User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

MARIA BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA

Tempat Bunda Maria Dalam Rencana Keselamatan Allah

Dan Dalam Hidup Kristiani Kita

maria di angkat di surga

Orang Katolik tidak menyembah Bunda Maria.

        Dalam kehidupan orang Katolik, Maria memainkan peranan dan kedudukan yang sangat penting. Karena itu sangat penting pula bagi orang katolik untuk mengerti akan keseimbangan kedudukan dan peranan Bunda Maria yang sebenarnya dalam Rencana Keselamatan Allah dan dalam Gereja. Harus diakui, khususnya pada masa lampau, kadang-kadang ada ekses-ekses yang melebih-lebihkan peranan Bunda Maria, sehingga kadang-kadang diberi kesan, seolah-olah Bunda Maria menggantikan peranan Roh Kudus sendiri, dan tentu saja ini tidak benar.  Tetapi sebaliknya mengurangi peranan Bunda Maria juga sama kelirunya. Oleh karena itu sebagai orang katolik adalah sangat penting untuk mempunyai pandangan yang seimbang tentang kedudukan dan peranan Bunda Maria yang sebenarnya.

Pertama-tama harus dikatakan, bahwa sebagai orang katolik kita tidak menyembah Maria. Sebab seandainya kita menyembah Maria, maka kita menjadikan Maria berhala. Dan ini tentu saja bertentangan dengan rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Tetapi Maria ini merupakan ciptaan Allah yang terbesar dari segala ciptaan-Nya. Karena itu kita bisa mengatakan bahwa Maria betul-betul merupakan  Masterpiece dari Allah, Masterpiece dari karya rahmat Allah, karya seni Allah yang paling indah. Karena itu kalau kita menghormati Maria, atau menghargai Maria seperti yang dikehendaki Allah, kita sebenarnya juga menghargai dan menghormati Allah sendiri. Karena dengan menghargai karyanya kita mau tidak mau juga menghargai dia yang membuat karya itu. Sebagai contoh, misalnya ada suatu lukisan bunga yang indah. Anda mengagumi lukisan bunga itu. Lalu pelukisnya secara kebetulan ada disebelah anda tetapi anda tidak tahu. Anda menyatakan kekaguman anda dengan mengatakan; “Lukisan bunga ini bagus sekali, sangat mengagumkan”.  Maka pelukisnya yang ada didekat anda akan merasa senang, sekalipun yang dipuji itu bukan dia,  tetapi hasil karya lukisannya. Tetapi seandainya sebaliknya anda mengatakan; “Ah, lukisan apa ini, kok  jelek sekali.” Bagaimana perasaan si pelukis yang kebetulan mendengar komentar anda?

Demikian pula halnya antara hubungtan Bunda Maria dan Penciptanya. Dengan mengakui Bunda Maria sebagai suatu “masterpiece” rahmat, sama saja dengan mengakui atau memuliakan Dia yang menciptakannya. Dengan demikian dapatlah ditegaskan bahwa sebagai orang katolik kita tidak menyembah Bunda Maria, tetapi sebagai orang katolik kita menghormati Bunda Maria, karena Maria adalah putri kesayangan Allah sendiri. Memang dalam masa-masa yang lampau dan ditempat-tempat tertentu devosi kepada Bunda Maria itu dilebih-lebihkan, sehingga memberi kesan seolah-olah Maria saja sudah cukup, Allah tidak perlu lagi. Maria melakukan segala-galanya, Roh Kudus tidak perlu lagi dsbnya, sehingga ini mengaburkan peranan Bunda Maria sendiri. Oleh karena itu kiranya sangat penting sebagai orang katolik untuk mengerti peranan dan kedudukan Maria yang sebenarnya.

Maria adalah Bunda Allah.

         Kebesaran Bunda Maria pertama-tama berasal dari kenyataan, bahwa Maria diangkat menjadi Bunda Allah, Bunda Tuhan  kita Yesus Kristus. Dengan demikian Maria diangkat jauh melampaui segala ciptaan yang lain. Dan dasar keagungan Maria atau kebesarannya adalah karena sikapnya yang begitu terbuka untuk Tuhan, yaitu sikap dasar imannya yang sempurna dalam kerendahan  hati  dan pasrah yang sempurna. Sikap ini tercermin dalam pernyataannya dengan mengatakan: “terjadilah padaku menurut perkataanMu”, pada waktu Malaikat Gabriel membawa kabar gembira kepadanya (Luk 1: 38). Pernyataan ini biasa disebut dengan istilah “fiat” yang berasal dari bahasa latin “Fiat mihi  secundum verbum tuum.”,  yang berarti “terjadilah padaku menurut perkataanmu”, seperti diucapkan Bunda Maria kepada malaikat Gabriel itu.

Ungkapan “Maria Bunda Allah” ini sudah sejak lama menjadi persoalan di dalam Gereja, sampai pada dua konsili besar, yaitu Konsili Ephesus dan konsili Kalsedon. Dalam konsili Efesus pada tahun 431 dinyatakan, bahwa  “Maria adalah Bunda Allah.” Pada waktu itu ada persoalan dan pertentangan antara sebutan “Maria Bunda Allah “ atau “Bunda Yesus”. Karena ada bidaah yang mengatakan, Maria itu hanya Bunda Yesus. Yesus bukan Allah, Yesus adalah manusia biasa, tetapi iman katolik mengatakan Jesus adalah Allah, Putra Allah. Karena itu Yesus adalah Allah dan manusia sekaligus, sepenuhnya Allah, sepenuhnya manusia. Karena itu Maria juga disebut sebagai Bunda Allah.

Kemudian dalam konsili Calsedon pada tahun 451 Maria secara resmi oleh gereja diakui sebagai “Theotokos” artinya “Bunda Allah”. Pengakuan gereja itu sebenarnya untuk menyatakan bahwa: “Ini adalah wahyu Allah”. Gereja tidak memberikan suatu ajaran baru, tetapi gereja hanya menekankan, bahwa sebetulnya kebenaran iman ini adalah ajaran wahyu Allah sendiri yang sudah ada sejak semula, karena tercantum dalam Kitab Suci, khususnya Injil Lukas, dimana kita melihat dasar dari itu semua. Ungkapan Theotokos itu sebenarnya mau mengatakan, bahwa yang dilahirkan oleh Maria itu bukan hanya tubuh Yesus saja, melainkan seluruh Yesus Kristus, Allah dan manusia sekaligus. 

Pertama-tama peranan Maria yang sangat penting diungkapkan oleh malaikat Gabriel, yaitu dalam Lukas bab 1 ayat 28 dikatakan: “waktu itu malaikat Gabriel diutus kepada seorang perawan bernama Maria. Ketika Malaikat itu masuk kerumah Maria, dia mengatakan; Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Dalam seluruh kitab suci tidak pernah ada seorangpun disapa dengan cara itu, yaitu; “Salam engkau yang dikaruniai.” Terjemahan ini sebenarnya terlalu lemah. Kalau kita melihat teks aslinya, kiranya harus diterjemahkan demikian “ Salam engkau yang dikaruniai secara istimewa” atau mungkin lebih tepat juga terjemahan yang berasal dari bahasa Latin “Salam engkau yang penuh rahmat” arti yang sebetulnya adalah: “Salam engkau yang penuh rahmat istimewa.” .

Kita bandingkan bagaimana malaikat yang sama sebelumnya menampakkan diri kepada Zakaria dimana cara menyapanya berbeda. Pada Lukas bab 1, ayat 13 malaikat Gabriel berkata kepada Zakaria: “Jangan takut hai Zakaria sebab doamu telah dikabulkan dan Elizabeth isterimu akan melahirkan seorang anak laki-2.” Juga dalam perjanjian lama (Hak bab 13 ayat 3), misalnya ketika seorang malaikat menampakkan diri pada ibu Samson, dia tidak mengatakan “Salam engkau yang penuh rahmat” dan demikian pula pada beberapa penampakan lainnya juga tidak. Kepada Zakaria malaikat menyapa: “Jangan takut”, tetapi kepada Maria malaikat menyapa: “Salam, engkau yang dirahmati secara istimewa.” Jadi disini berbeda, kalau Zakaria ragu-2 dan mengatakan: “Bagaimana, saya ini sudah tua, apakah mungkin punya anak lagi, isteri saya juga sudah tua.” Lalu malaikat mengatakan: karena engkau tidak percaya engkau akan bisu. Tidak demikian dengan Maria, Maria percaya tetapi ia ingin tahu, bagaimana hal itu akan terjadi. Jadi Maria bukan tidak percaya, tetapi ingin tahu bagaimana terjadinya, karena itu malaikat mengatakan: “ Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau.”

Kesaksian Roh Kudus melalui Elizabeth.

Ketika Maria mengunjungi Elizabeth, Roh Kudus berbicara melalui Elizabeth, yaitu dalam Lukas Bab 1:41-42 yang mengatakan; “Dan ketika Elizabeth mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang didalam rahimnya dan Elizabethpun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru dengan suara nyaring mengatakan: Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku.” Jadi Elizabeth yang sebetulnya tidak tahu apa-apa, tentang apa yang terjadi dengan Maria, oleh Roh Kudus Elizabeth mengetahui dengan pasti apa yang dialami Maria. Dan oleh Roh Kudus Elizabeth mengatakan “ Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang kepadaku” Jadi jelas bagi Elizabeth memang suatu rahmat dan kehormatan yang besar. Elizabeth tidak mengatakan Ibu sang Messias tetapi “Ibu Tuhanku” dan ini karena Roh Kudus yang memberi kesaksian. Dengan demikian, maka gereja mengatakan sudah begitu jelas nampak bahwa ini yang harus dipercayai, yaitu “Maria adalah Bunda Allah.”

Maria melahirkan Sang Sabda.

Maria adalah Bunda Allah, dengan demikian Maria melahirkan pribadi sang sabda sendiri. Sang sabda yang kita ketahui adalah Allah sejak semula. Seperti dikatakan dalam injil Yohanes bab 1 ayat 1 “Pada awal mulanya adalah sabda atau firman, firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah”. Jadi yang dilahirkan oleh Maria adalah sang firman yang menjadi manusia. Karena dalam diri Yesus Kristus adalah Allah dan manusia sekali gus, bukan 50% manusia 50% Allah, tetapi Yesus Kristus itu 100% Allah 100% manusia. Oleh karena itu ada dua kodrat, yaitu kodrat manusia 100% dan kodrat Allah 100% dan ini dipersatukan dalam pribadi sang sabda.

Jadi apa yang dilakukan Yesus adalah apa yang dilakukan pribadi sang sabda, demikian juga tindakan-2 manusiawinya mempunyai nilai-2 ilahi yang tidak terbatas, karena dia adalah sekali gus Allah dan sekali gus manusia. Dan karena Maria melahirkan Yesus, maka Maria melahirkan pribadi sang sabda juga.

Maria adalah model dan teladan kepasrahan.

Maria memberikan persetujuan yang bebas kepada malaikat, karena itu Maria menerima secara bebas dan taat secara bebas kepada sabda Allah. Maria menjadi Bunda Allah itu bukan karena paksaan. Kebebasan atau penyerahan diri Maria diungkapkan dengan jawabannya “Terjadilah kepadaku menurut perkataanMu” sehingga dengan demikian Maria ini merupakan gambaran setiap orang yang menyerahkan diri kepada Allah. Dengan demikian Maria adalah teladan dan model kita juga.

Untuk mengerti ini kita harus melihat peranan Maria dalam kaitan dengan peranan puteranya sendiri. Yesus adalah Allah yang mengosongkan diri bagi kita. Yesus adalah putera Allah seperti kita lihat dalam Fillipi 2 ayat 6-8 yang mengemukakan tentang Yesus Kristus yang telah mengosongkan diri. “Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia yang tak berdaya.” Dengan demikian Yesus menjadi sama dengan manusia dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.

Jadi putera Allah yang mahakuasa, yang dikatakan dalam injil Yohanes bab 1 Ayat 1 “Pada mulanya adalah firman” dan selanjutnya dalam ayat 3 dikatakan “Segala sesuatu dijadikan oleh dia dan tanpa dia tidak ada suatupun yang telah jadi.” Dari sini kita ketahui bahwa firman ini yang ada pada Allah yang juga adalah Allah, sama dan identik dengan Allah Bapa. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang telah jadi.

Putera Allah yang Mahabesar ini menjadi bayi yang tak berdaya. Yang Mahakuasa menjadi yang tidak berdaya, yang kuat menjadi bayi yang lemah, Yang Mahabesar menjadi bayi yang kecil. Dan disini kita melihat kerendahan hati Allah yang luar biasa, dia tidak hanya begitu saja merendahkan diri bahkan taat sampai wafat disalib.

Seperti dikatakan oleh Santo Paulus (bdk 1 Kor. 1:23-25)bahwa bagi orang Yunani yang penuh dengan filsafat, “misteri wafat Yesus dikayu salib adalah suatu kebodohan.” Orang Yahudi menganggap bahwa “Misteri Allah yang Mahakudus disalibkan” adalah suatu hujatan. Tetapi Paulus mengatakan; bagi mereka yang diselamatkan baik Yahudi maupun Yunani, “Kristus yang disalibkan adalah kebijaksanaan Allah yang Mahatinggi” karena itu Paulus mengatakan siapa yang mau menjadi bijaksana hendaklah dia menjadi bodoh, sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. yang paling kuat sekalipun.

          Oleh karena itu disini kita melihat, bahwa Pencipta langit dan Bumi menjadi tergantung pada manusia. Menjadi bayi kecil yang digendong Maria, yang disusui oleh Maria, yang dimandikan oleh Maria yang tidak berdaya, padahal Dia pencipta langit dan bumi. Dia adalah anti type, bertolak belakang dengan manusia yang memberontak terhadap Allah, dan karena manusia memberontak dia terikat pada dosa. Karena itu semua manusia telah berdosa. Dan dosa ini menjalar kemana-mana, tetapi kasih Allah begitu besar sehingga dia mengutus Putera-tunggal-Nya.  Bersambung . . .

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting