User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sebelum kita dapat mengasihi Allah, Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi bukan karena kita mengasihi Allah maka Allah balas mengasihi kita. Justru sebaliknyalah yang benar: Kita dijadikan mampu mengasihi, karena Ia lebih dahulu telah mengasihi kita. Dan kasih itu sesungguhnya telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh yang telah diberikan kepada kita (Rm 5:5). Dengan demikian kita telah dijadikan mampu untuk membalas kasih Allah. Kebenaran ini merupakan suatu hiburan besar bagi kita. Kita tidak perlu melakukan prestasi tertentu supaya dapat dikasihi Allah, sebaliknya Dialah yang lebih dahulu mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa jasa sama sekali dari pihak kita. Dia mengasihi kita, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Dengan demikian kita dapat menyadari, betapa besar kasih Alah kepada kita. 



1. Allah, Sumber Segala Kasih
 

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. Pada perjamuan malam ia boleh duduk dekat Yesus dan bersandar dekat dengan Dia. Selama hidupnya ia boleh mengalami hubungan yang istimewa dengan Yesus serta merasakan kasih Yesus, sehingga dalam Injil, dia hanya disebut dengan tanda pengenal "murid yang dikasihi Yesus". Rupanya lebih dari yang lain ia boleh mendalami misteri kasih Allah itu secara khusus. Dalam Injilnya ia mendalami misteri kasih itu secara mengagumkan. Rasul ini pada hari tuanya menyadari dengan pasti bahwa keagungan dan sumber segala kasih itu ialah kasih Allah sendiri. Sebelum kita dapat mengasihi Allah, Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita. "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yoh 4:10). 

Jadi bukan karena kita mengasihi Allah maka Allah balas mengasihi kita. Justru sebaliknyalah yang benar: Kita dijadikan mampu mengasihi, karena Ia lebih dahulu telah mengasihi kita. "Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita" (1Yoh 4:19). Dan kasih itu sesungguhnya telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh yang telah diberikan kepada kita (Rm 5:5). Dengan demikian kita telah dijadikan mampu untuk membalas kasih Allah. 

Kebenaran ini merupakan suatu hiburan besar bagi kita. Kita tidak perlu melakukan prestasi tertentu supaya dapat dikasihi Allah, sebaliknya Dialah yang lebih dahulu mengasihi kita secara cuma-cuma, tanpa jasa sama sekali dari pihak kita. Dia mengasihi kita, karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Dengan demikian kita dapat menyadari, betapa besar kasih Alah kepada kita. Kasih itu secara istimewa dinyatakan dalam diri Putra-Nya yang tunggal, yang diserahkan untuk kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia" (Yoh 3:16-17). 

Kasih Allah itu menyelamatkan, sehingga setiap orang yang menanggapi kasih itu, dijadikan utuh kembali, diselamatkan, dijadikan makhluk baru. Karena itu untuk memperoleh kasih itu kita tidak perlu berprestasi lebih dahulu, melainkan cukuplah kita membuka diri dan membiarkan diri dikasihi Allah. Seringkali pengalaman kita dalam hal kasih manusiawi mengaburkan pengertian kita tentang kasih Allah itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari orang seringkali mengalami kenyataan ini, apalagi dalam dunia dewasa ini: ada prestasi ada balas prestasi. Dalam banyak keluarga, anak-anak mengalami hal ini: supaya dicintai orang tuanya, ia harus berprestasi, entah dalam sekolah, entah dalam hal lain. Tanpa sadar orang mengenakan sikap itu dalam hubungannya dengan Allah. Untuk dapat dikasihi Allah, orang harus berprestasi lebih dahulu. Karena itu ada orang yang mati-matian melakukan kebajikan-kebajikan tertentu, supaya berkenan kepada Allah dan kalau sudah melakukannya, seolah-olah ia dapat menuntut balas jasa dari Allah, karena ia telah berjasa. Latihan kebajikannya menjadi tegang, karena ia harus berprestasi, sekaligus mudah membawa orang kepada sikap puas diri, karena sudah berprestasi, serta menjadi sombong. 

Betapa sikap itu berbeda dengan sikap orang yang sungguh-sungguh menyadari, bahwa ia telah lebih dahulu dikasihi Allah tanpa ada jasa apa-apa dari pihaknya. Karena menyadari, bahwa ia berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, hatinya meluap dalam ucapan syukur dan terima kasih. Karena ia dikasihi, maka ia mau balas mengasihi dan segala sesuatu dilakukannya karena kasih kepada dan untuk menyenangkan hati Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dia. Semua dilakukannya, karena ia mengasihi Allah, bukan untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk berjasa, melainkan sebagai ucapan syukur dan terima kasih. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa Allah patut dikasihi demi Allah sendiri, bukan supaya mendapat sesuatu dari Allah. Maka dengan senang hati ia melakukan segala yang diperintahkan Allah kepadanya. Mungkin sekali orang ini melakukan sama banyaknya dengan yang pertama itu, bahkan mungkin lebih banyak lagi, karena orang yang mengasihi berusaha menyenangkan yang dikasihinya, namun semuanya bebas dari ketegangan dan usaha mencari jasa. 

Kalau kita sadar bahwa kita berharga bagi Allah dan dikasihi Allah, maka kita pun tidak akan mencari penghargaan dan penghormatan dari manusia. Kita tidak akan berusaha mengejar prestasi supaya mendapat penghargaan orang, tetapi kita akan melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah, semata-mata untuk Allah, tanpa takut apa kata orang. Karena kita merasa dikasihi Allah, kita pun dapat membagikan kasih itu kepada orang lain, tanpa menuntut orang lain harus balas mengasihi kita. Kita mengasihi karena kita lebih dahulu dikasihi. Kita tidak mau menghakimi seorang pun, karena kita sadar bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita serta mengampuni segala dosa kita. Karena kita telah mengalami belas kasih Allah, kita pun dapat menaruh belas kasihan kepada orang lain. Maka di sini terjadi suatu paradoks: karena kita hanya mengasihi secara murni tanpa menuntut balas, tanpa motivasi lain, akhirnya kita malahan mendapat kasih lebih banyak lagi. Di sini terlaksanalah sabda Tuhan Yesus sendiri: "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah, maka kamu akan diampuni. Berilah, dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam haribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Luk 6:37-38). 

Orang yang memiliki kasih Allah sadar bahwa tidak ada apa-apa yang lebih berharga di dunia ini daripada kasih. Karena itu demi kasih ia pun rela meninggalkan segala sesuatu, mengurbankan segala sesuatu. Karena Allah adalah kasih, maka baginya Allah saja sudah cukup, bahkan lebih dari cukup. Seluruh hidupnya akan dibaktikan kepada Allah melulu, untuk melaksanakan kehendak-Nya yang suci. Ia dapat menjadi alat yang peka dan rela di tangan Allah untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. 

Karena ia tahu bahwa Allahlah yang lebih dahulu mengasihi dia dengan kasih yang tak pernah berubah, ia pun bebas dari segala ketakutan. "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" (Yer 31:3). 

Semakin ia tumbuh dalam pengenalan Allah, semakin sadar ia bahwa hati Allah itu lebih lembut daripada hati ibu mana pun, dan bahwa kasih Allah lebih kuat dari kasih wanita mana pun terhadap anaknya yang kecil: "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tangan-Ku" (Yes 49:15-16a).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting