User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kita tahu bahwa Roh Kudus selalu bekerja dalam diri kita. Apabila kita melakukan doa-doa dengan tekun secara terus menerus, diiringi dengan berbagai askesis (latihan rohani) untuk mengimbangi doa itu, dan makin hari makin menyerahkan diri pada bimbingan-Nya, makin menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, maka suatu hari akan nyata Ia semakin aktif dalam diri kita dan karya-Nya akan semakin jelas lagi. Roh Kudus merupakan kehadiran yang sangat dinamis dalam hidup kita. Jika berdoa, awalnya memang dibutuhkan usaha dari kita sendiri. Akan tetapi, lama-kelamaan jiwa akan makin menjadi pasif, hingga akhirnya sikap kita hanyalah suatu keterbukaan belaka terhadap Roh Kudus. Roh Kudus menopang, menjiwai, dan menguatkan seluruh ada kita. Dan Roh Kudus juga menarik kita untuk ambil bagian makin hari makin dalam, dalam hidup Allah sendiri, dan Ia membimbing kita untuk semakin rela masuk dalam dunia ilahi itu.

Sayangnya, banyak orang kristen yang tidak menyadari akan karya Roh Kudus yang mengagumkan ini. Atau bahkan ada yang terlalu takut untuk membiarkan Roh berkarya dengan bebas dalam dirinya. Harus diakui, Roh Kudus kadang-kadang memang membingungkan, karena seringkali jalan-Nya, tindakan-Nya, tidak sama dengan pikiran kita. Kalau kita membiarkan Roh bekerja dalam diri kita maka kita akan mengalami bahwa, “… rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yes. 55:8)

Oleh karena itu, kadang-kadang kita takut membiarkan Roh itu bekerja sebagaimana mestinya dalam diri kita. Padahal, sesungguhnya Roh itulah yang dijanjikan Yesus kepada murid-murid-Nya, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (Yoh 14:16-17).  Roh Kudus berkarya di kedalaman lubuk jiwa kita; di suatu tempat yang melampaui pikiran kita, panca indera kita. Di sanalah Ia selalu aktif. Begitulah, Roh Kudus berdoa di dalam kelemahan kita, Ia membantu kita supaya kita dapat berdoa sebagaimana mestinya. Dewasa ini, kadang ada salah penafsiran, bahwa Roh Kudus yang berdoa di hati kita hanya dalam bahasa roh. Ini salah sama sekali, bahkan terlalu menyempitkan. Roh Kudus bisa berdoa di dalam hati kita dengan berbagai macam cara, tetapi yang tertinggi adalah dalam kontemplasi.

Maka dalam pusat ada kita, Roh Kudus menjadikan kita putra-putra Allah, dan memberi kesaksian bahwa kita adalah putra Allah. Ini merupakan suatu pengalaman yang mendalam yang mampu mengubah hidup manusia. Di situ kita mengalami perjumpaan dengan Allah secara hidup dan mengalami dorongan-dorongan Allah dalam iman. Imanlah yang menyertai perjalanan hidup kita menuju Allah, yang membimbing kita semakin lama semakin terang hingga akhirnya antara kita dengan Allah bagaikan hanya terpisah oleh tirai yang tipis saja.

Jika Roh Kudus aktif di lubuk jiwa kita dan kita melihat karya-Nya maka saat itu mulailah apa yang disebut dalam tradisi Gereja pengalaman mistik, yaitu teologi yang melampaui segala pengertian dan pengalaman manusia yang biasa. Melampaui pikiran dan gagasan manusia, tak mungkin diungkapkan secara kodrati, tak dapat dirumuskan lewat konsep-konsep, maupun gagasan. Suatu pengenalan Allah yang begitu dalam karena Ia sendiri melampaui segala sesuatu. Di antara para Bapa Gereja dikatakan orang barulah mengenal Allah jika ia sungguh menyadari bahwa Allah tidak dapat dikenal. Oleh karena itu, dalam tradisi Bapa Gereja ada yang disebut docta ignorantia, yaitu suatu ketidaktahuan yang mengandung suatu kekayaan. Walaupun tidak tahu atau tidak mengerti secara jelas dan gamblang, tetapi kita belajar banyak karena mengalami pengalaman Allah yang sangat dalam hingga tak terungkapkan.

Pengalaman ini merupakan suatu karunia Allah yang sangat indah dan patut kita hargai. Dan pengalaman ini merupakan suatu karunia Allah semata yang tidak bisa diciptakan manusia. Manusia bisa merindukannya, tetapi tidak bisa membuatnya. Kadang karena terlalu rindu banyak orang mengira melihat-Nya padahal tidak.  Jika kita setia, suatu saat Tuhan akan menampakkan diri kepada kita melalui suatu sentuhan, bukan secara lahir, melainkan lewat suatu sentuhan di kedalaman hati kita. Pada saat itu segala sesuatu akan menjadi tanpa arti lagi, dan segala yang kita kenal menjadi tidak berarti. Dalam catatan riwayat hidupnya, St. Thomas Aquino berkata, “Dibandingkan yang saya alami saat ini, segala yang saya tulis hingga sekarang ini bagaikan jerami belaka.” Padahal St. Thomas seorang yang sangat pandai, buah-buah pikirannya yang bagus dan menjadi sumbangan yang sangat berarti bagi Gereja telah dituangkannya dalam tulisan. Kumpulan tulisannya sangat banyak dan bermutu sehingga oleh Gereja pun ia digelarkan sebagai Pujangga Gereja. Namun, di akhir hidupnya ia mengatakan bahwa itu semua bak jerami belaka, karena apa yang bisa ia tulis bisa dibilang sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang diberikan Tuhan kepadanya.

Ada banyak kesaksian dalam Gereja bahwa pengalaman mistik ini wajar terjadi karena merupakan perkembangan biasa dari rahmat permandian. Bila Tuhan suatu saat menjamah orang, memberikan sentuhan yang langsung menyentuh jiwanya maka orang ini akan mendapatkan suatu bantuan besar dalam hidupnya yang mengembangkan iman, harapan, dan cintakasihnya. Selain itu, juga menjadi suatu bantuan yang besar dalam hidup doanya. Kalau Tuhan menarik jiwa lebih dalam, maka jiwa akan sampai kepada keheningan, tempat kita ditarik oleh Allah, sehingga rasanya tidak ada usaha lagi dari diri kita. Itulah doa mistik, suatu persatuan dengan Allah yang lebih dalam lagi, dan tanpa usaha sama sekali dari manusia, Allah melimpahkan dan mencurahkan rahmat-nya yang menyegarkan hidup kita.

St. Teresa Avila membandingkan proses hidup doa dengan orang yang hendak mengairi kebunnya. Awalnya ia membawa air dengan ember dari tempat yang jauh, lalu menyirami kebunnya. Ini dibutuhkan usaha keras dan bahkan membuat orang tersebut lelah dan berkeringat. Demikian pula hidup doa kita, awalnya butuh ketekunan, dengan usaha sendiri yang melelahkan; menuntut banyak sekali kerja. Tahap selanjutnya adalah mengairi kebun dengan saluran air. Kita tinggal atur saluran, kebun pun mendapatkan air dengan lebih cepat, tidak terlalu lelah, dan hasilnya pun lebih baik. Yang ketiga manusia sama sekali tidak usaha, hujan turun sehingga tanpa kerja apa-apa kebunnya basah.

Demikianlah hidup doa manusia tak jauh seperti itu. Apabila sudah sampai pada tahapan yang ketiga, jiwa mengalami suatu perjumpaan dengan Allah yang mendalam sekali tanpa usaha apa pun. Walaupun sebetulnya, perjumpaan dengan Allah ini masih terjadi di dalam iman. Dengan demikian, iman jadi semakin hidup, cintakasih berkembang, dan harapan lebih kuat.

Oleh karena itu, jika manusia berada dalam keadaan seperti itu terus menerus, semakin hari ia akan semakin reflektif terhadap Allah, dan makin terbuka terhadap segala karunia-Nya. Ketujuh karunia Roh Kudus akan menjadi semakin berkembang dan khususnya lagi Roh Kudus jadi semakin aktif dan makin tampak dalam dirinya. Memang setelah mengalami pencurahan Roh Kudus, akan tampak pula dalam diri seseorang Roh Kudus jadi lebih aktif. Akan tetapi, setelah itu bisa luntur. Lain halnya dengan pengalaman doa mistik ini, suatu pengalaman yang lebih dalam sehingga menjadi semacam pencurahan Roh yang dalam sekali sifatnya.

Karunia-karunia bagaikan dawai-dawai yang kapan saja dapat dipetik oleh Roh Kudus dalam diri kita. Dengan demikian, melalui karunia itu Roh Kudus memainkan suatu nada dalam jiwa kita. Maka kita jumpai karunia takut akan Allah, yaitu suatu karunia yang memungkinkan manusia untuk mengagumi Allah dengan rasa hormat yang besar. Bukan takut hukuman, tetapi suatu karunia untuk merindukan Allah, melihat kekudusan dan kebenaran-Nya. Karena itu Roh Kudus memberikan sentuhan sehingga manusia mengalami dan menerima suatu kekuatan/energi khusus dan kegembiraan yang besar untuk melakukan kehendak Allah. Karena pada umumnya seringkali manusia tahu, tetapi enggan atau tidak bisa melakukan kehendak Allah.

Kemudian juga kita akan mempunyai pengertian yang lebih dalam lagi tentang Allah sehingga di hati timbul suatu cinta, suatu kehangatan, kemesraan, cinta anak kepada Bapa. Inilah karunia kesalehan.

Juga Roh Kudus akan membimbing kita sehingga kita mampu mengenali kehendak Allah dalam setiap situasi. Manusia tidak lagi berpikir-pikir apa yang dikehendaki Allah, tetapi secara intutitf sudah dapat merasakan apa yang menjadi kehendak Allah. Ibarat perangkat radio, yang peka tentu akan dapat menangkap gelombang pemancar dari tempat jauh sekali pun. Demikian pula para kudus umumnya mempunyai kepekaan yang besar untuk dapat merasakan dorongan-dorongan kehendak Allah. Inilah karunia nasihat.

Orang yang mendapatkan rahmat pengalaman mistik yang otentik, juga akan berkembang dalam karunia pengetahuan. Karunia ini memampukan kita untuk dapat bersukacita di hadapan Allah seperti anak kecil yang penuh kekaguman di hadapan bapanya. Kita mengagumi-Nya karena dapat melihat berbagai karya-Nya, yang semuanya itu mendorong kita untuk dapat selalu memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Karunia pengetahuan ini tidak sama dengan sabda pengetahuan.  Tuhan juga akan memberi kita pengertian yang mendalam mengenai misteri Allah sendiri. Dengan demikian kita dapat mengenal Allah melalui Sabda-Nya dan ciptaan-ciptaan, dalam segala-galanya kita mengagumi karya Allah. Inilah karunia pengertian.

Dan akhirnya kita akan mendapat karunia mengenal Allah, inilah pengenalan yang sangat dalam yang merupakan bagian hakiki dari hidup yang akan datang. Jadi sudah sejak di dunia ini kita mengalami prarasa surgawi. Suatu pengenalan akan Allah yang melebihi pengertian, suatu sentuhan Allah yang amat dalam, amat mesra, sentuhan yang membahagiakan, sentuhan yang mengubah, sentuhan yang menjadikan baru. Dan ini terjadi pada suatu tingkat yang sangat dalam pada hati manusia. Inilah yang disebut karunia kebijaksanaan yang tiada lain merupakan buah cintakasih. Orang akan sampai pada kebijaksanaan ini jika hatinya dipenuhi dengan cintakasih. Berkali-kali saya jumpai orang yang sangat pandai secara intelektual, tetapi tidak bijaksana. Kebijaksanaan ini merupakan buah dari cinta kasih. Di mana ada cintakasih di situ ada kebijaksanaan dan di mana ada kebijaksanaan, di situ ada cintakasih; keduanya saling melengkapi.

Karunia-karunia ini diberikan Tuhan untuk kita. Bagaimana kita harus bersikap dan bertindak? Jika suatu saat Tuhan membawa kita pada pengalaman ini, kita memang patut bersyukur untuk itu. Akan tetapi, karena pengalaman ini begitu membahagiakan maka manusia sering ingin mengenangkan kembali dan bahkan memproduksinya kembali. Kalau terjadi demikian maka ini bukan otentik melainkan hanyalah suatu usaha tiruan belaka dan tidak memberi kekuatan sebagaimana mestinya. Sama halnya dengan foto, sekalipun bunga di foto itu indah sekali, tetapi tidak ada harumnya. Oleh karena itu, janganlah berusaha menimbulkan pengalaman ini, karena bisa jadi hal lain justru yang timbul, seperti fantasi, atau hal-hal lain yang aneh-aneh.

Pertama-tama pengalaman mistik ini merupakan suatu karunia cuma-cuma yang berasal dari Allah. Namun, di pihak lain memang baik kita mengharapkan dan merindukannya. Bukan merindukan pengalaman, tetapi merindukan Dia; hasrat hati kita yang terutama adalah mencari Allah bukan karunia-karunia-Nya dan terlebih bukan pengalaman-pengalaman rohani. Dengan demikian perhatian kita lebih terarah kepada Sang Pemberi dan bukan pemberian-Nya. Orang yang begitu lekat pada pemberian-Nya, itu sama seperti seorang anak yang diberi mainan sangat bagus oleh ayahnya, langsung sibuk dengan mainannya dan lupa dengan ayahnya yang memberi. Oleh sebab itu, dalam hal ini kita harus lebih mendambakan Allah daripada segala yang diberi-Nya.

Memang kalau Allah datang, Ia tidak pernah datang dengan tangan kosong; Ia akan menyentuh kita secara mendalam. Karunia-karunia ini merupakan sarana yang mempersatukan kita secara mendalam dengan Allah, dan dapat mengobarkan api cinta di hati kita kepada-Nya. Karenanya memang pantas kita merindukannya asal tidak berusaha mereproduksi sendiri. Kita juga jangan lekat dengan hal itu, tetapi segera berpaling kepada sang pemberi agar lebih terbuka dan siap menerima karunia lain yang lebih besar.

Tujuan karunia ini sebenarnya adalah menguatkan hidup teologal kita, iman, harapan, dan kasih. Satu hal yang dituntut dari kita adalah semakin peka terhadap dorongan-dorongan dan inspirasi Roh Kudus. Untuk ini kita harus berusaha semakin hari semakin lepas, memupuk kelepasan, ketidakterikatan terhadap berbagai macam hal baik barang rohani maupun jasmani. Lepaskan diri juga dari berbagai macam hiburan.

Seringkali orang berkata, “Saya tidak bisa berdoa, tidak bisa merasakan lagi ini dan itu.” Sesungguhnya doa tidak terbatas pada bidang-bidang afektif, perasaan, emosionil, tetapi jauh lebih dari itu, meluap ke bidang-bidang yang lain. Selain itu, pengalaman mistik ini jangan dikira suatu pengalaman yang menjadikan manusia pasif. Orang yang banyak ditarik dalam hidup mistik justru mempunyai suatu realisme yang luar biasa; misalnya St. Teresa dari Avila seorang mistika yang sangat besar, tetapi begitu praktis dalam banyak hal. Bukan berarti orang mistik hidup dalam dunia impian; itu sama sekali tidak benar! Bunda Maria yang hidup dalam pengalaman mistik yang sangat besar, menjalani hidup yang biasa, dan mempunyai common sense yang sangat kuat. Jadi kehidupan mistik tidak melumpuhkan segala aktivitas manusia, tetapi justru menyucikan, meluhurkan, dan membersihkan setiap tindakan kita. Pengalaman mistik ini sama sekali tidak menyebabkan orang terus memikirkan diri sendiri. Jika terjadi demikian, itu mistik palsu! Sama sekali bukan pengalaman Allah yang otentik!

Pernah suatu kali ada seseorang yang bercerita tentang pengalaman pribadinya akan sentuhan Allah yang indah-indah. Akan tetapi, buahnya dalam kehidupan sehari-hari kurang baik, ia hampir selalu sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga keotentikan pengalamannya diragukan. Kadang-kadang orang merasa, ia tidak sadar menipu diri sendiri, dan akhirnya menipu orang lain. Setan pun senang memberikan pengalaman mistik sehingga orang mengira menemukan mutiara padahal batu kali. Pengalaman Allah yang otentik justru merupakan suatu ektase, keluar dari diri sendiri sehingga ia terarah kepada Tuhan, dan ia tidak bisa untuk terus terarah kepada Tuhan tanpa terarah kepada sesamanya.

Bagi mereka yang baru mendapatkan pengalaman pertama akan Allah ini, mungkin untuk sementara waktu bisa terjadi ia menjadi canggung dalam lingkungannya dan seolah-olah kehilangan keseimbagan. Ini bisa saja terjadi. Bagaikan seorang gadis yang pergi ke pesta dan bertemu dengan seorang pemuda dan jatuh cinta untuk pertama kalinya, ia akan bingung ketika pulang ke rumah, terserap oleh pesona sang pemuda. Ia membutuhkan waktu untuk perlahan-lahan dapat mengintegrasikan semua itu. Begitu juga orang yang pertama kali mengalami Allah sama seperti gadis yang jatuh cinta itu. Namun, kalau pengalaman ini otentik, perlahan-lahan ia akan menemukan keseimbangan lagi. Maka tak heran kadang-kadang orang itu dicap aneh. Misalnya tadinya periang jadi pendiam dan senang menyendiri, karena ia menemukan suatu dunia lain yang tidak diketahui oleh yang lain. Walaupun demikian, akan nampak imannya semakin kuat, dan cintanya pada Tuhan dan sesama makin nyata.

Sedangkan pengalaman yang palsu, bisa juga terjadi karena fantasi dan lain-lain. Oleh sebab itu, pengalaman ini harus dicek dengan melihat bagaimana kehidupan sehari-hari dari orang itu. Ada yagn sering pamer tentang pengalaman rohani yang kesannya luar biasa, padahal tdak ada isinya. Jadi semua itu harus dilihat buahnya. Orang yang sering berpura-pura selain menipu diri sendiri dan sesama, juga justru akan kehilangan permata yang berharga yang telah disediakan Allah baginya. Pengalaman mistik merupakan dorongan yang sangat kuat untuk maju di jalan Allah.

Bila karunia-karunia Roh Kudus berkembang maka hidup manusia juga akan menjadi lain. Bila pada tahap permulaan manusia penuh dengan aktivitas/usaha sendiri, lama-lama kita lihat bahwa Roh sendirilah yang akan bekerja. Bila pertama kita berusaha mendayung perahu kita, menguras habis seluruh tenaga yang ada, maka pada tahap mistik layar timbul sendiri dan perahu laju dengan dorongan angin Roh Kudus. Tidak seperti perahu yang didayung maju perlahan-lahan, dengan layar perahu laju lebih cepat dan tanpa jerih payah sama sekali. Maka semakin karunia berkembang, kemampuan untuk menangkap karunia-karunia Roh Kudus pun semakin peka. Dengan rahmat Allah, manusia bisa berkembang untuk semakin peka terhadap dorongan-dorongan dan gerak-gerak Roh Kudus, bahkan yang paling halus sekalipun. Inilah yang bisa kita harapkan bila kita berkembang dalam hidup doa.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting