User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kesombongan adalah dosa yang begitu besar. Allah sangat membenci orang yang sombong dan mencintai orang yang rendah hati. Apabila kita jatuh dalam kesombongan, sesungguhnya kita tidak lagi menggantungkan diri kepada Allah, menganggap diri kita bisa segalanya, sedang kebalikannya kalau kita rendah hati, kita menyadari ketergantungan kita kepada Allah. Kesombongan perlu sekali disembuhkan dari seseorang, apalagi kalau kita mau melayani Tuhan secara khusus.  Dalam menyembuhkan kesombongan, kita perlu menyadari kebesaran Tuhan dan menyadari bahwa Tuhanlah yang memurnikan hidup kita.



1. Jalan untuk Menyembuhkan Kesombongan.

Dalam penyembuhan kesombongan ini, kita temui ada dua sarana :

Merenungkan kebesaran Tuhan, menyadari siapa itu Tuhan, serta merenungkan siapa diri kita itu. Karena itu doa St. Agustinus: “Nofrinte dofrinme domine” yang berarti “Semoga aku mengenal Engkau ya Tuhan dan semoga aku mengenal diriku sendiri”. Mengenal Tuhan adalah sumber untuk mengenal diri kita sendiri. Ini kita lakukan dengan penyadaran atau dengan renungan.

Ini jalan yang lebih tuntas yaitu bila Tuhan sendiri memurnikan kita, inilah yang disebut dengan pemurnian pasif. Kalau Tuhan memurnikan kita dengan bermacam-macam pencobaan dan kesukaran, kita akan disembuhkan dari kesombongan. Penyembuhan yang pasif lebih dalam dan lebih tuntas, tetapi semata-mata tergantung dari Tuhan bukan dari kita. Dari pihak kita, jika hati kita sungguh-sungguh mencari Tuhan Dia akan memurnikan kita. Jika kita sungguh-sungguh menghilangkan cacat cela ini, maka Dia akan datang menolong kita. Seringkali Tuhan ingin memurnikan kita tetapi seringkali kita meronta-ronta.

Kita lihat sarana yang pertama ini yaitu melalui penyadaran atau renungan dapat sedikit memperoleh kerendahan hati dan menghilangkan kesombongan diri kita. Sarana yang lebih penting untuk menyembuhkan kesombongan ialah dengan benar-benar mengakui kebesaran Allah seperti yang dikatakan Malaikat Agung, St. Mikael “Siapakah yang sama seperti Allah kita”. Menyadari bahwa Dialah satu-satunya sungguh besar, Pencipta langit dan bumi. Dia saja yang besar, Dia saja sumber segala kebaikan kodrati maupun adikodrati, secara natural menyadari:


2. Kita diciptakan oleh Allah, segala yang ada pada kita berasal dari Allah.

Seandainya saja kita sesaat saja dilupakan oleh Allah, kita kembali ke dalam ketiadaan dan kita akan hancur. Lebih-lebih lagi secara adikodrati, secara kodrati kita tergantung dari Allah. Tuhan sendiri dengan jelas mengatakan “tanpa Au kamu tidak bisa berbuat apa-apa” (lih. Yoh. 15:5). Dengan merenungkan perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya, ini salah satu cara untuk menyadarkan kita, “Tanpa Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa”. Bayangkan saja pokok anggur itu atau buah apapun serta ranting-rantingnya, kalau kita perhatikan kecuali Nangka yang buahnya tumbuh pada batangnya. Buah-buah yang lain kecuali Nangka, buah tumbuh pada ranting-rantingnya. Batang pohon umumnya tidak diperhatikan orang , yang diperhatikan biasanya daun-daunnya atau ranting-rantingnya penuh dengan buahnya.

Demikian juga Tuhan, dengan rendah hati Ia seperti batang yang memberikan segala-galanya, buah diserahkan pada ranting-rantingnya. Kalau kita bayangkan dan renungkan hal ini, jika ranting-ranting itu sesaat saja lepas dari batang maka ranting segera menjadi kering dan buah yang kelihatannya bagus dan indah dalam waktu yang singkat akan menjadi kering dan busuk. Demikian juga kita seperti ranting tidak mungkin berbuah demikian pula kita jika terpisah dari Kristus tidak bisa berbuat apa-apa, “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. St. Paulus menghardik orang-orang Korintus yang menyombongkan diri karena mereka memiliki berbagai macam karunia. Paulus mengatakan “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Kor. 4:7).

Semua karunia dan rahmat yang kita terima dari Allah, apapun yang diberikan Tuhan bagi kita, baik karunia jasmani maupun rohani khususnya karunia rohani. Apapun yang kita miliki itu, darimana asalnya? Itu dari Allah, apa yang kamu miliki yang tidak kamu terima, baiklah kita renungkan hal ini. Kalau kita menerimanya “Mengapa berbangga-bangga, seolah-olah tidak menerimanya, seolah-olah itu menjadi milikmu sendiri”. Memang manusia telah dinodai oleh dosa asal itu begitu cenderung untuk menyombongkan diri, untuk tidak mau kalah dengan orang lain dan sebagainya, hal ini dijumpai pada setiap manusia. Kita bisa diingatkan dengan pengalaman ini, di Ngadireso ada seorang pembantu yang melapisi giginya dengan perak. Mengapa gigimu dilapisi perak, apakah gigimu sakit? Tidak Romo, tetangga saya giginya dilapisi perak satu buah sehingga saya tidak mau kalah melapisi kedua gigi saya dengan perak. Inilah manusia, siapapun orangnya itu sudah kejangkitan penyakit-penyakit seperti itu. Oleh karena itu, kita mau merenungkan itu semua yaitu teks-teks kitab suci sebagai bahan untuk kita resap-resapkan atau renungkan. Kita ulang-ulangi lagi sehingga kita sadar bahwa “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

Kalau kita renungkan beberapa teks itu, maka kita akan tahu hal tersebut. Dikatakan bahwa kita tidak bisa mencukupi diri kita sendiri tetapi kita menerima segalanya dari Allah, seperti yang dikatakan Paulus kepada umatnya di Korintus “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Kor. 3:5). Kalau St. Paulus yang melakukan begitu banyak karya, begitu banyak mukjizat sadar bahwa dari diri kami sendiri kami tidak sanggup memperhitungkan sesuatu bahwa itu semua pekerjaan kami karena kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Dialah yang membuat kami sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, Dia yang membuat kami sanggup. Jadi kita lihat kesadaran pada orang-orang kudus bahwa mereka tidak sanggup melakukan semua dan St. Paulus mengatakan “Aku berbangga-bangga dalam kelemahanku sebab kalau aku lemah aku kuat dalam Dia” (lih. 2 Kor. 12:10). Di sini kita lihat St. Paulus tidak mengandalkan kekuatannya sendiri.

Kita lihat seorang kudus seperti St. Teresa dari Avila yang memiliki kerendahan hati yang mendalam mengatakan: “Teresa bukan apa-apa, 1 dukat bukan apa-apa (mata uang emas spanyol pada zaman St. Teresa Avila) tetapi Yesus, Teresa dan 1 dukat adalah segala-galanya. Jika kita sadar dan bergantung dari Allah. Mereka dapat mengharapkan segala-galanya dan tidak takut apa-apa. Kita harus sungguh-sungguh menyadari, kalaupun kita dapat melakukan segala sesuatu itu semua Tuhanlah yang melakukannya di dalam diri kita, bukan kita sendiri yang melakukannya dan hal ini perlu untuk kita renungkan. Dari diri sendiri kita tidak mampu melakukan apa-apa.

St. Thomas Aquino mengatakan demikian “Kebaikan dalam tiap-tiap ciptaan itu berasal dari Allah”.  Karena kita semua adalah ciptaan maka kebaikan yang ada dalam diri kita itu berasal dari Allah. Tidak ada seorangpun yang lebih baik dari yang lain kecuali karena kehendak Allah, jadi kalau saya dipanggil menjadi seorang religius atau seorang imam itu bukan karena saya pantas atau layak tetapi karena Allah yang mempunyai rencana dan menghendakinya. Demikian juga dengan Bunda Maria akhirnya jauh melampaui yang lain itu bukan karena jasa-jasa Bunda Maria sendiri, melainkan karena pilihan Allah dan Bunda Maria paling sadar di antara manusia, dia berhutang seluruhnya dari Allah. “Apa yang ada padaku itu berasal dari Allah, apa yang ada padaku aku berhutang pada-Mu”. Hutang yang tidak bisa dibayar karena apa yang kita terima dari Allah kita tidak mampu membalasnya atau membayarnya. Demikian dengan menyadari bahwa ‘tanpa Aku, kamu tidak bisa berbuat apa-apa’.

Kalau begitu kita sadar bahwa kita tidak ada alasan untuk berbangga-bangga dalam pemberian-pemberian atau karunia-karunia kodrati maupun karunia-karunia adikodrati seperti kepandaian, kemampuan, kesehatan dan sebagainya itu semua datangnya dari Allah. Kita lihat orang yang sehat sewaktu-waktu dapat mati mendadak, mengalami kecelakaan atau apapun. Dan dari segi adikodrati kita juga tidak bisa berbuat apa-apa, St. Paulus kepada jemaat di Filipi 2:13 menyadarkan kita “Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu kemauan (kemauan untuk melakukan yang baik) dan pelaksanaannya”. Untuk menghendaki yang baik membutuhkan rahmat Allah apalagi untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa dari diri sendiri kita bukan apa-apa. Dalam suatu penampakan Tuhan Yesus mengatakan kepada St. Katarina dari Sienna tentang kebenaran “Akulah yang Ada, engkau yang bukan apa-apa (tidak ada)”. Yesus mau menyatakan kepada St. Katarina bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Maka seperti yang telah dinyatakan “Coba kamu pikirkan dan renungkan setahun yang lalu kamu dimana” untuk menyadarkan apa yang ada pada kita berasal dari Allah.

Pada Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang sangat rendah hati dan kita mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada kita “Belajarlah kepada-Ku karena aku lemah lembut dan rendah hati” (lih. Mat. 11:29). Yesus sadar bahwa segala-galanya berasal dari Bapa, ‘apa yang ada pada-Ku berasal dari pada-Mu’ dan Yesus tidak menyangkal sedikit pun juga. Karena itu kita mengatakan bahwa Yesus itu sungguh-sungguh rendah hati, karena kerendahan hati adalah kebenaran dan kesombongan adalah kebohongan. Kita menyadari itu semua kemudian juga segala yang ada pada kita, kita terima dari Allah bahkan untuk setiap pikiran yang baik, untuk setiap keinginan yang baik itu semua berasal dari Allah. “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:13).


3. Renungan atas dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita

Di samping itu untuk menyadari supaya kita tidak sombong atau tidak menyombongkan diri, baiklah kita merenungkan dosa-dosa kita maka di sini di samping kenyataan bahwa kita tidak berdaya bahwa kita hanya berbuat dosa. Merenungkan dosa bukan untuk tenggelam dalam dosa-dosa kita tetapi untuk menyadari apa artinya kalau kita dibiarkan oleh Allah. Dari diri sendiri kita tidak bisa berbuat apa-apa hanya satu yang dapat kita lakukan adalah berbuat dosa. Jadi kalau kita sadari betapa besar dosa-dosa kita maka menyadari dosa-dosa, kelemahan-kelemahan, kecenderungan-kecenderungan yang ada pada diri kita akan menghilangkan kesombongan dari hati kita. Lebih-lebih kita menyadari dan kita renungkan seharusnya ‘Aku pantas dihukum bahkan dihukum di dalam neraka’ karena dosa-dosa kita. Dengan merenungkan hal ini membuat kita tidak berani menyombongkan diri. Di samping itu kita menyadari kita telah berbuat dosa, untuk dosa-dosa itu sebenarnya kita pantas direndahkan, diremehkan dan sungguh-sungguh direndahkan.

Para kudus seperti para kudus yang besar itu berpikir demikian bahwa mereka pantas menerima hukuman itu dan saya kira itu pikirannya itu lebih tepat dari pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, kalau kita tahu bahwa kita dari sendiri karena dosa-dosa kita pantas mendapat hukuman bahkan neraka. Tetapi kita tahu Allah itu Maharahim, dengan ini kita tidak akan berani meninggikan diri di atas orang lain. Kalau kita melihat orang lain berbuat dosa, coba kita merenungkan hal ini bahwa saya saat ini masih dilindungi Tuhan karena rahmat Tuhan, seandainya tanpa rahmat Tuhan aku akan melakukan dosa yang lebih besar. Jikalau kita melihat orang lain jatuh lalu mengadili seandainya Tuhan tidak memberikan rahmat kepada saya maka saya akan jatuh lebih hebat lagi. Misalnya saya tidak jatuh seperti orang itu, semata-mata karena rahmat Allah. Kalau kita melihat kecenderungan-kecenderungan jahat dalam diri kita sendiri, keinginan-keinginan tidak teratur, kecenderungan jahat kepada dosa kita tidak akan berani seolah-olah menengadah seperti pemungut cukai tertunduk dan hanya berani menepuk dada dan berkata “Kasihanilah ya Allah, aku orang yang berdosa ini” (lih. Luk. 18:13).

Kalau kita jatuh ke dalam kesombongan tidak pernah merenungkan dan melihat keadaan jiwanya sendiri bahaya besar kita akan menjadi ‘farisi’. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus mengenai orang farisi itu: “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 18:14). Sebenarnya orang farisi itu pendosa tetapi tidak menyadarinya. Oleh karena itu, tidak ada sesuatupun yang patut kita banggakan, apapun yang kita kerjakan itu sebetulnya berasal dari Allah.


4. Dasar Kitab Suci

Maka kitab suci sangat sadar akan hal ini, kita lihat dalam Kisah Para Rasul dikatakan “dan Allah melalui Paulus melakukan tanda dan mukjizat” (lih. Kis. 14:3; Kis. 15:12). Pengarang dengan sadar menyatakan bahwa tanda-tanda dan mukjizat bukan karya Paulus melainkan karya Allah melalui Paulus. Dalam hal ini jika kita diumpamakan dengan kuas yang digunakan pelukis untuk melukis. Kalau lukisan itu jadinya bagus, bukan jasa kuasnya melainkan jasa pelukisnya. Kuas itu tidak bisa apa-apa tetapi pelukis yang memakai kuas itu yang melukis, dialah yang sebetulnya pelaksana.

St. Agustinus mengatakan bahwa “Allah memberikan karunia-karunia kepada kita dan Dia juga yang memahkotai jasa-jasa kita atau memberikan jasa kepada kita dengan memberikan karunia-Nya kepada kita”. Kita bisa berbicara tentang jasa kita, tetapi kita hanya terbuka dan mau menerima itu karena dari diri sendiri kita tidak bisa berbuat apa-apa tetapi kita mau digerakkan itulah kita bisa berbicara tentang jasa-jasa kita. Karena itu kita tidak usah berbangga-bangga terhadap apa yang kita lakukan, seperti yang dikatakan dalam Buku Mengikuti Jejak Kristus karya Thomas A  Kempis memang sangat tepat, di mana Thomas mengatakan “Seorang petani yang rendah hati itu lebih berharga daripada seorang filsuf yang sombong”. Seorang filsuf yang sombong yang pada masa itu dapat menerangkan bagaimana terjadinya alam semesta, seorang penguasa segala ilmu pengetahuan maka sekarangpun kita dapat berkata bahwa seorang sederhana yang mempunyai iman lebih berharga daripada seorang ahli fisika/nuklir yang termasyhur yang tidak memiliki iman. Seorang apapun yang hebat tetapi tidak mengakui Allah tetapi orang sederhana jauh lebih berharga.

Jika kita renungkan mungkin di dalam surga kelak, kita mendapat surprises bahwa orang yang tidak kita pandang sebelah mata, orang-orang sederhana mungkin mendapatkan kedudukan yang jauh di atas kita. Mungkin yang di dunia ini sangat dihormati, mungkin pasti hanya berada di belakang pintu saja ‘kalau masih diperkenankan masuk’, kadangkala kita silau oleh itu semua. Orang-orang sederhana tetapi yang sungguh beriman itu jauh lebih berharga. Seorang petani yang melayani Allah lebih baik daripada seorang filsuf yang mempelajari dan menyelidiki segala macam rahasia alam semesta tetapi melalaikan pengenalan diri sendiri.

Thomas A Kempis mengatakan “Dia yang mengenal dirinya sendiri menyadari kekecilannya, kehinaannya dan tidak mencari dan tidak senang akan puji-pujian orang lain”. Orang-orang yang terpelajar senang dianggap terpelajar serta senang diberi gelar tetapi di hadapan Allah sama sekali tidak ada artinya. Karena itu Thomas A Kempis menyatakan “Seandainya engkau ingin belajar sesuatu yang berguna mencinta dan senang untuk tidak dikenal dan dipandang sebagai orang yang tidak berharga”. Maka kamu akan menemukan kerendahan hati dan tidak menyombongkan diri. Belajar untuk tidak dikenal dan tidak dianggap apa-apa. “Kalau engkau melihat orang lain yang melakukan kesalahan bahkan melakukan dosa yang berat. Engkau tidak usah menganggap dirimu lebih baik, engkau tidak tahu berapa lama engkau tidak akan jatuh dalam dosa yang sama atau berapa lama engkau akan bertekun dan bahkan seandainya Tuhan tidak memberikan rahmat khusus padamu, apakah engkau tidak akan jatuh?”

Kalau kita melihat banyak umat, banyak awam atau banyak anak muda jatuh dalam pelbagai macam dosa yang mengerikan. “Kalau dipikir seandainya saya berada dalam situasi mereka apakah saya akan menjadi lebih baik atau mungkin lebih jahat dan kalau tidak diberikan rahmat, pastilah keadaan saya akan sangat mengerikan!” Maka jika kita dilindungi dari pelbagai macam dosa itu bukan jasamu tetapi semata-mata karena rahmat Allah. Kita semua lemah dan kita tidak tahu apakah kita bisa bertekun sampai akhir karena itu juga betapa pentingnya tiap hari berdoa mohon rahmat ketekunan. Apakah gunanya kita yang memiliki panggilan ini bahkan sampai pesta perakpun tetapi sesudahnya meninggalkan Allah. Itu semua terjadi karena ketidaksetiaan-ketidaksetiaan yang kecil-kecil yang kita abaikan kemudian menjadi besar.

Kita perlu merenungkan hal ini, apabila kita merenungkan ini kita tidak akan menjadi sombong. Jangan malu untuk dipandang remeh, untuk dipandang kecil dan untuk dipandang tidak berharga. Karena itu kita lihat orang seringkali malu dan takut kalau nanti tidak dihargai dan sebagainya. Tetapi baiklah kita menyadari kebaikan Tuhan. “Allah meninggikan orang yang rendah hati dan merendahkan orang yang sombong. Jangan menganggap dirimu sendiri lebih baik daripada orang lain, sebab jangan-jangan engkau dianggap lebih jahat daripada orang lain dalam pandangan Allah. Sebab apa yang mulia dalam pandangan manusia seringkali merupakan kejijikan dalam pandangan Allah. Dan apa yang menyenangkan manusia seringkali tidak berkenan kepada Allah”.

Maka damai yang sejati ialah akan tinggal pada orang yang rendah hati sedangkan dalam hati orang yang sombong sering ada iri hati, kekecewaan dan kemarahan. Orang yang rendah hati akan dilindungi dan dihibur oleh Allah dan Allah menyatakan misteri-Nya kepada orang-orang kecil, seperti yang dikatakan Yesus “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25). Jadi renungan-renungan kitab suci ini menyadarkan kita. Kalau kita belajar supaya semakin menyadari ketergantungan kita dari Allah.

5. Pemurnian Pasif, Jalan Efektif untuk Menyembuhkan Kesombongan

Teologia adalah ilmu tentang Allah, Teo berarti Allah dan Logos artinya adalah ilmu. Maka kalau kita mengenal Allah maka makin mengenal diri sendiri dan tidak menjadi sombong. Ini merupakan usaha-usaha yang dapat kita lakukan secara aktif. Merenungkan sekurang-kurangnya kalau kita merenungkan dengan sungguh-sungguh dan menyadari serta tiap-tiap kali diingatkan kembali sekurang-kurangnya kita tidak berani lagi menyombongkan diri. Namun supaya dapat mencapai kerendahan hati yang sejati yang merupakan lawan dari kesombongan kita perlu dimurnikan. Apa yang kita lakukan sendiri itu tidak cukup perlu pemurnian yang pasif melalui karunia Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam diri kita.

Dimana oleh karunia Roh Kudus itu kita boleh menyadari kerapuhan kita yang mendalam, menyadari kerapuhan yang begitu besar oleh terang Roh Kudus. Karena itu menurut St. Teresa Avila: “Pengenalan akan Allah yang sejati itu menghilangkan kesombongan dan membuat orang makin rendah hati”, ibarat sebuah kain yang kotor kalau diletakkan di antara kain-kain yang putih, makin kelihatan kotornya atau misalnya pada malam hari mandi di selokan atau di sungai karena tidak kelihatan karena gelap airnya dikira segar dan bersih tetapi kalau pagi atau siang hari kelihatan kotornya.

Demikian juga orang akan menganggap dirinya itu hebat selama ia belum diterangi oleh cahaya Roh Kudus. Begitu terang Allah menerangi kita maka kita melihat kekotoran diri sendiri. Karena itu kerendahan hati yang sejati akan lebih dalam dan besar dicapai melalui pengalaman Allah dan Allah kadang-kadang merendahkan kita dengan pelbagai macam cara, seperti pemazmur berkata: “Sungguh baik Engkau telah merendahkan aku supaya aku belajar keadilan-Mu atau ketetapan-Mu (Lih. Mzm. 119:71). Oleh karena itu, kalau kadang-kadang kita mengalami tantangan, kalau kita direndahkan itu adalah baik. Kalau kita difitnah yakni hal-hal yang tidak benar dan jahat diarahkan kepada kita atau bila orang memandang remeh kepada kita sebenarnya itu adalah suatu rahmat. Merupakan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam kerendahan hati dan membebaskan kita dari kecongkakan atau dari keangkuhan.

Dalam penderitaan dan salib-salib kita belajar ‘Siapa kita ini’, belajar mengenal diri sendiri bahwa tanpa rahmat Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal ini kita lihat Nabi Elia, seorang Nabi yang besar ketika berada di Gunung Karmel. Seorang diri menghadapi seluruh bangsa Israel dan menghadapi 400 nabi Baal, ia tegar dan tidak takut siapapun karena Tuhan menyertai dia dan rahmat Tuhan hadir sungguh-sungguh dalam dirinya sehingga ia dengan penuh keyakinan dapat berkata: “Biar kita adakan semacam pertandingan, siapa persembahan yang dijawab oleh api dari surga, Allahnyalah yang benar” (Lih. 1 Raj. 18:20-46). Dengan penuh keyakinan Elia menantang bangsa Israel dan menantang nabi Baal karena rahmat Allah menyertai dia secara istimewa. Setelah itu Tuhan mengajar dia ketika dalam pencobaan di padang pasir seolah-olah Allah meninggalkan dia. Kita lihat Elia yang tertidur dan berputus asa serta berkata “Aku tidak lebih baik dari nenek moyangku, biarlah aku mati saja (Lih. 1 Raj. 21:3). Seolah-olah kita kaget dan bertanya “Mana Elia yang gagah perkasa, yang berkobar-kobar dan mendatangkan api dari langit?” hanya karena ancaman Izebel saja, Elia sudah putus asa. Di sinilah Allah mengajar Elia tentang ‘siapa dia itu tanpa rahmat Allah?’. Dan Elia membiarkan dirinya diajar oleh Allah karena itu ia dapat bertekun sampai akhir.


6. Penutup

Jika kita membiarkan diri dimurnikan oleh Allah tanpa meronta-ronta maka perlahan-lahan dampak-dampak dari kesombongan itu akan hilang dalam diri kita dan kita tidak akan terganggu lagi oleh kesombongan dan akan beristirahat dalam kerendahan hati. Kita tidak akan dipengaruhi apa kata orang, kita tidak akan dipengaruhi baik oleh sanjungan-sanjungan, kalaupun disanjung-sanjung kita tidak akan lupa daratan dan kita tidak akan putus asa kalau kita dimusuhi, direndahkan dan diremehkan serta dihina. Kita akan mulai bergembira atas kebaikan yang kita lihat dalam diri orang lain. Kita akan mulai bersukacita kalau orang lain berbuat sesuatu yang baik bukannya iri hati.

Pengenalan Allah akan membawa kita untuk mengatasi kesombongan dan sampai pada kerendahan hati, baiklah itu semua direnungkan, diresap-resapkan sebab kalau kita menjadi sombong maka hanya kebinasaan yang menjadi bagian dalam kita seperti yang dikatakan dalam kitab suci “Allah menentang orang yang sombong tetapi meninggikan orang yang rendah hati dan Allah berkenan kepada orang yang rendah hati”. Dari pihak kita, kita melakukan apa yang dapat kita lakukan maka Tuhan akan menolong kita dan mulai mengerti betapa berharganya penderitaan dan salib itu. Bila kita direndahkan, dan difitnah, kita mengerti bahwa kita dimurnikan dan ini lebih baik daripada segala yang lain.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting