Print
Hits: 9341

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Kebangkitan Yesus juga merupakan dasar pewartaan Gereja. Sejak awal mula pewartaan, Gereja seperti dalam Kisah Para Rasul, mewartakan Yesus yang bangkit dan para rasul tidak mewartakan dirinya, tidak mengajarkan filsafat yang muluk-muluk. Mereka adalah orang-orang sederhana, nelayan-nelayan, tetapi dengan penuh keyakinan mereka mewartakan Yesus yang telah wafat dan bangkit. Ini adalah poros dari pewartaan para rasul sehingga mereka dengan gembira menanggung segala penderitaan bahkan sampai mati.


Misteri kebangkitan Yesus yang kita rayakan dengan meriah dan gembira, merupakan poros kehidupan kita sebagai orang Kristen. Sebagai orang Katolik yang beriman akan Yesus yang bangkit, perayaan kebangkitan merupakan perayaan yang paling pokok dan paling penting dalam hidup kita dan akan memberi warna dalam seluruh hidup kita selanjutnya. Kita dapat beriman kepada Kristus, pertama-tama adalah karunia iman yang diberikan Allah, sebab sesungguhnya tanpa karunia iman, kita tidak mungkin dapat percaya kepada Kristus.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri: "Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman" (Yoh 6:44). Oleh karena itu, berbahagialah kita yang percaya karena kita telah ditarik oleh Bapa. Ini suatu rahmat, bahwa Bapa yang menarik kita kepada Yesus Kristus. Pada permulaan, Bapa yang menarik kita kepada Yesus Kristus dan karena kita percaya maka kita diselamatkan. Secara perlahan-lahan kita akan melihat dan menyadari bahwa sebelum kita mencari Allah, Dia terlebih dahulu mencari kita.

Kepercayaan yang kita miliki diperoleh karena Allah terlebih dahulu menganugerahkan rahmat itu kepada kita sehingga kita dapat percaya kepada Yesus yang bangkit. Oleh karena itu, ketika Paulus berkotbah tentang Allah Pencipta di Athena dihadapan orang-orang yang pandai, cendekiawan, mereka mendengar dengan penuh perhatian. Akan tetapi ketika Paulus berbicara tentang Yesus yang wafat, disalibkan dan dibangkitkan mereka tertawa, mengolok dan berkata bahwa ia sedang mimpi, bagaimana mungkin orang mati dibangkitkan? Meskipun demikian diantara mereka ada yang percaya akan apa yang dikatakan oleh Paulus.

Kita mungkin tidak menyadari betapa besar harta yang diserahkan Allah kepada kita yakni iman. Santo Yohanes dalam suratnya mengatakan: "Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia yaitu iman kita" (1Yoh 5:4). Jadi sebetulnya jikalau kita menyadari anugerah besar ini, kita tidak dapat berbuat lain kecuali terus bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan memberikan iman kepada kita bukan karena kita pantas atau layak, bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kebaikan dan kerahiman Allah. Iman itu bertumbuh, berkembang dan bersandar pada kebangkitan Kristus.

Mula-mula iman itu kita terima karena kita mendengar, seperti yang dikatakan Paulus: "Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rm 10:14). Jikalau kita tidak mendengar, kita tidak akan percaya dan bagaimana kita dapat mendengar jikalau tidak ada yang mewartakan. Oleh karena itu, pewartaan sangat penting. Dalam perkembangan iman kadang-kadang terjadi seperti yang dialami para rasul, yang mendengar berita Yesus yang bangkit dari antara orang mati dan merasa bahwa hal itu tidak masuk akal dan bahkan diantara mereka ada yang putus asa karena mereka mengharapkan Yesus menjadi Raja bangsa Israel, tetapi tiba-tiba Yesus ditangkap, disiksa dan dibunuh. Mereka kehilangan harapan dan menjadi putus asa seperti terungkap dalam sikap dua murid yang pulang menuju ke Emaus.

Jadi pertama-tama iman itu bertumbuh karena mendengar, seperti Petrus dan Yohanes mendengar para wanita yang menceritakan bahwa Yesus bangkit. Mereka heran, apakah peristiwa itu benar dan mereka tidak segera percaya kepada apa yang dikatakan oleh wanita-wanita itu. Karena mereka tidak menutup diri akan wahyu dan pernyataan Allah maka mereka sampai pada langkah kedua yaitu mulai menyelidiki.

Orang menyelidiki karena terbuka, apakah kepercayaan saya benar sehingga apa yang saya percayai bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan Paulus: "Aku tahu siapa yang aku percayai dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan" (2Tim 1:12b). Kadang-kadang terjadi, orang begitu mudah percaya, misalnya, ketika ada penampakan Bunda Maria, semua orang berbondong-bondong ke sana tanpa menyelidiki lebih dahulu dengan cermat. Hal itu bisa saja terjadi, tetapi kita harus mempunyai dasar untuk percaya, apakah yang kita percayai itu betul-betul ada. Sebagai manusia yang berakal budi, kita harus mempertanggungjawabkan iman kita. Jikalau kita percaya begitu saja dan tidak mempunyai keyakinan yang kokoh maka ketika ada serangan atau goncangan kita akan goyah. Kita harus mempertanggungjawabkan iman bukan untuk meragukan, tetapi mencari dasar-dasar yang kuat, mengapa saya percaya? Mengapa kita percaya kepada Yesus? Apakah karena kebetulan saya dibaptis sejak kecil? Iman kita bukan kebetulan.

Kita perlu menyelidiki kebenaran itu. Petrus menyelidiki bukan hanya mendengar dari omongan-omongan wanita itu, betul atau salah. Lalu Petrus mau menyelidiki sendiri dan pergi ke kubur. Demikian juga kita tidak mungkin pergi ke Yerusalem untuk melihat kubur Yesus, di sana pun tidak ada apa-apanya. Bukan demikian cara kita menyelidiki, mempelajari dan merenungkan, mengapa kita percaya. Kita percaya berdasarkan kesaksian-kesaksian begitu banyak orang yang betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan demi kesaksian itu sendiri. Seperti yang dilakukan para rasul: ”Kami tidak berdusta dan kami mengatakan kebenaran dan demi kesaksian itu kami rela mati, kami rela dibunuh.”

Dalam Kisah Para Rasul, begitu banyak orang yang mewartakan kebangkitan Yesus dengan berani dan melalui cara hidup, mereka membuktikan bahwa mereka bukan penipu dan mereka mengatakan itu bukan untuk mencari uang atau kedudukan, tetapi mereka mempertaruhkan hidupnya sendiri demi Yesus. Orang besar dan orang kecil meninggalkan semuanya, karena imannya akan Yesus. Jikalau kita mengatakan bahwa mereka itu bodoh maka yang bodoh adalah kita yang mengatakannya, karena sesungguhnya mereka adalah orang bijak, sehingga kenangannya masih diingat hingga sekarang. Kita bersyukur karena mereka telah berani memberi kesaksian dengan taruhan nyawanya sendiri. Jikalau kita yakin akan sesuatu dan berani memberi taruhan untuk memberi hidup kita maka pastilah apa yang disaksikan itu benar.

Setelah mereka sendiri melihat di kubur dan kain-kain tersusun rapi, kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus, sekarang terletak agak di samping di tempat lain dan sudah tergulung maka ketika Yohanes melihat tanda itu dia percaya. Demikian juga kita, walaupun iman itu anugerah Allah, jikalau kita berani terbuka dan mulai bertanya dan kemudian menyelidiki maka kita berjumpa dengan Yesus dalam iman. Perjumpaan dalam iman itu yang menentukan iman kita akan menjadi lebih mantap. Apabila kita berjumpa dengan Yesus yang bangkit dan yang telah hidup maka akan menjadikan iman kita betul-betul hidup, sehingga kita dapat berkata: "Yesus hidup dan aku telah melihat-Nya," walaupun kita melihat-Nya di dalam iman.

Perjumpaan pribadi dengan Yesus sangat penting untuk mematangkan iman kita. Seperti Petrus walaupun imannya belum sempurna, tetapi dia percaya karena dia telah mengenal Yesus: "Siapa yang tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku tidak akan mempunyai hidup yang kekal." Dia mengetahui Yesus itu siapa walaupun imannya belum sempurna dan setelah kebangkitan Yesus, barulah imannya sempurna. Iman mengatasi pemikiran-pemikiran kodrati kita, tetapi dengan iman, kita akan mengerti dengan jelas.

Setelah kita berjumpa dengan Yesus dan kita sungguh menghayati iman maka segalanya akan semakin jelas dan semakin terang. Kita melihat sendiri dalam hidup para rasul, ketika mereka melihat dan berjumpa dengan Yesus, iman mereka diteguhkan. Setelah itu, mereka mencoba menghayati firman Tuhan sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan. Iman mereka makin lama makin berkembang dan suatu saat begitu kuatnya ketika mereka dihadapkan pada satu pilihan yang berat yaitu ‘menyangkal Yesus atau mati’, mereka tidak berpikir dua kali ‘lebih baik aku mati dari pada menyangkal Yesus’, karena mereka mulai mengenal dan menghayati.

Fakta kebangkitan Yesus merupakan suatu kebenaran, sehingga apa yang diwartakan Yesus bukan hanya omong kosong. Ketika Yesus dibunuh, para murid-Nya kehilangan harapan dan ketika Yesus bangkit pada hari ketiga mereka percaya bahwa Yesus tidak berbohong, Yesus tidak berdusta, tetapi apa yang diajarkan dan dikatakan-Nya memang benar dan Allah sendiri memberi kesaksian dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Seandainya Yesus tidak bangkit maka sia-sialah kepercayaan kita kepada-Nya, tetapi Dia sungguh bangkit dan itu peneguhan dari Allah, apa yang dikatakan memang benar dan Ia membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

Karena Yesus sungguh bangkit dan hidup maka iman kita juga bukan terarah kepada sesuatu, tetapi kita beriman pertama-tama kepada Yesus yang bangkit, karena itu dikatakan: "Demikian besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (bdk. 2Tim 1:10). Jadi kepercayaan kita bukan hanya pada ajaran saja, tetapi pertama-tama kita percaya kepada Yesus pribadi, Yesus yang hidup itu. Karena kita percaya kepada Yesus yang betul-betul tidak berdusta yang selalu mengatakan kebenaran, kita juga percaya akan segala sesuatu yang dikatakan-Nya.

Misalnya, dalam kehidupan kita, ada orang yang suka berbohong sehingga orang tidak percaya. Pada suatu saat ia mengatakan hal yang benar, tetapi orang tetap tidak percaya kepadanya. Sebaliknya jikalau kita menemukan seseorang yang tidak pernah berbohong dan dapat dipercaya maka apa yang dikatakannya akan diterima dan dipercayai, karena kita mengetahui bahwa orang ini dapat dipercaya. Demikian juga iman kita kepada Tuhan Yesus yang selalu mengatakan kebenaran. Yesus yang bangkit dan hidup ini merupakan kesaksian dari Bapa bahwa apa yang dikatakan-Nya itu sungguh-sungguh benar. Dalam kesaksian itu bahwa Yesus bukan manusia belaka, Dia adalah Allah. Kemudian dari situ, kebangkitan Yesus yang kita imani itu memungkinkan kita juga mengambil bagian dalam kehidupan yang diperoleh-Nya bagi kita. Yesus wafat dan bangkit bukan untuk Dia ,tetapi untuk kita sebab Dia sudah selamanya ada bersama Bapa.

Yesus memiliki segala sesuatu, Dia menciptakan segala sesuatu, segala sesuatu milik-Nya. Dia menjadi manusia, sengsara, wafat disalib dan bangkit untuk kita supaya dengan percaya kepada-Nya kita memperoleh hidup yang kekal dan hidup yang berlimpah-limpah. Inilah dasar kehidupan kita, dasar keselamatan kita yakni pada Yesus yang bangkit. Seandainya Yesus tidak bangkit, kita tetap mati dalam dosa. Sebagaimana Allah membangkitkan Yesus, demikianlah kita dalam iman kepada Dia mempunyai kekuatan untuk bangkit dari hidup lama kita dan memasuki hidup yang baru.

Kebangkitan Yesus juga merupakan dasar pewartaan Gereja. Sejak awal mula pewartaan, Gereja seperti dalam Kisah Para Rasul, mewartakan Yesus yang bangkit dan para rasul tidak mewartakan dirinya, tidak mengajarkan filsafat yang muluk-muluk. Mereka adalah orang-orang sederhana, nelayan-nelayan, tetapi dengan penuh keyakinan mereka mewartakan Yesus yang telah wafat dan bangkit. Ini adalah poros dari pewartaan para rasul sehingga mereka dengan gembira menanggung segala penderitaan bahkan sampai mati.

Paulus dipenggal kepalanya, Petrus disalibkan dengan kepala kebawah, Yakobus dipenggal kepalanya, Yohanes dimasukkan wajan yang penuh minyak panas, digoreng hidup-hidup dan lain-lain. Mereka menanggung semua hal itu karena iman dan cinta kepada Tuhan Yesus. Inilah poros pewartaan Kristen. Oleh karena itu tidak ada pewartaan sejati apabila tidak mewartakan Yesus yang bangkit. Kita memperoleh kekuatan karena kita percaya kepada Yesus yang bangkit dan Yesus yang bangkit itulah memberikan motivasi kepada kita, memberikan kekuatan kepada kita untuk hidup sebagai orang Kristen yang baik.

Iman akan Yesus yang bangkit itu memberikan motivasi yang kuat dalam kehidupan kita. Seperti rasul Paulus, dia bekerja mati-matian, kadang-kadang difitnah, tetapi dia tidak putus asa. Sering kita menemukan ada orang yang mengatakan: "Romo saya ini sudah berkorban, saya sudah aktif dalam organisasi, saya sudah aktif di Persekutuan Doa, di Wanita Katolik, di Paroki, di Legio Maria, tetapi saya tidak dihargai.” Sungguh sangat kasihan orang itu dan takutnya nanti ketika tiba waktunya berhadapan dengan St. Petrus dan minta masuk Surga, St. Petrus berkata: "Kamu sudah mendapat upah yaitu pujian orang yang “wah” dan di surga tidak ada tempat bagimu." Jikalau demikian, celaka kita.

Dasar kehidupan Kristen adalah Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit lebih dahulu telah menderita di salib. Oleh karena itu, bagi kita kebangkitan Kristus, memberikan cahaya yang lain. Seperti kata Paulus: di dunia ini kita mengisi dalam tubuh kita, apa yang masih kurang dalam penderitaan Kristus. Yesus tidak mengatakan kepada para pengikut-Nya: "Barang siapa yang mau mengikuti Aku akan selalu disanjung, dipuja, dihormati, pokoknya kalau kamu mengikuti Aku tempatnya nomor satu dan terhormat". Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi Ia mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Walaupun demikian dalam penyangkalan diri dan memikul salib, ada satu sukacita dan kedamaian, satu kebahagiaan yang tidak bisa diberikan oleh dunia; suatu kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Walaupun kita mempunyai uang dalam jumlah yang banyak, memiliki harta benda, kita tidak dapat membeli kasih Tuhan dan kita tidak dapat menukar semua kebahagiaan, damai dan sukacita yang Allah karuniakan. Kita dapat memakainya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan dengan segala apa yang kita miliki dan Yesus menjanjikan rahmat besar kepada kita dan inilah jalan kebahagiaan sejati, karena didalam penyangkalan diri terdapat kehidupan. Jikalau kita tidak mati bersama Kristus, kita tidak akan bangkit.

Kristus memberikan janji kebahagiaan, kedamaian dan sukacita yang tidak bisa dibeli oleh harta dunia ini, kepada mereka yang betul-betul percaya kepada-Nya dan yang sungguh-sungguh mencintai Dia. Semua emas dan perak itu menjadi pudar belaka jikalau dibandingkan dengan apa yang disediakan Allah. Emas dan perak tidak ada artinya. Oleh sebab itu, ketika kita bersatu dengan Kristus yang telah wafat dan bangkit kembali dan percaya kepada Dia, kita sudah sekarang ini memasuki hidup yang kekal, sehingga bila kita mendengar tentang akhir zaman, tentang kiamat dan sebagainya, kita tidak gentar, walaupun ingat bahwa Yesus akan datang kembali untuk kedua kalinya. Pada kedatangan yang pertama Ia datang sebagai bayi yang tidak berdaya di palungan. Pada kedatangan yang kedua, Ia akan datang dalam kemuliaan untuk mengadili orang hidup dan orang mati, seperti yang tiap-tiap kali kita doakan dan kita akui dalam "credo". Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa dan akan Yesus Kristus, Ia akan datang untuk mengadili orang hidup dan mati. Jika kita mati bersama Dia, dalam arti mati dari keinginan-keinginan duniawi yang bertentangan dengan Allah, semua dosa dan sebagainya, maka kita akan hidup bersama Dia.

Inilah cita-cita kita, inilah rahmat Tuhan yang diberikan kepada kita dan kita yang percaya, kita sudah memiliki hidup itu dalam diri kita. Hidup kita seperti sebuah pohon yang pada awalnya berupa benih, bertunas, pohon kecil dan kemudian harus bertumbuh menjadi pohon besar yang kemudian menghasilkan buah-buah yang baik. Bibitnya sudah ada dalam diri kita, ketika kita percaya, maka sekarang kita diberi segala sesuatu yang diperlukan untuk bertumbuh menjadi pohon yang besar, yang kuat yang akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah untuk kehidupan kekal nanti.

(Sumber: Kaset Khotbah Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE yang ditulis kembali oleh Angelus, CSE)