User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Tuhan betul-betul Maharahim. Dia yang lebih dahulu mengasihi kita, bukan kita yang lebih dahulu mengasihi Dia. Ini harus menjadi kekuatan bagi kita. Kita berusaha sedapat mungkin melakukan segalanya untuk kebaikan dan kemuliaan Tuhan, tetapi kalaupun kadang-kadang gagal dan lain-lain,   Tuhan tahu kita ini orang lemah yang menyimpan harta tak ternilai dalam bejana tanah liat. Dan, sementara kita hidup di dunia ini tentu saja ada macam-macam pencobaan. Oleh karena itu, St. Paulus mengatakan bagaimana sikap kita seharusnya dalam menantikan kedatangan Tuhan ini, yaitu “Bersukacitalah senantiasa!” (1Tes 5:16). Kenapa? Karena Tuhan telah menang. Yesus sendiri berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33) dan dalam suratnya, St. Yohanes mengatakan, “inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1Yoh 5:4). Jadi, apa pun yang terjadi kita tidak akan terkalahkan kalau kita tetap percaya dan berpaut pada Yesus. St. Paulus mengungkapkan hal ini dengan indahnya,

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? [...] Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35.37-39).

Asal kita sendiri tetap percaya kepada Kristus, maka tidak ada yang dapat memisahkan kita dari cintakasih-Nya.

Oleh karena itu, hidup orang Kristen ditandai oleh sukacita. Mengapa? Apa alasannya kita bersukacita? Bukan karena kita dapat ini atau itu, tetapi pertama-tama karena kita adalah anak Allah, kita dicintai oleh Allah. Kesadaran ini saja sudah harus membuat kita bersuka cita, dan lebih-lebih lagi saya mempunyai Kristus yang setiap saat mendampingi saya, setiap saat dapat menolong saya.

Kemudian, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5:18). Mungkin Anda berkata,”Mengucap syukur dalam segala hal?” Kalau dianiaya? Dimaki? Nah, memang logika Kristus kadang-kadang bertolak belakang dengan logika dunia. Jika gigi kita dipatahkan orang, ganti patahkan giginya dua. Jika dipukul satu kali, ganti pukul dua kali, yaitu satu kali plus bunganya. Ini logika dunia. Tetapi, Yesus mengatakan, “Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39). Sukar juga, ya? Tetapi, maksudnya supaya kita tidak membalas, tidak menyimpan dendam dan sakit hati, agar kita mampu bersyukur. Mengapa? Karena, bahkan penderitaan pun, jika kita hayati dengan baik bisa menjadi satu berkat bagi kita. St. Petrus mengatakan, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (1Ptr 4:12-14).

Jadi, berbahagialah Anda jika dinista karena Kristus, bukan karena Anda melakukan kejahatan. Kalau dinista karena melakukan kejahatan itu tidak bahagia. Misalnya, jika Anda dipenjara karena melakukan korupsi, itu tidak bahagia, tetapi ya ... masih harus bersyukur karena diberi kesempatan bertobat. Akan tetapi, jikalau kita tidak berbuat salah, namun dipenjarakan karena nama Kristus, maka bersukacitalah!

Kita juga harus bersyukur dalam segala sesuatu, karena apa pun yang yang terjadi, apa pun yang kita alami, Tuhan tidak membiarkan kita sendiri. Allah setia. Di dalam hidup ini, Yesus tidak menjanjikan, “Kalau kamu ikut Aku, kamu pasti senang-senang terus” (senang-senang menurut ukuran dunia ini). Tetapi, Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Yah, inilah yang disebut kebodohan orang Kristen. Kok mau mengikut untuk pikul salib? Tetapi, di balik semuanya itu ada suatu sukacita yang murni, mendalam, dan tidak bisa dibeli dengan uang atau apa pun. Suatu sukacita yang datang dari Tuhan. Maka, kalau Anda membaca, misalnya dari Kisah Para Rasul, dimana para rasul ditangkap, didera, lalu dilepaskan. Coba perhatikan reaksi mereka. Tidak ada salah apa-apa tiba-tiba ditangkap, lalu didera. Namun, setelah dilepaskan, mereka bagaimana? Bisa kita bayangkan, biasanya orang yang telah diperlakukan tidak adil seperti ini akan memaki-maki, “Awas kamu! kurang ajar! Celaka nanti kamu!” Tetapi, para rasul tidak begitu. Setelah keluar dari sanhedrin, mereka memuji dan memuliakan Tuhan. Bagi orang yang tidak mengerti dan tidak beriman, mereka ini tidak waras.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting