User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

rendah hati

BERTUMBUH DALAM KERENDAHAN HATI

  Bagaimana kita memperoleh kerendahan hati setelah kita melihat bagaimana kesombongan menghancurkan orang dan bagaimana sebetulnya kita tanpa disadari seringkali jatuh ke dalam kesombongan dan akhirnya membawa kepada kebinasaan. Kita telah melihat acedia yang merupakan penyakit yang agak umum, tetapi jika kita sadari kita coba untuk menghindarinya. Bagaimana kita dapat memperoleh kerendahan hati yang merupakan kebajikan yang sangat berkenan di hadapan Allah. Seperti yang dijelaskan pada permulaannya, dalam hidup rohani kerendahan hati adalah dasar sedangkan cintakasih itu adalah mahkotanya, maka sebuah bangunan rohani supaya dapat berdiri kokoh kuat dan tidak akan roboh harus diletakkan pada dasar kerendahan hati yang sangat kuat dan sangat dalam.

 

1.   Bagaimana kita dapat memperoleh kerendahan hati

Salah satu sebab mengapa seringkali kita tidak memperoleh kerendahan hati ialah karena kita kurang menyadari, kurang memeriksa diri kita, kurang menyadari kerapuhan dan kepapaan dalam diri kita sendiri. Misalnya kita membayangkan seorang penjahat di hadapan pengadilan, setelah tertangkap dibuktikan segala kejahatannya, dia berdiri di muka hakim mungkin dengan kepala tertunduk karena dia malu dan sadar bahwa sewaktu-waktu dapat dijatuhkan hukuman yang berat. Lebih-lebih jika dia sadar kejahatannya yang berat, maka dia akan berdiri dengan rendah hati di hadapan hakim dengan mengakui kejahatannya. Jika kita di hadapan Allah menyadari segala dosa-dosa yang kita lakukan, kecenderungan-kecenderungan jahat yang masih ada dalam diri kita, bahwa sewaktu-waktu kita bisa dibawa kepada dosa-dosa yang mengerikan kalau tidak dijaga oleh Allah.

Karena dosa-dosa itu sebenarnya kita patut mendapat neraka atau kita patut dimasukkan ke neraka. Salah satu pengalaman St. Teresa dari Avila yang membuat ia begitu rendah hati dan itu merupakan pengalaman tidak terlupakan. Suatu ketika ia diberi rahmat oleh Tuhan dalam sebuah visiun dan diajak “melihat” neraka. St. Teresa dibawa oleh Tuhan dalam suatu pengalaman rohani, diperlihatkan neraka oleh Yesus dan ditunjukkan “itulah sebetulnya tempat yang disediakan bagimu jika engkau tidak bertobat”. Lalu St. Teresa kemudian begitu menyadari semua itu dan pengalaman itu membuat dia rendah hati untuk seumur hidupnya karena setiap kali teringat kembali akan pengalaman itu begitu mengerikan. Dia sadar akan patut mendapat hukuman kalau dia tidak bertobat.

Dengan demikian karena ia merasa telah diselamatkan oleh Tuhan dan diampuni dosa-dosanya, ia sadar akan kelemahan dan kerapuhannya menjadikan dia tetap rendah hati. Oleh karena itu dengan demikian kalau kita sadar akan semuanya itu, kecenderungan-kecenderungan yang masih ada dalam diri kita dan kita berjuang terhadap kelemahan-kelemahan itu, yang satu mungkin lebih dari yang lain tetapi kecenderungan itu tetap ada dan kalau kita merenungkannya bahwa untuk itu kita membutuhkan rahmat Tuhan. Seandainya kita tidak diberikan rahmat oleh Tuhan kita pasti sudah jatuh. Karena itu pemazmur juga mengatakan bahwa “Bila orang tidak menjadi rendah hati karena orang kehilangan takut akan Allah” seperti yang dikatakan Mazmur 36:2 “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”. Karena itu dia akan melakukan dosa itu dan menjadi sombong.

 

2.   Takut akan Allah adalah Permulaan Kebijaksanaan

Kalau kita memiliki takut yang suci ini dapat dikatakan juga “Takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan” (Lih. Ams. 1:7) yang dimaksud takut akan Allah yaitu bukan takut untuk melakukan sesuatu tetapi kita sadar bahwa jangan-jangan kita sewaktu-waktu kita bisa menghina Allah, bisa menyakiti hati Allah. Oleh karena itu takut akan Allah ini harus selalu ada, kalau kita melihat ketujuh karunia Roh Kudus maka salah satu yang paling dasar ialah Takut akan Allah yang puncaknya adalah hikmat atau kebijaksanaan. Tetapi takut akan Allah ini akan selalu ada bahkan dalam orang kudus yang besar, takut akan Allah ini ada. Bukan karena takut akan dihukum atau apapun tetapi ‘takut’ bahwa dia dapat menghina Allah bahwa sewaktu-waktu dia dapat jatuh. Karena memang kesadaran akan kelemahan, kerapuhan kita maka kadang-kadang merenungkan kerapuhan-kerapuhan kita itu penting sekali.

Lebih-lebih apabila kita tergoda untuk menjadi sombong dan sebagainya, kita merenungkan kerapuhan-kerapuhan, dosa-dosa yang telah terjadi bukan untuk jatuh dalam dosa itu tetapi untuk menyadari godaan ke dalam kesombongan, kita mengakui di hadapan Tuhan “Aku ini seorang pendosa dan tanpa rahmat-Mu aku bisa menjadi lebih jahat lagi”. Karena itu juga orang-orang kudus justru menganggap diri mereka orang yang berdosa. Kalau St. Paulus menulis dalam suratnya bahwa dia tidak layak disebut rasul, itu bukan hanya basa-basi melainkan keluar dari kesadaran Paulus yang sangat besar bahwa dia tidak layak disebut rasul karena dia telah banyak berdosa karena telah menganiaya umat Allah dan dosa itu selalu membayangi di hadapan matanya, membuat dia rendah hati. Karena dia merasa “Aku tidak layak disebut rasul” karena dia tahu sebetulnya bahwa dia telah berdosa tetapi dari pihak lain kerendahan hati yang sejati tidak membuat  putus asa tetapi dia percaya akan Kerahiman Allah yang jauh lebih besar.

 

3.   Kejatuhan Petrus dan Yudas Iskariot

Kita melihat perbedaan kalau kesadaran akan dosa membuat kita sadar untuk tidak berputus asa sebab berbeda jika kita lihat antara Petrus dan Yudas. Petrus yang telah menyangkal Yesus dengan sangat mengerikan dimana Petrus mengatakan “Aku tidak mengenal orang itu” (Lih. Mat. 26:69-75; Mrk. 14:66-72; Luk. 22:56-62; Yoh. 18:15-18, 25-27)  tetapi kemudian Petrus sadar lalu menangis dan masih percaya kepada kasih Allah dan pengampunan dari Tuhan Yesus. Setelah kebangkitan ketika Petrus ditanyai Yesus “Petrus, apakah engkau mengasihi aku lebih dari mereka itu?” Petrus hanya bisa menjawab “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Lih. Yoh. 21:15-19). Bagaimanapun juga Petrus tidak berani berkata seperti sebelumnya ketika jatuh dan akan menyangkal Yesus  “Tuhan, sekalipun mereka meninggalkan Engkau aku tidak akan meninggalkan Engkau!” (Lih. Mat. 26:30-35; Mrk. 14:26-31; Luk. 22:31-34; Yoh. 13:36-38). Di sini Petrus hanya mengatakan “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” dan Petrus tidak lagi berani mengatakan sesuatu yang lain daripada itu.

Karena kejatuhannya Petrus tidak berani lagi melakukan hal yang serupa karena Yesus mengatakan kepada Petrus “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk. 22:32). Karena Petrus masih diberikan rahmat dan menjadi sadar. Karena kemudian jika kita membaca surat Petrus, pada hari tuanya maka kita lihat nada-nada kesombongan Petrus sudah tidak ada lagi. Begitu berbedanya jika dibandingkan ketika Petrus berkata “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lain pun berkata demikian juga” (Mat. 26:35). Dia begitu yakin akan kekuatannya, karena dia begitu yakin akan kekuatannya Petrus dibiarkan ‘jatuh’ dalam kerapuhannya.

Sebaliknya Yudas karena ia tidak setia dan dia tidak sungguh-sungguh mencintai Yesus, akhirnya jatuh begitu dalam, lebih dalam daripada kejatuhan Petrus. Karena Yudas dengan sengaja mengkhianati Tuhan Yesus, ini terjadi karena Yudas menolak rahmat Allah. Sampai akhirnya ketika dia sadar bahwa dia telah mengkhianati Yesus dan tidak memiliki kerendahan hati serta tidak memiliki cinta Allah dan tidak sungguh-sungguh mencintai Yesus maka ia menjadi putus asa. Karena sadar akan dosa-dosanya yang begitu besar, iblis menggodanya untuk terakhir kalinya ‘tidak ada jalan bagimu selain untuk menggantung diri’ dan itu yang dilakukan oleh Yudas.

 

4.   Kerendahan Hati Para Kudus

Kita harus sadar akan hal ini bahwa tanpa rahmat Allah kalau Allah tidak melindungi kita dan tidak menjaga kita, kita mungkin jatuh seperti Yudas. Itu tidak mustahil, jika kita tidak ditolong oleh rahmat Allah. Di surga selalu ada orang-orang kudus yang selalu menyadari dirinya adalah orang yang berdosa. Para kudus mengerti orang yang berdosa, St. Teresa kalau berbicarapun dia menyadari bahwa dia lebih berdosa dari yang lain. Ini bukan suatu kepura-puraan karena dia sadar akan kapasitas atau kecenderungan kemungkinan dia melakukan dosa-dosa seandainya tidak ditahan oleh Allah.

Kita mengerti pengakuan St. Theresia dari Lisieux, suatu saat dia oleh pembimbing rohaninya dikatakan “Kalau melihat keadaanmu ini hanya dua kemungkinan engkau akan menjadi setan kecil atau malaikat” dan St. Theresia sadar Tuhan mengasihinya sehingga Ia menjauhkan itu. Pada puncak hidupnya St. Theresia sadar bahwa dia bisa lepas dari semua itu karena Kerahiman Allah, seolah-olah semua hambatan disingkirkan. Memang Tuhan memelihara dia dan dia sadar, karena itu Theresia begitu sadar dan mengatakan “Tuhan mengasihi aku melebihi yang lain”, lebih daripada seorang pendosa besar karena dia tahu bahwa sebetulnya dalam dirinya ada kapasitas untuk menjadi jahat sekali seandainya rahmat Allah tidak menopang dia.

Karena itu kita melihat St. Theresia yang mencintai kelemahannya dan kekecilannya karena ia mengalami kerahiman Allah yang mahabesar. Karena itu St. Theresia menjadi begitu rendah hati karena dia sadar, karena tanpa rahmat Allah ia akan menjadi seperti yang dikatakan pembimbingnya itu ‘menjadi setan kecil atau setan besar’. Untuk itu kita merenungkan, melihat segala kerapuhan dalam diri kita, kita tidak berani menengadahkan kepala kita, tetapi kita akan seperti pemungut cukai dan berkata “Kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Lih. Luk. 18:13).

Seperti pohon yang buah-buahnya menjadi lentur dan tidak jatuh karena akarnya kuat, demikianlah juga kita itu bisa bertahan walaupun ada macam-macam beban karena rahmat Tuhan yang memperkuat kita. Bukan karena kemampuan saya, kebajikan saya tetapi semata-mata karena rahmat Allah yang menopang aku. Kita dapat membayangkan kalau kita yang berada di tempat orang-orang tertentu, apakah saya akan menjadi lebih baik dari dia?  Itu belum tentu, mungkin bisa menjadi lebih jahat, kalau kita melihat seorang kriminal tertentu tetapi jika kita di tempat dia, kita mungkin bisa atau bahkan jauh lebih jahat dari orang itu.

Kesadaran akan kerapuhan ini harus selalu menyertai kita. Dalam sejarah kita melihat orang yang berkembang baik dalam permulaannya. Kemudian bisa jatuh begitu dalam dan hal ini sering terjadi. Orang begitu bersemangat pada permulaan dan kemudian jatuh lebih dalam, kita lihat misalnya dalam sejarah gereja banyak sekali orang seperti itu. Orang seperti itu kemudian memberontak dan menjadi bidaah dengan kata lain memusuhi Gereja. Orang-orang bidaah itu bukanlah orang yang bodoh, justru bidaah-bidaah itu orang yang memiliki otak yang cemerlang, tetapi karena tidak menyadari kerapuhannya sendiri sehingga menjadi sombong dan menjadi bidaah.

 

5.   Kerendahan Hati yang Palsu

  Dari pihak lain ada suatu bentuk kerendahan hati palsu, kerendahan hati palsu ini terjadi dan orang membanggakannya bahwa dia itu orang berdosa, kalau ini dinamakan “Farisi Kuadrat”. Sudah jelas-jelas ‘berdosa’ tetap membanggakan diri dan ini terjadi. Dia membanggakan diri dan tidak seperti ‘farisi-farisi itu’. Dia mengadili orang lain padahal dia sendiri melakukan dosa-dosa yang mengerikan dan masih berbangga “Saya memang orang berdosa tidak seperti farisi-farisi itu’ dan ini namanya farisi kuadrat. Orang farisi jika dibandingkan dengan orang ini masih lebih baik, farisi itu sekurangnya melakukan sesuatu yang baik walaupun motivasinya kurang baik. Orang terang-terangan melakukan kejahatan dan berbangga-bangga terhadap kejahatannya itu dan ini disebut perversi, bukan saja melakukan dosa tetapi jauh melampaui itu dan disebut perversi artinya pemutarbalikan nilai-nilai yang mengerikan.

      Ini membuat kita harus selalu rendah hati maka kita berdoa kepada Tuhan “Tuhan, berilah aku rahmat untuk tetap setia dan bertekun sampai akhir”, memohon rahmat untuk hari ini dan kalau kita mungkin takut dapat bertahan sampai akhir baiklah kita memohon rahmat untuk hari ini dan dari hari ke hari kita dapat bertekun. Oleh karena itu, kita perlu memohon rahmat dari Tuhan, yaitu rahmat untuk ketekunan itu. Kita juga mohon seperti yang dilakukan St. Agustinus “Tuhan, semoga aku mengenal diriku sendiri supaya aku mengenal Engkau dan mengenal diriku sendiri. Berilah aku rahmat-Mu ya Tuhan untuk mengenal diriku supaya aku tetap rendah hati”.  ”Kalau saya menyadari kerapuhan, kekecilan dan ketidakberdayaanku sendiri dan kecenderungan-kecenderungan kepada yang jahat maka aku akan dipenuhi rasa takut kepada-Mu, takut jangan-jangan saya menghina Engkau, jangan-jangan saya jatuh dalam dosa”.

Bersambung. . .

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting