Print
Hits: 595

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia baru saja kita rayakan pada hari Natal. Namun peristiwa besar ini bukanlah akhir dari segala-galanya. Ada sebuah rangkaian peristiwa yang menunjukkan campur tangan Tuhan yang luar biasa untuk manusia. Kita memulainya dari kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Apa tujuan Tuhan Yesus, Putra Allah yang mahatinggi datang ke dunia? Para Bapa Gereja menyatakan bahwa Anak Allah telah datang ke dunia supaya kita semua dijadikan anak-anak Allah. Rahmat Tuhan yang luar biasa inilah yang harus kita sadari, yaitu menyadari menjadi anak-anak Allah. Kita semua yang percaya kepada nama Yesus, tidak terkecuali oleh rahmat Tuhan telah dijadikan anak-anak Allah. Ini merupakan suatu karunia yang luar biasa. Kadang-kadang orang dalam hidupnya membanggakan, “Aku ini anak bupati”. Yang lain mengatakan, ”aku anak gubernur”, yang lain lagi mengatakan, “Aku anak menteri”, lalu bagaimana dengan kita? Kenyataannya kita memang adalah anak-anak Allah dan kedudukannya lebih tinggi nilainya dari semua yang ada di dunia ini.

St. Paulus mengatakan, ”Kalau kita anak maka kita juga menjadi ahli waris bersama Yesus” (Rm 8:16-17a). Menjadi ahIi waris berarti menerima warisan yang sama seperti Yesus. Yesus telah menerima segalanya dari Bapa. Dalam Injil Yohanes dikatakan, ”Dari kepenuhannya kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:16). Ini mau mengatakan bahwa kita mengambil bagian dari kasih karunia itu. Artinya, Yesus yang memiliki kepenuhan rahmat Allah membagikannya kepada kita sehingga kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri. Itu merupakan sesuatu yang luar biasa!

Namun secara konkrit bagaimana kita dapat menjadi anak-anak Allah? Dalam Injil Yohanes 3:16 dikatakan, “Demikian besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.” Dunia ini dimaksudkan semua manusia dan dianugerahkan hidup yang kekal kepada mereka yang percaya kepada Yesus yang diutus Bapa. Hidup yang diberikan kepada manusia bukan terbatas pada dunia ini saja, melainkan membuat manusia itu tidak binasa karena yang diperolehnya adalah sebuah kehidupan yang kekal.

Zaman ini ditandai dengan pengaruh-pengaruh budaya Barat yang sangat kuat, salah satunya sekularisme. Berpuluh tahun yang lalu dunia pernah diganggu oleh komunisme paxisme yang tidak percaya apa-apa. Sekarang ini sekularisme memberikan pengaruh kepada dunia yang tidak kalah jahatnya. Walaupun tidak mengakui komunisme, tetapi intinya sama saja. Setali tiga uang! Mereka membuang keberadaaan Allah. Sekularisme yang sekarang ada di negara Barat meng-ekspor dirinya ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Aliran ini mengatakan bahwa realitas yang ada yaitu yang hanya bisa kita raba dengan tangan, bisa kita lihat dengan mata, bisa kita dengar dengan telinga yang jasmani, bisa dipikirkan oleh otak kita yang terbatas. Akibatnya seluruh hidup manusia diarahkan untuk mencari kebahagiaan, kekayaan, kenikmatan, nama, kemasyuran dan lain sebagainya semata-mata hanya di dunia ini. Bila semua itu sudah diperoleh manusia, selanjutnya apa yang akan dilakukan manusia? Tidak ada! Manusia meninggalkan Tuhan dalam hidupnya dan semakin mereka meninggalkan Tuhan, dunia menjadi semakin kacau dan bahaya-bahaya besar mengancam.

Kerusakan-kerusakan alam yang terjadi di bumi ini disebabkan oleh keserakahan manusia. Lapisan-lapisan ozon sudah banyak yang berlubang, sehingga terjadi pemanasan global. Bila hal ini terus berlangsung, banyak pulau dan kota yang beberapa tahun lagi akan tenggelam. Ketika melakukan perjalanan ke Kalimantan beberapa tahun yang lalu, saya melewati jalan di pinggiran pantai dari Singkawang ke Pontianak. Di sana saya melihat bekas yang dulunya jalan sekarang digenangi laut. Menurut perkiraan akan terus terjadi demikian. Akibatnya macam-macam penyakit akan menimpa umat manusia, karena keserakahan dirinya. Mereka ingin menikmati dunia ini sepuas-puasnya dan melupakan Tuhanaaakan. Dengan demikian manusia mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri. Selain itu, kita melihat peperangan terjadi silih berganti, tiada hentinya. Begitu pula terorisme yang semakin menjadi-jadi di mana-mana. Hal tersebut terjadi karena manusia telah meninggalkan Tuhan. Manusia ingin hidup lepas dari Tuhan. Oleh karena itu, jalan untuk menerima kehidupan ilahi adalah pertama-tama percaya kepada Yesus, dan kedua, dengan percaya kita dapat hidup menurut apa yang dikehendaki  Yesus  yaitu hidup menurut firman Tuhan sendiri.

Yesus datang ke dunia bukan hanya menunjukkan jalan kepada kita, melainkan Dia sendiri adalah jalan. Yesus adalah jalan bagi keselamatan manusia. Karena itu, siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan diselamatkan. Melalui Dia, kita dapat mencapai tujuan hidup kita. Bila menyadari bahwa kita semua tanpa terkecuali diciptakan menurut gambar dan kesamaan Allah, maka kita sesungguhnya sudah terarah kepada tujuan hidup kita itu sendiri. Manusia dari dirinya sendiri sebetulnya diarahkan kepada Allah, kepada yang tidak terbatas. Karena itu, manusia tidak akan pernah dapat berbahagia atau puas dengan apa yang dapat diberikan oleh dunia ini saja.

Ada pelbagai sarana yang ada bagi manusia untuk menuju kepada Allah, untuk mengenal Dia dan mencintai Dia. Tetapi sarana janganlah dijadikan tujuan. Kalau sarana dijadikan tujuan celakalah kita, celakalah dunia! Mengapa demikian? Karena manusia akan melupakan Tuhan dengan menggunakan apa yang diberikan Tuhan itu seolah-olah sebagai tujuan hidupnya.

Setelah datang ke dunia, Yesus dibaptis. Yohanes Pembaptis mengatakan lebih dahulu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada-Ku akan datang dan Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Dia itulah Yesus. Pembaptisan yang dilakukan Yohanes Pembaptis hanya sebagai tanda pertobatan. Sedangkan pembaptisan yang dilakukan Yesus dan sampai sekarang diteruskan dalam Gereja yang didirikan-Nya tidak hanya membawa kepada pertobatan. Setelah bertobat, ia dibaptis dan melalui pembaptisan itu, manusia menerima hidup ilahi. Gereja mengajarkan bahwa hidup ilahi itu merupakan rahmat pengudus. Rahmat ini diberikan kepada kita bukan karena jasa-jasa kita, bukan pula karena kita pantas atau layak karena tidak seorang pun yang pantas atau layak, melainkan diberikan semata-mata karena kebaikan, kemurahan, dan kerahiman Allah sendiri. Rahmat ini diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Jadi lewat pembaptisan kita menerima hidup ilahi.

Hidup ilahi yang ada di dalam diri kita itu adalah benih hidup yang kekal, benih kehidupan surgawi kita. Surga merupakan kerinduan dan tujuan hidup kita sebab kita semua yang ada di sini suatu saat akan menghadap Tuhan dengan meninggalkan dunia ini. Betapapun hebatnya manusia, suatu saat harus meninggalkan dunia ini. Dalam Mazmur dikatakan bahwa batas umur manusia itu 70 tahun, kalau kuat 80. Bahkan banyak yang tidak mencapai 70. Kalau kuat 80, itu pun dengan banyak sakit dan derita. Tetapi bagi orang beriman, khususnya orang Katolik, kita mempunyai keyakinan seperti yang dikatakan dalam Kitab Kebijaksanaan yang dikutip dalam prefasi untuk arwah dikatakan: “Bagi orang beriman hidup tidak berhenti tapi hidup berubah.”

Seratus tahun yang akan datang kita berada di mana? Di sinilah letaknya pengharapan kristiani. Kita percaya bahwa hidup manusia tidak berakhir, tetapi berubah. Bila pengembaraan manusia di dunia ini sudah berakhir, tersedia bagi manusia sebuah kehidupan kekal di rumah Allah. Tentu saja kita akan memperolehnya bila mau mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Yesus. Yesus sendiri mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu mengenal Allah satu-satunya yang benar dan mengenal Yesus Kristus. Hidup yang kekal ini berarti hidup bersatu dengan Bapa, dengan Yesus sendiri.

Lalu bagaimana secara konkrit kita dapat memperkembangkan hidup ilahi dalam diri kita? Hidup ilahi sebetulnya bukan lain yang disebut juga rahmat pengudus, yang bukan lain daripada kasih Allah sendiri yang telah dicurahkan dalam diri kita. Maka Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma mengatakan, ”Pengharapan tidak mengecewakan karena kasih karunia Allah telah dicurahkan ke dalam diri kita.” Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam diri kita. Kasih yang telah dicurahkan ini perlu kita kembangkan. Bagaimana mengembangkan kasih Allah? Sesungguhnya kebahagiaan manusia yang terbesar ada dalam kasih. Semakin seseorang memiliki kasih semakin ia berbahagia. Sebaliknya iblis di neraka itu sengsara karena tidak memiliki kasih di dalam dirinya. Meskipun sesungguhnya diciptakan Tuhan sebagai malaikat yang mulia dan agung, mereka memilih memberontak kepada Allah. Karena memberontak, mereka berubah dari malaikat terang menjadi iblis kegelapan. Karena itu, bila Allah adalah kasih seperti yang dikatakan St. Yohanes, semua yang diciptakan-Nya dalam kasih dan kita pun dipanggil untuk hidup dalam kasih.

Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menemukan kebahagiaan kita yang paling dalam. Semakin orang berkembang dalam kasih semakin ia bahagia. Sebaliknya iblis menjadi sengsara karena memilih kebencian. Kebencian itu sendiri melawan kodrat ciptaan yang terdalam dan merupakan siksaan bagi ciptaan itu sendiri. Contoh konkritnya adalah seseorang yang mengalami sengsara karena menyimpan dendam dan hidup dalam kebencian. Orang boleh menyimpan harta, tetapi menyimpan dendam itu merupakan sebuah kebodohan, bahkan dapat dikatakan merupakan dosa yang paling bodoh. Mengapa? Misalnya: meskipun tidak menganjurkan manusia untuk mencuri, seseorang yang mencuri sesuatu masih dapat menikmati hasil curiannya. Sebaliknya, kalau membenci, sakit hati, dendam, tidak ada satu hal pun yang dapat dinikmati. Ada seorang bapak yang karena sakit hati, benci sekali dengan iparnya. Kalau melihat iparnya, reaksi kebencian itu tampak di dalam dirinya. Bila ada sebuah pistol di situ, pasti ia langsung menembaknya. Baru melihat iparnya mukanya sudah merah. Selama setahun ia menyimpan kebencian itu. Bahkan saat makan berlangsung, misalnya dalam pesta, bila seorang menyebut nama iparnya, dia langsung tidak ada nafsu makan, tidak dapat menikmati makanannya. Bila mau tidur dan teringat akan iparnya, sampai pagi pun ia tidak bisa tidur dan hanya amarah yang ada di dalam dirinya. Apakah ini bukan merupakan sebuah kebodohan? Puji Tuhan. Setelah suatu saat bapak ini mengikuti retret awal dan menyadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian adalah dosa yang paling bodoh. Ia mengakui dosa-dosanya. Namun karena akarnya begitu mendalam, setelah mengaku dosa perasaan dendam itu belum hilang sama sekali. Tetapi ia tidak putus asa. Waktu menerima pencurahan Roh Kudus, Tuhan memberikan pada dia Roh Kudus sekaligus mengangkat dendamnya itu. Setelah selesai ia datang kepada saya dengan wajah berseri-seri, “Romo  sepulang dari tempat ini saya mau langsung te tempat ipar saya, bukan membawa pisau untuk menyembelih dia tapi saya mau datang ke ipar saya, saya mau memeluk dia.” Kemudian ia menceritakan pengalamannya, ”Romo, setelah saya pikir-pikir, saya bodoh sekali selama satu tahun saya menyiksa diri saya; padahal ipar saya bisa makan dan tidur dengan enak, sedangkan saya tersiksa terus.”

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang dalam kasih, mengetahui saja tidak cukup. Misalnya saat kita lapar dan tahu bahwa di situ ada makanan, tapi tidak dapat mengambil makanan itu, apakah kita kenyang karenanya? Bau makanan mungkin menyengat hidung, tapi apakah kenyang juga karenanya? Mungkin justru makin lapar. Oleh karena itu, mengetahui saja tidak cukup. Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus dan kasih itu dapat hilang bila kita melakukan dosa besar. Melalui pertobatan, manusia datang kembali kepada Tuhan dan dipulihkan. Karena itu, kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita menjadi sebuah modal untuk bertumbuh. Bila melakukan tindakan-tindakan, bahkan sekecil apa pun, bila melakukannya dalam kasih, itu akan menambah kasih kita. Yesus mengatakan, ”Aku lapar dan kamu memberi Aku makan, Aku haus, dan kamu memberi Aku minum.” Misalnya: saat Anda menuntun seorang yang sulit jalan. Bila itu dilakukan demi Yesus, itu pun merupakan perbuatan kasih. Dan masih banyak lagi perbuatan kasih yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan kasih dalam kehidupan sehari-hari, misalnya memasak dengan kasih dan yang menikmati juga akan lebih enak masakannya. Bila melakukan pekerjaan apa saja, kita dapat mempersembahkannya kepada Yesus, “Yesus, ini saya persembahkan kepada-Mu”. Pekerjaan yang terkecil sekalipun bahkan yang remeh, hina dan kotor, misalnya membersihkan WC, kita dapat mengatakan kepada-Nya, “Yesus saya mau buat ini untuk-Mu.” Hal-hal seperti ini mempunyai nilai di hadapan Tuhan.

Ada satu tokoh besar yang oleh Gereja dijadikan Pujangga Gereja, yaitu St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. St. Theresia adalah suster yang biasa saja. Ia tidak pernah keluar, tidak pernah mengajar, tetapi menjadi besar di hadapan Tuhan karena perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam kasih kepada Yesus. Setiap perbuatan kecil yang dilakukannya dengan mengatakan dalam hatinya, ”Yesus, ini kulakukan demi cinta kepada-Mu.” Dia menjadi besar dan kemudian Gereja menggelarkan dia kudus dan  mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja, artinya ajaran dan teladan hidupnya dapat dijadikan contoh bagi kita semua. St. Theresia menunjukkan sebuah “jalan kecil” dalam hidupnya, misalnya seperti yang dikatakannya, ”Kalau kamu memungut jarum yang jatuh di lantai dan melakukannya dengan kasih, itu akan mempunyai nilai di hadapan Tuhan.” Oleh karena itu, apapun yang kita lakukan dengan kasih dan melakukannya demi Yesus, itu akan memberi nilai di hadapan Tuhan.

Bila kita harus menderita, misalnya tidak dianggap, diremehkan, dsb, persembahkanlah semua itu sebagai kurban kepada Yesus maka dalam hidup kita tidak ada satu alasan apapun yang membuat kita merasa jengkel, putus asa, dll. Bila kita harus menanggung sesuatu, persembahkanlah kepada Yesus. Bila kita mempersembahkannya kepada Yesus, maka beban kita akan menjadi lebih ringan dan mempunyai nilai untuk keselamatan kita sendiri dan juga untuk yang lain.

Bagaimana secara konkrit dapat menguduskan kehidupan kita sehari-hari? Ada sebuah dongeng. Ada seorang janda miskin yang hanya memiliki satu anak laki-laki. Mereka hidup miskin dan sengsara. Suatu saat tampaklah seorang malaikat kepada pemuda tersebut. Malaikat itu berkata, “Aku di sini memiliki tongkat ajaib, tongkat wasiat. Kalau kamu menggunakan tongkat ini, apapun yang  kausentuh, akan menjadi permata. Batu-batu yang engkau sentuh dengan tongkat itu akan berubah menjadi permata.” Lalu malaikat itu pun pergi. Pemuda itu mencoba tongkatnya. Ia menyentuh batu dan berkata dalam hatinya, ”Ah, menjadi permata. Ah, menjadi permata.” Segala yang ia sentuh menjadi permata. Pada akhirnya ia menjadi kaya raya. Ini hanya sebuah dongeng, tetapi adakah makna di balik dongeng ini?

Tahukah kita bahwa kita juga diberi tongkat wasiat oleh Tuhan? Tongkat wasiat tadi namanya kasih. Apapun yang kita sentuh dengan kasih maka akan berharga di hadapan Tuhan. Apapun yang kita lakukan, bila kita sentuh dengan tongkat itu, maka akan bernilai di hadapan Tuhan. Jadi, apapun yang kita lakukan dengan kasih, itu akan menjadi berharga dan bernilai di hadapan Tuhan. St Theresia menjadi besar di hadapan Tuhan walaupun ia tidak pernah melakukan hal-hal yang besar di hadapan Tuhan. Nilai kita di hadapan Tuhan bukan ditentukan oleh besarnya perbuatan-perbuatan yang kita lakukan, tetapi oleh kadar iman, harapan, dan kasih yang menyertai setiap perbuatan kita. Semakin besar kadar iman, harapan dan khususnya kadar kasihnya, itu akan semakin berharga di hadapan Tuhan.

Ini adalah suatu kebenaran, suatu rahmat istimewa yang diberikan Tuhan kepada kita. Maka ada kebiasaan bagi orang Kristen, khususnya orang Katolik, sebelum melakukan pekerjaan dia berdoa dahulu dan mempersembahkan pekerjaannya kepada Tuhan. Biasakan diri kita bangun pagi,  berdoa, mempersembahkan seluruh hari kita pada hari ini kepada Tuhan. Sebelum makan kita berdoa bersama, tapi setelah makan lupa berterima kasih kepada Tuhan. Kebanyakan orang berdoa, minta berkat sebelum makan. Sebaliknya, setelah makan pergi begitu saja dan tidak berdoa. Itu namanya kurang berterima kasih kepada Tuhan. Sekarang bukan hanya sebelum dan sesudah makan, tapi sebelum kita memulai pekerjaan, berdoalah lebih dahulu, ”Tuhan, saya mau melakukukan ini untuk-Mu.” Jadi kita sentuh dulu dengan tongkat wasiat itu. Kalau kita betul-betul melakukannya dengan setia, maka dalam sebulan Anda akan melihat perbedaannya. Semakin banyak kita melakukannya, itu akan semakin baik   Karena satu perbuatan baik yang kita ulang-ulang akan menjadi apa yang disebut dengan kebajikan. Kebajikan kasih adalah kebajikan yang paling  tinggi. Tuhan telah memberikan tongkat wasiat kepada kita. Oleh karena itu, kita diajak untuk memakainya, maka kita akan mengalami dan merasakan manfaat dan khasiatnya yang istimewa.