Print
Hits: 6448

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

1. Pengantar

Sebagai makhluk yang diciptakan untuk sesuatu yang tidak terbatas, manusia tidak pernah dapat puas dengan dunia yang terbatas ini. Segala harta dunia ini, segala kegemilangannya, segala silau teknologinya yang canggih, segala kepuasan yang ditawarkannya, pada hakekatnya tidak pernah dapat memuaskan hatinya yang selalu merindukan sesuatu yang mengatasi dunia ini. Ia merindukan suatu realitas yang melampaui dunia yang tampak ini. Kata-kata Santo Augustinus, "Engkau menciptakan kami untukmu, ya Tuhan dan hati kami akan senantiasa gelisah sebelum beristirahat dalam Dikau,” akan tetap aktual selama manusia masih manusia, betapapun canggihnya penemuannya. Hati manusia diciptakan demikian besarnya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat mengisi hatinya selain yang tidak terbatas. Maka dilihat dari latar belakang tersebut, tidaklah mengherankan, bahwa manusia selalu tertarik kepada sesuatu yang tidak biasa, yang melampaui pengalamannya sehari-hari. Sesungguhnya inilah awal pencarian manusia akan yang abadi, yang melampaui segala pancaindera dan akal budi.

Dalam usaha mencapai sesuatu yang melampaui pengalamannya sehari-hari ini dan yang dirasakannya sebagai sesuatu yang akan dapat dicapainya, manusia menempuh pelbagai macam jalan. Jalan yang ditempuh manusia untuk mencapainya memang banyak persamaannya, namun juga cukup banyak perbedaannya. Dalam dunia katolik, kita jumpai pelbagai bentuk doa dan kontemplasi beserta segala sarana pembantunya, seperti kelepasan, askesis yang artinya melatih diri, puasa, pantang, dan sebagainya. Dalam dunia non kristiani kita jumpai pula banyak usaha ke arah itu lewat doa, samadi dalam pelbagai bentuknya, yang juga disertai kelepasan dalam pelbagai bentuknya, seperti yang kita jumpai dalam kerahiban Hindu, Budha, Sufisme Islam, dan juga mistik Jawa. Perbedaan jalan yang ditempuh itu disebabkan oleh perbedaan persepsi akan tujuan yang harus dicapai.

Usaha mencapai sesuatu yang melampaui pengalaman sehari-hari itu dapat dibandingkan dengan suatu perjalanan mendaki ke sebuah puncak gunung yang tinggi. Dalam usaha mendaki puncak gunung tersebut, sedikit yang sampai di puncak dengan selamat, tetapi banyak yang hanya sampai pada kaki saja, karena tidak tahu jalan yang menuju ke situ, atau karena tidak cukup staminanya untuk melanjutkan perjalanan, sedangkan yang lain sampai pada lereng dan berhenti di situ, karena tergoda oleh keindahan alam dan satwanya yang dijumpai di sana. Kecuali itu orang juga bisa tergoda oleh macam-macam hal, misalnya kesaktian, untuk menuruni lembah dan jurang yang dalam, tanpa menyadari bahaya yang mengancam di sana. Puncak yang dituju pun ternyata berbeda-beda pula, tidak semuanya sama. Bagi sesama orang kristiani pun puncaknya juga berbeda, sebab seperti yang dikatakan Gregorius dari Nyssa, bapak teologi mistik kristiani, selama kita hidup di dunia ini, mencapai kesempurnaan kristiani yang sama artinya dengan puncak pengalaman mistik, berarti berjalan di pegunungan yang berlapis-lapis, dari puncak ke puncak sampai pada saat kita disatukan dengan Sang Cinta-Abadi secara sempurna dalam keabadian cinta. Dalam perspektif inilah kita dapat berbicara tentang pengalaman mistik dewasa ini.

Namun sebelum berbicara lebih lanjut, baiklah kita sepakati dahulu apa yang dimaksud dengan pengalaman mistik itu. Dalam konteks kristiani mistik berarti suatu pengalaman akan Allah yang memiliki daya ubah. Bila pengalaman itu sungguh otentik, pengalaman itu sendiri akan mengubah orang yang mengalaminya. Kecuali itu pengalaman tersebut memberikan suatu kekuatan, kedamaian dan kebahagiaan yang nyata. Di sini Allah dialami sebagai suatu Pribadi yang hidup, yang penuh kasih dan nyata sekali. Bila dilihat dalam konteks umum, artinya mistik seperti yang juga dialami oleh orang-orang non-kristiani dapat diungkapkan sebagai suatu pengalaman fruitif akan Yang Mutlak yang memiliki daya ubah.

2. Pengalaman mistik dewasa ini

2.1 Realitas dewasa ini

Suatu pertanyaan yang mungkin timbul ialah: Mungkinkah pengalaman mistik itu juga dialami orang dewasa ini ? Pertanyaan itu tanpa ragu-ragu dapat dijawab, bahwa juga dewasa ini pengalaman tersebut memang mungkin dan bahkan bukan hanya mungkin, namun banyak juga yang telah mengalaminya. Memang harus diakui, bahwa iklim rohani dalam Gereja dewasa ini tidak kondusif untuk pengalaman tersebut. Pendidikan Seminari yang sangat teoritis, yang dipengaruhi oleh rasionalisme Barat dan yang menekankan aspek intelektual secara berat sebelah, telah mempengaruhi kehidupan Gereja dan menciptakan iklim intelektualisme steril dan rasionalisme yang mematikan iman. Padahal untuk pengalaman mistik itu dibutuhkan iman. Seperti yang juga dikatakan oleh Karl Rahner, orang kristen dewasa ini harus menjadi mistik, kalau tidak, dia akan berhenti menjadi kristen. Itulah realitas yang kita alami dewasa ini. Akan tetapi, Puji Tuhan karena dewasa ini Tuhan membangkitkan kembali pengalaman tersebut di dalam Gereja dalam pelbagai macam bentuknya.

2.2 Pengalaman mistik dalam pembaharuan karismatik

Mendengar judul ini mungkin Anda tertawa: Bagaimana mungkin orang-orang Pembaharuan Karismatik dapat memiliki pengalaman mistik? Hal itu tampaknya aneh, namun nyata. Justru dalam situasi Gereja dewasa ini mereka itu biasanya memiliki pengalaman mistik. Seperti kita katakan pada permulaan, pengalaman mistik ialah pengalaman akan Allah yang mempunyai daya ubah. Justru orang-orang karismatik umumnya memiliki pengalaman tersebut dan karenanya mereka juga berubah. Sayangnya banyak di antara mereka yang tidak mengerti akan hal itu, sehingga akhirnya pengalaman awal yang indah itu banyak yang tidak berkembang dan akhirnya juga lenyap. Oleh karena itu, pembaharuan karismatik merupakan karunia Roh Kudus yang amat istimewa untuk zaman ini, suatu karunia yang dapat membawa kepada kehidupan mistik yang mendalam, asal dimengerti dengan baik.

Untuk menyingkirkan kesalahpahaman perlu dikatakan, bahwa dalam pembaharuan karismatik perlu dibedakan dua hal, yaitu pembaharuan karismatik sebagai suatu realitas teologis dan sebagai realitas sosiologis. Sebagai realitas teologis pembaharuan karismatik ialah suatu pengalaman religius yang nyata dan mendalam, suatu pengalaman akan Allah yang menyelamatkan, yang dialami sebagai Allah yang hadir, yang mengasihi umat-Nya secara nyata, sehingga kasih itu dapat dialami secara nyata dalam hidup seseorang. Pengalaman itu menyadarkan orang, bahwa sesungguhnya Allah itu benar-benar hidup, Yesus sungguh-sungguh telah bangkit dan hidup di tengah-tengah kita. Melalui pengalaman itu orang memasuki suatu hubungan pribadi yang nyata dan baru dengan Yesus. Yesus sungguh-sungguh dialami sebagai Pribadi yang hidup. Pengalaman itu diperoleh orang lewat apa yang biasanya disebut dengan istilah pencurahan Roh Kudus.

Sebagai realitas sosiologis pembaharuan karismatik memiliki ungkapan yang amat berbeda-beda. Pada dasarnya ungkapan-ungkapan itu memang terikat oleh pengaruh budaya-budaya tertentu, sehingga ungkapannya dapat bermacam-macam. Pembaharuan karismatik sebagai realitas sosiologis itu biasanya terungkap lewat gaya-gaya doa dan pujian yang ungkapan-ungkapannya memang terbatas dan kadang-kadang malahan mematikan karya Roh itu sendiri. Banyak orang yang berkecimpung di dalamnya tidak pernah mengerti akan kemungkinan suatu pengalaman Allah yang lebih mendalam. Namun, bagi mereka yang terbuka terhadap karya Roh Kudus itu dan mengerti sarana-sarana perkembangannya, Pembaharuan Karismatik merupakan suatu karunia yang indah dari Allah sendiri untuk zaman kita ini. Oleh karena itu, seorang karismatik yang mengerti tentang tradisi mistik Gereja yang amat kaya itu, sesungguhnya seperti yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri, adalah seumpama seorang yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya (Mat 13:52). Lewat pengalaman pencurahan Roh Kudus seperti yang dibawakan dalam pembaharuan karismatik, ia mengalami suatu pertobatan yang mendalam, yang membawa dia kepada pengalaman kasih Allah, sedangkan dengan mendengarkan para guru mistik besar dalam Gereja, ia dapat dibimbing lewat jalan-jalan rahasia menuju kepada persatuan dengan Allah, yang merupakan perwujudan pengalaman mistik yang terdalam.