User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Manusia selalu memiliki suatu kesadaran dan kerinduan untuk berkontak dan mengalami persatuan dengan Allah, walaupun kesadaran dan kerinduan ini tidak selalu dapat diungkapkannya dengan tepat. Artikel ini membahas fenomena tersebut dalam kaitannya dengan tradisi Kristen dan tradisi Asia lainnya. Artikel ini sungguh membantu kita dalam menyadari misteri kehadiran Allah dan penghayatan iman kita dalam konteks Asia.


Pembahasan tentang kehadiran Allah dalam diri kita membawa kita kepada tujuan penyadaran ini, yaitu persatuan dengan Allah yang hadir itu. Kita menyadari kehadiran Allah dalam diri manusia. Hal ini menjadi dasar supaya manusia kemudian tahu bagaimana caranya bertemu dan berkontak dengan Yang Hadir itu dan kemudian mengambil langkah-­langkah berikutnya untuk dapat bersatu dengan­-Nya, yang pada hakekatnya merupakan kerinduan hati setiap orang, entah disadari entah tidak. Biarpun kerinduan itu merupakan fakta setiap manusia, namun tidak setiap orang mampu mengung­kapkannya secara tepat. Dalam sejarah umat manusia kita jumpai dua jenis ungkapan persatuan tersebut, dua aliran besar dalam usaha mencapai persatuan tersebut. Biarpun dalam tiap-tiap aliran dapat diadakan pembagian lebih lanjut, namun akhirnya dapat dikembalikan kepada dua aliran tersebut, yakni Aliran Theis dan Aliran Kosmis.

Aliran Theis mengakui bahwa dalam per­satuan yang terdalam dan termesra sekalipun antara manusia dan Allah, manusia tidak pernah menjadi Allah. Manusia tinggal manusia dan Allah tetap Allah. Aliran ini menekankan perbedaan yang tetap ada antara manusia dan Allah dan karenanya persatuan yang tertinggi ialah persatuan cinta kasih, yang mempersatukan manusia dengan Tuhannya dalam cinta kasih. Sebaliknya aliran kosmis menyatakan bahwa apabila orang men­capai puncaknya segala perbedaan lenyap. Selama masih ada kesadaran tentang Allah dan diri sen­diri, orang belum mencapai puncak yang tertinggi. Dalam persatuan yang tertinggi manu­sia lebur ke dalam Allah, menjadi identik dengan Allah dan bahkan sesungguhnya ia adalah Allah sejak semula, namun tidak disadarinya.

Oleh sebab itu, dalam hal ini manusia sesungguhnya tidak mencapai apa-apa yang baru, ia hanya merealisir apa yang sudah dimilikinya sejak semula, ia hanya merealisir kodratnya yang terdalam saja. Dari sinilah kita kenal ungkapan terkenal: "Tat tuam asi, engkaulah itu" dalam kalangan orang Hindu. Sesungguhnya memakai istilah Allah dalam hal ini kurang tepat. Orang Hindu memakai istilah Brahman, Yang Mutlak. Sesungguhnya yang ada itu hanya Brahman saja dan karena itu: tat tuam asi, engkaulah Brahman itu. Demikian pula dalam Budhisme, orang juga hanya merealisir apa yang sudah ada sejak semu­la. Sesungguhnya Budhisme merupakan bentuk radikal aliran ini. Di sini dengan sengaja tidak dipakai istilah monisme, yang sebenarnya berasal dari filsafat Yunani yang mempunyai latar belakang cukup berbeda dengan filsafat Hindu, yang se­sungguhnya bukan suatu filsafat dalam arti Barat, melainkan lebih tepat diungkapkan sebagai suatu agama. Agama ini mengungkapkan suatu pengalaman religius yang amat mendalam yang mengatasi segala konsep dan ungkapan. Istilah yang biasa dipakai ialah advaita, artinya non-dualisme, yang dalam tradisi India mempunyai arti jauh lebih dalam daripada monisme yang sering orang gunakan.

Rupanya kedua aliran ini dalam dunia non Kristen tidak dapat bertemu; entah orang menganut yang satu, entah menganut yang lain dengan mem­buang lawannya. Dewasa ini orang Kristen di­hadapkan pada kenyataan ini: kenyataan advaita merupakan pengalaman orang-orang besar yang begitu meyakinkan dan yang tidak bisa dikesam­pingkan begitu saja. Bagaimanakah jawaban Kris­tiani kita? Apakah kita dapat menerima dan meng­integrasikan pengalaman advaita yang begitu me­yakinkan itu? Dalam hal ini belum banyak teolog yang mencobanya. De facto baru beberapa orang yang mencobanya. Dalam uraian ini kita akan men­coba menjajakinya. Namun, sebelumnya akan kita bahas lebih dahulu kerinduan manusia akan yang tidak terbatas serta kesadaran akan kehadiran sesuatu - entah apa - dalam dirinya, sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

KERINDUAN MANUSIA AKAN ALLAH

Dalam perjalanan hidupnya, cepat atau lam­bat suatu ketika manusia akan bertanya-tanya tentang arti hidupnya yang lebih dalam. Apakah hidup ini hanya sedemikian saja, seperti yang tampak dari luar? Manusia bekerja dan mem­banting tulang untuk mencari nafkahnya untuk dapat melangsungkan hidupnya. Ia berusaha untuk mengumpulkan segala jenis harta benda, karena ingin menjamin hari depannya, hari depannya yang penuh bahagia. Namun, biarpun segala kebutuhan telah dicukupi, ia masih merasakan kekurangan sesuatu dan hatinya masih belum juga puas. Yang lain berusaha mengi­si kekosongan yang disebabkan tidak adanya sesuatu, -entah apa itu-, dengan pelbagai macam kepuasan dalam bidang material dan jasmani, men­cari segala macam kepuasan inderawi dan jasma­ni. Namun, yang diketemukannya bukannya kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam, melainkan justru suatu kemuakan, sehingga bagi banyak orang hidup ini akhirnya menjadi suatu yang absurd, yang kosong, yang tanpa arti dan tujuan. Yang lain lagi mencarinya dalam bidang intelektual, dalam ilmu, namun sesuatu, -entah apa itu-, tidak juga diketemukan. Banyak pula yang mencarinya dalam ketenaran, kemasyuran, nama besar, kehormatan, dan lain-lain, tetapi ternyata semuanya itupun akhirnya hanya membawa kebosanan belaka. Semakin dipikirkan, semakin tampak jelas, bahwa hidup ini seolah-olah tidak ada artinya sama sekali. Manusia lahir, berkem­bang menjadi dewasa, menikah, menjadi tua dan akhirnya mati. Maka manusia dilahirkan tampaknya hanya untuk mati saja dan tidak seorang pun yang luput daripadanya. Manusia menjadi muak, muak untuk hidup.

Apa yang dewasa ini dirumuskan secara dramatis oleh para filsuf eksistensialis, sebe­narnya bukanlah hal yang baru. Beberapa abad se­belum Yesus lahir di dunia, seorang yang bernama Gautama, yang kemudian terkenal dengan sebutan Sang Budha (=yang sadar, yang terbangun), telah merumuskannya dengan tajam sekali. Perumusannya itu kemudian menjadi bagian dari keempat kebe­naran pokok budhisme, yang diungkapkannya dalam kotbahnya yang pertama di Benares :

"Manakah kebenaran suci tentang duka (=ke­sengsaraan)? Kelahiran adalah duka, men­jadi tua adalah duka, penyakit adalah duka, kematian pun duka. Bersatu dengan yang tidak dicintai duka. Terpisah dari yang dicintai juga duka. Tidak memperoleh yang diingini duka pula. Pendek kata, kontak dengan salah satu dari kelima skanda adalah duka.“ Kelima bagian besar yang disebut dengan istilah skanda, yakni badan, pera­saan-perasaan, persepsi, dorongan-dorongan dan emosi, faal-faal kesadaran.

Setelah mengkonstatir, bahwa segala sesuatu adalah duka, Budha melanjutkan penyelidikannya untuk melihat, apakah yang menjadi sebab dari semuanya itu. Kemudian didapatinya, bahwa sumber dari segala penderitaan atau duka itu ialah keinginan.

"Manakah kebenaran suci tentang asal mula duka ini? Asal mula duka ini bukan lain dari­pada keinginan. Keinginan yang menyebabkan orang terpaksa lahir kembali, keinginan yang disertai kesenangan dan kerinduan, yang mencari kesenang­annya sebentar di sini sebentar di sana, yakni keinginan untuk pengalaman inderawi, keinginan untuk mengabadikan diri, keinginan untuk pembe­basan.” Bagi Budha bahkan keinginan untuk pembeba­san itu adalah sumber duka dan menghalangi pem­bebasan yang sejati. Sesungguhnya yang mendorong manusia untuk meninggalkan segala keinginan itu ialah kerinduan untuk bebas. Namun, dalam menge­jarnya orang tidak boleh memikirkan dan meng­inginkannya secara aktual, sebab hal itu merupa­kan halangan.

Dalam kesadaran akan kesia-siaan dan kefa­naan segala sesuatu itu, orang terdorong untuk mencari pembebasan dalam duka ini, dari kelahir­an kembali. Dalam hal ini sesungguhnya Budha hanya merumuskan apa yang sudah menjadi keyakin­an umum di antara orang Hindu. Namun Budha sen­diri tidak mau merumuskan apa isi pembebasan itu sendiri, begitu pula tidak mau bersoal jawab tentang Brahman dan hubungannya dengan manusia. Yang dikehendakinya hanyalah secara eksistensial menunjukkan jalan yang konkret kepada pembebasan itu. Baginya yang penting ialah bagaimana kita dapat mencapai tujuan itu serta mencurahkan seluruh tenaga dan perhatian untuknya.

Seperti telah disinggung di atas, sesung­guhnya dalam hal ini Budha tidak berdiri sen­diri, sebab seluruh tradisi Hindu hidup dari keyakinan itu. Hanya saja Budha mengungkapkannya secara tajam dan jelas sekali. Oleh karena keyakinan yang dalam ini, banyak orang yang meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mencapai pembebasan. Bahkan merupakan semacam cita-cita bagi orang Hindu, supaya setiap orang (khususnya pria) se­telah menunaikan tugas kewajibannya berkeluarga dan setelah tanggung jawab sebagai kepala ke­luarga dapat diambil alih oleh putera sulung, ia meninggalkan segalanya, termasuk keluarganya, serta pergi ke tempat sunyi ataupun mengembara.

Hal ini sebenarnya merupakan pengalaman setiap manusia, juga pengalaman bagi orang kristiani. Dalam hal ini ucapan Santo Agustinus menjadi termashyur, "Engkau menjadikan kami untuk-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami akan selalu gelisah sebelum beristirahat dalam Dikau.” Ungkapan Santo Agustinus ini menyatakan persoalannya, tetapi juga sekaligus jawabannya. Dinyatakan bahwa hati manusia akan selalu geli­sah sebelum dapat menemukan apa yang sungguh dapat memuaskan hatinya. Dan juga dinyatakan, bahwa yang dapat memuaskan hatinya itu hanyalah Tuhan sendiri saja, karena memang hati manusia diciptakan sedemikian besarnya, sehingga hanya Tuhan saja yang -dapat sungguh-sungguh mengisinya. Bagi Santo Agustinus dan bagi orang kris­tiani, sesuatu –entah apa itu-, ialah Allah sendiri.

Dalam pandangan Kristiani, kerinduan akan Allah ini senantiasa dianggap amat penting. Bahkan bagi Santo Benediktus kerinduan akan Allah inilah yang dipakai untuk menilai panggilan seorang rahib. Untuk melihat, apakah itu sung­guh-sungguh panggilan, harus dilihat apakah padanya ada suatu kerinduan akan Allah.

MISTERI KEHADIRAN ALLAH

Dalam seluruh tradisi spiritual Asia orang begitu sadar dan begitu peka terhadap kehadiran Allah dalam manusia dan dalam segala sesuatu. Apapun aliran yang diikuti orang, entah itu theis, entah itu advaita, semuanya menyadari akan kehadiran Allah yang di mana-mana itu. Bagi penganut advaita segala-galanya adalah Brahman, tidak ada sesuatu lain kecuali Brahman, tidak ada apa-apa selain Brahman. Dan Shankara, teolog Hindu yang besar itu, untuk menyelamatkan kea­gungan dan kemutlakan Brahman, menyatakan bahwa segala yang lain itu hanyalah maya saja, semacam manifestasi belaka dari yang Mutlak itu.

Hal yang sama dapat kita lihat dalam Bhaga­wat Gita, khususnya dalam bab X dan XI. Di situ dinyatakan bahwa sesungguhnya Tuhan hadir dalam segala sesuatu dan segala sesuatu adalah mani­festasi-Nya. Sebagai contoh kita dapat menyimak kutipan yang berikut ini:

"Benih segala makhluk, o Arjuna, adalah Aku. Tak ada makhluk hidup atau mati yang dapat ada tanpa Aku. Tak terbilang jumlahnya, wahai pahlawan, manifestasi ilahiku; semua yang di­sebutkan tadi hanyalah contoh-contoh belaka. Hendaklah mengerti bahwa semua manifestasi, setiap hidup, setiap keindahan, dan setiap energi berasal dari seberkas kekuasaan-Ku." (X, 39-41)

"Lihatlah, wahai, putera Pritha, bentuk ilahiKu yang beratus-ratus, beribu-ribu, yang berbeda-beda tanpa batas, yang beraneka ragam warna dan rupanya tanpa batas. Lihatlah dalam tubuhku ini saja, seluruh alam semesta, 0 Gudakesya, seluruh makhluk hidup atau mati atau apapun yang ingin kaupandang. Akan tetapi, engkau tidak dapat melihatnya hanya dengan mata insani saja; Aku memberikan kepadamu pandangan ilahi; pandangan kekuasaan ilahiKu yang tak terbatas" (XI, 5.7.8).

Kesadaran ini selalu hidup dalam kalangan Hindu dan sesungguhnya juga dalam seluruh Asia dan bentuknya berbeda-beda. Tentang Ramakrishna orang mencatat ucapannya sebagai berikut :

"Banyak tahun yang lalu Vaishnavacharan ber­kata kepadaku, bahwa seseorang mencapai pengetahuan yang sempurna hanya bila ia me­lihat Allah dalam manusia. Sekarang kulihat, bahwa memang Dialah yang bergerak dalam pelbagai bentuk: kadang-kadang sebagai orang jujur, kadang-kadang sebagai penipu, kadang-­kadang sebagai penjahat. Oleh karena itu aku ber­kata, “Narayana dalam bentuk orang jujur, Narayana dalam bentuk seorang penipu, Nara­yana dalam bentuk seorang penjahat, Narayana dalam bentuk seorang licik dan licin.” Soalnya sekarang ini ialah bagaimana aku dapat mela­yani mereka semua, aku ingin memberi makan mereka semua. Oleh karena itu, setiap kali aku menahan seseorang bersamaku dan melayaninya.”

Supaya orang benar-benar dapat mengalami, bahwa Tuhan memang hadir dalam segala sesuatu, dituntut suatu pematangan rohani tertentu. Akan tetapi, apabila hal itu telah dicapai, yang biasanya juga diakui sebagai suatu anugerah Tuhan, maka orang akan melihat bahwa Tuhan hadir dalam segala sesuatu. Ia akan dapat melihat kehadiran Tuhan dalam benda mati, tetapi juga dalam tiap manusia.

Dalam tradisi spiritual Indonesia, hal ini merupakan suatu kebenaran pokok seperti yang berkali-kali diungkapkan oleh pelbagai tokoh. Dalam hal ini yang terkenal antara lain ialah Hamzah Fansuri, seorang mistikus Sumatera Utara dari abad ke-17. Untuk menyatakan bahwa Allah hadir dalam segala sesuatu, dikatakannya antara lain, bahwa Allah juga hadir dalam najis. Di samping itu suatu ungkapan yang jelas dan indah akan hal ini diberikan oleh seorang tokoh Budi Utomo, Gunawan Mangunkusuma, pada permulaan abad ini:

"Kami ini berbeda sekali dengan orang Barat.. Bahasa insani kita tidak mampu melukiskan Dia, yang sesungguhnya hanya dapat dirasakan oleh ada kita yang terdalam dengan suatu rasa hormat yang besar sekali. Dalam bisikan angin sore kami mengenal sebuah nada melodi besar itu. Dan dalam seberkas cahaya yang mengintai ke dalam kamar, kami mengenali asalnya yang sama dengan kilauan bintang di langit pada malam hari yang cerah. Kami mendengar dalam kicauan burung kecil dan dalam deru lautan, kami mencium dalam semerbak bunga-bunga dan melihat dalam anak yang tumbuh serta dalam cahaya yang menyilaukan mata yang dipantulkan salju. Seribu satu wajah Yang Esa... Apa yang oleh orang Barat dianggap mati, sungguh­-sungguh hidup dalam roh kami... Kami tahu, bahwa dunia ini adalah suatu komunitas mani­festasi Yang Esa, komunitas yang didasarkan atas kemurahan dan kebesaran hati.”

Biarpun bagi orang kristiani dewasa ini per­nyataan-pernyataan semacam itu kelihatan agak asing, namun sesungguhnya hal itu tidak asing dalam Tradisi Kristen. Ungkapan yang cukup jelas tentang kesadaran akan kehadiran Allah di mana-mana ini kita jumpai misalnya dalam Mazmur 139, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku, Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu. Ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau ada di sana. Jika aku menaruh tempat tidur di dunia orang mati, di situ pun Engkau.

Di sini dengan jelas dinyatakan, bahwa Allah hadir di mana-mana. Kehadiran Allah di mana­-mana ini dengan cara yang berbeda-beda dihayati dan diungkapkan oleh beberapa orang kudus. Di antara orang kristiani yang terkenal dalam hal ini ialah Santo Fransiskus Asisi yang merasakan persatuan teramat erat dengan alam semesta dan dengan segala makhluk. Ini karena dia menga­lami dan melihat kehadiran Allah di dalam segala makhluk itu: dalam matahari dan bulan, dalam binatang-binatang. Alasan inilah yang sesung­guhnya menjadikan Santo Fransiskus Asisi amat dekat dengan kebudayaan Spiritual Asia.

Apabila dalam tradisi Asia orang umumnya tidak atau kurang membedakan antara kehadiran Allah dalam manusia dan dalam makhluk-makhluk lainnya, dalam teologi Kristen orang justru mengadakan pembedaan antara beberapa bentuk kehadiran itu. Terutama dalam diri manusia diadakan pembedaan macam-macam bentuk kehadiran Allah. Pada umumnva dibedakan tiga buah bentuk kehadiran Allah dalam diri manusia:

1. Kehadiran karena hakekat

Allah sebagai Pencipta harus senantiasa hadir dalam segala ciptaan. Untuk tetap ada semua makhluk memerlukan kehadiran Allah ini. Dalam arti inilah Allah hadir dalam segala makhluk, sehingga tidak ada apa-apa yang luput dari kehadiran-Nya. Segala sesuatu ada dalam Allah, karena tidak ada sesuatupun yang bisa ada di luar Allah, sebab di luar Allah tidak ada apa-apapun juga. Dari sini kiranya jelas pula, bahwa segala sesuatu menyatakan kehadiran Allah, segala sesuatu merupakan manifestasi-Nya, dan dalam arti tertentu segala sesuatu adalah bagian Allah, tetapi jumlah semuanya itu masih bukan Allah. Karena Allah melampaui segala sesuatu dan dari pihak lain tidak ada apa-apa yang di luar Allah, maka segala sesuatu menyatakan dan memanifes­tasikan Allah. Atau dengan istilah yang lebih tehnis dapatlah dikatakan, bahwa Allah seka­ligus transenden dan immanen dalam setiap makhluk. Dalam immanensi-Nya yang amat dalam pada setiap makhluk itu, Allah tetaplah transcendens (transenden), tanpa mengurangi immanensinya dan sebagai yang transcendens, yang secara tak terbatas melampaui segala sesuatu, yang tidak bisa dijangkau oleh suatu makhlukpun juga, Ia tetap immanens pada se­tiap makhluk. Hubungan antara transcendentia dan immanentia Allah inilah yang sering merupakan persoalan pokok dalam dunia non kristen, dan seringkali mereka tidak dapat mempersatukannya, sehingga menekankan tran­scendentia dan melupakan immanentia, atau menekankan immanentia, sehingga lupa akan transcendentia. Hanya dalam iman kristen saja keduanya ini dapat dipersatukan.

2. Kehadiran karena rahmat

Di sini Allah hadir dalam diri manusia bukan hanya sebagai yang menopang ada kita, melainkan juga sebagai pribadi, sebagai Tuhan dan Allah kita. Ia hadir dalam rahmat-Nya, yakni dalam diri semua orang yang berada dalam keadaan rahmat. Jadi kehadiran-Nya di sini merupakan sesuatu yang personal, karena adanya persahabatan dan hubungan pribadi dengan orang itu. Selama orang itu tidak memisahkan diri dari Allah, Dia akan senan­tiasa hadir dalam dirinya secara ini. Karena itu dapat dikatakan, bahwa kehadiran Allah seperti yang ini sama sekali tidak tetap, sedangkan yang pertama senantiasa tetap, bagaimanapun keadaan orang itu. Secara kodrati orang tidak dapat mengetahui, apakah benar Allah hadir dalam dirinya seperti itu atau tidak. Kebanyakan orang Kristen hanya memili­ki kehadiran Allah seperti ini.

3. Kehadiran rohani

Ini merupakan suatu kehadiran yang lebih dalam dan mesra daripada yang sebelumnya. Biarpun pada sebelumnya Allah juga hadir secara pribadi, namun orang tidak mengalamai kehadiran-Nya itu. Apabila pada kehadiran dalam rahmat itu orang hanya mengetahui akan hal itu karena iman yang masih gelap saja, di sini orang seringkali mengalami kehadiran itu dengan suatu atau cara lain. Dalam diri orang yang bertekad menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan, biasanya Allah menyatakan ke­hadiran-Nya dengan cara-cara yang seringkali berbeda-beda sekali. Dengan kehadiran-Nya yang rohani ini, Ia menghibur, menyegarkan dan menggembirakan orang-orang itu. Dengan demi­kian mereka tidak hanya mengetahui bahwa Allah memang hadir dalam diri mereka, tetapi dengan suatu cara mengalami kehadiran-Nya itu, se­hingga bagi mereka, Tuhan bukan suatu pengertian yang abstrak, melainkan sungguh­-sungguh Pribadi yang hidup. Pengalaman keha­diran Allah seperti ini cukup sering dialami ­orang yang sungguh-sungguh ingin mengabdi Tuhan, baik religius maupun awam. Demikian pula menurut Yohanes Salib hal ini amat biasa pada orang-orang yang sungguh ingin membakti­kan dirinya pada Allah. Kehadiran seperti ini pulalah yang dicita-citakan orang dewasa ini.

Tentu saja kehadiran ini mempunyai tingkat­an dan intensitas yang berbeda-beda sekali pada masing-masing, yang seorang mengalaminya secara lebih mendalam daripada yang lain. Pada yang satu Kehadiran ini menyatakan diri secara kuat sekali, sedangkan pada yang lain agak samar-samar, sesuai dengan keadaannya sendiri. Orang-orang yang masih lemah dan belum cukup dimurnikan biasanya disentuh sedikit saja oleh Allah pada bidang yang lebih lahiriah, pada bidang perasaan dan juga budinya, se­hingga sentuhan serta kehadiran Allah ini dapat dialami secara lebih lahiriah melalui perasaan dan lebih mudah ditangkap oleh budi. Pada orang lain yang sudah lebih siap, Allah biasanya menyatakan diri pada kedalaman batinnya, sehingga menyentuh substansi jiwa­nya secara langsung dan karenanya dengan cara yang mengatasi perasaan dan pikiran manusia, biarpun seringkali efeknya juga meluap kepada bagian-bagian yang lebih lahiriah.

Kehadiran Allah dalam manusia ini pertama-­tama merupakan soal iman, bahkan bila kemudian kehadiran itu juga dialami, hal itupun terjadi dalam iman, sehingga merupakan suatu pengalaman iman. Ini tidak hanya berlaku bagi kehadiran jenis ketiga saja, melainkan untuk semua bentuk kehadiran itu. Pada permulaan orang hanya per­caya akan hal itu, karena demikianlah ajaran iman Gereja. Akan tetapi kemudian hari bila iman berkembang dan menjadi lebih hidup, Kehadiran itu menjadi lebih jelas, sehingga seolah-olah orang dapat melihatnya dimana-mana. Pada orang-­orang tertentu rupanya hal itu menjadi demikian kuatnya, sehingga ia sungguh-sungguh melihat kehadiran itu dimana-mana, dalam segala makhluk dan dalam dirinya sendiri. Kehadiran Allah ini sesungguhnya terjadi secara tersembunyi pada lubuk jiwa manusia. Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus hadir pada dasar terdalam jiwa itu. Biarpun Allah hadir dimana-mana, toh dapat dikatakan, bahwa secara istimewa Ia hadir pada lubuk jiwa kita. Untuk dapat mengalami dan melihat kehadiran ini pada kedalaman yang besar itu, dibutuhkan pemurnian lebih dahulu, dibutuhkan hati yang bebas dan tidak lekat. Inilah yang menjadi dasar, mengapa para ahli hidup rohani selalu menasihatkan, supaya kita masuk ke da1am diri sendiri untuk menemukan Allah. Seperti yang diungkapkan pseudo Augustinus, suatu ungkapan yang kemudian menjadi mashyur, bahwa sia-sialah kita mencari Allah di luar, sebab sesungguhnya Dia berada di dalam. "Aku tidak menemukan Dikau ya Tuhan, karena aku salah mencariMu di luar diriku, padahal Dikau berada dalam diriku" Bila masuk ke dalam diri sendiri tidak berarti, bahwa kita harus sibuk dengan diri sendiri seluruhnya, supaya dapat berjumpa dengan Dia yang bersemayam di lubuk jiwa kita yang terdalam.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting