakinya, akhirnya dengan menyesal Anda harus mengakui, bahwa Anda salah jalan, bahwa itu adalah jalan buntu. Berkat Allah yang Anda cari tidak diketemukan di situ, sebaliknya yang akan Anda jumpai justru hanyalah kekeringan, kekosongan, kekecewaan, ­kekuatiran dan ketakutan. Itulah jalan kelekatan pada barang-barang duniawi ini. Setiap orang yang menempuh jalan itu akhirnya harus mengakui: "Saya telah salah jalan. Semakin saya mengejar barang-barang itu, semakin kosong hatiku, belum lagi segala kekuatiran dan ketakutan yang harus saya alami."

Di sebelah kiri terdapat pula jalan yang lain yang tampaknya juga menarik dan mudah. Inilah hal kelekatan kepada barang-barang rohani seperti hiburan rohani, perasaan indah-indah, devosi yang bisa dirasakan, yang mengharukan, karunia-karunia luar biasa, penglihatan, sabda-sabda dan karunia rohani lainnya. Arah jalan itu memang tidak keliru, tetapi bila Anda mengikutinya, Anda tidak akan pernah sampai di puncak. Jalan itu terus-menerus berputar-putar di kaki bukit dan karenanya Anda tidak akan pernah sampai di puncak yang maha-indah itu. Siapa menempuh jalan itu akhirnya harus pula meng-akui: "Sudah banyak tenaga dan waktu kuhabiskan, namun sedikit sekali yang kuperoleh. Semakin aku mengejar, semakin sedikit yang kuperoleh dan ternyata sayapun masih berada di kaki bukit, masih sangat jauh dari puncaknya."

Tepat di depan Anda terdapat sebuah jalan lain yang sempit dan tampaknya curam, serta kelihatannya sukar didaki. Jalan itu sungguh menantang, karena lurus dan langsung menuju ke puncak gunung Tuhan. Inilah jalan penyangkalan diri dan kelepasan. Disepanjang jalan tertulis: "Kosong, kosong, kosong… Supaya dapat memiliki segala sesuatu, jangan ingin memiliki apa pun. Supaya dapat menjadi segala, berusahalah menjadi bukan apa-apa. Supaya dapat menjadi yang terbesar, berusahalah menjadi yang terkecil. Bila Anda berhenti pada sesuatu, Anda tidak lagi mengarahkan pandangan kepada Yang-segala, Allah Sang Pencipta."

Sebenarnya tidaklah keliru bila kita memiliki barang-barang dunia ini serta memakainya. Sesungguhnya selama kita hidup di dunia ini, kita selalu membutuhkan barang-barang dunia ini dalam jumlah tertentu. Demikian pula untuk pelayanan kita kepada umat Allah, kita membutuhkan karunia-karunia rohani, seperti yang dikatakan Santo Paulus (bdk. 1Kor. 14:1). Namun hal itu menjadi keliru, bila Anda melekat pada barang-barang duniawi itu secara egois dan posesif. Seperti halnya bajing itu tidak dapat maju selama masih terikat pada barang-barang itu. Karena itu kita harus memiliki sikap hati seperti yang dikatakan Santo Paulus itu, "Waktunya sudah singkat: siapa yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli" (1Kor. 7:30). Anda dirugikan bukan karena Anda memiliki sesuatu, tetapi karena melalui kelekatan itu Anda dimiliki atau dikuasai oleh sesuatu, sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lepas darinya, atau tidak mau lepas darinya. Karena itu Anda kehilangan kebebasan hati serta energi untuk mendaki lebih tinggi, padahal jalan yang harus ditempuh masih jauh...

Pembaruan Karismatik yang ada dalam Gereja dewasa ini adalah karya Allah. Namun cara banyak orang menanggapi serta menghayatinya, bukanlah karya Tuhan. Banyak dari antara mereka itu yang tidak menempuh jalan kelepasan dan kerendahan hati, sebaliknya banyak yang memanipulasi karunia-karunia Allah untuk kemuliaan sendiri, sehingga mereka menjadi terikat olehnya. Itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang telah nyata-nyata tersentuh oleh rahmat Allah, sama sekali tidak berkembang, bahkan, dan ini yang paling menyedihkan, akhirnya kembali lagi kepada hidupnya yang lama. Tidak sedikit yang menya-lahgunakan karunia-karunia Allah untuk kepentingan diri sendiri. Yang lain lagi, walaupun tidak sampai jatuh kembali ke dalam lumpur hidupnya yang lama, namun toh tidak berkembang dan menjadi suam-suam kuku, kehilangan kesegaran dan kegembiraannya yang semula. Mereka itu mengikuti jalan yang lebar dan mudah, yaitu jalan kelekatan pada barang-barang rohani.

Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes tentang orang-orang pada zamannya, demikian pula kenyataannya dewasa ini: "Dari pengamatan saya, Yesus Kristus sedikit sekali dikenal oleh mereka yang menyebut dirinya sahabat-sahabat-Nya. Karena cinta dirinya yang besar mereka mencari dalam diri Yesus penghiburan dan kepuasannya sendiri. Beberapa orang sudah merasa puas dengan suatu tingkat kebajikan tertentu saja, dengan ketekunan dalam doa dan penyangkalan diri, kemiskinan dan kemurnian rohani tertentu yang dikehendaki Allah dalam diri mereka. Mereka menyangka, bahwa kelepasan dalam perkara-perkara duniawi sudahlah cukup, tanpa pengosongan dan kelepasan dari kepemilikan barang-barang rohani".

Karena dosa asal yang diwarisinya, manusia cenderung untuk egois dan mencari kepentingan diri sendiri. Karena itu perlulah kita selalu menyangkal diri. Kita butuh pertobatan yang radikal, yaitu meninggalkan diri sendiri dan berpaling kepada Allah. Kalau kita tidak melakukan ini, pastilah kita jatuh ke dalam pencarian diri sendiri, bahkan dalam mempergunakan karunia-karunia Roh yang lebih tinggi. Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai sahabat Yesus, tapi masih kejangkitan penyakit egoisme dan sikap posesif, bahkan di antara mereka yang begitu giat dalam pelayanan dan anggota-anggota tim pelayanan. Banyak yang mencari penghiburan Allah, dan bukannya Allah Sang Pengibur sendiri. Mereka mencari Allah hanya demi hiburan-Nya, bukan karena cinta kepada Allah. Banyak pula yang lekat pada karunia-karunia Allah, tetapi hatinya tidak melekat pada Allah sebagai sumber dan pemberi segala karunia. Karena itu tidak jarang terjadi, bahwa bila mereka mengalami tantangan sedikit saja, mereka menjadi putus asa.

Rupanya memang sedikit yang memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk menempuh jalan yang sempit itu, entah karena kurang tahu akan hal itu, entah karena tidak memiliki keberanian untuk mendakinya, sungguh sayang. Tetapi inilah satu-satunya jalan yang membawa kepada persatuan yang sempurna dengan Allah, satu-satunya jalan yang benar-benar menghantar ke puncak gunung tempat Allah bersemayam, Allah yang menantikan kita dengan penuh kerinduan. Bila kita berani melangkahkan kaki pada jalan itu dan bertekun di dalamnya, maka kita akan meng-alami apa yang dikatakan Santo Yohanes dari Salib, "Karena aku tidak melekat pada apapun, aku tidak kekurangan sesuatupun. Karena aku tidak menginginkan apapun kecuali Allah sendiri, segalanya diberikan kepadaku, tetapi tanpa kelekatan. Karena aku tidak mengejarnya lagi, maka aku memperolehnya tanpa mencarinya."

Jalan yang sempit dan lurus itu tampaknya memang terjal dan sulit, namun bila Anda menguatkan hati dan mengambil keputusan untuk melangkahkan kaki ke jalan itu, maka akan ternyata, bahwa jalan itu makin lama makin lebar dan makin menyenangkan daripada kedua jalan yang lainnya itu. Semakin Anda mendaki lebih tinggi, semakin nyata, bahwa di situ tidak ada pembatasan-pembatasan yang menghalangi kebebasanAnda untuk bergerak. Santo Yohanes dari Salib menerangkan, bahwa di atas gunung itu, "…sudah tidak ada jalan, karena bagi orang yang benar tidak ada lagi hukum yang membatasi." Di puncak yang mahaindah itu hidup Anda seluruhnya berada dalam kuasa Roh Kudus. Karena itu, jalan penyangkalan diri dan kelepasan memberikan kepada Anda kebebasan untuk memiliki barang-barang ciptaan ini tanpa terikat olehnya dan tanpa me-nyalahgunakannya, juga tanpa takut akan kehilangan. Jalan kelepasan membawa Anda kepada dataran tinggi di mana Roh Allah dapat berkarya de-ngan lebih bebas dan dapat memperkaya Anda secara berlimpah-limpah. Inilah jalan menuju Pembaharuan Hidup dalam Roh yang sempurna dan jalan menuju Pengalaman Mistik yang sejati akan Allah.

Bila Anda beruntung dapat mencapai puncak tersebut, Anda akan diperkenankan mengambil bagian dalam pesta yang paling menyegarkan dan yang paling memperkaya, prarasa dari pesta surgawi yang kekal itu sendiri. "Di atas gunung ini hanya ada kehormatan dan kemuliaan Allah saja."  Menurut pandangan banyak ahli hidup rohani, Santo Yohanes dari Salib adalah penulis mistik terbesar sepanjang zaman. Tak seorang pun yang pernah melukiskan dengan kejelasan dan ketelitian yang demikian besarnya, jalan menuju puncak persatuan dengan Allah, serta segala berkat yang menantikannya. Tulisan-tulisannya merupakan laporan otentik tentang perkara-perkara yang demikian luhurnya, sehingga tampaknya seperti khayalan belaka bagi orang yang bersemangat berani menempuh jalan sempit itu. Karena itu, seperti halnya Injil sendiri, tulisan-tulisan Santo Yohanes tetap mempunyai arti yang amat penting dan menantang bagi orang-orang yang berjiwa besar dan mulia sepanjang masa. Apa yang disajikannya kepada kita bukan lain daripada semangat Sabda Bahagia dalam segala kemurniannya. Pada waktu bersamaan ia menyadarkan kita akan martabat dan panggilan kita yang amat luhur. "Satu pikiran manusia lebih berharga daripada seluruh dunia materi ini, dan karenanya hanya Allah saja yang pantas menerimanya." Alam semesta ini diciptakan untuk manusia dan manusia diciptakan untuk Allah. Oleh sebab itu hanya Allah saja yang pantas memiliki dia.


Kerendahan Hati

Kelepasan mempunyai seorang saudari yang bernama kerendahan hati. "Mereka itu adalah dua bersaudari yang tidak terpisah-kan," kata Santa Teresa. "Anda harus memeluknya, mencintainya dan jangan sekali-kali berpisah dari mereka." Kerendahan hati, bersama dengan kelepasan, merupakan disposisi hati yang baik untuk dapat mengasihi lebih banyak dan dengan cara yang lebih baik. Kerendahan hati tidak dapat ada tanpa cintakasih, atau cintakasih tanpa kerendahan hati. Sesungguhnya kerendahan hati adalah putri cintakasih.

"Suatu saat saya sedang berpikir-pikir mengapa Allah begitu mencintai kerendahan hati. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagi saya dan saya mengerti, bahwa Allah adalah Kebenaran dan menjadi rendah hati berarti berjalan dalam kebenaran… Kita harus berjalan dalam kebenaran di dalam segala hal di hadapan Allah dan manusia. Janganlah ingin dipandang lebih baik daripada kenyataannya. Dalam segala hal yang kita perbuat, kita harus me-ngembalikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya, yaitu segala kebaikan dan kebajikan, dan kepada diri sendiri apa yang menjadi milik kita, yaitu segala dosa dan kekurangan. Bila hal itu kita lakukan, kita tidak akan terlalu terpengaruh oleh pandangan dunia ini yang penuh dengan kepalsuan dan kesombongan," tulis Santa Teresa dalam bukunya 'Puri Batin'.

"Pada hemat saya," kata Santa Teresa lagi, "sungguh merupakan karunia yang besar bila Allah mengirim kepada kita satu hari saja yang berisi pengenalan diri sendiri yang rendah hati, biarpun harus dibayar dengan banyak kesusahan dan kegagal-an, daripada banyak hari yang penuh hiburan dalam doa." Kerendahan hati yang sejati berasal dari terang Allah yang diberikan lewat pengalaman kasih Allah. Bila kita berada dalam suatu ruangan gelap, kita tidak dapat melihat segala sesuatu yang ada didalamnya dan mungkin mengira, bahwa ruangan itu kosong. Bila ada terang sedikit mulailah tampak barang-barang yang ada dan bahwa ruangan itu ternyata tidak kosong, tetapi kita tidak melihat kotoran pada lantai atau debu pada meja kursi. Semakin terang cahayanya semakin tampak segala kotorannya, bahkan debu pada meja dan lantai serta sarang labah-labah yang ada disudut kamar. De-mikian halnya dengan jiwa kita. Bila orang berada dan tinggal dalam kegelapan dosa, orang malah mengira, bahwa dirinya bersih. Bila terang Allah mulai menyinari hatinya, dengan segera ia akan melihat bahwa banyaklah barang-barang dalam kamar hatinya, artinya dosa-dosanya, sehingga ia dibawa kepada pertobatan. Kemudian bila ia setia, maka Tuhan mulai memberikan cahaya yang lebih besar, sehingga ia semakin melihat segala cacat celanya. Apa yang semula tidak dilihatnya, yaitu segala macam kotoran dan noda, kini mulai dilihatnya menurut keadaannya yang sesungguhnya. Bila ke-mudian cahaya itu semakin besar, bahkan debu-debu yang lembut pun kelihatan semuanya, padahal semula ia mengira, bahwa semuanya sudah bersih. Itulah sebabnya mengapa para kudus, karena terang yang mereka terima dari Allah, begitu menyadari dirinya lemah dan berdosa, sekaligus terang itu memperlihatkan kepadanya kerahiman Allah yang maha besar, sehingga mereka tidak putus asa, melainkan menjadi rendah hati."

Santa Teresa membandingkan hidup doa dengan permainan catur bersama dengan Sang Raja Surgawi. "Bila kita sering melakukan permainan itu, dengan cepat kita akan tahu, bagaimana menyekak Sang Raja Ilahi! Ia tidak akan dapat keluar dari sekak kita dan Ia pun tidak ingin keluar daripadanya. Dalam permainan ini sang ratulah yang berperanan paling penting, sedangkan yang lain-lainnya hanya membantu dia. Tidak ada ratu lain yang dapat menyekak Sang Raja dengan efektif seperti kerendahan hati."

Suatu contoh tentang kerendahan hati yang memenangkan hati Allah kita jumpai dalam perumpamaan orang parisi dan pemungut cukai yang berdoa di kenisah. Dalam masyarakat Yahudi waktu itu seorang parisi adalah seorang terpandang dalam masyarakat, seorang tokoh masyarakat, sedangkan pemungut cukai dianggap sebagai sampah masyarakat, seorang pendosa besar, sebab ia bukan hanya seorang koruptor, tetapi sekaligus juga kolaborator dengan penjajah Romawi. Orang parisi itu dengan penuh kebanggaan memuji dirinya sendiri tentang segala prestasi yang telah diperbuatnya dan dia tampaknya sangat puas dengan semuanya itu. "Aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan juga bukan seperti pemungut cu-kai ini. Aku berpuasa dua kali se-minggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilan-ku." (Luk. 18: 11-12). Kalau orang mendengar pres-tasinya itu, orang akan manggut-manggut penuh keka-gumam ter-hadap apa yang diperbuatnya, bahkan mungkin akan memberikan ucapan selamat kepadanya. Namun lain sekalilah pernilaian Allah yang Mahatinggi, bahkan Ia memberikan pernilaian yang sebaliknya. Karena itu Santo Lukas memulai perumpamaan itu dengan kalimat berikut: "Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini" (Luk 18-9).

Sementara itu di sudut belakang, pemungut cukai itu ber-diri jauh-jauh. Dengan kerendahan hati yang besar ia mengakui segala dosa-dosanya. Ia sadar, bahwa hidup rohaninya kacau-balau dan ia tahu, bahwa dosa-dosanya banyak sekali. Namun ia juga tahu, bahwa Allah itu maharahim dan mahamurah, sehingga ia berani memanjatkan doanya. Ke-mudian Yesus memberikan komentar dengan nada resmi atas keduanya itu: "Aku berkata kepadamu: Orang ini (pemungut cukai) pulang kerumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang yang lain itu (orang parisi)  tidak." Mengapa demikian? "Sebab barang siapa meninggikan dirinya, akan di-rendahkan dan barang siapa merendahkan dirinya, akan ditinggikan" (a.14).

Berkali-kali dalam Kitab Suci dikatakan, bahwa Allah akan merendahkan yang sombong dan mengangkat yang rendah hati, seperti umpamanya: "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan" (Yes 2:11.17; 5:15). "Barang siapa meninggikan diri, akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, akan ditinggikan." (Mat 23:12). Karena Allah adalah kebenaran, maka Ia membenci kesombongan, sebab pada hakekatnya kesombongan itu adalah dusta dan kerendahan hati adalah kebenaran.

Kerendahan hati memenangkan hati Allah dan dapat memperoleh segalanya dari Dia. Hal ini secara istimewa telah diungkapkan oleh Santa Theresia dari Lisieux: "Yang berkenan kepada Allah ialah, karena Dia melihat, bahwa saya mencintai kekecilan dan kepapaan saya dan bahwa saya meletakkan seluruh harapan saya kepada kerahimanNya." Semakin kita mengakui, bahwa kita ini lemah dan papa, semakin dalam Allah membungkuk kepada kita, untuk melimpahi kita dengan kebaikanNya." Santo Agustinus mengatakan: "Allah lebih memilih kerendahan hati dalam perkara-perkara yang terlaksana dengan tidak baik, daripada kesombongan perkara-perkara yang dilakukan dengan baik." Tampaknya memang aneh, tetapi benar, karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan perbuatan-perbuatan kita, tetapi karena rahmat dan kerahiman Allah. Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang rendah hati. Seperti dikatakan Santo Paulus: "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah." (2 Kor 3:5).

Bagaimanakah kerendahan hati yang sejati itu? Inilah yang dikatakan Santa Teresa: "Ingatlah, bahwa kerendahan hati sebagian besar terdapat dalam kerelaan untuk melakukan apa yang diinginkan Tuhan bagimu, serta meresa bahagia, bahwa Dia akan melakukannya dan selalu menyadari, bahwa engkau tidak layak disebut hambaNya." Selama kita hidup di dunia ini, tidak ada yang lebih penting daripada kerendahan hati untuk mendasari hidup kita. Kerendahan hati harus selalu aktif, seperti lebah yang mengumpulkan madu. Tanpa kerendahan hati, segala-galanya akan hilang.

Bahkan dalam bab terakhir ruangan yang ketujuh dari 'Puri Batin'nya, di mana ia menggambarkan rahmat Allah yang begitu luhurnya, Santa Teresa masih menekankan pentingnya kerendahan hati ini: "Pondamen dari seluruh bangunan ini adalah kerendahan hati, dan Tuhan tidak menginginkan bangunan itu menjadi tinggi, bila tidak ada kerendahan hati sejati. Sesungguhnya demi kebaikanmu sendirilah bahwa bangunan itu tidak tinggi, sebab bila terus naik, semuanya akan runtuh dan roboh berantakan. Karena itu kamu masing-masing harus berusaha menjadi yang terkecil, menjadi hamba saudari-saudarimu, serta berusaha terus-menerus untuk menyenangkan dan melayani saudari-saudarimu. Bila hal itu kamu lakukan, pondamenmu akan menjadi sangat kuat dan Istanamu tidak akan roboh."

Kerendahan hati inilah yang memberikan kepada Santa Theresia dari Lisieux keberanian untuk mengharapkan segalanya dari Tuhan dan Tuhan memang me-menuhi pengharapannya. Dalam suratnya kepada kakaknya Celine ia menulis: "Celine, Tuhan tidak membutuhkan bertahun-tahun untuk melaksanakan karya cintakasih-Nya dalam suatu jiwa. Seberkas pancaran dari hati-Nya dapat membuat bunga-Nya mekar untuk keabadian." Dan kepada seorang misionaris dikatakannya: "Saya merasa, bahwa saya tidak akan pernah siap, jika Tuhan sendiri tidak berkenan mengubah saya. Ia dapat melakukannya dalam sesaat." Kerendahan hati inilah yang telah menaklukan hati Allah: "Yang berkenan kepada Allah ialah, bahwa Ia melihat saya mencintai kekecilan dan kemiskinanku; bahwa saya menaruh harapan buta pada kerahimanNya. Kepercayaan, bukan lain daripada kepercayaanlah yang harus membawa kita kepada Sang Cintakasih." (Kesombongan adalah dusta, sedangkan kerendahan hati adalah kebenaran)