Print
Hits: 8957

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Karunia iman sesuatu diberikan Tuhan pada saat-saat kita melayani dan sifatnya situasional, diberikan saat itu juga. Karunia ini begitu penting dalam pelayanan. Karunia iman ditandai dengan ketenangan namun pasti. Di dalam kejadian yang kita alami dalam mujizat penyembuhan kita mengetahui bahwa mereka yang menerima mujizat penyembuhan itu sedikit banyak mempunyai iman, baik besar maupun kecil. Kadang-kadang juga ada kepastian iman yang membuat kita yakin tanpa dipompa. Jadi dengan keyakinan yang tenang. Iman bukan soal keras kecilnya suara, tapi merupakan keyakinan yang tenang tanpa keraguan sedikit pun. Maka hal itu akan terjadi.


Iman semata-mata adalah rahmat, jadi tidak bisa disugesti dan dipompa-pompa, “aku percaya, aku percaya!”  Dalam hal karunia iman, kita tidak bisa melatihnya. Kita harus mohon kepada Tuhan. Lain dengan kebajikan iman yang diberikan kepada kita dan menjadi milik kita, tetapi karunia iman tidak bisa diperoleh dengan sugesti.

Dalam hubungan dengan kedua hal ini, St.Yohanes dalam suratnya mengatakan:

 “Kutuliskan semua ini supaya semua kamu yang percaya (kebajikan iman) kepada anak Allah tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1 Yoh 5:13-14)

Namun, beberapa baris kemudian dalam ayat 15 disebutkan tentang karunia iman,

“…kita tahu, kita telah memperoleh apa yang kita minta kepada-Nya.”

Jadi di sini ada kepastian. Karunia iman ditandai dengan ketenangan namun pasti. Di dalam kejadian yang kita alami dalam mujizat penyembuhan kita mengetahui bahwa mereka yang menerima mujizat penyembuhan itu sedikit banyak mempunyai iman, baik besar maupun kecil. Kadang-kadang juga ada kepastian iman yang membuat kita yakin tanpa dipompa. Jadi dengan keyakinan yang tenang. Iman bukan soal keras kecilnya suara, tapi merupakan keyakinan yang tenang tanpa keraguan sedikit pun. Maka hal itu akan terjadi.

Karunia ini bukan suatu yang bisa dipaksakan, tetapi diberikan Tuhan kepada kita. Iman seperti ini bukan merupakan suatu keinginan belaka, “saya harap saya punya iman seperti itu, saya harap saya bisa percaya,” tetapi “saya tahu doa saya akan dikabulkan.” Jadi suatu kepastian tanpa ragu. Tapi ini tidak bisa dipaksakan karena merupakan suatu karunia.

Seorang imam di Amerika berdoa untuk dua orang yang datang dalam Misa penyembuhan. Waktu itu salah seorang anggota timnya mengatakan kepada Romo itu, orang ini pasti sembuh. Saya yakin sebagaimana Romo sekarang ada. Dan terjadilah. Tanpa diketahui bagaimana orang itu bisa yakin bahwa itu akan terjadi dan memang terjadilah baik dalam hal penyembuhan, maupun hal-hal lain. Kemudian pasien kanker yang satunya dikatakan tidak akan sembuh, dan sebentar lagi akan meninggal. Sehingga ibu itu berdoa dalam hatinya supaya orang itu dipersiapkan untuk meninggal. Kita memang tidak bisa menyelami seluruh rencana Allah, “pikiran-Ku, rencana-Ku bukan pikiranmu, rencanamu.” Keduanya memuliakan Tuhan. Yang sembuh memberi kesaksian, yang satunya bersatu dengan Tuhan di surga. Memang kita selalu berhadapan dengan misteri, tetapi Tuhan ingin iman kita sungguh-sungguh kuat supaya kita percaya pada karya-karya Allah.

Yesus berkata dalam Yoh. 14:12:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”

Kalau memang kita sungguh-sungguh yakin, apa yang dikatakan Yesus dalam teks di atas suatu saat itu akan terjadi. Tetapi bukan dengan paksa! Yesus mengatakan ini bukan untuk main-main saja. Kata-kata ini begitu menantang (Yoh. 12:14). Dalam teks asli bahkan Yesus berkata setengah bersumpah, sungguh-sungguh serius. Tetapi banyak orang yang melewati teks ini begitu saja. Sabda Tuhan adalah kebenaran, dan ternyata dalam sejarah banyak murid-murid Yesus yang melakukan hal ini. Rasul Paulus, dan santo-santa, misalnya St. Vincentius Fererius dari Roma yang hidup di abad 16-17 membangkitkan orang mati lebih banyak dari Yesus.

Dalam setiap keadaan kita tentunya ingin tahu apa yang menjadi kehendak Allah. Oleh karena itu kita harus sampai pada iman penuh pengharapan, atau menanti dengan penuh harap. Dalam Yoh 1:15 dikatakan bahwa kalau kita tahu Ia mendengar doa kita, maka kita juga tahu bahwa doa kita dikabulkan. Jika ada pengetahuan yang pasti maka kita tidak ada keraguan sedikit pun juga sehingga doanya dikabulkan. Contohnya Bunda Maria, ketika mohon pada Yesus dalam perjamuan di Kana hanya berkata, “Mereka kekurangan anggur.” (Yoh. 2:3) Dan Bunda Maria begitu yakin sehingga menyuruh pelayan mengikuti apa yang diminta Yesus. Begitu juga keluarga Lazarus, mereka begitu yakin sehingga mengirim utusan, “yang Kaukasihi sakit.” Hanya begitu saja, ini suatu keyakinan iman yang begitu dalam yang merupakan karunia.

Tuhan memberikan karunia ini bukan untuk memuaskan kepicikan kita yang akhirnya membanggakan diri sudah bisa menyembuhkan orang. Karunia iman biasanya diberikan kepada orang-orang yang kira-kira bisa dipakai Tuhan untuk membangun jemaat-Nya. Seperti yang dialami Filipus dalam Kis 8 bahwa ketika Filipus mewartakan Injil dan pewartaannya disertai mujizat-mujizat, banyak orang menjadi percaya.

Selain keyakinan juga perlu pengharapan yang pasti, lebih dari sekedar harapan optimis. Jadi, “saya tahu bahwa itu akan terjadi.” Bagi yang tidak percaya, semua omongan ini seperti orang gila. Tapi Yesus sendiri juga dianggap ‘miring’ oleh sanak saudara-Nya. Allah bukan orang yang sadis yang seolah menawarkan kemudian tidak jadi diberikan. Biasanya kita-nya yang menjadi soal, tidak mau datang, tangan terlalu penuh, dll. Kalau seorang guru mengajar, tentunya mengharapkan muridnya jadi pandai. Begitu pula Yesus, Ia ingin supaya murid-murid-Nya mampu melakukan apa yang diajarkan-Nya, dan Ia berkata:

tanda-tanda ini akan menyertai mereka yang percaya kepadaku.” ( Mrk. 16:17-18)

Kita kurang menyadari betapa besar kerinduan Allah agar karya-Nya berkarya lewat kita.

Tapi kita sering tergoda merasa diri tidak layak. Seandainya Yesus tidak mengatakan sendiri, memang bisa jadi itu kesombongan. Tapi ini Yesus sendiri yang mengatakannya dengan begitu eksplisit. “Mintalah maka kamu akan menerimanya. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan kamu peroleh dalam Nama Yesus.” (Yoh. 16:23) Melakukan dalam nama Yesus, artinya bersatu dengan Yesus. “Mintalah, supaya kamu menerima dan sukacitamu penuh.” Yesus amat merindukan kita melakukan karya-Nya.

Seringkali jika berdoa, kita memang mengharapkan, tetapi setengahnya tidak percaya. “Ya Tuhan, saya sudah berdoa sekian lama dan Engkau tidak kabulkan. Saya tahu, Engkau memang tidak akan mengabulkan.” Kita perlu belajar dari wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun dalam Luk. 8: wanita itu berkata, “Kalau saja aku menjamah jubahnya, pasti aku sembuh.” Wanita itu tidak berkata “barangkali, atau coba-coba, tetapi pasti!” Dan itu terjadi. Padahal waktu itu banyak yang menjamah Yesus. Tapi orang lain menjamah Yesus tanpa iman, alias kesenggol.

Aspek lain dari iman ini adalah sifat pribadi dari iman. Jadi kalau berdoa, jangan yakin dengan doa kita, jangan yakin dengan iman kita, tetapi kepercayaan kita terarah kepada pribadi Yesus. “Barangsiapa percaya kepada-KU akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan.” Jadi kalau berdoa jangan arahkan kepada iman kita, tetapi iman kita diarahkan kepada Pribadi Yesus. Percaya pada kebaikan dan kuasa Yesus, bukan percaya pada iman kita. Jadi tidak ada tempat untuk membanggakan diri, menyombongkan iman. Jadi diperlukan hubungan pribadi yang erat dengan Yesus, tanpa hubungan pribadi semua sia-sia.

Mungkin orang menyangka imannya besar, tetapi setelah berdoa berkata, “Tuhan sudah saya kira Engkau tidak akan mengabulkan doaku.” Ini menunjukkan orang itu tidak beriman. Suatu hari ada seorang yang sudah 11 tahun depresi, dan saya mempunyai suatu keyakinan Tuhan mengasihi dia dan mau menyembuhkan dia, maka langsung ia sembuh. Karena itu, kalau iman kita sungguh-sungguh besar maka akan terjadi. Seringnya kita jarang percaya, padahal kepada orang biasa kita bisa sungguh-sungguh percaya. Misalnya dengan supir kita percaya penuh tanpa cemas sedikit pun tidak akan terjadi kecelakaan. Sebetulnya ini iman juga, tapi iman kodrati.

Hidup kita memang tergantung pada iman. Kalau tidak percaya pada orang lain kita tidak bisa hidup. Misalnya kita percaya di tengah keramaian tidak ada yang nusuk saya, kalau makan tidak curiga bahwa makanan kita diracun. Tapi kalau berhubungan dengan Allah, sulitnya luar biasa, tidak semudah percaya pada orang biasa. Kalau imam memberi absolusi dalam sakramen tobat kita bisa percaya. Andai kata iman kita bisa seperti itu dalam hal-hal lain tentu banyak pekerjaan besar Allah yang dapat dilakukan.

Seringkali kita seperti Tomas yang baru mau percaya setelah melihat sendiri (iman posterior, jenis iman yang paling lemah, muncul sesudah melihat. “Berbahagialah orang percaya walau tidak melihat,” seperti Petrus yang tebar jalan siang bolong karena disuruh Yesus (Luk. 5).


Bagaimana kata berkembang dalam hal ini?

Suatu saat di Amerika ada sekelompok orang yang berdoa untuk ibu-ibu yang minum obat thalidomide, yang bisa membuat anak-anaknya yang dilahirkannya cacat. Salah seorang korbannya yang tak berlengan didoakan jadi tumbuh lengannya. Dalam hal ini kita perlu mohon kepada Tuhan supaya dikaruniakan iman ini. Setelah itu kita menyerasikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Doa ini dalam bahasa roh sangat menolong. Kalau kita bertekun suatu saat akan terjadi.

Tuhan akan lebih dipermuliakan kalau kita melakukan karya-Nya. Orang yang tidak percaya akan memakai 1001 macam dalih, dan mengatakan isi Injil itu jangan ditafsirkan secara harfiah, tapi secara ilmiah, dan tafsiran ilmiah nyaris kosong, tidak percaya apa-apa lagi. Oleh karena itu yang dipilih Yesus bukan ahli-ahli taurat, tapi orang-orang sederhana yang hatinya polos dan rendah hati seperti Petrus. Dialah yang akhirnya akan melakukan pekerjaan Yesus yang besar. Tidak gengsi.

Supaya bisa berkembang dalam iman kita harus: