User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

4. Kriteria Keotentikan Suatu Wahyu

Kita lihat beberapa kriteria berhubungan dengan wahyu-wahyu seperti itu. Bagaimana untuk mengerti apakah wahyu itu benar atau tidak, dan mengerti keotentikannya atau kebenarannya:

 

4.1. Wahyu Harus Sesuai Dengan Wahyu Umum

Wahyu harus sesuai dengan wahyu umum, sesuai dengan ajaran Kitab Suci dan ajaran Gereja Katolik. Misalnya ada wahyu yang mengajarkan Yesus itu sebenarnya bukan manusia tetapi Dia itu hanya Allah saja, kalau demikian wahyu ini sesat dan salah karena tidak sesuai dengan wahyu umum bahwa Yesus itu sungguh-sungguh Allah dan manusia, dua pribadi Allah dan manusia dipersatukan dalam satu kodrat Ilahi, 100% Allah dan 100% manusia. Wahyu-wahyu tersebut harus sesuai dengan tradisi suci, ajaran Kitab Suci dan Magisterium Gereja Katolik. Tidak hanya sesuai dengan wahyu umum begitu saja dan tidak boleh bertentangan dengan dengan Iman Gereja Katolik sehingga kalau dikatakan tidak perlu lagi beribadah kepada Bapa karena semuanya sudah dikembalikan kepada Bunda Maria melalui penampakan-penampakannya, ini merupakan ajaran yang sesat. Oleh karena itu harus sesuai dengan wahyu umum dalam tradisi Gereja, Kitab Suci dan Ajaran Magisterium Gereja Katolik. Devosi yang benar kepada Maria ialah seperti yang dikatakan St. Bernardus “Per Mariam ad Jesum” artinya “Melalui Maria kita sampai kepada Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus”, kita tidak bisa menggantikan peran Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan namun devosi kita kepada Maria tidak dihalangi oleh Allah. Kita sebagai orang Katolik menghormati Maria bukan menyembahnya karena Maria masterpiece Allah, makhluk ciptaan Allah yang paling indah. Seluhur apapun Bunda Maria, ia tetaplah ciptaan sehingga kita menghormati sebagaimana Allah menghendaki kita menghormati dia untuk sampai kepada pengenalan Allah yang sejati. Dalam Litani Para Kudus dinyatakan “Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus” kita menjawab “Kasihanilah kami” tetapi ketika dinyatakan “Santa Perawan Maria” kita menjawab “doakanlah kami”, di sinilah letak perbedaannya “Melalui Maria kita sampai kepada Allah”.

4.2. Buah-buah dari Penampakan atau Wahyu

Setelah isi wahyu atau penampakan sesuai dengan wahyu umum, kitab suci dan ajaran Iman Gereja Katolik (Magisterium Gereja), sekarang kita lihat buah-buahnya bagi orang yang bersangkutan dan buah-buahnya bagi umat universal.

4.2.1. Buah-buah dari Penampakan atau Wahyu

Kalau kita mengamati kehidupan orang-orang yang menerima wahyu-wahyu, kalau memang datang dari Allah pasti akan membawa perubahan-perubahan moral dalam diri orang itu, antara lain buah-buahnya yang otentik ialah kerendahan hati, iman yang berkembang dan cintakasih kepada Allah dan sesama dan buah-buah rohani yang tetap. Namun yang terpenting adalah sikap dari orang-orang yang menerimanya. Kalau kita melihat beberapa contoh perbandingan, baik dari Penampakan di Lourdes, Fatima maupun di Medjugorje, lebih-lebih yang menonjol Penampakan Bunda Maria di Lourdes dan Medjugorje. Pada saat para visiuner mendapatkan penampakan, mereka umumnya masuk dalam ekstase artinya tidak sadar dengan keadaan sekelilingnya sehingga tidak langsung mengatakan ‘Lihat, Bunda Maria datang’ seperti penampakan yang terjadi di Surabaya dan penampakan palsu yang terjadi di tempat-tempat lain. Para visiuner terserap dan diserap oleh Kehadiran Penampakan itu sehingga menjadi tidak sadar terhadap keadaan sekelilingnya. Pada waktu St. Bernadette secara tidak sengaja membawa lilin dan api lilin mengenai tangannya dan tangannya tidak terbakar ketika ia mengalami Penampakan Bunda Maria dan ini merupakan suatu mukjizat.

Di Medjugorje keadaan zaman pada saat penampakan sudah modern tidak seperti pada waktu penampakan Bunda Maria kepada St. Bernadette di Lourdes. Pada saat penampakan di Medjugorje sudah diadakan pemeriksaan oleh tim penyelidik dan ketika penampakan berlangsung mata para visiuner disorot dengan lampu yang sangat kuat cahayanya dan mata mereka ternyata tidak berkedip sedikitpun. Dalam keadaan biasa (di luar penampakan) mata yang disorot dengan lampu yang kuat cahanyanya reaksi mata pasti tidak akan tahan dan akan menutup matanya atau berkedip, tetapi ketika sedang terjadi penampakan mereka tidak mengalami apapun kendati disorot lampu yang sangat kuat sekali. Seperti halnya Penampakan di Lourdes, Fatima dan Medjugorje kalau para visiuner sedang mengalami penampakan mereka lupa akan keadaan sekitarnya. St. Bernadette dan para visiuner sebelum mengalami penampakan masih berdoa rosario, begitu penampakan terjadi mereka berhenti berdoa dan pernah terjadi ketika mereka masih berdoa rosario, Bunda Maria ikut berdoa bersama mereka tetapi umumnya para visiuner ini mengalami keterserapan dan lupa akan dunia sekitarnya walaupun mereka itu berdialog dengan Bunda Maria.

Dan yang terpenting bagi orang yang menerimanya adalah buah-buahnya supaya mereka sadar bahwa mereka mendapatkan penampakan semata-mata karena rahmat Allah. Satu hal yang menyolok baik dari penampakan di Lourdes, Fatima dan Medjugorje yakni para visiuner tidak berusaha membuktikan bahwa penampakan yang mereka terima ini benar. Bahkan sebaliknya, mereka umumnya seperti yang dijumpai para visiuner dalam penampakan Lourdes dan Fatima mereka tidak mau menyatakannya kepada orang lain, tetapi orang lain yang mengatakannya sehingga akhirnya penampakan itu tersebar. Para visiuner di Fatima sebenarnya sudah berjanji untuk merahasiakannya, tetapi salah satu di antara para visiuner yang bernama Yasinta mengatakannya secara tidak sengaja, mungkin juga ini penyelenggaraan Ilahi supaya penampakan ini dikenal orang banyak dan akhirnya penampakan ini tersebar luas hingga sekarang dan umat melihatnya secara jelas.

Selain itu para visiuner dalam penampakan di Lourdes, Fatima maupun di Medjugorje mengalami penderitaan-penderitaan akibat penampakan-penampakan itu. Pihak-pihak tertentu tidak bisa menerima begitu saja penampakan-penampakan itu. St. Bernadette ketika mendapatkan penampakan Bunda Maria di Lourdes diancam dan mengalami bermacam-macam pencobaan, tetapi dengan penuh keyakinan ia mengakui bahwa ia mendapatkan penampakan dari Bunda Maria. Anak-anak dari Fatima yang mendapatkan penampakan dari Bunda Maria juga mengalami penderitaan dan pencobaan seperti yang dialami St. Bernadette. Mereka diancam akan digoreng hidup-hidup dan dimasukkan ke dalam wajan yang besar dengan air yang mendidih, dan dipaksa untuk mengatakan, “Kalau kalian tidak mengakui kebohonganmu bahwa kalian tidak pernah melihat penampakan itu kalian akan di goreng dalam air yang mendidih dalam wajan yang sangat besar itu”. Kemudian anak-anak itu dipisah dan diinterogasi satu per satu bahkan mereka ditakut-takuti tetapi mereka begitu setia pada penampakan itu dan menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa penampakan itu benar dan tidak mengada-ada. Satu hal yang perlu diketahui, sejak penampakan itu kehidupan para visiuner berubah secara mendalam, hidup moral mereka berubah dengan ditandai kehidupan imannya semakin bertumbuh makin mendalam dan tak tergoyahkan, sekalipun para visiuner ini baik pada penampakan Lourdes, Fatima dan Medjugorje mengalami penindasan, penderitaan dan pencobaan-pencobaan.

4.2.2. Dampaknya Pada Umat Universal

Baik dari penampakan di Lourdes, Fatima, dan Medjugorje inti pesannya kepada umat sesuai dengan ajaran Kitab Suci dam iman Gereja Katolik. Umat dibawa kepada pertobatan sehingga baik di Lourdes, Fatima maupun Medjugorje penampakan-penampakan ini membawa pertobatan yang besar. Begitu banyak orang bertobat walaupun ada juga orang-orang yang datang sebagai turis, tetapi pada umumnya mereka mendapatkan ‘sesuatu’ yang baik dan tersentuh. Penampakan di Fatima masih lebih murni sifatnya, artinya semangat devosi kepada Bunda Maria dan pertobatan yang radikal kepada Allah lebih besar daripada penampakan di Lourdes. Mungkin disebabkan karena di Lourdes sudah terjadi lebih lama namun banyak juga terjadi penyembuhan dan pertobatan khususnya penyembuhan batin. Di Lourdes tempatnya terbagi dua yaitu bagian penampakan (sanctuary) dan bagian yang diluar tempat penampakan yang dipenuhi dengan toko-toko yang menjual benda-benda rohani atau cinderamata. Di Fatima ada juga toko-toko yang menjual benda-benda rohani tetapi jumlah tidak banyak, namun tempat dan suasana di Fatima lebih banyak menghantar umat kepada semangat devosi dan pertobatan yang besar. Ketika ulang tahun penampakan di Fatima dirayakan mampu menyedot umat sampai 1 juta orang yang berkumpul di suatu lapangan yang besar sehingga kentara sekali dampaknya yang besar bagi umat.

Di samping penampakan Bunda Maria di ketiga tempat yaitu Lourdes, Fatima, dan Medjugorje terdapat kategori yang sama yaitu Wahyu kepada St. Margareta Maria Alacoque yaitu devosi kepada Hati Kudus Yesus. Kemudian St. Faustina Kowalska yang mendapatkan wahyu tentang Kerahiman Allah. Di Parelemonial, tempat St. Margareta Maria Alacoque mendapatkan wahyu tentang Hati Kudus Yesus juga menjadi tempat peziarahan yang banyak dikunjungi umat dewasa ini, jika dibandingkan dengan Lourdes yang menjadi tempat ziarah yang besar, Parelemonial hanya merupakan tempat yang kecil tetapi nilainya kurang lebih sama.

4.3. Bagaimana Sikap Kita Terhadap Wahyu-wahyu ini?

Sikap kita terhadap wahyu-wahyu seperti ini yakni penampakan Bunda Maria di Lourdes, Fatima dan Medjugorje serta pesan yang diterima oleh St. Margareta Maria Alacoque dan St. Faustina Kowalska ini ialah:

Wahyu pribadi itu tidak mengikat setiap orang Katolik, karena itu Gereja Katolik secara resmi tidak pernah memerintahkan orang Katolik untuk percaya dan menerima wahyu itu sehingga apabila seseorang tertarik untuk mengikuti devosi di Lourdes, Fatima dan Medjugorje tidak apa-apa dan tidak berdosa melawan iman. Dari pihak lain adalah baik jika kita melihat pesan-pesan Bunda Maria pada penampakan-penampakan ini yang merupakan pesan urgensi pertobatan. Pertobatan yang diwartakan Bunda Maria itu tentu saja merupakan yang hakiki baik setiap orang Kristen. Sebenarnya dan ‘seolah-olah’ Bunda Maria hanya mengulang berita atau himbauan Injil “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (lih. Mrk. 1:15), sedangkan pesan-pesan yang lain isinya bersifat sekunder. Dari pihak lain Bunda Maria menganjurkan devosi tertentu yakni berdoa rosario, boleh saja devosi tersebut dilakukan tetapi secara strike iman sifatnya tidak mengikat sehingga kalau orang tidak berdoa rosario tetapi lebih senang mendaraskan Doa Yesus itu juga tidak apa-apa karena tidak mengikat.

Dalam Gereja Katolik selain Doa Rosario dikenal juga Doa Yesus yang berasal dari tradisi Gereja Timur yang menghantar umat kepada Allah dengan penyeruan berulang-ulang nama Yesus atau nama Allah dalam iman, harapan dan kasih. Umumnya rumusan Doa Yesus seperti ini, “Tuhan Yesus Kristus Putera Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”, “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku”, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” atau hanya mengulang-ulang nama Yesus. Namun bagi banyak orang dengan berdoa rosario membantu mereka karena Doa Rosario merupakan devosi umum dalam Gereja Katolik dan terlebih-lebih untuk orang-orang yang sederhana, doa ini merupakan suatu cara yang sederhana yang dapat membantu banyak orang sehingga setiap orang dapat melakukannya. Dalam penampakan di Fatima isi pesannya adalah pertobatan, di Medjugorje isi pesannya juga pertobatan bahkan dianjurkan untuk berpuasa dan berpantang. Di Medjugorje diajarkan berpuasa dan berpantang yang sebenarnya merupakan ajaran Gereja Katolik yang sudah menjadi bagian yang lama dari tradisi Gereja. Bunda Maria melalui para visiuner menekankan kembali nilai-nilai itu, semuanya itu berupa anjuran bukan ‘perintah yang harus dilaksanakan’ tetapi alangkah baiknya jika kita menghayatinya dan anjuran berpuasa dan berpantang merupakan ajaran Gereja Katolik yang sudah menjadi tradisi sedemikian lamanya. Jadi apa yang dinyatakan Bunda Maria selalu serasi dan sesuai dengan iman Gereja Katolik dan perintah-perintah Gereja.

Dari penjelasan di atas, dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang beredar di kalangan umat tentang penampakan Bunda Maria di Surabaya terhadap seorang bapak dan seorang ibu di Cimahi menjadi suatu pertanyaan besar. Jika kita mencoba menganalisanya berdasarkan penampakan-penampakan yang sudah diakui Gereja secara otentik, penampakan kedua orang itu belum tentu benar apalagi adanya hal-hal yang negatif berkenaan dengan penampakan tersebut. Jika kita pelajari berdasarkan peristiwa-peristiwa, kaset-kaset dan majalah-majalah yang memuat penampakan kedua orang itu, hasil dan kesimpulannya ialah penampakan itu tidak otentik, walaupun tidak bisa dikatakan kedua orang yang mendapat penampakan itu sengaja menipu dan akhirnya mereka ini tertipu atau diperalat orang lain.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting