User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Suatu ketika Yesus pernah berkata, "Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka membunuh Dia." Jika kita bertanya mengapa orang mau menyerahkan Yesus? Mengapa mereka mau membunuh Tuhan Yesus? Padahal kalau kita lihat dalam Injil dituliskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan-Nya adalah hal baik, dengan kata lain kita tahu bahwa Yesus hanya melakukan yang baik; Dia menolong dan menyembuhkan orang yang sakit, menolong orang yang miskin, memberi harapan kepada yang berduka, menghibur mereka yang mau kembali kepada Allah, mengampuni orang berdosa, menerima setiap orang yang datang kepada-Nya. Semua dilakukan semata-mata demi kemuliaan Bapa. Dia tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri, Dia tidak mencari nama, Dia tidak mencari popularitas, tetapi Dia melakukan semuanya untuk Allah Bapa dan untuk umat yang dicintai-Nya. Akan tetapi kenyataannya Yesus dimusuhi, bahkan dianiaya, disiksa, dan dibunuh di atas kayu salib. Yesus sungguh-sungguh diperlakukan dengan sewenang-wenang.


Suatu ketika Yesus pernah berkata, "Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka membunuh Dia." Jika kita bertanya mengapa orang mau menyerahkan Yesus? Mengapa mereka mau membunuh Tuhan Yesus? Padahal kalau kita lihat dalam Injil dituliskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan-Nya adalah hal baik, dengan kata lain kita tahu bahwa Yesus hanya melakukan yang baik; Dia menolong dan menyembuhkan orang yang sakit, menolong orang yang miskin, memberi harapan kepada yang berduka, menghibur mereka yang mau kembali kepada Allah, mengampuni orang berdosa, menerima setiap orang yang datang kepada-Nya. Semua dilakukan semata-mata demi kemuliaan Bapa. Dia tidak mencari kemuliaan-Nya sendiri, Dia tidak mencari nama, Dia tidak mencari popularitas, tetapi Dia melakukan semuanya untuk Allah Bapa dan untuk umat yang dicintai-Nya. Akan tetapi kenyataannya Yesus dimusuhi, bahkan dianiaya, disiksa, dan dibunuh di atas kayu salib. Yesus sungguh-sungguh diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Kalau kita merenungkan hal ini, mungkin kita akan teringat bahwa sebenarnya kita sendiri seringkali justru mengeluh saat mengalami penderitaan. Mungkin kita merasa sudah melayani Tuhan, rajin ke Gereja dan berdoa, rajin membaca Kitab Suci, ikut kelompok PD, namun ternyata masih menerima penderitaan. Maka tak jarang kita pun merasa bahwa Tuhan tidak adil.

Seandainya kita merasakan hal seperti itu, mungkin ada baiknya kita mencoba merenungkan kehidupan Yesus. Yesus yang tidak bersalah dan tidak pernah berdosa, dimusuhi, dibenci oleh para Farisi dan ahli Taurat, bahkan Dia dibunuh di atas kayu salib. Lalu apa salah-Nya? Dosa apa yang telah dilakukan Yesus? Menurut pemikiran manusiawi pasti banyak. Akan tetapi Yesus yang kenyataannya tidak pernah berdosa, harus banyak menderita. Sedangkan kalau kita menderita, saya rasa wajar karena kita semua telah berdosa, namun herannya justru seringkali kita yang mempersalahkan Tuhan yang dianggap tidak adil.

Santo Paulus mengatakan dalam suratnya bahwa, "setiap orang yang mau hidup beribadah akan menderita aniaya." Mengapa demikian? Memang kedengarannya aneh, orang ingin hidup beribadah namun harus banyak mengalami kesukaran dan sebagainya. Orang dianiaya dan ditekan. Jika kita mengalami hal seperti itu, seringkali kita pun berteriak kepada Tuhan, tetapi seolah-olah Tuhan bisu dan tuli. Kita pun bertanya, “Tuhan di mana Engkau?” Kita seringkali berteriak-teriak dalam kesesakan, dalam penderitaan seolah-olah Tuhan tidak mendengarkan. Lalu kita berpikir jika demikian maka Tuhan tidak ada. Pemikiran seperti inilah yang salah. Tuhan kita itu tidak tuli, Dia tidak pernah tidur, Dia selalu ada bersama dengan kita.

Akan tetapi mengapa Tuhan membiarkan segala penderitaan itu terjadi? Mengapa orang yang mau hidup saleh itu harus menderita aniaya? Sebetulnya yang menganiaya itu siapa? Dialah si jahat atau iblis melalui orang-orang yang dikuasainya, yang mendengarkan bisikan-bisikannya, supaya kita dijauhkan dari Allah. Dengan penderitaan tersebut, iblis ingin agar kita menjadi putus asa dan akhirnya kembali lagi ke dalam pelukan si jahat. Kalau kita menjadi miliknya, kita tidak akan diganggu. Maka ini dapat menjadi tandanya, kalau Anda diganggu terus, berarti Anda bukan miliknya. Namun kalau Anda miliknya pasti tidak diganggu supaya Anda tidak lari daripadanya (iblis), tetapi Tuhan justru menarik kita, supaya kita tidak binasa dari kuasa si jahat sebab seperti kata santo Paulus, "segala penderitaan, penganiayaan tidak akan melampaui kemampuan kita", Tuhan akan memberikan kekuatan bila kita mengalami semuanya itu supaya kita tetap bertahan. Oleh karena itu dari satu pihak, bila Anda mengalami macam-macam gangguan atau dianiaya oleh orang-orang yang jahat, Anda harus bersyukur, karena itu berarti bahwa Anda adalah milik Allah dan setan berusaha merebut Anda dari Allah. Bila kita bertekun, kita yakin bahwa dalam Yesus Kristus kita akan menang, karena Tuhan telah bersabda, "Aku telah memberi kepada kamu kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking sehingga tidak ada satu cara pun dapat merugikan kamu." Jadi kita diberi kekuatan dan kuasa yang lebih kuat kalau kita tetap berpegang pada Kristus Yesus.

Kemudian melalui kesukaran-kesukaran tadi, kita semakin sadar bahwa Yesus sungguh hidup sehingga kita bisa berharap kepada-Nya. Para murid Yesus yang sudah lama mengikuti Yesus, bertanya-tanya siapa yang paling besar di antara mereka, semua mau menunjukkan kelebihannya, sehingga mereka bertengkar, siapa yang paling besar? Karena mereka belum sungguh-sungguh memahami arti kebesaran yang sejati, mereka mencari kebesaran duniawi yang sebetulnya bukan kebesaran yang seperti dikehendaki Tuhan. Kebesaran yang sejati yaitu seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Yesus yang Mahamulia, Mahabesar telah merendahkan diri menjadi manusia hina bahkan sampai taat wafat di kayu salib. Karena Dia merendahkan diri maka Dia menjadi besar, kemudian secara konkret Yesus memberikan kepada kita suatu teladan. Teladan seorang anak kecil, supaya kita menyambut anak kecil seperti menyambut Yesus sendiri. Dan dalam Injil Matius juga dikatakan, "kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ibaratnya pintu surga itu sempit, kalau kita berbadan besar maka tidak bisa masuk, untuk itu harus menjadi kecil supaya bisa masuk. Maksudnya apa? Menjadi seperti anak kecil ialah hidup menyadari keterbatasan diri, menyadari kepapaan sendiri, menyadari kelemahan sendiri. Menjadi seperti anak kecil itu tidak berarti menjadi kekanak-kanakan. Coba bayangkan seorang yang tua yang sudah beruban kalau berlaku kekanak-kanakan tentunya justru menjadi lucu, tetapi memiliki semangat anak kecil yang polos, jujur, dan sangat tergantung seluruhnya kepada orang tuanya inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Sehingga walaupun sudah beruban rambutnya, kita tetap harus menjadi anak kecil supaya bisa masuk surga. Akan tetapi dalam hal apa? Tentu saja di sini ada perbedaan antara anak kecil yang dimaksud Yesus dengan keadaan manusia yang sebenarnya. Kita tahu bahwa seorang anak kecil kalau kita lihat dari segi manusia; dia begitu tergantung kepada orang tuanya, dia makan saja tidak bisa, dia tidak berdaya apa-apa dan sungguh-sungguh bergantung kepada orang tuanya; anak kecil juga tidak bisa mencari nafkahnya sendiri. Akan tetapi bila dia sudah besar dan menjadi dewasa, maka bisa saja itu berubah, dan justru orang tuanya yang mungkin tergantung kepada dia (anaknya).

Akan tetapi Tuhan tidak demikian, ketergantungan kita pada Tuhan itu selalu, karena sebenarnya kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan. Oleh karena itu kita harus menjadi seperti anak kecil dalam arti ini; yaitu tergantung kepada Tuhan, mengharapkan segala sesuatu dari Tuhan, dan mau menerima keterbatasan dan kelemahan diri. Artinya kalau Yesus mengatakan kalau kamu tidak seperti anak kecil ini kamu tidak akan masuk surga, di sini maksud Yesus tidak bersifat kekanak-kanakan, namun seorang anak kecil yang sungguh tergantung seluruhnya kepada orang tuanya, kemudian dia mengharapkan segalanya dari orang tuanya; seorang anak kecil tidak pernah berpikir apakah besok saya tidak diberi makan oleh orang tua saya. Bahkan orang miskin pun kalau makanannya kurang, orang tuanya mengalah dan memberikan makanan itu kepada anaknya. Demikian juga kita di hadapan Tuhan, kalau Tuhan bersabda, "kalau kamu saja yang jahat, tahu memberikan pemberian yang baik kepada anak-anakmu, betapa lebihnya lagi Bapamu yang ada di Surga." Dalam hal ini kita dapat bertanya apakah kita lebih baik daripada Tuhan? Kalau kita yang jelas-jelas orang berdosa tidak akan menyia-nyiakan anak kita, maka lebih lagi Tuhan tidak akan menyiakan kita. Contoh sederhana misalnya seorang anak kecil baru saja dimandikan, diberi pakaian yang bersih, namun ketika dia pergi bermain, badannya sudah kotor lagi dan bajunya basah, lalu anak itu berteriak memanggil ibunya. Ibunya memang jengkel, tetapi toh dia tetap membantu anaknya mengganti pakaian yang basah. Inilah hati seorang ibu, dan Allah berkata, "dapatkah seorang ibu melupakan anaknya, sekalipun dia melupakan anaknya, tetapi Aku tidak akan melupakan engkau." Jadi walaupun ibu itu melupakan anaknya, tetapi Tuhan tidak akan melupakan dia dan kita semua.

Oleh karena itu kita harus bergantung kepada Tuhan, mengharapkan segalanya dari Tuhan. Seperti seorang anak kecil tadi mengharapkan hidupnya, makanannya, dan segala-galanya dari orang tuanya. Dan saya kira orang tua yang normal, tanpa diminta akan memberikan apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Dikatakan oleh Tuhan Yesus, "bukankah Bapamu lebih daripada itu?" Oleh karena itu yang diminta dari kita oleh Tuhan yaitu kepercayaan yang tidak terbatas kepada Allah yang hati-Nya lebih lembut daripada hati seorang ibu dan bapa mana pun. Walaupun kita kadang-kadang bersalah dan berdosa, namun marilah kita datang seperti anak kecil itu kepada Tuhan. Datang kembali kepada Bapa kita dengan penuh kepercayaan, seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes, "bila hati kita menuduh kita artinya menuduh kita tentang dosa-dosa, Allah lebih besar daripada hati kita." Kalau kita mempunyai seorang Allah seperti itu maka hidup kita akan penuh damai, sukacita, dan ketentraman. Kita tidak akan takut apa pun, kita tidak akan kuatir akan apa pun. Inilah yang dikehendaki Tuhan Yesus dari kita supaya menjadi anak kecil yaitu mengakui dan menerima kepapaan sendiri, kelemahan sendiri, dan ketidakberdayaan sendiri, tidak berduka kalau kita sadar bahwa kita itu papa, namun justru langsung kembali kepada Bapa kita. Tiap-tiap kali kembali kepada Tuhan, semakin kita disadari akan kerahiman-Nya, dan akhirnya kita menjadi kuat dan perlahan-lahan terlepas dari dosa-dosa yang mengikat, yang mungkin seringkali kita perbuat dan diulang-ulangi. Kita harus selalu sadar bahwa kita itu lemah, kita papa, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti dikatakan Tuhan Yesus, "tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa, Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya, lepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Bahkan santo Paulus juga mengatakan, "kita tidak dapat melakukan satu perbuatan baik pun tanpa rahmat Allah." Bahkan satu pikiran baik pun kita tidak dapat melakukannya tanpa Allah. Seperti seorang anak tadi, tergantung secara mutlak dari orang tuanya demikian juga kita tegantung dari Allah. Yang diminta Tuhan adalah akuilah dirimu, terimalah dirimu seperti apa adanya. Inilah kerendahan hati yaitu menyadari dari diri sendiri kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam bidang adikodrati kita tidak dapat melakukan sesuatu bahkan berbuat baik sekali pun tanpa rahmat Allah. Oleh karena itu kita harus bersandar kepada-Nya.

Selain kita mengakui dan menerima diri apa adanya, kita juga secara positif harus bergantung kepada Allah, mengharapkan segala sesuatu dari Bapa surgawi. Tuhan Yesus mengatakan, "mengapa kamu kuatir, bahkan apa yang kamu makan, apa yang kamu pakai, bukankah burung-burung di udara itu tidak menabur dan tidak menuai, tetapi diberi makan oleh Bapa, dan lihat bunga-bunga di ladang, yang didandani begitu indah, bunga yang hari ini ada dan besok sudah layu, betapa lebihnya kamu, bukankah kamu lebih berharga daripada semuanya itu."

Memang seringkali pikiran-pikiran kita dipengaruhi oleh pengalaman manusiawi kita, apalagi dalam masyarakat kita misalnya kalau ada prestasi ada balas prestasi, kalau tidak ada prestasi juga tidak ada balasnya. Kita dikejar begitu rupa seolah-olah juga kita di hadapan Tuhan, berhubung dengan keselamatan kita, kita harus berprestasi hebat. Tak jarang karena mengejar prestasi itu kita menjadi stress dan depressi karena banyak saingan. Padahal bukan itu yang dikehendaki Tuhan. Yang dikehendaki Tuhan Yesus, supaya kita betul-betul berharap pada Tuhan, dan Dia akan memberi kekuatan bila kita menderita, Dia akan melepaskan dan meringankan segala beban kita. Dan bila kita berdoa kita harus berharap akan kerahiman dan pengampunan-Nya, karena Dia lebih besar dari kita. Bahkan dosa yang paling besar pun diampuninya. Tahukah Anda dosa yang paling besar itu apa? Yaitu "putus asa". Tidak percaya lagi akan kerahiman Tuhan. Maka bila Anda putus asa, ini berarti berdosa melawan kerahiman Allah sendiri, kalau betul-betul putus asa bisa-bisa nasib kita menjadi seperti Yudas yang menggantung diri atau bunuh diri. Inilah dosa yang paling besar. Petrus menyangkal Yesus dengan berkata, "Aku tidak kenal orang ini” dan menyumpahi dirinya bahwa dia tidak kenal, tetapi kemudian dia sadar dan bertobat lalu dia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, kemudian dia melemparkan diri pada pangkuan Allah, pada kerahiman Allah. Ini bedanya dengan Yudas. Yudas putus asa, lalu menggantung diri. Oleh karena itulah maka kita harus mengharapkan segala-galanya yaitu mengharapkan bantuan Tuhan. Bagi kita yang melakukan dosa berat pun harus menyadari akan kerahiman Allah yang lebih besar dan mampu mengampuni. Allah kita lebih besar daripada perbuatan dosa seberat apa pun, tidak ada satu dosa pun yang tidak akan diampuni oleh Tuhan, Ia siap mengampuni bila kita datang kepada-Nya. Segala dosa yang paling besar pun seolah-olah akan dilemparkan ke dalam api yang bernyala-nyala dalam kerahiman Allah dan dalam sekejap dosa-dosa kita dimusnahkan.

Yesus tidak pernah membiarkan kita sendiri dalam segala kelemahan dan dosa. Itulah yang harus selalu kita sadari. Dia mencintai kita dan ingin agar kita menjadi bahagia dan memperoleh keselamatan. Untuk itu tak hentinya Dia selalu memanggil kita untuk terus melekat dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Dia ingin agar kita mempunyai kepercayaan yang tak terbatas kepada-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting