User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Menempuh Jalan yang sempit

Kepada para murid yang mau mengikuti Dia, Yesus bersabda, bahwa mereka harus menempuh jalan yang sempit yang menuju kepada kehidupan. "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan dan sedikit orang yang mendapatinya". (Mat 7:13-14). Dipandang sepintas lalu jalan kehidupan itu memang sempit dan sukar, sedangkan jalan menuju kebinasaan tam-paknya lebar dan menarik. Bila Anda meragukan sabda Tuhan dan menempuh jalan yang lebar itu, yang tampaknya lebih menarik, Anda akan mengalami, bahwa jalan itu makin lama makin menyesakkan, udaranya kotor, dan mengandung gas beracun, membuat hati gelisah dan kuatir, takut, serta melelahkan badan dan jiwa. Semakin jauh dijalani semakin mengerikan, sampai akhirnya binasa. Namun sebaliknya bila Anda berani mempercayai sabda Tuhan dan mengikuti petunjuk-Nya, Anda akan melihat se-suatu yang lain yang tidak dapat Anda lihat sebelumnya. Sewak-tu pertama kali menginjakkan kaki di jalan itu, tampaknya sulit dan berat, namun setelah Anda melangkah maju beberapa saat, Anda akan melihat bahwa jalan itu menuju ke tempat yang in-dah dan segar, serta memberi-kan panorama yang makin lama makin menarik, dengan udara-nya yang segar dan murni, membuat langkah-langkah Anda semakin ringan dan menggembirakan hati Anda.

Memang Tuhan menuntut banyak, karena Ia mau memberikan banyak kepada kita, sedangkan kita tidak akan mampu menerimanya bila kita tidak melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang ada. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan akan memiliki semangat yang radikal, yang total. Dengan gembira ia mau melepaskan segala sesuatu untuk memiliki yang lebih ber-harga. Ia itu "seumpama orang yang menemukan harta di ladang. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu." (Mat 13:44). Mengapa orang itu dengan sukacita menjual seluruh miliknya? Sebab bukan lain karena ia tahu nilai harta terpendam itu yang jauh lebih besar dari segala miliknya. Demikian pula kita dengan rela dan gembira akan melepaskan segala sesuatu, bila kita menyadari, bahwa yang ditawarkan Tuhan kepada kita itu nilainya jauh melebihi apa yang harus kita lepaskan.

Secara istimewa para martir mengerti hal itu, sehingga mere-ka dengan gembira melepaskan segala-galanya, bahkan hidupnya sendiri. Mereka menyadari, bahwa kasih dan pengenalan akan Allah jauh lebih berharga dari semua yang dapat mereka miliki di dunia ini. Mereka itu berani menghayati Injil secara utuh, secara radikal, karena mereka menyadari nilainya yang tidak terkatakan. Demikian pula seorang seperti Santo Yohanes dari Salib mau melepaskan segala sesuatu, karena ia melihat bahwa pengenalan akan Allah dan cintakasih Allah jauh me-lampaui segala sesuatu di dunia ini. Setelah menempuh sendiri jalan itu dan setelah sampai di puncaknya, dia mau meyakinkan kita untuk menempuh jalan itu dan menunjukkan jalan yang membawa ke puncak, di mana di sediakan oleh Allah segala berkat rohani yang melimpah-limpah.

 

Tiga Jalan Menuju ke Puncak Gunung Allah

Dalam bukunya Mendaki Gunung Karmel, Santo Yohanes dari Salib melukiskan tiga buah jalan untuk mendaki gunung kesempurnaan. Di sebelah kanan Anda tampak sebuah jalan yang lebar dan mudah, tampaknya memang sangat menarik dan memikat. Tetapi bila Anda mencoba mendakinya, akhirnya dengan menyesal Anda harus mengakui, bahwa Anda salah jalan, bahwa itu adalah jalan buntu. Berkat Allah yang Anda cari tidak diketemukan di situ, sebaliknya yang akan Anda jumpai justru hanyalah kekeringan, kekosongan, kekecewaan, ­kekuatiran dan ketakutan. Itulah jalan kelekatan pada barang-barang duniawi ini. Setiap orang yang menempuh jalan itu akhirnya harus mengakui: "Saya telah salah jalan. Semakin saya mengejar barang-barang itu, semakin kosong hatiku, belum lagi segala kekuatiran dan ketakutan yang harus saya alami."

Di sebelah kiri terdapat pula jalan yang lain yang tampaknya juga menarik dan mudah. Inilah hal kelekatan kepada barang-barang rohani seperti hiburan rohani, perasaan indah-indah, devosi yang bisa dirasakan, yang mengharukan, karunia-karunia luar biasa, penglihatan, sabda-sabda dan karunia rohani lainnya. Arah jalan itu memang tidak keliru, tetapi bila Anda mengikutinya, Anda tidak akan pernah sampai di puncak. Jalan itu terus-menerus berputar-putar di kaki bukit dan karenanya Anda tidak akan pernah sampai di puncak yang maha-indah itu. Siapa menempuh jalan itu akhirnya harus pula meng-akui: "Sudah banyak tenaga dan waktu kuhabiskan, namun sedikit sekali yang kuperoleh. Semakin aku mengejar, semakin sedikit yang kuperoleh dan ternyata sayapun masih berada di kaki bukit, masih sangat jauh dari puncaknya."

Tepat di depan Anda terdapat sebuah jalan lain yang sempit dan tampaknya curam, serta kelihatannya sukar didaki. Jalan itu sungguh menantang, karena lurus dan langsung menuju ke puncak gunung Tuhan. Inilah jalan penyangkalan diri dan kelepasan. Disepanjang jalan tertulis: "Kosong, kosong, kosong… Supaya dapat memiliki segala sesuatu, jangan ingin memiliki apa pun. Supaya dapat menjadi segala, berusahalah menjadi bukan apa-apa. Supaya dapat menjadi yang terbesar, berusahalah menjadi yang terkecil. Bila Anda berhenti pada sesuatu, Anda tidak lagi mengarahkan pandangan kepada Yang-segala, Allah Sang Pencipta."

Sebenarnya tidaklah keliru bila kita memiliki barang-barang dunia ini serta memakainya. Sesungguhnya selama kita hidup di dunia ini, kita selalu membutuhkan barang-barang dunia ini dalam jumlah tertentu. Demikian pula untuk pelayanan kita kepada umat Allah, kita membutuhkan karunia-karunia rohani, seperti yang dikatakan Santo Paulus (bdk. 1Kor. 14:1). Namun hal itu menjadi keliru, bila Anda melekat pada barang-barang duniawi itu secara egois dan posesif. Seperti halnya bajing itu tidak dapat maju selama masih terikat pada barang-barang itu. Karena itu kita harus memiliki sikap hati seperti yang dikatakan Santo Paulus itu, "Waktunya sudah singkat: siapa yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli" (1Kor. 7:30). Anda dirugikan bukan karena Anda memiliki sesuatu, tetapi karena melalui kelekatan itu Anda dimiliki atau dikuasai oleh sesuatu, sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lepas darinya, atau tidak mau lepas darinya. Karena itu Anda kehilangan kebebasan hati serta energi untuk mendaki lebih tinggi, padahal jalan yang harus ditempuh masih jauh...

Pembaruan Karismatik yang ada dalam Gereja dewasa ini adalah karya Allah. Namun cara banyak orang menanggapi serta menghayatinya, bukanlah karya Tuhan. Banyak dari antara mereka itu yang tidak menempuh jalan kelepasan dan kerendahan hati, sebaliknya banyak yang memanipulasi karunia-karunia Allah untuk kemuliaan sendiri, sehingga mereka menjadi terikat olehnya. Itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang telah nyata-nyata tersentuh oleh rahmat Allah, sama sekali tidak berkembang, bahkan, dan ini yang paling menyedihkan, akhirnya kembali lagi kepada hidupnya yang lama. Tidak sedikit yang menya-lahgunakan karunia-karunia Allah untuk kepentingan diri sendiri. Yang lain lagi, walaupun tidak sampai jatuh kembali ke dalam lumpur hidupnya yang lama, namun toh tidak berkembang dan menjadi suam-suam kuku, kehilangan kesegaran dan kegembiraannya yang semula. Mereka itu mengikuti jalan yang lebar dan mudah, yaitu jalan kelekatan pada barang-barang rohani.

Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes tentang orang-orang pada zamannya, demikian pula kenyataannya dewasa ini: "Dari pengamatan saya, Yesus Kristus sedikit sekali dikenal oleh mereka yang menyebut dirinya sahabat-sahabat-Nya. Karena cinta dirinya yang besar mereka mencari dalam diri Yesus penghiburan dan kepuasannya sendiri. Beberapa orang sudah merasa puas dengan suatu tingkat kebajikan tertentu saja, dengan ketekunan dalam doa dan penyangkalan diri, kemiskinan dan kemurnian rohani tertentu yang dikehendaki Allah dalam diri mereka. Mereka menyangka, bahwa kelepasan dalam perkara-perkara duniawi sudahlah cukup, tanpa pengosongan dan kelepasan dari kepemilikan barang-barang rohani".

Karena dosa asal yang diwarisinya, manusia cenderung untuk egois dan mencari kepentingan diri sendiri. Karena itu perlulah kita selalu menyangkal diri. Kita butuh pertobatan yang radikal, yaitu meninggalkan diri sendiri dan berpaling kepada Allah. Kalau kita tidak melakukan ini, pastilah kita jatuh ke dalam pencarian diri sendiri, bahkan dalam mempergunakan karunia-karunia Roh yang lebih tinggi. Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai sahabat Yesus, tapi masih kejangkitan penyakit egoisme dan sikap posesif, bahkan di antara mereka yang begitu giat dalam pelayanan dan anggota-anggota tim pelayanan. Banyak yang mencari penghiburan Allah, dan bukannya Allah Sang Pengibur sendiri. Mereka mencari Allah hanya demi hiburan-Nya, bukan karena cinta kepada Allah. Banyak pula yang lekat pada karunia-karunia Allah, tetapi hatinya tidak melekat pada Allah sebagai sumber dan pemberi segala karunia. Karena itu tidak jarang terjadi, bahwa bila mereka mengalami tantangan sedikit saja, mereka menjadi putus asa.

Rupanya memang sedikit yang memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk menempuh jalan yang sempit itu, entah karena kurang tahu akan hal itu, entah karena tidak memiliki keberanian untuk mendakinya, sungguh sayang. Tetapi inilah satu-satunya jalan yang membawa kepada persatuan yang sempurna dengan Allah, satu-satunya jalan yang benar-benar menghantar ke puncak gunung tempat Allah bersemayam, Allah yang menantikan kita dengan penuh kerinduan. Bila kita berani melangkahkan kaki pada jalan itu dan bertekun di dalamnya, maka kita akan meng-alami apa yang dikatakan Santo Yohanes dari Salib, "Karena aku tidak melekat pada apapun, aku tidak kekurangan sesuatupun. Karena aku tidak menginginkan apapun kecuali Allah sendiri, segalanya diberikan kepadaku, tetapi tanpa kelekatan. Karena aku tidak mengejarnya lagi, maka aku memperolehnya tanpa mencarinya."

Jalan yang sempit dan lurus itu tampaknya memang terjal dan sulit, namun bila Anda menguatkan hati dan mengambil keputusan untuk melangkahkan kaki ke jalan itu, maka akan ternyata, bahwa jalan itu makin lama makin lebar dan makin menyenangkan daripada kedua jalan yang lainnya itu. Semakin Anda mendaki lebih tinggi, semakin nyata, bahwa di situ tidak ada pembatasan-pembatasan yang menghalangi kebebasanAnda untuk bergerak. Santo Yohanes dari Salib menerangkan, bahwa di atas gunung itu, "…sudah tidak ada jalan, karena bagi orang yang benar tidak ada lagi hukum yang membatasi." Di puncak yang mahaindah itu hidup Anda seluruhnya berada dalam kuasa Roh Kudus. Karena itu, jalan penyangkalan diri dan kelepasan memberikan kepada Anda kebebasan untuk memiliki barang-barang ciptaan ini tanpa terikat olehnya dan tanpa me-nyalahgunakannya, juga tanpa takut akan kehilangan. Jalan kelepasan membawa Anda kepada dataran tinggi di mana Roh Allah dapat berkarya de-ngan lebih bebas dan dapat memperkaya Anda secara berlimpah-limpah. Inilah jalan menuju Pembaharuan Hidup dalam Roh yang sempurna dan jalan menuju Pengalaman Mistik yang sejati akan Allah.

Bila Anda beruntung dapat mencapai puncak tersebut, Anda akan diperkenankan mengambil bagian dalam pesta yang paling menyegarkan dan yang paling memperkaya, prarasa dari pesta surgawi yang kekal itu sendiri. "Di atas gunung ini hanya ada kehormatan dan kemuliaan Allah saja."  Menurut pandangan banyak ahli hidup rohani, Santo Yohanes dari Salib adalah penulis mistik terbesar sepanjang zaman. Tak seorang pun yang pernah melukiskan dengan kejelasan dan ketelitian yang demikian besarnya, jalan menuju puncak persatuan dengan Allah, serta segala berkat yang menantikannya. Tulisan-tulisannya merupakan laporan otentik tentang perkara-perkara yang demikian luhurnya, sehingga tampaknya seperti khayalan belaka bagi orang yang bersemangat berani menempuh jalan sempit itu. Karena itu, seperti halnya Injil sendiri, tulisan-tulisan Santo Yohanes tetap mempunyai arti yang amat penting dan menantang bagi orang-orang yang berjiwa besar dan mulia sepanjang masa. Apa yang disajikannya kepada kita bukan lain daripada semangat Sabda Bahagia dalam segala kemurniannya. Pada waktu bersamaan ia menyadarkan kita akan martabat dan panggilan kita yang amat luhur. "Satu pikiran manusia lebih berharga daripada seluruh dunia materi ini, dan karenanya hanya Allah saja yang pantas menerimanya." Alam semesta ini diciptakan untuk manusia dan manusia diciptakan untuk Allah. Oleh sebab itu hanya Allah saja yang pantas memiliki dia.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting