User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Cinta Sensual Dan Kasih Ilahi

Sebenarnya tidak ada pertentangan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama, bahkan keduannya tidak dapat dipisahkan. Seperti sudah dikatakan di atas, bukti bahwa kita benar-benar mengasihi Allah ialah kasih kita kepada sesama. Tetapi ada pertentangan antara mencintai secara egois, sensual, dengan mencintai secara kristiani yaitu mencintai dengan kasih yang disebut ‘agape’. Dalam diri manusia biasanya ada dua jenis cinta: Yang pertama ialah cinta sensual atau egois, yang berpusat pada diri sendiri. Yang kedua adalah cinta ilahi (=kasih ilahi, agape), yang merupakan buah Roh Kudus yang diam di dalam diri kita. Karena itu perjuangan kita adalah menghilangkan yang pertama, serta membiarkan yang lain tumbuh. Semakin tumbuh kasih ilahi itu di dalam diri seseorang, semakin berkembanglah ia dalam kesucian atau kekudusan. Karena itu orang suci ialah orang yang memiliki kasih ilahi yang besar sekali.

Di bawah ini akan kita perbandingkan antara cinta sensual dengan kasih ilahi, sehingga kita akan dapat melihat perbedaannya dengan jelas:

  • Cinta sensual bersifat egois, cari diri sendiri, berpusat pada diri sendiri, cari keupasan diri sendiri: “Apa yang bisa kuperoleh dari dia, dari sini?” Bahkan dalam bidang religius dan keagamaan sama saja. Sedangkan, kasih ilahi melupakan diri sendiri, memberi diri sendiri penuh belas kasihan, perkasa seperti orang Samaria (Luk 10:29-37). Lebih suka memberi daripada menerima, juga dalam hubungannya dengan Tuhan.
  • Cinta sensual itu sombong, cari kehormatan, pujian dan nama, seperti orang-orang Farisi. Sedangkan, kasih ilahi mendahulukan orang lain, lebih memikirkan kepentingan orang lain, seperti Sang Guru Ilahi membasuh kaki para muridNya.
  • Cinta sensual bersifat negatif dalam sikapnya terhadap orang lain. Berusaha membangun diri sendiri dengan mengurbakan orang lain, suka mengkritik dan bergosip, mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Sedangkan, kasih ilahi bersifat positif dan setia. Menghargai apa yang baik dalam diri orang lain, membela nama baiknya. Bersifat kreatif dan mengembang kreativitas salam diri orang lain. Mendorong orang lain supaya mempergunakan talenta dan karismanya.
  • Cinta sensual bersifat kaku, mudah jengkel, lemah. Mau mengubah orang lain supaya cocok dengan kebutuhannya. Jika orang jadi beban baginya, maka ia akan dibuangnya. Sedangkan, kasih ilahi itu penuh pengertian, sabar, kuat, rela menanggung beban (Gal 6:2). Tidak putus asa karena beban, sebab ia percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1Kor 13:7).
  • Cinta sensual suka menuntut balas dan menyimpan kesalahan orang salam hati, sering meratapi diri dan membiarkan luka hatinya terbuka. Ia cepat menjadi pahit dan dengan demikian membuka pintu untuk dendam dan kebencian. Sedangkan, kasih ilahi itu murah hati, rela mengampuni dan menyembuhkan. Bila mengampuni, ia melupakan dan tidak menjadi pahit karena penderitaan dan percobaan, bahkan sebaliknya ia bersukacita dan memuliakan Allah karenanya (1Ptr 4:12-16).

Santa Teresa berkata,

Bila salah seorang di antara kamu menjadi marah kepada saudarnya karena suatu kata, persoalan itu harus segera diselesaikan dan kamu harus berdoa secara serius. Demikian pula kalau omelan, klik-klikan, atau keinginan untuk menjadi paing besar, atau suatu hal yang berhubungan dengan kehormatan. Pada hemat saya ini suatu malapetaka dalam suatu komunitas. Bila hal itu terjadi  pada dirimu, anggaplah ddirimu sudah kalah, karena engkau telah mengusir Sang Sahabat Ilahi dari tempat kediamanNya sendiri. Menangislah keras-keras kepada Tuhan dan luruskanlah persoalannya.Mengertikah kamu sekarang, mengapa para kudus bersukacita dihina dan dianiaya? Sebabnya ialah karena hal itu mmberikan kepada mereka sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan bila mereka berdoa kepadaNya, Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Apa yang dapat dilakukan seorang makhluk yang papa seperti kita ini, karena sedikit saja pengampunan yang harus kita berikan, tetapi banyak sekali pengampunan yang kita terima dari Allah? Allah telah mengampuni dosa-dosa kita yang patut diganjar dengan api kekal. Karena itu bukankah kita mengampuni hal-hal kecil yang diperbuat orang terhadap kita?orang-orang yang dikaruniai Tuhan dengan kontemplasi sejati harus menanggung banyak percobaan. Siapa yang telah diberikan Kerajaan Allah, tidak menginginkan kerajaan dunia ini, karena dari pengalaman mereka tahu, betapa banyaknya keuntungan yang mereka terima bila boleh menderita demi Tuhan. Orang-orang itu tela belajar menghargai segala sesuatu dengan nilainya yang sesungguhnya. Karena itu mereka tidak terlalu memperhatikan perkara-perkara yang akan berlalu. Penghinaan besar atau percobaan mungkin akan menyebabkan stres sebentar, tetapi imannya akan segera mengusir stres tadi karena mereka melihat bahwa Tuha telam memberikan kepada mereka suat kesempatan untuk memperoleh harta abadi lebih banyak dalam satu hari daripada yang dapat mereka peroleh selama sepuluh tahun dengan matiraga yang mereka pilih sendiri.”

Tahukah anda, mengapa Allah memberikan begitu banyak karunia kepada sahabat-sahabatnya di dunia ini? Yang pasti bukan untuk menyenangkan mereka begitu saja. Karunia-karunia tersebut diberikan kepada kita untuk menguatkan kelemahan kita, sehingga kita mampu meneladan PuteraNya dalam penderitaanNya. Tuhan tidak dapat memberika sesuatu yang lebih besar dan mulia kepada kita, selain hidup seperti yang dihayati oleh PuteraNya terkasih sendiri. Karena itu mereka yang berjalan paling mesra dengan Dia, juga harus menanggung percobaan yang paling mesra. Ingat saja akan Bunda Maria dan pada rasul. Menurut pendapat Anda, bagaimanakah Santo Paulus dapat menanggung sekian banyak penderitaan itu? Dalam hidupnya itu dapat kita lihat buah kontemplasi dan visiun yang sejati yang datang dari Allah dan bukannya hasil khayalan atau tipu muslihat si jahat.

Cinta sensual memecah belah, menyebabkan perpecahan dan pertengkaran. Mudah iri hati, dengki dan tidak senang dengan keberhasilan orang lain. Sedangkan, kasih ilahi adalah kekuatan yang mempersatukan, demikian pula orang-orang yang dijiwai kasih ilahi. Karena itu dalam satu komunitas kita harus saling bersahabat, saling mengasihi dan saling menolong. Lebih-lebih bagi mereka yang dipanggil untuk pelayanan syafaat, persatuan itu mahapenting. Bila di dunia ini kita sepakat tentang sesuatu hal, permohonan kita akan dikabilkan Bapa di surga(Mat 18:19)

Ekaristi adalah ungkapan terbesar dari kasih Allah bagi kita serta tanda persatuan kita. Seperti yang dikatakan dalam Konsili Vatikan II, tidak ada komunitas yang dapat dibangun jika tidak didasarkan dan berpusat pada Ekaristi.

Cinta sensual suka berkhayal dan tidak seimbang, suka hidup dalam dunia fantasi dan tidak menjadi kenyataan. Mudah sekali orang berkhayal, bahwa dia memiliki cinta kemanusiaan terhadap orang-orang yang jauh darinya, tetapi bersikap acuh tak acuh terhadap yang hidup bersama dia. Si Iblis sering menggoda orang dengan keinginan yang ambisius, sehingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan nyata yang dapat dijangkaunya. Ia akhirnya menjadi puas hanya dengan khayalan-khayalan yang mustahil.

Sebaliknya kasih ilahi bersifat realistik, mulai di rumah sendiri dan menyatakan diri dengan pelbagai macam cara dalam perkara-perkara kecil kehidupan sehari-hari. Denga melakukan pekerjaan-pekerjaan nyara dengan penuh tanggung jawab dan dengan senang hati, orang membuktikan betapa banyaknya yang dapat dilakukannya bagi Tuhan. Bila orang melakukan apa yang dapat diperbuatnya, Tuhan akan membantunya, sehingga makin hari kemampuannya akan menjadi semakin besar.

Supaya dapat berkembang dalam doa dan persatuan dengan Allah, kita membutuhkan keheningan batin dan damai. Untuk tujuan itulah kita harus menguasai fantasi kita serta kecenderungan untuk melamun dan berkhayal. Setelah segala nafsu dan keinginan ditenangkan dan menjadi hening, Allah dapat berkarya dengan bebas dalam diri kita.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting