header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Wahyu-wahyu dan Penampakan Maria

User Rating:  / 21
PoorBest 

Seringkali dalam kehidupan iman kita, ditemui orang-orang tertentu yang mengalami penampakan-penampakan ‘Bunda Maria’ atau menerima wahyu-wahyu yang isinya mengenai suatu ‘kebenaran ilahi’. Tidak jarang jumlahnya banyak sekali dan belum tentu penampakan-penampakan dan wahyu-wahyu itu benar atau otentik. Karena bila langsung mengatakan semua itu berasal dari Tuhan atau otentik (terbukti kebenarannya) kita mungkin bisa keliru dan salah mengerti. Padahal untuk mengerti dan memahami suatu wahyu atau penampakan itu otentik dan benar, dibutuhkan suatu pengujian atau discernment (proses mencari dan mengenali kehendak Allah untuk hal-hal seperti itu) selain itu harus mengikuti ajaran Kitab Suci yang benar dan harus sesuai dengan ajaran iman Gereja Katolik/Magisterium Gereja Katolik serta buah-buahnya bagi orang yang menerimanya serta dampaknya bagi umat universal. Kita harus mengenali dari mana sumber penampakan atau wahyu tersebut, apakah berasal dari Allah, dari diri sendiri atau berasal dari roh jahat! Dalam proses discernment ini kita dapat mengenali penampakan dan wahyu itu benar atau tidak, otentik atau tidak. Untuk mengerti hal-hal yang berhubungan dengan penampakan dan wahyu, di bawah ini akan dibahas secara jelas mengenai kriteria-kriteria dan sarana untuk mengujinya, serta mengambil kesimpulan apakah wahyu dan penampakan itu berasal dari Tuhan atau bukan, semuanya itu otentik atau tidak. Mari kita bahas hal ini satu per satu.

 

1. Wahyu Pribadi

Berhubungan dengan wahyu pribadi kita bedakan dengan wahyu yang sesungguhnya yang mengungkapkan misteri dan rahasia-rahasia Allah dan karya-karya-Nya. Wahyu dalam arti yang luas yaitu memberikan pengertian rahasia-rahasia adikodrati yang sudah dimengerti oleh iman. Wahyu-wahyu yang berhubungan dengan penampakan Bunda Maria merupakan wahyu pribadi yang bersifat publik. Wahyu yang bersifat pribadi tentang Allah dimana orang diberi wahyu tentang Allah mengenai karya-karya-Nya, misalnya sering terjadi orang diberi pernyataan tentang kapan ia akan mati, tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di dunia pada masa yang akan datang atau peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan suatu bangsa, suatu tempat atau pribadi-pribadi. Mengenai wahyu-wahyu ini, walaupun Allah dapat memberikannya secara otentik kepada orang-orang tertentu tetapi wahyu-wahyu ini seringkali menyesatkan dan menipu dalam arti sesungguhnya orang mudah tertipu oleh wahyu-wahyu ini.

Dalam hal ini iblis mudah sekali campur tangan sebagai contoh dalam negara kita terjadi banyak sekali wahyu-wahyu seperti ini dan masyarakat sering mengatakan “ada penampakan ini atau ada wahyu seperti itu” ternyata setelah diselidiki wahyu-wahyu tersebut seringkali salah dan keliru dan kerapkali kita yang mendengarnya menjadi tertipu pada akhirnya. Di samping itu, wahyu-wahyu seperti itu nilainya sangat kecil sekali dalam kehidupan rohani, tentu saja pada orang-orang tertentu Allah dapat menyatakan ‘suatu kebenaran’ tetapi tetap saja nilainya itu kecil sekali karena hanya mengetahui peristiwa yang akan datang, sebenarnya wahyu-wahyu itu datang dari dirinya sendiri (bersifat semu). Wahyu-wahyu seperti ini tidak menambah kesucian seseorang walaupun ada orang yang mendapatkannya kemudian menyatakannya kepada orang lain dan orang itu bertobat tetapi seringkali wahyu-wahyu ini kurang otentik.

2. Wahyu Dalam Arti yang Luas

Sebenarnya tidak ada wahyu baru namun orang-orang tertentu mendapatkan penerangan secara lebih khusus dan istimewa mengenai misteri Allah. Orang-orang tertentu diberikan pengertian yang lebih mendalam tentang Allah Tritunggal, tentang inkarnasi, tentang rahasia Kerahiman Allah sebagaimana St. Theresia Lisieux yang mengerti Cintakasih Allah yang Maharahim. Wahyu seperti ini memberikan pengertian yang lebih mendalam mengenai misteri Allah dan berhubung dengan misteri Allah sendiri, sentuhan-sentuhan Tuhan yang sangat mendalam yang merupakan rahmat besar bagi hidup seseorang.

Seperti kita ketahui dalam hal manusia dengan segala usahanya tidak dapat berbuat apa-apa, karena itu kita tidak perlu mengharapkannya. St. Theresia berkali-kali mengatakan “Kalau orang mengharapkan hal-hal seperti itu, tanda pasti bahwa dia tidak akan memperolehnya. Tuhan tidak akan memberikan wahyu-wahyu kepada jiwa-jiwa yang lekat pada perkara-perkara duniawi dan sombong yang mengharapkan untuk mendapat wahyu-wahyu seperti itu”. Karena semua itu merupakan kesombongan dan bersifat melampaui segala pengertian manusia. Dengan segala usahanya ia tidak akan mendapatkannya, seperti yang ia harapkan. Sikap yang paling tepat untuk hal ini yaitu dengan rendah hati mempersiapkan diri, hidup dalam kerendahan hati. Tidak usaha memikirkannya dan bila Tuhan memandang perlu mungkin suatu saat akan diberikan-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting