header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Datanglah, Tuhan Yesus, Tolonglah Aku!

User Rating:  / 3
PoorBest 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, masa Natal sudah mendekat. Di dalam Injil Yohanes dinyatakan tentang pengharapan umat Israel yang menanti-nantikan kelahiran Sang Penyelamat Dunia (lih. Yoh 1:6-8,19-28). Bagi kita sendiri perayaan Natal mempunyai makna yang mendalam, bukan sekedar suatu peringatan ulang tahun. Setiap tahun orang bergembira merayakan ulang tahunnya, tetapi ini hanya selama dia hidup. Yesus hidup dua ribu tahun lalu, namun ... Ia tetap hidup sampai sekarang!

Advent dari kata adventus, artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan Tuhan. Kedatangan Tuhan bisa dikatakan dalam tiga segi: kedatangan pertama, yaitu kelahiran Yesus yang pertama di dunia ini. Anggaplah Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, walaupun sebetulnya kita tidak tahu tanggal berapa tepatnya Yesus lahir. Namun, tepatnya tanggal berapa itu tidak terlalu penting. Yang pasti Yesus pernah lahir di dunia ini. Itu kelahiran yang pertama yang sebetulnya merupakan permulaan suatu pengharapan besar bagi orang Israel dan bagi umat manusia. Kedatangan Tuhan itu telah membuat suatu perbedaan besar untuk kita semua dan untuk kita masing-masing. Apakah perbedaan itu? Seperti dikatakan dalam Injil Yohanes, perbedaan itu adalah barangsiapa percaya kepada-Nya akan beroleh hidup kekal (lih. Yoh 3:16). Jadi, kita yang percaya kepada-Nya ini sudah memiliki hidup kekal, walaupun baru pada tahap permulaan. Ini akan disempurnakan dalam hidup yang akan datang.

Dan, memang dari segi sejarah pun kedatangan Yesus telah mengubah banyak hal. Banyak hal yang kita anggap sudah dengan sendirinya, tetapi sebetulnya tidak demikian. Bandingkan dengan kehidupan dua ribu tahun yang lalu. Misalnya, persamaan hak antara pria dan wanita. Sekarang pria dan wanita mempunyai hak yang sama. Tidak demikian pada jaman Yesus. Wanita umumnya dianggap lebih rendah daripada pria. Yesus membawakan pembaruan bahwa di dalam Tuhan tidak ada perbedaan.

Yang lebih mencolok adalah persamaan martabat manusia. Pada jaman Yesus ada budak belian. Manusia yang diperbudak (dijadikan budak) sama sekali tidak mempunyai hak apa-apa. Sehingga jika tuan yang membeli atau mempunyai budak itu tiba-tiba marah lalu membunuh budak itu, maka tidak akan ada proses pengadilan. Jadi, seorang budak seperti ternak saja, boleh dibunuh, dijual, dll. Baru dengan kedatangan Kristus perlahan-lahan praktik perbudakan itu hilang. St. Paulus mengatakan bahwa di dalam Kristus tidak ada perbedaan lagi, baik orang bebas maupun budak (lih. Kol 3:8).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting