header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Syarat-syarat Doa

User Rating:  / 14
PoorBest 

Membangun Pondasi

Bila seseorang mau menanam sebuah pohonia harus lebih dahulu menyelidiki, apakah kondisi tanah dan iklimnya cocok untuk tanaman tersebut. Karena itu bila seseorang menanam sebuah pohon di padang gurun yang kering dan gersang, yang tidak berair, pastilah ia akan ditertawakan orang. Tidak ada pohon yang dapat tumbuh di sana. Untuk itu dibutuhkan kondisi tanah serta iklim yang cocok supaya pohon dapat tumbuh.

Demikian pula Misteri Kehadiran Allah serta jawabannya, yaitu doa, tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa syarat-syarat tertentu. Dewasa ini banyak orang yang mencari Allah dalam kelompok-kelompok New Age, semacam gerakan kebatinan yang banyak berkembang di Amerika Serikat. Banyak diantaranya orang-orang yang terluka dalam keluarganya. Banyak pula yang mencari pengalaman doa dalam kelompok tertentu tetapi tanpa pertobatan. Itu semua sama dengan menanam pohon di padang gurun yang kering kerontang. Lebih celaka lagi banyak anak muda yang mencari suatu pengalaman rohani dan religius lewat seks, ganja, morfin, ecstasy, dan akhir-akhir ini lewat putaw, karena mereka mengira, bahwa dengan jalan ‘fly’ mereka dapat menemukan kebahagiaan lewat pengalaman tersebut, yang pada akhirnya malah menjerumuskan mereka ke dalam jurang kebinasaan. Mereka semua mencari pengalaman yang dapat memberi arti bagi hidup mereka, tetapi sayang semuanya itu palsu belaka. Bukannya dapat memuaskan kerinduan hati mereka yang terdalam, malahan semakin melukai mereka.

Kontemplatif-kontemplatif (pendoa-pendoa) besar seperti Santa Teresa Avila dan Yohanes Salib, sangat dekat dengan Allah dan karenanya sangat dekat dengan realias hidup, khususnya kehidupan dalam Roh. Persahabatan dengan Allah, yang merupakan inti  kehidupan dalam Roh, menuntut adanya pertobatan dan pemurnian terus-menerus. Hidup doa yang sejati mustahil dapat berkembang tanpa sayrat-syarat tertentu. Kemesraan dengan Allah menuntut kebajikan-kebajikan kristiani. Sana teresa bukan seorang yang suka melamun, tetapi seorang realis yang dibimbing Roh Kudus. Ia tahu apa yang harus didahulukan sebagai persyaratan untuk hidup dalam kemesraan Allah.

Jika  seseorang mau membangun sebuah gedung, ia harus lebih dahulu membangun pondasinya. Semakin besar dan tinggi gedung itu, semakin dalam dan kuat pondasi yang dibutukan supaya dapat tetap tegak berdiri. Karena itu jika orang ingin memiliki hubungan yang mesra dengan Allah, ia mempraktekkan kebajikan-kebajikan krisriani lebih dahulu. Dalam bukunya: Jalan Kesempurnaan, ketika Santa Teresa mau  menguraikan tentang hidup doa, ia lebih dahulu membicarakan syarat-syarat doa yang sejati, yaitu  cinta kasih, kelepasan, dan kerendahan hati. Ketiga kebajikan ini berhubungan erat satu sma lain. Tanpa itu orang tidak mungkin dapat menjadi pendoa yang sejati. Tanpa itu orang hanya dapat berkhayal saja.

Sebaliknya dengan adanya ketiga kebajikan tersebut, walaupun mungkin orang tidak dipanggil dalam kontemplasi, bentuk doa yang mendalam, ia akan berkembang pesat dalam hubngannya dengan Allah. Pada dasarnya penghayatan ketiga kebajikan tersebut mencptakan iklim dan kondisi yang baik untuk berkembangnya hidup doa dan kontemplasi. Sebaliknya hidup doa yang baik, yang otentik memungkinkan perkembangan kebajikan-kebajikan.

Cintakasih

Dalam suratnya yang pertama Santo Yohanes menulis, bahwa “Allah adalah kasih…barang siapa tinggal dalam kasih, tinggal dalam Allah dan Allah tinggal dalam dia” (1Yoh 4:16). Namun apakah yang disebut kasih itu? Kasih sebenarnya bukan lain adalah persahabatan antara Allah dan manusia.  Persahabatan tersebut terdapat dalam suatu bentuk pergaulan yang mesra dengan Allah, yang dimulai di dunia dan disempurnakan dalam hidup yang akan datang di surga. Karena itu kasih bukanlah mncintai Allah dari jauh, atau melakukan beberapa hal bagi Allah. Kasih mengandung suau hubungan pribadi. Kasih merupakan suatu persahabatan yang mesra dan suatu persekutuan hidup yang mengandung suatu percakapan yang familiar dengan Allah,

Karena itu pula Santa Teresa Avila mengatakan, bahwa doa batin bukan lain daripada suau persahabatan yang mesra dengan Allah, suatu percakapan dari hati ke hati dengan Allah. Sebenarnya doa dan kasih adalah sua sisi dari satu mata uang yang sama, dua cara melihat satu misteri yang sama. Karena itu tanpa kasih tidak ada doa yang sejati dan sebaliknya tanpa doa, kasih yang sejati tidak dapat berkembang.    

Inti kekudusan adalah persatuan cintakasih dengan Allah, dimana kita menjadi satu dengan Allah, hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah. Doa dan cintakasih adalah jalannya dan sekaligus tolak ukurnya. Karena itu pertumbuhan dalam kekudusan sejajar dengan pertumbuhan dalam doa dan cintakasih. Semuanya ini adalah karnya Roh Kudus dari awal sampai akhir. Roh Kudus-lah yang mencurahkan dalam hati kita (Rom 5:5), sehingga kita dijadikan mampu untuk mengasihi. Demikian pula ia membantu kita dalam kelemahan kita, karena kita tidak tahu apa yang harus kita katakan dalam doa, namun Ia berdoa untuk kita (Rom :26).

Kasih merupakan suatu kebajikan penuh kuasa yang berasal dari Roh Kudus yang hadir dalam lubuk jiwa kita. Kasih yang sama itu diarahkan kepada Allah (kasih teologal) dan kepada sesama kita (kasih persaudaraan). Kasih persaudaraan adalah bukti tentang adanya kasih kepada Allah dan sekaligus juga ukuran kasih kita kepada Allah. Kita tidak dapat tahu dengan pasti, apakah kita mengasihi Alla, tetapi kita dapat tahu, apakah kita mengasihi sesama kita (bdk. 1Yoh 4:20). “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan mentaati segala perintahKu. Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 14:15;15:12). Karena itu bila kita tinggal dalam Kristus kita mampu mengasihi dengan benar.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting