User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Sering kita mendengar cetusan pertanyaan mengapa orang-orang tak bersalah harus menderita? Mengapa ada begitu banyak ketidakadilan terjadi? Mengapa Ia membiarkan semua ini terjadi? Mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang dibunuh, begitu banyak bayi diaborsi? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa kita jawab. Kitab Suci kita dapat melihat sendiri, Allah bukanlah Bapa yang sadis, yang diam saja bila melihat umat-Nya menderita. Hati Allah sungguh-sungguh disedihkan oleh ulah manusia. Hanya saja, dalam hal ini kesedihan Allah berbeda dengan kesedihan manusia. Allah tidak menderita demi Dia sendiri, seolah-olah Dia kehilangan atau kekurangan sesuatu., tetapi Dia menderita demi manusia yang menghancurkan dirinya sendiri.


St. Paulus mengatakan, “… aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima nama-Nya.” (Ef. 3:14) Bapa adalah sumber dari segala sesuatu. Nama Bapa ini begitu sering keluar dari bibir Yesus. Bapa selalu berada dalam pikiran maupun hati Yesus. Bapa sangat mempengaruhi seluruh ada-Nya. Datangnya Yesus ke dunia ini juga untuk melaksanakan kehendak Bapa yang Dia cintai. Demi Bapa yang dicintai-Nya melebihi segala sesuatu, Yesus rela melakukan penebusan umat manusia. Dengan demikian, kita lihat bahwa bagi Yesus nama Bapa itu begitu berharga dan Dia dipersatukan begitu mesra dengan Bapa. Oleh karena itu, Dia butuh waktu-waktu khusus untuk berada berdua saja dengan Bapa. Yesus selalu bicara tentang Bapa; hal ini mengungkapkan kehidupan batin-Nya yang luar biasa. Yesus begitu terpesona oleh Bapa-Nya. Bisa kita bayangkan, jika Yesus berbicara tentang Bapa kepada murid-murid-Nya, sabda-Nya itu keluar dari kedalaman hati-Nya yang berkobar akan kasih kepada Bapa, sehingga murid-murid-Nya terpesona dan Filipus pun berkata, “Tuhan, perlihatkanlah Bapa kepada kami maka itu sudah cukup.”

Bagi Yesus, Bapa adalah Abba, yaitu panggilan mesra untuk seorang ayah. Dan St. Paulus pun mengatakan kita juga boleh meneladan Yesus, memanggil Allah dengan sebutan Abba. Pengertian ayah di sini adalah ayah yang sangat baik, bukan ayah duniawi yang banyak di antaranya merupakan tukang pukul atau tukang mabuk. Allah Bapa adalah Abba yang setia, yang tidak pernah membiarkan kita sendiri, sekali pun semua orang pergi meninggalkan kita. Abba yang Mahabaik inilah yang hendak diwartakan Yesus kepada manusia.

“Aku telah membeitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh. 17:26)

Oleh sebab itu, bahkan penderitaan Yesus sendiri sebenarnya menyatakan cinta kasih Allah Bapa kepada kita. Karena itulah Yesus menyongsong kematian-Nya dengan berkata,

“Supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.” (Yoh. 14:31)

Hubungan Bapa dan Putera begitu erat, dan perlu kita sadari bahwa karya penyelamatan ini sebenarnya bukan hanya karya penyelamatan Allah Putera, melainkan karya Allah Tritunggal. Saat ini, kita hendak menyimak peranan Bapa di dalam karya keselamatan yang dijalankan oleh Kristus, dalam penderitaan-Nya, dan dalam kebangkitan-Nya. St. Paulus melihat peranan Bapa yang besar bagi kita, yaitu menyatakan kasih-Nya dengan menentukan saat kematian Kristus di saat kita masih berdosa dan lemah. (bdk. Rm. 5:6-10) Begitu besarnya kasih Allah sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal. (bdk. Yoh. 3:16)

Sayangnya budaya modern dewasa ini telah merusak citra baik seorang bapa. Banyak orang tidak bisa berdoa ‘Bapa Kami’ karena teringat akan ayahnya yang jahat. Banyak keluarga berantakan, dan banyak anak-anak yang melihat ayah mereka memukuli ibu mereka. Selain itu dahulu berkembang konsep bahwa Allah adalah sosok yang kejam dan haus kemuliaan, yang tidak bisa menerima begitu saja diri-Nya dihina manusia. Penghinaan itu hanya bisa ditebus dengan menghancurkan manusia dalam diri Yesus Kristus. Seolah-olah Yesus adalah korban kekejaman Allah Bapa yang haus akan kekuasaan dan kemuliaan. Bahkan pada Misa Jumat Agung tahun 1662 ada suatu khotbah yang sangat keliru yang berbunyi demikian:

“Jiwa  PENYELAMAT-ku tertekan oleh ketakutan kepada Allah yang begitu mengancam, dan ketika Dia ingin melemparkan diri-Nya ke dalam tangan Allah untuk mencari penghiburan dan sedikit keringanan dari penderitaan-Nya, Ia melihat bahwa Allah memalingkan wajah-Nya, menolak Dia, dan meninggalkan Dia seluruhnya dalam cengkeraman keberangan Allah dan dalam keadilan-Nya yang penuh kemarahan.”

Apabila orang mendengarkan khotbah ini, tentunya akan segera tergambar Allah yang kejam. Akan tetapi, ini adalah gambaran yang sama sekali keliru tentang Allah Bapa. Gagasan semacam ini sekarang memang sudah tidak diterima lagi dalam Gereja.

St. Theresia dari Lisieux yang kembali kepada Injil, menemukan kembali citra Allah Yang Maharahim. Ini adalah sumbangan yang besar dari St. Theresia. Allah begitu peduli terhadap nasib manusia. Bahkan dikatakan rambut di kepala kita pun dihitung oleh Bapa di surga, dan tak sehelai pun gugur tanpa diketahui-Nya. Yesus mengatakan bahwa burung-burung kecil di udara saja dipelihara Bapa, dan betapa lebihnya kita.

Sering kita mendengar cetusan pertanyaan mengapa orang-orang tak bersalah harus menderita? Mengapa ada begitu banyak ketidakadilan terjadi? Mengapa Ia membiarkan semua ini terjadi? Mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang dibunuh, begitu banyak bayi diaborsi? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa kita jawab.

Akan tetapi, baiklah kita melihat apa yang dikatakan Kitab Suci mengenai Allah yang menderita, “Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kej. 6:6) Di sini Kitab Suci mengatakan bahwa Allah sama sekali bukannya acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia. Dikatakan juga oleh Kitab Suci, setiap pemberontakan Israel telah menyusahkan hati-Nya. (bdk. Mz. 78:40) Dan sebetulnya jika kita membaca dengan perlahan-lahan seluruh Kitab Suci maka seolah-olah kita jumpai Kitab Suci merupakan rangkaian keluhan hati Allah yang patah. “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!” (Mi. 6:3)  Ini semua adalah ungkapan kesedihan hati Bapa yang dikhianati anak-Nya. Kemudian dengan lembut hati Allah pun mengajak umat-Nya, “Marilah kita berperkara. Sekali pun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju.” (Yes. 1:18)

Jadi dari Kitab Suci kita dapat melihat sendiri, Allah bukanlah Bapa yang sadis, yang diam saja bila melihat umat-Nya menderita. Hati Allah sungguh-sungguh disedihkan oleh ulah manusia. Hanya saja, dalam hal ini kesedihan Allah berbeda dengan kesedihan manusia. Allah tidak menderita demi Dia sendiri, seolah-olah Dia kehilangan atau kekurangan sesuatu., tetapi Dia menderita demi manusia yang menghancurkan dirinya sendiri. Itulah penderitaan Allah. Lain halnya dengan manusia. Jika seorang anak berbuat kejahatan, ayahnya dan seluruh keluarganya jadi menderita karena malu. Allah menderita karena ia tahu betul manusia yang dikasihi-Nya sebagai anak-Nya sendiri sedang menghancurkan dirinya. Oleh karena itu dalam Kitab Suci terkadang digambarkan Allah sebagai yang tak berdaya menghadapi kejahatan manusia. Hati-Nya sedih dan tersayat karena pemberontakan manusia.

“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.” (Hos. 11:8a,c)

Ayat ini menunjukkan perjuangan hati Allah yang dari satu pihak rasanya ingin menghancurkan Israel, tetapi belas kasihan hati-Nya membuat-Nya bersikap, “Masakan Aku lakukan itu…” Kalau pun terjadi Allah melaksanakan hukuman-Nya, itu semata demi menyadarkan manusia agar bertobat dan kembali kepada-Nya “karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia”. (Rat. 3:33)

Dalam sebuah tafsiran Yahudi mengenai Kitab Suci, dikatakan bahwa pada hari kenisah di Yerusalem dihancurkan, Allah menangis. Kepada Nabi Yeremia Allah berkata, “Hari ini Aku seperti seorang manusia yang anak tunggalnya mati tepat di saat hari pernikahannya sedang dipersiapkan.”

Belas Kasihan Allah

Dalam hidup manusia, penderitaan lahir sebagai buah dari kejahatan. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Allah, karena kodrat-Nya tidak sama dengan kita. Allah tidak dapat dikenai kejahatan. Origenes seorang filsuf Yunani mengatakan, penderitaan Allah itu mendahului inkarnasi; artinya sebelum Yesus menderita sebenarnya Allah Bapa sudah lebih dahulu menderita. Jadi, sebetulnya tidak benar jika dikatakan Allah Bapa hanya melihat saja ketika Putera-Nya menderita. Bayangkanlah Abraham yang berjalan ke Gunung Moria hendak mempersembahkan Ishak anaknya. Betapa hancur hatinya, bukan? Akan tetapi, Abraham tetap taat dan tidak segan-segan menyerahkan anaknya yang tunggal.

Demikian pula Allah Bapa tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, dan menyerahkan-Nya bagi kita semua. (bdk. Rm. 8:32) Inilah sikap Allah dalam misteri keselamatan. Di dalam penderitaan Kristus, sesungguhnya Allah Bapa tidak pernah absen. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun, Aku tidak seorang diri sebab Bapa menyertai Aku.” (Yoh. 16:32) Kita bisa membayangkan, bagaimana tersayatnya hati Abraham ketika Ishak bertanya, “Bapa, kita punya api dan kayu, tetapi di mana domba untuk kurban itu?” Seolah-olah seluruh perasaan Abraham tergoyahkan saat itu. Tentunya pada saat itu Abraham merasa lebih suka jika dia sendiri yang mati. Demikian juga jika kita bayangkan Yesus yang berseru kepada Bapa dalam kekelaman taman Getsemani, “Kalau mungkin, biarlah piala ini lewat daripada-Ku…” Saat itulah Bapa surgawi menderita bersama-sama dengan anak-Nya. Terlebih ketika Yesus merasa Bapa begitu jauh, seolah-olah meninggalkan Dia, sebenarnya pada saat itu Bapa sangat dekat pada-Nya, dan seolah-olah memeluk Dia secara lebih nyata daripada yang bisa kita bayangkan, karena pada saat inilah kehendak manusiawi Sang Putera bersatu sempurna dengan kehendak Bapa. Jadi pada saat itu terjadilah persatuan kehendak yang paling dalam.

Kini kita dapat sedikit meraba maksud ucapan St. Paulus, bahwa Allah tidak menyayangkan Anak-Nya yang tunggal, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Artinya adalah Allah tidak mempertahankan Putera-Nya bagi diri-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita. Bukan Bapa yang menerima kurban Sang Putera, melainkan Dialah yang melaksanakan kurban Putera-Nya sendiri. Ia mempersembahkan kurban yang terbesar -yakni Putera-Nya- bagi kita, dan tidak menyimpan-Nya untuk diri sendiri. Tertulianus menulis demikian,

"Bila Putera menderita maka Bapa menderita bersama dengan Dia, dan lagi bagaimana Putera dapat menderita tanpa Bapa juga menderita bersama dengan Dia?”

St. Paulus mengatakan, jika seorang anggota tubuh Kristus menderita maka semua ikut menderita. Maka alangkah lebihnya hal ini terjadi dalam diri Tritunggal Mahakudus. Apabila salah satu anggota Trinitas menderita maka yang lain tentu juga akan menderita. Penderitaan Bapa tentu saja berbeda dengan penderitaan Putera yang menjadi manusia. Penderitaan Bapa lahir dari belas kasihan. Seorang Bapa Gereja mengatakan, “Putera menderita karena kesengsaraan-Nya, dan Bapa menderita karena belas kasihan.”

Sebetulnya belas kasihan dapat juga diartikan ikut menderita. Maka Allah yang penuh belas kasihan pun sebenarnya ikut menderita bersama manusia yang menderita. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa dalam kedalaman Allah, kita jumpai suatu cinta Bapa yang berhadapan dengan dosa manusia. Dan akhirnya kesakitan dan penderitaan Allah Bapa yang tak terselami ini menghasilkan suatu karya penyelamatan manusia lewat Yesus Kristus. Dalam penderitaan Yesus Kristus penderitaan Allah dikonkretkan dan cinta kasih yang besar ini mengalahkan dosa. Ketaatan Yesus karena cinta-Nya sebagai Anak kepada Bapa, telah melahirkan kuasa kasih yang jauh lebih besar daripada kuasa dosa. Yesus menghancurkan dosa dengan perbuatan kasih-Nya yang tiada tara. Dan Allah terlebih lagi ikut menderita di dalam diri Putera-Nya sendiri.

Mengapa Bapa menyerahkan Putera-Nya untuk mati?

Yesus melaksanakannya dengan kehendak bebas dan dalam ketaatan karena kasih, demi cinta-Nya kepada Bapa dan kepada manusia. Yesus mengenal sedalam-dalamnya cinta Allah kepada manusia karena Ia sendiri adalah Allah. St. Thomas mengatakan bahwa Bapa mencurahkan cinta-Nya yang besar bagi kita kepada Putera, sehingga Putera rela mati untuk kita. Tugas yang diterima Putera dari Bapa adalah tugas untuk mengasihi kita.

Dalam diri Yesus ketaatan dan kasih menyatu dengan sempurna. Karena kasih-Nya yang besar kepada Bapa, Yesus taat. Yesus taat tidak hanya dengan melaksanakan perintah Bapa, tetapi dengan menjadikan kehendak Bapa sebagai kehendak-Nya sendiri, yaitu kehendak untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang paling sukar melebihi yang bisa kita bayangkan. Begitu sulitnya ketaatan ini sehingga Yesus pun mengeluarkan peluh darah. Saat itu Ia sadar bahwa Ia harus memikul dosa seluruh umat manusia. Yesus telah menyelesaikan suatu tindak ketaatan ilahi yang begitu sempurna dengan kehendak sebagai manusia. Namun, betapa pun juga penderitaan Kristus bagi kita tetap suatu misteri. Apabila karena kerahiman-Nya Allah berkenan menyibak sedikit saja, kita akan kagum akan kebesaran misteri yang melampaui pengertian ini.

Apakah Allah tak berdaya menghadapi kejahatan? Sesungguhnya penderitaan itu sama sekali bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda belas kasihan. Allah merendahkan diri karena belas kasihan. Oleh sebab itulah, Yesus memperkenalkan Allah yang Mahatinggi dan Mahakudus kepada kita sebagai Bapa, Abba. Bapa kita adalah Allah yang Mahakuasa, yang dapat diandalkan. Para kudus sepanjang sejarah Gereja telah berjalan dengan kepercayaan yang luar biasa kepada Allah Bapa. Dengan menderita Allah menyatakan kebesaran-Nya, sebab Allah menyatakan kemahakuasaan-Nya ketika memberikan ampun dan menunjukkan belas kasihan. Allah menyatakan kuasa-Nya dalam ketidakberdayaan. Dengan kata lain, kuasa-Nya yang tidak terbatas berarti pula penderitaan-Nya yang tidak terbatas. Karena itu dalam kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas, Allah memutuskan untuk mengalahkan kejahatan dengan penderitaan dan mengambil penderitaan itu bagi diri-Nya sendiri. Ia ingin mengalahkan kejahatan dengan cinta, dan dengan demikian Ia memberikan teladan bagi kita bagaimana kita harus mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Selain itu kita perlu mengingat bahwa Bapa tidak pernah berpikir sedetik pun mengenai kematian Putera-Nya tanpa berpikir tentang kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

“Dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati, Allah Bapa menunjukkan kebesaran kuasa-Nya yang tak terbatas dan Mahabesar.” (bdk. Ef. 1:19-20)

Sampai saat ini Allah masih menderita bagi manusia yang menolak cinta-Nya. St. Fransiskus dari Asisi menangis untuk ‘Cinta (Allah) yang tidak dicintai.’ Oleh karena itu, kini kita menyadari bahwa tidak mungkin manusia menderita tetapi Allah tidak.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting